Sebuah Kisah Anak Negeri : Hasanain Juaini

Menyimak kisah yang dituturkan seorang pengasuh Ponpes Nurul Haramain di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Lombok, NTB, bagai menikmai semilir angin pegunungan di musim kemarau….. Beliau adalah, Bp. Hasanain Juaini yang profilnya kini semakin dikenal banyak kalangan. Saya sendiri baru mengenal saat menyaksikan acara Kick Andy, episode 2 Maret 2012 ( Bagi Anda yang tertarik untuk tahu lebih banyak, sangat mudah untuk menyimak sepak terjang dan profilnya melalui pencarian di “mbah google” ).

Beliau lahir di kalangan pesantren tradisional. Bapak dan Ibunya, keduanya adalah pengajar sekaligus pemilik pesantren Nurul Haramain yang didirikan tahun 1952. Hasanain Juaini muda merantau ke Malaysia….mencari pengalaman dan mengaplikasikan ilmunya dengan mengajar di negara tersebut. Saat orang Indonesia memuji kehebatan negara tetangga membuat mobil Proton, ia menjadi saksi bahwa sesungguhnya ia pun mendengar banyak orang di negeri tersebut terkagum-kagum melihat Indonesia dapat menciptakan pesawat terbang N235. Satu catatan beliau adalah : kebanggaan terhadap negeri sendiri harus diperbaiki oleh bangsa ini…bukan untuk menyombongkan diri, tapi justru untuk dapat lebih mencintai dan menghargai hasil karya negeri sendiri. Maka saat tiba saatnya beliau memperpanjang visa di kantor imigrasi, dan beliau menyaksikan banyaknya TKW yang berdesak-desakan…maka seketika itu pula ia memutuskan untuk tidak jadi memperpanjang visa. Istilahnya “Buat apa saya membuat pintar orang lain….lebih baik saya pulang untuk mengajari bangsa sendiri” ( Hmm….diam-diam saya mulai tertarik untuk terus mengikuti kisahnya…)

Berikutnya, beliau bercerita tentang Ayahanda tercintanya, yang di matanya adalah seorang yang hebat, dan figur ayah dan suami yang sangat baik. Namun buat Pak Hasanain, Ibundanya lebih hebat…selain memiliki jumlah santri yang lebih banyak, ia adalah seorang wanita yang hebat dalam mendidik santri maupun anak-anaknya. Beliau mempunyai visi ke depan yang sangat bagus, mengajarkan kemandirian, harga diri, dsb. Saat Ibundanya menjelang wafat,, beliau berpesan agar suatu hari Hasanain dapat membangun pesantren khusus putri yang bagus, dan di kemudian hari putranya tersebut berhasil mewujudkan impian sang Ibunda. Memberikan perlakuan yang sama antara pesantren pria dan wanita, memberlakukan kesetaraan gender. Sebuah cita-cita mulia yang telah terlampaui kini. Saat Ibundanya sakit…. Sang Ibunda menyampaikan kepada Ayahandanya untuk mempersilakan menikah kembali mengingat sakitnya sudah cukup lama. Dengan menahan air mata yang tak bisa dibendung, Hasanain menceritakan dengan penuh bangga, jawaban sang Ayah. Kata Ayahandanya : “Di saat kau sehat, aku dapat setia mendampingimu, dan kini, pada waktu kau sakit, aku akan bisa lebih setia mendampingi dan menemanimu. Kau dapat menyaksikan dan membuktikan, bahwa engkau tidak pernah salah memilihku menjadi pria pendamping hidupmu..”

