Ayo Menulis !

Jika kita berbicara menulis, umumnya orang menghubungkannya dengan hobby membaca, karena keduanya memang berkaitan satu sama lain.

Dan seperti kebanyakan, awalnya saya hanya suka membaca, tapi juga bukan termasuk kategori ’kutu buku”. Meski belum mempunyai jadwal yang tetap, membaca ini saya anggap perlu untuk memenuhi kebutuhan hidup akan ilmu dan informasi, karena di sinilah media kita untuk meneruskan proses belajar secara otodidak. Selain sebagai sarana kita mengupgrade diri mengikuti perkembangan jaman dan peradaban yang berlari kian cepatnya, sesungguhnya ilmu berfungsi sebagai cahaya dalam hidup yang akan dapat menerangi setiap langkah yang kita ambil dalam segala situasi.

Belajar dan belajar, adalah sebuah kewajiban sekaligus kebutuhan yang tidak ada putus dan batasnya. Dan membaca adalah salah satu media belajar yang gampang sebenarnya. Kita tak harus pergi jauh-jauh atau membayar mahal, karena membaca ini bisa dilakukan di sudut ruang tamu, di teras, di dapur sambil menunggu rebusan daun singkong empuk atau di sela-sela menunggu ikan di penggorengan kita menjadi kering….:)
Atau buat para pekerja, membaca dapat dilakukan saat jam istirahat di kantor, menunggu klien yang tak kunjung muncul di ruang tamu/lobby perusahaan orang…atau di halte bus dan stasiun kereta saat menunggu bus/kereta datang.

Kita hanya butuh sebuah kesadaran untuk menginvestasikan sebagian waktu dan uang untuk itu. Tidak selamanya buku itu mahal….karena banyak juga buku murah yang bisa kita dapatkan. Bahkan buku usang dan lama yang ada di emperan Pasar Mester Jatinegara pun masih layak baca jika kita mau sedikit bercucuran keringat untuk memilihnya. Cover boleh lecek dan usang, tapi ilmu dan manfaatnya tidak akan berkurang.

Banyak dari kita yang rela dan bangga membeli baju, tas, dan berbagai perabotan rumah tangga yang mahal-mahal, tapi seringkali merasa ”sayang” untuk membeli sebuah buku… Memang kita bisa saja baca di internet yang hampir setiap rumah telah mengaksesnya….tapi menurut saya, tetap lebih nyaman di mata saat kita baca ”hard copy” selain memang buku lebih fleksibel dibaca dimana saja. Buku dalam bentuk hardcopy juga mudah dipinjamkan tanpa harus mencari jaringan internet jika ada orang lain yang membutuhkannya.

Dulu, saya juga tidak terpikir untuk belajar menulis. Saya berhenti sampai dengan ”membaca” saja. Karena saya masih berpendapat bahwa menulis itu harus punya keahlian khusus, orang-orang berbakatlah yang bisa menulis. Atau orang-orang pinter saja yang bisa membuat buku. Saya pernah terkagum-kagum membaca puisi di harian Kompas yang maknanya sangat dalam dan menggugah jiwa….pemilihan bahasa yang sulit untuk disetarakan dengan kalimat-kalimat biasa… Tapi itupun berhenti hanya sampai kesimpulan, orang yang bisa membuat puisi semacam itu pastinya orang yang kreatif dan berimajinasi tinggi hingga pembaca seperti saya berhasil diajaknya turut terbawa

Atau saat membaca novel bagus seperti Ayat-ayat Cinta, Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Laskar Pelangi, dsb….saya masih berpersepsi bahwa hanya orang-orang yang dikaruniai Allah kecerdasan luar biasa dalam menuangkan gagasan itulah yang mampu membuat karya-karya best seller semacam itu.

Sampai dengan posisi sudah merasa cukup mendapat informasi atas perkembangan terkini yang sedang terjadi, atau bisa ”nyambung” saat diajak orang berdiskusi pun sudah saya anggap cukup. Lalu buat apa kita belajar menulis?

