Sebuah Hikmah dari Sedekah

Awalnya saya kurang tertarik dengan pembahasan tentang Keajaiban Sedekah yang telah banyak ditulis di berbagai buku best seller sekalipun. Juga sering diangkat sebagai tema di hampir setiap ceramah Ust. Yusuf Mansyur.

Itu karena saya masih memegang keyakinan yang ditanamkan dari kecil, bahwa sedekah atau pemberian apapun, konsep dasarnya adalah ikhlas. Memberi tanpa berharap menerima….yang mungkin cocok dengan lyric lagu Kang Ebiet G.Ade ( sedikit kita gubah..red ) “ Apa yang kuberi sepenuh hatiku/Entah yang kuterima/ Aku tak peduli…” Kira-kira itulah gambaran saya memaknai sebuah pemberian…:)

Namun setelah baca blog Notes From Qatar-nya Muhammad Assad, diam-diam, saya tertarik untuk memperhatikan berbagai kejadian yang lewat silih berganti dalam kehidupan sehari-hari. Sampai akhirnya tulisan “Sedekah Super Story” Assad yang berisi berbagai cerita-cerita dasyat karena keajaiban sedekah, kami alami sendiri.

Ini adalah  salah satu kisah nyata yang buat saya sendiri merasakannya sebagai sebuah kejadian aneh bin ajaib.

Menepati janji kami untuk hadir di almamater kami SMP N 1 Mirit, Kebumen, mengantar senior kami Mas Sobirin Muhammad untuk mengadakan acara motivasi adik-adik kelas, kami berangkat dari Jakarta eh mBekasi hari Jumat pagi, 20 Januari 2012 agar Sabtu pagi sudah bisa on air.

Karena hari Jumat, di perjalanan saya dan Mutia (junior saya), menunggu Pwd ( suami) Jumatan di daerah Malangbong. Saat itu Pwd menyampaikan bahwa beberapa Jumatan terakhir Alhamdulillah sudah meningkatkan sedekah Jumatnya yang awalnya 1 lembaran recehan terbesar di kantongnya menjadi 2 lembar, karena bertekad untuk mengeluarkan pemberian terbaik kepadaNya      ( apapun recehan tsb tentunya…red). Saya jelas mengetok palu untuk menyetujuinya.

Lalu pas saya belakangan sholat Dhuhur seusai jamaah bubar,…saya ke masjid tersebut dengan tidak membawa apapun, selain mukena. Di kantong saya hanya ada selembar uang Rp.10.000,- dan saya ajarkan ke junior saya untuk memasukkan ke kotak amal sebagai tabungan abadi.

Perjalanan terasa lebih “plong” setelah shalat…segar dan menjadi lebih ringan.

Dan waktu Maghrib pun tiba, sehingga kami berhenti kembali untuk menunaikan sholat.

Pas saya mulai sholat, di depan saya ada 3 orang pria dengan potongan rambut cepak ala tentara, namun berpakaian casual tapi rapi. Saya hanya membatin, kalo seandainya tadi saya tidak kecepetan mulai, mungkin bisa ikut jamaah sehingga pahala bisa lebih besar… Tapi sudahlah, saya dan Mutia beranjak meninggalkan mushola untuk segera melanjutkan perjalanan. Tangan kanan kiri saya penuh dengan 2 mukena dan 1 buah sajadah.

Kira-kira 1 jam kemudian, waktu Isya telah masuk. Dan dengan pertimbangan agar sampai rumah sudah tenang, maka kami berhenti lagi di beberapa pom bensin berikutnya di daerah Buntu, yang berjarak sekitar 40km dari pom bensin tempat kami sholat Maghib. Berniat mau makan malam sekalian.

Dan alangkah terkejutnya kami, begitu menyadari tas coklat saya tidak ada alias ketinggalan. Tapi dimana ketinggalannya? Itu yang tidak bisa kami ingat dengan mudah mengingat selain di pom bensin tempat sholat Maghrib, sebelumnya juga berhenti di pom bensin lain untuk sekedar cari kamar kecil.

Spontan Mutia hampir menangis, membayangkan ibunya akan kehilangan dompet berisi banyak dokumen penting ( KTP, ATM, SIM, Kartu Berobat, dsb ).

Kami, orang tuanya mencoba menenangkan dengan menghibur bahwa tidak ada daun terjatuh sekalipun tanpa ijin Allah. Dan jika Allah berkehendak untuk menolong kami, apapun bisa terjadi. Tapi jika ini adalah ujian, kita pun harus siap menghadapi dengan berbagai keribetannya, tentu. Ide awal pwd adalah menghubungi kantor pengelola pom bensin tersebut untuk menanyakan nomor telephon pom bensin-pom bensin lainnya, terutama yang diduga adalah tempat kami tadi sempat mampir.