Hiks……saya tercekat tidak sendirian…saya menyaksikan hampir seluruh penonton Kick Andy di MetroTV ikut menitikkan air mata haru, atau minimal berkaca-kaca karena terharu sekaligus berbangga dan yang sekerabat dengan itu….Penuturan kisah nyata yang tulus dari seorang pemuka agama, Hasanain Juaini, yang juga dipercaya sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat memperlihatkan sisi lain dari sebuah dakwah Islam… Karena yang saya lihat banyak kalangan pemuka agama menganjurkan para pria untuk mencari pasangan baru ( entah sebagai pengganti ataupun ban serep:) ) saat istri mereka mengalami cobaan berupa penyakit dsb. Dengan seribu satu alasan yang mungkin akan banyak pembelanya..atas nama agama, atas nama kebaikan, dsb…

Kini setelah Pak Prof Dr. B.J Habibie, dengan santunnya mengajarkan sebuah arti kesetiaan melalui tindakan nyata yang dibukukan di Habibie & Ainun,…. ternyata ada sosok lain yang kurang lebih memberikan dakwahnya dengan tanpa banyak bicara. Hal lain yang diungkapkan oleh kyai kharismatik tersebut adalah….bahwasanya pembangunan pesantren putri sesuai cita-cita Ibundanya adalah, antara lain sebagai salah satu usaha untuk membangun generasi muda di waktu yang akan datang. Peranan wanita jelas sangat besar dalam pembangunan negeri ini, karena dialah sang pendidik para pimpinan masa yang akan datang. Dengan mencetak wanita-wanita berakhlak baik, berwawasan ke depan, berkepribadian kuat, mempunyai ilmu yang cukup untuk ditransfer ke generasi yang dilahirkannya kelak, maka otomatis akan menciptakan generasi-generasi unggul di masa depan. Memaknai sebuah pemberian, entah itu namanya infak, hibah, atau apapun, Hasanain mempunyai prinsip bahwa, jadikan pemberian tersebut maksimal 5% dari yang kita punyai. Ibarat sebuah mobil, maka pemberian itu adalah satu buah roda atau spare part lain yang bernilai maksimal 5% dari nilai mobil itu sendiri. Begitupun perlakuannya dalam menerima beragai sumbangan dari luar negeri untuk pembangunan pesantrennya, ia pun bertindak sama. Selain untuk menghindari bahwa apa yang menjadi milik kita menjadi milik si penyumbang, juga agar kita terus terpacu untuk berusaha dan berjuang dalam mengembangkan potensi diri. Diberikan contoh mengenai menyikapi sekolah gratis. Saat ini sekolah SD gratis…sebagai orang tua, jangan jadikan bantuan dari pemerintah tersebut 100% dari nilai investasinya untuk mendidik putra-putrinya. Jangan pernah menyalahkan hasil pendidikan jika kita sebagai orang tua pun mempunyai kebiasaan mengandalkan sebuah pemberian/bantuan.

Bermula dari sebuah pesantren tradisional yang mempunyai dinding kayu yang usang dan kusam, kini Ponpes Haramain tumbuh menjadi pesantren modern dengan gedung-gedung bertingkat yang megah dan bersih. Tiap siswa tidak hanya belajar ilmu agama, namun juga dididik untuk ”melek” tekhnologi dan internet, serta dapat mempunyai relasi di berbagai negera di belahan dunia…Mereka diarahkan dengan membuat berbagai tugas yang menantang….Dan Hasanain percaya bahwa santri-santrinya tidak akan membuka situs-situs porno atau sejenisnya, karena mereka telah dibekali dengan berbagai landasan dan pengarahan dengan berbagai pendekatan, dimana arahannya adalah memanfaatkan tekhnologi dan internet ke arah yang positif. Dengan berbagai kesibukan juga telah menyita waktu santri untuk tidak sempat berfikir di luar jalur. Tentu saja pengawasan dan pengecekan tetap dilakukan, seperti halnya jaringan internet akan mati otomatis di jam 11 malam….dan berbagai proteksi lainnya. Hasanain juga aktif menyosialisasikan semangat cinta lingkungan, yang ia tularkan kepada santri dan warga sekitar pesantren. Salah satu usahanya, untuk mengembalikan fungsi alam, pada tahun 2003, ia membeli lahan tandus seluas 36 hektar dan di sulapnya menjadi kawasan konservasi hutan yang ia namai Desa Madani. Berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri beliau terima, tapi kita bisa melihat profilenya yang sangat ”down to earth”