Sampai suatu ketika saya berkesempatan mengikuti Pelatihan Guru Menulis selama 2 hari secara gratis di Rumah Perubahan di daerah Kranggan, Pondokgede yang dikelola oleh Prof. Rhenald Kasali – penulis dan guru besar FE Universitas Indonesia, saya merasa mata ini terbuka lebar dan melihat betapa pentingnya seseorang belajar menulis. Program Pelatihan Guru Menulis ini sejujurnya memang dikhususkan untuk para guru, karena diharapkan mereka menjadi agen-agen perubahan yang dapat mentransfer ilmunya ke anak didik di sekolah.
Jika saya sampai ’diloloskan” sebagai salah satu pesertanya, selain karena saya ”kekeuh” menyampaikan alasan ke team penyeleksi bahwa saya sedang dalam untuk mendorong terciptanya ”Kelas Bebas Tanpa Batas”, ini adalah saya syukuri semata-mata sebagai rizki tak ternilai dari Allah SWT.

Dalam pelatihan tersebut, lagi-lagi saya bersyukur karena mendapatkan para pelatih yang memang ahli di bidangnya, yaitu :
– Ibu Amanda Setiorini, wartawan, editor dan penulis (http://setiorini.net),
– Pak Sigit Widodo, wartawan, editor dan penulis (http://widodo.net) ,
– Bang Ahmad Fuadi, wartawan, motivator dan penulis novel Best Seller : Negeri 5 Menara & Ranah 3 warna
– dan Pak Willy Pramoedya yang lebih dikenal sebagai wartawan, redaktur dari Warta Kota, Majelis Etik dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), budayawan dan kritikus sastra, yang merupakan sahabat baik Alm Cak Munir.
Pelatihan tersebut dibuka dan ditutup oleh sang Creator Rumah Perubahan, Pak Rhenald Kasali. Sambutan hangat dengan tebaran senyum dan berbagai kalimat-kalimat berenergi positif, menjadikan kami, para peserta pelatihan tertulari energi positif yang ditebarkannya….

Semua trainer di Pelatihan Guru Menulis di Rumah Perubahan memberikan suntikan semangat belajar menulis dengan berbagai peluru dan caranya masing-masing yang menarik dan membekas, dan akan saya tuangkan di sini, tentunya sebatas memory saya dapat menyimpannya…:)

Menulis ini mempunyai beberapa manfaat antara lain :
1. Media berbagi ilmu dan pengetahuan
Mungkin sejak kecil sudah akrab dengan peribahasa : Ilmu yang tak diamalkan bagai pohon tak berbuah atau seperti langit tak berbintang.

Tentunya kita pun sepakat bahwa dengan menulis, ilmu yang kita bagikan menjadi lebih luas audiens atau penerimanya, tidak lagi terbatas pada sebuah ruang kelas atau sebuah sekolah, tapi bisa mengedukasi sebanyak-banyak pembacanya.

Apalagi di era tekhnologi internet seperti saat ini, dimana luasnya dunia terasa semakin menciut bagai menjadi hanya seluas sebuah desa. Apa yang terjadi di belahan bumi yang lain, bisa kita ketahui dalam waktu secepat kita mengetahui kejadian di dukuh lain di desa kita, bahkan bisa lebih cepat dari itu.
Otomatis distribusi dan penyebaran ilmu pengetahuan pun akan menjadi luas dan mudah karenanya.

2. Media perenungan/introspeksi diri
Dengan menuliskan hasil perenungan kita, terbukti lebih mengena dan terasa mendalam karena kita bisa menuangkan sepenuh hati dan pun bisa mengulangi membacanya sewaktu-waktu. Biasanya curahan hati itu akan dapat dirasakan “memiliki ruh” karena benar-benar mencerminkan kejernihan hati dan pikiran dengan penyadaran-penyadaran diri “khas” kita…..yang akhirnya semoga dapat bermanfaat bagi orang lain yang turut membacanya. Secara tidak langsung pula membangun kesadaran-kesadaran orang lain tentang sesuatu hal.

