Ketika Bu Irawati Setiady : Presdir Kalbe Farma Berkunjung ke Kediaman Kami

9 tahun yang lalu….di suatu malam di tahun 2003 barangkali adalah malam paling bersejarah bagi saya selama masa bekerja dan menyandang profesi sebagai karyawati….

Masih lekat dalam ingatan, sekitar jam 19.00, kami mendapat kunjungan tamu agung, yang adalah Ibu Irawati Setiady di ”kediaman” kami, di Kawasan Pondok Bambu Asri, Jakarta Timur. Sebuah perumahan yang berbatasan tembok dengan penjara wanita.

Beliau datang bersama atasan saya langsung, Pak Prajogi Irwanto, yang biasa kami panggil  Pak Yogi. Buat saya, Pak Yogi adalah bos atau atasan teladan. Saya menganggapnya sebagai guru yang tanpa lelah mentransfer berbagai ilmu keuangan, sekaligus adalah sahabat, yang dapat saling berbagi cerita dan berdiskusi tentang hidup dan berbagai hal. Saya mengenal baik Mba Fanny, istri beliau dan Kevin, juniornya. Begitu juga, beliau mengenal baik partner hidup saya, Pwd tentu saja….karena saat itu junior kami belum launching…:)

Beliau juga adalah salah satu sosok yang sangat berarti dan berjasa sepanjang perjalanan saya berkarya dan menimba ilmu di PT. Sanghiang Perkasa – Kalbe Group, salah satu produsen susu dan makanan kesehatan terbesar di Indonesia ketika itu. Produk-produk yang ketika itu sudah berkibar di pasaran antara lain adalah Prenagen ( susu Ibu hamil & menyusui ), BMT, Chilmill, Chilkid, Chilschool ( infant milk dan balita serta anak-anak), Diabetasol ( minuman untuk penderita diabetes melitus), Nephrisol, Entrasol, dst, dll.

Perlu sedikit saya jelaskan tentang ”kediaman” tadi, karena rumah itu bukanlah milik pribadi ataupun rumah yang kami sewa, melainkan rumah kakak ipar yang telah berbaik hati memberikan tumpangan gratis buat kami yang belum lama memasuki sebuah gerbang keluarga bernama pernikahan. Sang pemilik kebetulan masih tinggal di belahan bumi lain karena memilih berkarir di sebuah oil company sehingga menetap di sana. Buat awal perjalanan kami, tumpangan itu sungguh amat sangat berarti…:)

Kunjungan orang besar seperti Bu Ira, saya syukuri sebagai anugerah. Karena tanpa anugerah-Nya, tak kan mungkin seorang Big Bos dengan level Presiden Direktur sebuah perusahaan multi nasional berkunjung sebagai teman kepada saya yang saat itu adalah karyawati ”kelas teri”….:)

Tanpa rencanaNya, tak kan mungkin beliau mengkhususkan diri menyediakan waktu untuk saya, seorang anak buah dengan perbedaan kasta cukup jauh, dan biasanya hanya bisa mengejar-ngejar beliau untuk meminta tanda tangan di cek atau pun giro dengan nominal di atas 1 milyar.

Barangkali saking senangnya, gelas bekas minum beliau jika perlu tak usah saya cuci selama berhari-hari, hingga berbulan-bulan lamanya…:)

Bukan karena kendaraan Land Cruiser Prado gagahnya yang turut parkir di halaman kami, yang membuat saya berbangga dan menjadikannya hari bersejarah bagi saya… Bukan….bukan itu……Karena sebagai orang yang bekerja di devisi finance, saya cukup tahu aset perusahaan berikut taksiran aset group Kalbe saat itu. Jadi, kendaraan tersebut bukanlah benda memukau untuk pejabat sekelas Bu Ira. Saya melihat itu semua secara wajar dan biasa saja,….meski saat itu saya pergi ke kantor pun lebih sering menggunakan angkot 22A ( jurusan Pondok Gede – Walikota Jaktim ) nyambung mikrolet 23 ( Kalimalang – Tipar ) dan nyambung lagi K25 atau K10, atau apa saja yang melewati Jl. Raya Bekasi Km.25, Cakung, Jakarta Timur….alias nyambung 3x, dalam sekali perjalanan. Semua dilakukan dengan suka cita setiap pagi dimulai sekitar jam 06.30 dan pulang jam 17.00 atau lebih…. Sungguh seru mengingat kenangan indah itu……:)