Berikutnya adalah, sikap toleransi antar umat beragama yang menjadi salah satu konsentrasinya… Karena agama adalah sebuah keyakinan, maka biarlah seseorang memeluk agama karena keyakinan yang sempurna…tanpa paksaan dari manapun juga. Dan kembali, Hasanain memperoleh penghargaan Ashoka International, karena dinilai telah membuat terobosan inovasi dalam persoalan sosial, pluralisme dan perspektif gender di pondok pesantren dan kehidupan Islam

Menyaksikan tayangan tersebut mampu menggugah jiwa, bangga, bahagia dan membangun sebuah optimisme……keyakinan bahwa sesungguhnya negeri ini dapat berubah menjadi lebih baik suatu hari nanti. Muhammad SAW adalah contoh paling sempurna yang tak tergantikan sepanjang jaman….namun menyimak sosok Hasanain pun, salah satu umat yang meneladaninya dan membuktikan mantra “Man Jadda Wajadda” dalam kehidupannya, semoga menjadi catatan kecil yang mampu menjadi ”trigger” bagi kita semua… Jika skup besar belum tercapai saat ini…bisakah kita andil dalam perbaikan dalam skup-skup kecil di area yang kita masih sanggup dan mampu melakukannya? Ibarat negara ini adalah kumpulan jutaan puzzle yang tercecer…bersediakah kita untuk memunguti sejauh tangan dapat meraihnya??? InsyaAllah…Semoga…:)

Ditulis untuk Group FB Alumni SMPN 1 Mirit – Kebumen – Edisi Friday Notes – March 16, 2012

2 pemikiran pada “Sebuah Kisah Anak Negeri : Hasanain Juaini

  1. Assalamu’alaikum

    1. Dengan kucuran uang mereka menjanjikan Sekolah Bertarap Internasional, Tapi dengan seorang ibu yang baik kita bisa membangun sekolah bertarap dunia dan akhirat;

    2. Luasnya hati dan cinta ibu akan memberinya keuatan yang kita butuhkan untuk menjadikan Indonesia ini negara terhebat di dunia;

    3. Saya memimpikan ada sekumpulan kaum Ibu membuat persatuan di dunia maya dan bekerja di dunia nyata untuk “MEMBANGUN DENGAN CINTA”
    Jika:
    ” Anda mau membuatnya, saya bersedia menjadi tulang punggungnya”

    Wassalamu’alaikum

    • Wa’alaikumsalam Wr.Wb Yth Pak Hasanain Juaini,

      Sebuah kehormatan bagi saya Bapak berkenan memberikan komentar pagi ini….Saya menganggap kunjungan Bapak ini sebagai rizki tak ternilai, yang datang bahkan di saat saya belum menunaikan Shalat Dhuha pagi ini…:)

      Subhanallah….Itu adalah cita-cita terbesar saya Pak Hasanain, untuk dapat memanfaatkan setiap detik yang berlalu dalam rangka melakukan jihad di jaman ini, membangun negeri dengan apa yang saya bisa lakukan…meski seperti yang saya sampaikan, mungkin hanya sejauh tangan mampu meraihnya.

      Jika Bapak berkenan, mohon diberikan arahan, agar apa yang saya lakukan dapat lebih bermakna dan cakupannya lebih luas.
      Blog bertema Kelas Bebas Tanpa Batas ini saya rancang maksudnya adalah untuk menyebarkan virus pembelajaran, selain sebagai media saya sendiri untuk berintrospeksi dan selalu belajar ilmu-ilmu baru, serta mengasah kepekaaan terhadap berbagai peristiwa.