3. Media untuk menuangkan ide, gagasan, opini terhadap sebuah permasalahan.
Itu berarti pula membuat kita menjadi lebih peka terhadap situasi di sekeliling kita. Cak Nun/ Pak Nurkholis Madjid ( almarhum ) dan Gus Dur (almarhum) misalnya, dianggap sebagai guru bangsa antara lain adalah karena hasil pikiran-pikiran yang dikemukakan secara lisan, dan diperkuat dengan banyak tulisan sehingga kita dapat mengetahui, dan sebagian mengamini banyak ide dan pandangan bijaknya.
Dan sebagai bahan penggugah semangat ini, ingatlah ketika Pak Pramudya Ananta Tour, salah satu sastrawan besar Indonesia berpendapat bahwa : Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

4. Media mengungkapkan perasaan
Pak Willy Pramoedya, penulis dan sekaligus sahabat pejuang Hak Asasi Manusia,
Cak Munir, mengatakan bahwa beliau banyak berbicara di depan para korban
HAM. Dan rata-rata ibu-ibu sepuh pun bersemangat menulis untuk menuangkan segala perasaan sedih, kecewa dan segala keluh kesah ke dalam tulisan. Mereka merasa ‘plong” atau lega begitu semuanya ditumpahkan ke dalam tulisan. Jadi menulis adalah ajang curhat yang efektif…:)

5. Aspirasi dan cita-cita
Banyak orang sukses ternyata menuangkan ide dan cita-citanya ke dalam tulisan. Tulisan ini tidak harus dipublikasikan jika memang hanya diperlukan sebagai pengingat diri sendiri untuk dapat selalu konsisten terhadap visi dan misi besar yang telah ditetapkan.
Melalui tulisan ini pun kita dapat mengukur progress pencapaian dari cita-cita tersebut dengan mengevaluasinya dari waktu ke waktu.
6. Saksi sejarah/jaman
Sebuah tulisan dapat menceritakan berbagai peristiwa yang berlangsung, dan berperan memotret keadaan yang terjadi pada masa tersebut. Sejarah bangsa dapat ditelusuri melalui karya sastra yang ada. Jika kita tidak ingin hanya berperan sebagai pelaku dan penonton saja, marilah andil di dalamnya….agar setidaknya tulisan dan karya yang beredar di jaman ini sebagian adalah hasil buah pikiran kita…:)

Bang Ahmad Fuadi
Banyak tips yang dibagikannya dalam rangka belajar menulis….atau tepatnya mulai menulis. Karena sesungguhnya setiap kita telah terbiasa menulis seperti sms, status FB, kicauan di twitter, dsb. Jadi tidak ada alasan kita tidak bisa menulis karena modal dasarnya sesungguhnya tanpa disadari telah dimiliki, tinggal bagaimana pengembangannya.

Menurutnya, sebaik-baik misi dalam menjalankan apapun adalah semata-mata untuk beribadah kepada Tuhan Semesta Alam ( tentu ini berlaku bagi semua penganut agama apapun). Sesuatu yang dimulai dengan niat baik, InsyaAllah akan menghasilkan hal yang baik pula.

Seperti yang ia lakukan, dengan menuliskan perjalanan hidupnya dari seorang anak desa dan berjuang menaklukkan ego pribadinya dan menuruti keinginan kedua orang tua untuk menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren Gontor Jawa Timur, di belakang hari ternyata ia merasakan mendapatkan hikmah yang sangat besar. Di antaranya, di pesantren itulah ia tertempa dan kemudian mendapatkan jalan untuk belajar menulis dari seniornya, yang kemudian terus berkembang hingga ia meneruskan pendidikan di Fakultas Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Bandung. Kemampuan menulis itulah yang kemudian mengantarkannya menjadi wartawan Voice of Amerika dan berkesempatan berkeliling setidaknya ke 30 negara di dunia secara gratis bahkan dibayar…:)

Novel yang N5M dan R3W ditulis sebagai media untuk berbagi pengalaman dan informasi, agar kemudian dapat menginspirasi para generasi muda dalam menggapai masa depannya.
Penulisan kedua novel tersebut juga merupakan ungkapan rasa syukur dan jawaban atas pertanyaan Allah yang berkali-kali dituliskan dalam QS Ar Rahman : ”Maka nikmat Tuhanmu Manakah yang Engkau Dustakan?”
Jika kemudian popularitas diperolehnya, itu dianggap sebagai efek samping dan Allah mempunyai banyak cara dalam memberikan balasan yang sempurna, dan sekaligus cobaan, tergantung dari sudut pandang mana melihatnya.

