Sebuah Catatan dari Palangka Raya

Pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Tjilik Riwut, kesan sepi langsung terasa. Berbeda jauh dengan kondisi kota setingkat propinsi di Pulau Jawa, Palangka Raya ibarat kota muda yang baru siap bertumbuh.
Kondisi jalan lengang bebas kemacetan, di kanan kiri jalan terdapat banyak tanah lapang yang ditumbuhi rumput dan berbagai tanaman liar.
Namun begitu, kondisi jalan cukup lebar-lebar dan beraspal. Sangat nyaman untuk kita berkendara.

Aquarius Boutique Hotel, yang merupakan satu-satunya hotel bintang 4 di kota ini, menunjukkan geliat perekonomian Kalimantan Tengah yang cukup menggembirakan. Hunian penuh dengan pendatang dari berbagai kota, yang sebagian besar adalah para pengusaha/kontraktor untuk perusahaan-perusahaan kelapa sawit. Selain sebagai lokasi meeting yang strategis karena terletak di pusat kota dan hanya ditempuh kira-kira 10 menit dari Bandara, hotel tersebut digunakan sebagai akomodasi bagi pendatang yang umumnya adalah kaum bisnis.

Setelah kasus kerusuhan Sampit tahun 2000, Kalimantan Tengah sempat harus bekerja ekstra untuk berbenah diri. Dan 2 tahun terakhir, ketika kondisi keamanan semakin membaik, maka investor perkebunan kelapa sawit mulai berani menanamkan modalnya, dari mulai membangun pabrik baru, maupun memperbesar kapasitas pabrik yang sudah ada. Adapun lokasi site /pabrik kelapa sawit, berada di pinggiran kota nun jauh di sana, seperti di Sampit, Batu Licin dll, yang jaraknya mencapai ratusan kilometer dari pusat kota

Seorang supir taxi asal Pekalongan, Jawa Tengah, bernama Pak Adi yang menjadi langganan kami selama beberapa hari di Palangka ( orang Kalimantan jarang menyebut nama kota mereka dengan sebutan lengkap “Palangka Raya ), adalah salah satu contoh yang berhasil memperoleh penghidupan yang lebih baik setelah kedatangannya 2 tahun yang lalu.
Awalnya Pak Adi bekerja sebagai supir taxi di Jakarta. Dia pernah bekerja di berbagai perusahaan taxi dari mulai Sepakat, Dian Taxi, Express hingga Blue Bird. Perjuangan hidup di kota metropolitan terasa sangat berat dan sulit. Armada taxi yang jumlahnya ribuan banyaknya di Jakarta menjadikan ia harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan penumpang dalam setiap harinya. Perjuangan untuk dapat bertahan hidup dan memberikan nafkah bagi keluarganya ia lakukan tanpa kenal lelah. Pulang malam hingga dini hari, bahkan terkadang harus menginap di pull taxi menjadi rutinitas yang tidak dapat dihindari. Dan malangnya, istrinya yang berasal dari Tegal, tidak dapat bertahan dengan gempuran cobaan yang datang silih berganti. Ia memilih pria lain, yang dianggapnya dapat memberikan penghidupan yang lebih baik. Badai rumah tangga tersebut berakhir dengan perceraian.

Di saat separuh nyawa terasa hilang dan kehidupannya terkoyak, Pak Adi teringat cerita salah satu penumpang taxinya beberapa waktu lalu. Seorang warga keturunan China yang diduga adalah pengusaha, berbaik hati memberikan tambahan wawasan tentang pulau di kejauhan sana, bernama Kalimantan, khususnya Kota Palangka. Di sana adalah kota yang masih menjanjikan banyak kesempatan kerja dan penghidupan yang lebih baik. Maka, tanpa pikir panjang, dengan seluruh uang yang dia miliki sejumlahnya sekitar Rp.1.800.000,-, Pak Adi bertekad untuk hijrah ke kota yang diceritakan oleh Bapak tersebut. Berbekal dana tersebut, dia menuju Bandara Soeta dan membeli tiket Sriwijaya Air tujuan Palangka Raya seharga Rp. 400.000,-
Berbagai pertanyaan di benak tentu berkecamuk, karena dia pergi tanpa tujuan yang jelas. Tanpa sanak saudara yang menjadi tempat bertumpu. Namun dengan tekad yang bulat dan doa, ia berkeyakinan bahwa ia akan dapat membuka lembaran hidup baru di kota Palangka nanti.

Maka sampailah ia di Bandara Tjilik Riwut, dan tempat yang pertama kali dituju adalah pasar. Selain keahlian mengemudikan kendaraan, Pak Adi mempunyai keahlian lain berupa menjahit pakaian. Dia berharap, pasar adalah tempat yang tepat untuk mendapatkan informasi lapangan pekerjaan, entah sebagai supir atau penjahit.
Sesampai di pasar hari telah larut, dan suasana kota lebih cepat senyap dibandingkan di kota besar seperti Jakarta. Maka, ia putuskan malam itu untuk menginap di pasar, bersama para pedagang lain. Esok harinya, ia mulai mendatangi beberapa toko jahitan, dan ia langsung mendapatkan pekerjaan yang dicarinya.
Sepuluh hari bekerja di tailor, kemudian beralih pekerjaan menjadi supir angkot dan terakhir ia menetap menjadi supir taxi di perusahaan milik mantan Bupati Palangka dimana pada saat itu baru memiliki 2 unit kendaraan Dilihat dari perkembangan perusahaan taxi yang 2 tahun kemudian di 2011 ini sudah menjadi 9 unit, maka dapat menjadi salah satu tolok ukur pertumbuhan perekonomian di Palangka Raya.
Kini, Pak Adi masih sibuk melayani order terutama penjemputan dan pengantaran baik dari tamu-tamu dari Jakarta. Dan 6 bulan yang lalu, ia telah berhasil membangun kembali hidup baru dengan menikahi seorang janda pengusaha warung makan, yang kurang lebih mempunyai kisah hidup sama, berpisah dengan suami 20 tahun yang lalu.
Seperti mulai hidup dari 0 kilometer, di kota Palangka ini, Pak Adi menaruh harapan cukup besar untuk dapat membangun keluarga barunya sebagai keluarga yang bahagia, berkecukupan dan berjuta harapan lainnya.

Sepotong cerita kehidupan supir taxi yang ramah dan berkepribadian hangat itu menjadi salah satu oleh-oleh cerita perjalanan kami dari Palangka Raya. Pelajaran bahwa pada saat hidup tidak berjalan sesuai dengan rencana, sesungguhnya Allah telah menyiapkan pintu lain yang bisa ditempuh bagi mereka yang terus berikhtiar dan selalu berprasangka baik akan kehendakNya.
Dan catatan hidup Pak Adi semoga bisa menumbuhkan semangat bagi mereka yang merasakan beratnya perjuangan hidup di ibu kota, untuk hijrah ke daerah-daerah berkembang di luar Jawa seperti Palangka Raya. Juga bagi generasi muda yang mempunyai berbagai potensi, Anda dapat berbuat lebih banyak di sana, karena ruang gerak masih terbuka di berbagai bidang pekerjaan.

Bekasi, 27 Desember 2011

Oleh : Dita Widodo – Prasasti Selaras

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s