 

Di PB Buntu tersebut kebetulan juga ada tempat makan cukup luas. Bagi yang sering mudik, mungkin jadi salah satu lokasi favorit untuk singgah karena fasilitas mushola yang bagus, bersih, dan banyak toilet serta ada food court prasmanan cukup murah. Sambil menunggu Pwd yang sedang ke kantor pengelola, saya dan Mutia menunggu di foodcourt. Dan ternyata di meja sebelah kami adalah 3 orang pria yang saya temui di mushola saat sholat Maghrib. Spontan saya menyapa dan menanyakan apa nama pom bensin tempat kami sama2 singgah tsb. Lalu salah satu dari pria itu memberi tahu, bahwa itu adalah PB Wangon. Yang mengagetkan, salah satu pria itu mengaku melihat tas coklat saya yang tertinggal di mushola… Karena dia juga hanya terbersit dalam hati apakah itu tas saya, sesama mushafir…:) ( dan lagi dia tidak mengenal kami), maka dia meninggalkan tas tersebut tanpa berfikir panjang untuk melaporkan ke petugas atau yang lain.

Saya jelas gembira, setidaknya sudah ada titik terang dimana tas saya berada…meski belum tau apakah rejeki atau tidak. Dalam kekhawatiran tersebut, tidak ada kata lain yang terucap maupun dibatin kecuali mengharap pertolongan Dia yg Maha Mendengar.

Dan Allah benar-benar memberikan pertolongannya, sehingga ternyata pengelola Pom Bensin Wangon tersebut kenal dengan Pak Andi, Pengelola Pom Bensin Buntu, sehingga komunikasi via telepon segera berjalan. Dan Pak Andi mengabarkan berita gembira bahwa tas tersebut telah diamankan di ruang kerjanya.

Singkat cerita, Alhamdulillah tas tersebut kembali dalam keadaan isi yang aman dan utuh… lengkap dengan dompet berisi dokument penting dan sedikit uang tunai.

Jika direview, ini adalah sebuah kisah yang sudah diatur olehNya..Pengelola Pom Bensin Buntu mengakui dari sekian Pom Bensin di jalur ke Yogyakarta tersebut, tidak ada yang kenal selain Pom Bensin Wangon. Dan dari Pak Andi ( Pengelola PB Wangon), juga mengakui ini suatu pertolongan Allah, karena yang menemukan tas tersebut adalah pelanggan yang lewat, dan bukan anak buahnya. Jika anak buahnya, dia bisa pastikan InsyaAllah semua jujur, tapi jika orang lain, tentu kemungkinan berbeda cerita cukuplah besar.

Kejadian tersebut kami rasakan hikmah sebuah SEDEKAH. Imbalan Allah diberikan dengan cash tanpa kredit.

Kaidah-kaidah memberi dengan sembunyi-sembunyi tentu lebih mulia dibanding dengan terang-terangan jelas tetap berlaku. Ibarat tangan kanan memberi, tangan kiri sebaiknya tak perlu tahu.

Mengenai ikhlas adalah memang urusan hati dengan Allah SWT saja, dan ga ada orang lain yg tau. Tapi perihal kita mengharapkan sesuatu dari Allah setelah kita bersedekah, itu urusan berbeda, sekarang saya benar-benar menyadarinya.

Bukankah Allah sendiri yang menjanjikan dalam surat Al Baqoroh ayat 261. Alah SWT berfirman : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh ) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Artinya tidak apalah kita berharap pada Tuhan kita sendiri…bukan pada manusia atau yang lain…:) Dan imbalan di sini bisa berarti sangat luas….bisa dalam bentuk rejeki berlimpah, kesehatan, atau penyelamatan dari bencana sebagaimana yang saya alami tadi.

Semoga sharing tulisan ini dapat memotivasi kita semua untuk meningkatkan sedekah di hari Jumat mulia, ataupun hari lainnya….sedekah terbaik dan terikhlas tentunya. Bagi teman-teman yang mau membaca kisah-kisah menarik seputar SSS ( Sedekah Super Story), silakan bisa dibaca-baca di muhammmadassad.wordpress.com.

 

Dita Widodo – Prasasti Selaras

 

(Cerita ini ditulis di Grup FB Alumni SMPN 1 Mirit – Edisi Jumat, Februari 24, 2012 )

 

2 pemikiran pada “Sebuah Hikmah dari Sedekah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s