Bang Ahmad Fuadi memberikan tips bahwa kita harus mempunyai waktu untuk menulis. Kenalilah, waktu mana yang paling efektif dan tepat pada diri kita. Seperti dirinya, memaksakan menulis ½ jam di pagi hari setelah shalah Subuh. Jika beruntung dan ide sedang segar mengalir di kepala, maka dalam waktu ½ jam bisa mendapat lebih dari 3 halaman. Namun jika sedang ”blank” mungkin hanya memperoleh 1 paragraf bahkan beberapa baris saja, setelah mondar-mandir dihapus ditulis, dihapus, ditulis lagi.
( Di situ saya membatin : Oooh ternyata, penulis ngetop juga sama seperti manusia lainnya, ada waktunya ”blank spot”, ada waktunya ide deras mengalir seperti air terjun…  )

Simulasi belajar dan permainan ala Bang Fuadi dalam pelatihan tersebut adalah para peserta diminta menuliskan satu kata dalam selembar kertas yang kemudian ditukarkan dengan teman sebelahnya, lalu diberikan ke teman sebelahnya lagi, hingga 4x berpindah tangan. Otomatis, kita akan memperoleh ”kata pinjaman” dari teman lain di ujung barisan. Nah peserta diminta membuat paragraf dimulai kata pinjaman tadi, dan kalimat berikutnya dimulai dari akhiran kata di depannya….

Saya sendiri saat itu dapat kata pinjaman ”buku”. Lalu dengan spontan saya membuat pengembangan kata menjadi seperti berikut :
Buku – Kusam – Sama – Masa

Dan paragraf yang terjadi adalah :
Buku adalah buku. Ia tidak akan berkurang nilainya meski warnanya berubah menjadi kusam. Sama halnya dengan ilmu, ia akan tetap bernilai laksana mutiara sepanjang masa bagi siapa saja yang mampu memaknainya.

Awalnya saya pikir paragraf tersebut sudah cukup bagus terdengar……eeeh….ternyata dugaan saya meleset kemana-mana. Setelah semua peserta diminta membacakan paragraf yang dibuat, Subhanallah….bagus-baguuuuus sekali. Banyak diantara Ibu dan Bapak Guru tersebut ternyata menyimpan keahlian meramu kata menjadi kalimat-kalimat indah dan syarat makna….ada yang lucu dan menghibur…luar biasaaa!

Buat saya pribadi, kenyataan itu bukan waktunya untuk saya menjadi minder, menyadari bahwa dasar kemampuan yang saya miliki ternyata masih teramat sangat standard. Justru karenanya saya bertambah semangat dan berjanji pada diri sendiri untuk lebih banyak berlatih di rumah nanti.

Teknik latihan tersebut ternyata efektif untuk menumbuhkan kepercayaan diri peserta pelatihan, karena ternyata, dari kata pinjaman teman sebelah saja, berhasil disusun menjadi paragraf yang baik, bagaimana jika kata-kata itu bersumber dari kepala kita sendiri bukan?

Dan salah satu tips lain dari Bang Fuadi yang belum saya penuhi hingga hari ini adalah membeli kamus tsaurus….( yang ini lupa terus nih… kalau sampai toko buku…:( ).
Ini berguna memperluas kosa kata kita, sehingga menghindari pemakaian kata yang berulang-ulang hingga pembaca bosan karenanya…( jadi mohon maklum saja kalau tulisan ini masih membosankan, antara lain ya karena saya belum punya kamus tsaurus…he he he).

Sama halnya dengan belajar apapun, ternyata ATM ( Amati-Tiru-Modifikasi) juga efektif diterapkan di sini. Cobalah membaca puisi karya orang lain, semacam Chairil Anwar, atau mungkin penulis tak dikenal namun kita anggap hasil karyanya bagus.
Buatlah puisi yang hampir sama temanya, hampir sama bunyinya, namun kita modifikasi/ gubah di sana sini sebagai ajang berlatih.