      Saya sepakat 100% dengan 3 hal yang Bapak tuliskan di atas. Saya juga cukup prihatin dengan banyak Ibu di jaman ini yang mungkin karena kurang ilmunya, belum dapat memberikan landasan-landasan kuat bagi anak-anaknya terutama di bidang ahlak dan penanaman jati diri.
      Memang apa yang saya lakukan belum membidik segmen tertentu yaitu wanita, mungkin karena cita-cita saya sangat banyak…:)

      Sebagai sharing saja agar Bapak dapat memberikan arahan yang tepat langkah2 apa yang mesti saya ambil, maka saya akan ceritakan hal-hal sbb.
      Alhamdulillah, saya dan suami adalah teman satu kelas di SMP N 1 Mirit – Kebumen. Kami mempunyai jaringan alumni satu angkatan yang telah memulai program bantuan pendidikan ke almamater ( dan ditambah alumni angkatan lain yang akhirnya ikut berminat mensupport) sehingga tahun ini telah memasuki tahun ke 12 pelaksanaan program tsb. Memang jumlah yang disalurkan belum terlalu besar, baru dapat membantu 5 pelajar dan 1 beasiswa prestasi.

      Dana itu kami himpun di rekening salah satu sahabat saya yang berprofesi sbg bidan desa, di rekening BCA dan itu sudah dipublish shg siapun dapat melihat transaksinya melalui internet banking. Selain Bantuan Pendidikan tsb, kami belikan buku-buku bacaan inspiratif spt Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Notes From Qatar 1, Notes From Qatar 2, Habibie & Ainun, 99 Cahaya di Langit Eropa yang kami beri judul Buku untuk Sekolahku. Karena saya yakin, pihak sekolah tidak akan menganggarkan membeli buku-buku novel untuk perpustakaan. Jadi kami coba membangun impian anak-anak desa dan memberikan motivasi dengan mensupply buku-buku tsb. Mungkin efek ini tidak akan terlihat sekarang, tapi InsyaAllah semoga bermanfaat kelak bagi mereka yang pernah membacanya. Dan bulan ini baru mau dikirimkan Buku untuk Sekolahku periode 3.

      Selanjutnya dari dana tsb pula kami belikan kambing untuk dikelola oleh murid SMP dan kelak hasilnya akan diberikan bagi hasil sesuai kesepakatan. Ini lebih sebagai media pengisi waktu luang bagi yang menggembalanya dan sebagai pelajaran enterpreneurship karena kami belum punya ide lain yg bisa diaplikasikan.

      Nah Alhamdulillah teman2 saya yg selama ini bergabung mengumpulkan pendanaan tsb bulan lalu berkumpul di tempat saya, dan kami berniat untuk meneruskan perjuangan mengumpulkan bekal akhirat dengan membuat Yayasan. Inginnya adalah Yayasan Pendidikan Islam. Saya juga sudah mengemukakan ide-ide untuk seminar gratis parenting, dimana kita bisa mengedukasi ibu-ibu agar dapat memberikan bekal pendidikan mulai dari rumah.
      Karena untuk membuat yayasan ini juga memerlukan modal awal tentunya, kami sepakat untuk mengumpulkan dana infak/sedekah dari kantong kami masing-masing, lalu mengajak siapapun yg punya visi dan misi sama untuk turut bergabung.
      Pengumpulan dana ini direncanakan sampai Januari 2013, sambil kami membuat perencanaan bagaimana menjalankannya…belajar dari banyak pihak yang sudah jalan tentunya.

      Bangunan gedung yang tinggi adalah terdiri dari butiran pasir. Saya sangat yakin jika niat kita lurus, Allah akan membukakan pintu-pintu yang mungkin sebelumnya kita tidak pernah tau itu ada.

      Mohon bimbingan Pak Hasanain Juaini jika Bapak berkenan meluangkan waktu, agar apa yang saya lakukan dapat benar-benar bermanfaat, dan bukan hanya berhenti di dalam niat dan angan-angan.

      Terimakasih tak terhingga sekali lagi.

      Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

      Dita Widodo
      0817 86 86 93
      Email : dita.widodo@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s