Atau amatilah buku-buku yang tersedia untuk kita perhatikan bagaimana mereka membuat alur cerita, dan mengembangkan ide-ide perluasannya.
Berlatihlah dan teruslah berlatih hingga tangan ini akan terbiasa menuliskan secepat otak menelurkan gagasan dan ide tersebut

Tips berikutnya adalah tuliskan sesuatu yang kita tahu dan pahami dengan baik.
Jika kita berniat membuat biografi atau sekedar cerita perjalanan yang mungkin layak untuk dibagikan, dokumentasi berupa diary, foto-foto lama dan surat-surat akan menolong kita memutar ulang peristiwa yang telah lalu. Otak akan dengan mudah mengambil data yang diperlukan. Sebuah surat lama pun dapat membantu mengeluarkan memory terhadap sebuah peristiwa .Jika kita membacanya, ia akan membangkitkan kenangan lama seolah-olah kita kembali ke masa itu. Demikian pula dokumentasi foto, adalah pengingat terbaik sehingga kita bisa mendapatkan ”feel” seolah-olah kita berada di tempat yang kita ceritakan, di masa kejadian itu berlangsung.

Untuk yang ingin belajar menulis novel, sebaiknya dimulai dengan membuat ”mind-mapping”. Tetapkan tujuan besarnya-lalu ide pokok ceritanya-tokoh utama-lokasi/tempat cerita-hubungan tokoh utama dengan tokoh pendukung dsb. Kemudian meluas ke segala penjuru namun tetap mengacu kepada tema besar/ide pokok cerita.
Untuk judul, dicontohkan bisa diberikan di awal penulisan, yang kemudian bisa direvisi sesuai dengan banyak pertimbangan. Pertimbangan judul antara lain : mudah diingat, mengundang rasa penasaran pembaca, dan dapat mewakili keseluruhan inti cerita.

Seperti Novel Ranah 3 Warna….judul aslinya : Tanah 3 Warna…dan karena masukan beberapa teman Bang Fuadi, jadilah diganti menjadi ”Ranah 3 Warna” yang notabene menceritakan 3 dataran yang menjadi setting cerita : Asia ( Indonesia), Yordania ( Arab-Timur Tengah) dan Kanada ( Amerika).

Tema besar yang ingin disampaikan adalah ”Man Shabara Zhafira” – siapa bersabar pasti beruntung, untuk meneruskan mantra pertamanya yang merupakan tema besar di novel pertama Negeri 5 Menara ”Man Jadda Wajada” – siapa bersungguh-sungguh akan berhasil.

Sesungguhnya setelah membaca Ranah 3 Warna tersebut, yang antaranya Alif, si tokoh utama tidak berhasil hidup bersanding dengan Raisa, gadis cerdas dan multi talenta pujaannya karena takdir hidup berkata lain, saya sebagai pembaca merasakan ada energi luar biasa yang berhasil disampaikan dengan santun oleh sang penulis. Bahwa tidak semua apa yang kita inginkan akan tercapai, tidak semua cita-cita dapat terwujud. Namun bersabarlah, dan percayalah bahwa Allah Sang Maha Mengatur tidak pernah salah menentukan kehendakNya. Benarlah bahwa lahir, jodoh dan mati semua ada dalam genggaman tangan Sang Pemilik jagat raya ini.

Tapi demi mendengar jawaban langsung dari penulisnya, saya menghampiri dan mengklarifikasi kesimpulan yang saya tarik tersebut. Apa reaksinya? Bang Ahmad Fuadi malah menjawabnya dengan senyuman lebar….membiarkan pembaca menarik pelajaran dengan caranya masing-masing..Hmm…….

Satu lagi pengakuan seorang Ahmad Fuadi terkait kemampuannya menulis adalah : Menulis menempatkan saya satu langkah di depan teman-teman lain di masa kuliah dulu. Saat itu, berapa banyak mahasiswa di Unpad yang semuanya berprestasi, namun, dengan kemampuan menulis yang baik, syukur Alhamdulillah ia mendapatkan kesempatan dengan lolos seleksi menjadi salah satu mahasiswa yang dikirim ke Kanada, dalam rangka Program Pertukaran Pelajar. Satu cita-cita masa kecilnya terlampaui kini, menjejakkan kaki di bumi Amerika. Sebuah cita-cita yang hampir mustahil untuk diraih anak dari Desa Maninjau, Sumatera Barat, telah tercapai. Dan sebuah misi besar diembannya kini, yaitu dapat membuat karya-karya yang mempengaruhi jutaaan generasi muda Indonesia untuk berprestasi dan meraih cita-citanya, agar kelak dapat memberikan sumbangsihnya bagi negeri ini.

Mbak Amanda Setiorini

Tips yang dibagi dan yang menjadi pelecut semangat saya untuk mulai belajar menulis adalah judul materi presentasinya : Tuliskan Semuanya!
Presentasi inilah yang mampu meluruhkan semua kekhawatiran saya….kekhawatiran tentang kualitas tulisan yang masih apa adanya, jauh dari standard seorang penulis.

Pun mampu membangkitkan keberanian saya, karena selama ini saya dan mungkin banyak orang lain pun menemui masalah yang sama, belum cukup keberanian menuliskan ide karena takut dianggap ”ga menarik, kuno, ide biasa, tidak populer” hingga ketakutan dianggap ”kepedean”

Tata bahasa masih belum baik, cerita tidak naratif, membosankan dst…..biarlah pembaca/ orang lain menilai semaunya….ibarat pepatah : anjing menggonggong kafilah berlalu….terapkanlah disini!.
Tidak usah pedulikan orang yang berkata miring, sepanjang niat kita lurus. Lurus untuk belajar, yang semoga suatu ketika dapat memberikan sumbangan ide, gagasan, pikiran, untuk membangun peradaban ini, dan sejuta cita-cita lainnya.

Kita sering menunda waktu belajar menulis….nanti sajalah setelah ini, setelah itu…cari waktu luang, cari waktu ”mood” datang, dst…..dan percayalah, waktu terus berjalan, dan kita akan diam di tempat jika kita tidak menyegerakan memulainya. Tidak akan pernah ada waktu ideal dalam diri seseorang, karena sejatinya kita lah yang berperan sebagai nahkoda sang waktu dalam diri kita. Tergantung kita akan mengarahkan kapal kemana, kitalah yang memutuskan.
Tengoklah, apakah mereka yang dapat menulis buku setebal-tebal Al-Quran atau para penulis novel, dan berbagai buku dengan beragam tema adalah mereka yang tidak mempunyai aktifitas lain selain menulis?
Semua mempunyai waktu 24 jam dalam sehari semalam..dan tentu mempunyai agenda pekerjaan dan aktifitas yang tidak akan pernah putus jika kita tidak mempunyai komitmen untuk menyediakan ”writing time” tersebut.

Pak Rhenald Kasali

Pembuka dan penutupan training oleh Pak Rhenald menggarisbawahi bahwa menulis adalah life skill yang sangat bermanfaat bagi setiap orang….terlebih bagi anak-anak kita, para generasi muda. Dengan membekali life skill bagi mereka, diharapkan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi mandiri yang siap bertempur di medan juang di era globalisasi. Karena beliau melihat, pendidikan akademis saja tidak cukup untuk menjadi bekal hidup di depan sana.

Sebagai gurunya guru….beliau menyerukan, bahwa sebagai orang tua, janganlah kita cukup puas dengan prestasi akademis anak kita yang telah meraih rangking 1, juara tingkat provinsi, nasional hingga olimpiade….Bangga dalam batasan sewajarnya saja sudah cukup, selanjutnya bekalilah mereka dengan life skill, karena life skill ini memegang peranan yang sangat penting, bukan sekedar untuk survive, namun untuk pengembangan pribadinya kelak. Life skill beraneka ragam tentunya, arahkan disesuaikan dengan minatnya. Dan dalam kaitan dengan pelatihan tersebut, maka menulis adalah salah satu life skill yang sangat baik untuk ditanamkan sejak usia dini. Dan di masa kuliah, akan sangat membantu pada saat pembuatan skripsi maupun tesis.

Biarkan anak-anak menulis sekehendak dia….tidak usah diprotes manakala tulisan miring-miring, bahasa amburadul, atau alur loncat-loncat misalnya…Berilah pujian yang baik dan memacu semangat….jangan pernah mematahkannya. Kemampuan itu akan terus bertumbuh hari demi hari seiring dengan perkembangan usia, kematangan pribadi dan kemampuannya dalam menyerap berbagai ilmu yang diperoleh.

Disindir pula bahwa banyak pendidik kita pelit pujian, pelit angka. Sebagai contoh, Pak Rhenald saat menempuh pendidikan hingga di Universitas Indonesia memperoleh nilai rata-rata saja….banyak nilai C bertebaran di berbagai bidang study. Hampir tidak ada nilai A di raport maupun transkrip nilainya.

Bahkan sebuah pengakuan yang mungkin cukup aneh terdengar bagi kita yang melihat sosok beliau saat ini adalah, saat di bangku SD beliau pernah mengalami ”tinggal kelas”. hanya karena beliau dianggap tidak nurut pendapat sang guru yang menjelaskan lawan kata sebuah kata sifat. Beliau ’kekeuh” meyakini pendapat yang berseberangan dengan keyakinan kebenaran sang guru, sehingga langsung ”stempel anak bandel” langsung terpatri dan menjadikan beliau terpaksa harus mengulang kelas yang sama.
Karena kekuatan mental dan semangat juanglah yang membuat beliau dapat menolong dirinya sendiri untuk bangkit dan melanjutkan langkah meraih masa depan.

Tidak ada rasa dendam sedikitpun terhadap sang guru yang tersisa kini, justru balasan ungkapan terimakasih karena dari peristiwa itu menjadi titik balik bagi beliau untuk belajar lebih keras dan membuktikan bahwa si anak tinggal kelas, akan menunjukkan kepada dunia bahwa ia bukanlah manusia bodoh.

Dan saat melanjutkan study di US, beliau terheran-heran karena begitu mudahnya mendapatkan nilai A. Saat beliau mengirimkan berkas transkrip nilai ke teman-teman di Jakarta, semua berdecak kagum melihat deretan nilai A tanpa jeda. Namun Pak Rhenald sendiri mengatakan, bahwa standard belajar sama, namun para dosen di Amerika itulah yang memberikan ”murah nilai”. Sebagian besar soal yang diberikan dalam berbagai ujian berbentuk esai. Pemahaman dari sebuah materi yang lebih dititikberatkan. Di sinilah kemampuan menulis menjadi lebih terasah dan semakin membantu perkembangan karier dan kepribadian beliau.

Beliau berujar bahwa orang yang pintar adalah, mereka yang mampu membuat yang kompleks menjadi simple, dan yang sulit menjadi mudah. Ia dapat memilih kata-kata sederhana untuk menjelaskan hal-hal yang ruwet.

Tanpa penjelasan yang lebih detail, saya dapat mengakuinya, bahwa apa yang disampaikan Pak Rhenald adalah benar adanya. Beliau tidak hanya mengajarkan, tapi telah melakukannya.

Coba kita amati buku-buku tulisannya :
Powerhouse, sebuah buku yang mengupas tentang Pertamina, dalam bermutasi menghadapi tekanan-tekanan di dalam dan luar negeri. Buku setebal 370 halaman yang terkesan berat materinya, ternyata tidak demikian saat kita mulai membacanya. Bahasanya ringan dan mudah dimengerti, bahkan untuk kalangan awam sekalipun.

Juga Change – Perubahan ( 456 halaman), yang di sampul depannya bertuliskan kalimat persuasif yang menginspirasi : Tak peduli berapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putar arah sekarang juga ( managemen perubahan dan manageman harapan). Buku lainnya berjudul Marketing in Crisis – Marketing Therapy menyerang pasar dan mengambil manfaat dari krisi ekonomi( 203 halaman), …merupakan sharing pengalaman, pengetahuan, dan teknik-teknik marketing therapy yang layak dan bisa diterapkan dimanapun kita berkarya. Myelin – Mobilisasi Intangibles menjadi Kekuatan Perubahan ( 345 halaman),

Hampir semua bertema pada perubahan,….mudah dicerna dan begitu kita membaca bab terdepan, kita terdorong untuk lebih tahu halaman-halaman berikutnya. Artinya sang penulis telah dengan cermat memperhitungkan segala kemudahan agar pembaca bukan malah bingung atau bosan….tapi berbagai penyederhanaan hal yang ruwet menjadi ringan menjadikan buku-buku tebal di atas enak dibaca.

Uraian di atas adalah ekstrak pelatihan selama 2 hari, tentang belajar menulis dan hal-hal yang berkaitan dengannya, yaitu membaca dan meningkatkan minat baca pada diri kita.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang berniat untuk mencoba menulis, atau mencoba memberanikan diri mempublikasikan tulisan yang telah dibuat selama ini, dan bersemangat untuk memperbanyak jam terbang demi perbaikan kualitas tulisan.

Setiap tulisan dapat mulai kita publikasikan di berbagai media, utamanya blog. Banyak blog gratisan yang dapat kita pilih. Saya sendiri mempublikasikan hampir sebagian tulisan saya di 3 media ( my notes – FB, blog : ditawidodo.wordpress.com dan kompasiana/ditawidodo.com ). Kita bisa saja menyimpan tulisan di my document PC, tapi ini tentu tidak menolong diri untuk dapat menyuarakan ke khalayak, serta misi belajar dan berbagi tentu tidak akan pernah tercapai.

Blog yang saya sangat minati antara lain adalah http://www.dahlaniskan.wordpress.com
Bahasa yang dipakai ringan, menghibur dan tajam. Saya mulai membuat paragraf-paragraf pendek mengadaptasi tulisan di blog tersebut, karena mata terasa dimudahkan untuk mencerna maknanya.

Dari belajar menulislah saya mulai mendapatkan teman-teman baru, dan guru baru. Dan sebuah kehormatan akhirnya jika saya pun menemukan guru baru di dunia maya. Beliau adalah beliau, Bp. Ustad Hasanain Juaini yang saya tulis profilenya di Blog saya https://ditawidodo.wordpress.com/2012/03/16/sebuah-kisah-anak-negeri-hasanain-juaini. Tulisan itupun saya buat karena terkesima-nya saya saat menyaksikan penampilan beliau di Kick Andy edisi 2 Maret 2012 lalu.

Beliau memberikan arahan kaitannya belajar menulis yaitu dengan resep yang saya rasakan sangat banyak hikmahnya…sederhana dan mudah sebenarnya. Hanya kemauan menjaga kontinuitas yang diperlukan …yaitu membaca Al-Quran beserta makna minimal 5 menit dalam sehari. Lalu membiasakan menuliskan apa saja yang kita tangkap dari bacaan tersebut.

Dan Jumat, tanggal 20 April 2012 lalu, sebuah email dari Ibu Ria Oktavia Indrawati, Inisiator Desa Inovasi yang meminta ijin untuk mengambil artikel tentang tokoh perintis Desa Inovasi tersebut, yang antara lain adalah Ustad Hasanain Juaini….( lihat : http://www.desainovasi.com/profile-desa-inovasi/perintis/196-hasanain-juaini)

Tentu sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya karena berarti langkah kecil yang saya buat mulai menuai hasilnya, dengan membantu memberikan data kepada komunitas orang-orang yang peduli terhadap perubahan dan pembangunan bangsa.

Buat saya, tentunya sebuah apresiasi sekaligus kesempatan untuk menjadi sebutir pasir dalam bangunan yang tinggi. Dan semua orang pasti bisa berkarya….sepanjang ada kemauan dan berkenan untuk melakukanya

Saat saya berkunjung ke lapaknya….sungguh sumbangan ide briliant menurut pendapat saya. Blog tersebut memberikan data provinsi-provinsi di Indonesia berikut potensi wilayahnya untuk kepentingan siapa saja yang terpanggil dan berkemampuan untuk membangun daerah-daerah di negeri ini….dengan bertumpu pada pelestarian alam dan menjaga sumber air di bumi ini.

Jika selama ini banyak kiat belajar menulis beredar dari pakar-pakarnya langsung ataupun penulis produktif dan telah menciptakan banyak karya populer, maka tulisan ini memang berasal dari ketikan seseorang yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Perjalanan saya belum jauh dari titik 0 km…….. maka, marilah kita mulai belajar bersama!… 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s