Bu Ira, mengenakan blazer lengan panjang dan celana panjang dengan warna senada ; abu-abu muda bermotif garis vertikal halus. Bahannya yang jatuh dan kelihatan enteng, terlihat simpel. Potongan rambut cepak, make up tipis nyaris tak terlihat, mengesankan pribadi yang energik dan sederhana.

Tak ada intan permata, emas berlian yang menempel di tubuhnya. Bahkan seingat saya, beliau memakai anting kecil yang mungkin hanya berfungsi menjaga jangan sampai lubang telinga tertutup lagi setelah tindikan dokter sesaat setelah beliau dilahirkan. Sungguh saya menyaksikan dengan jelas aura inner beauty yang terpancar dari seraut wajah cantik nan hangat dan ramah. Langkahnya yang tegak dan vocal yang tegas memancarkan kewibawaan yang tak dibuat-buat.

Saat itu beliau masih menjabat sebagai Presiden Direktur Sanghiang Perkasa, dan Direktur Marketing Kalbe Farma ( saat ini beliau sebagai Presiden Direktur Kalbe Farma ).

Diam-diam, saya terkagum-kagum pada penampilan anggunnya, kesederhanaan, dan kecerdasan Big Bos saya, terlebih setelah beberapa saat berbincang-bincang cukup akrab.

Kedatangannya adalah untuk mengajak saya bergabung dalam sebuah bisnis MLM, yang beberapa tahun kemudian, saya dengar beliau telah menduduki posisi puncak /Diamond.

Entah alasan apa yang membawa para bos-bos itu ke tempat saya. Apakah saya dianggap sebagai sosok yang berpotensi untuk menjadi downline dan layak untuk diprospek? Mungkin.

Apakah banyak juga karyawan Kalbe Group dari mulai SHP, Enseval Putra Megatrading, Bintang Toedjoe, Kageo, Kalbe Farma Tbk, Finusolprima Farma dll, dsb mendapat kunjungan yang sama? Mungkin…

Namun, tidak penting alasan apa yang membawa beliau ke tempat saya, yang jelas, saya mensyukurinya dan merasa terhormat karenanya.

Maka, dalam durasi kurang lebih 1,5 jam, saya mendapat training singkat tentang ”Berfikir & Berjiwa Besar”. Secepat kilat ekstrak buku karya Dale Carnegie, yang memang telah khatam saya baca sebelumnya hingga puluhan kali seperti larut seluruhnya, dan bersenyawa dalam aliran darah saya.

Saya seperti menyaksikan perwujudan asli dari nilai-nilai yang diajarkan sebagai orang besar, dengan kehadiran wanita super inspiratif di mata saya.

Bu Ira juga mengajari saya bagaimana membangun peta hidup, menentukan kemana arah layar kapal yang dikembangkan, menuju pulau impian. Teknik-teknik membangun impian yang mungkin akan terasa lebay dot com jika disampaikan oleh orang lain, namun terasa cukup nyata saat disampaikan oleh beliau….

Mungkin karena si pembicara telah sampai pada posisi tujuan, sehingga apa yang disampaikan seperti memiliki ruh.

Maka saya sering gamang saat menjawab pertanyaan teman misalnya : Bagaimana mulai menjalankan usaha? Bagaimana cara memilih partner kerja yang tepat? Baiknya mulai jualan ini atau itu ya? dsb…”

Tentunya saya akan sangat bersemangat untuk mendorong para pemula agar memiliki keberanian bertindak dan mencoba…..Namun, sejujurnya, terselip keraguan, apakah omongan saya bisa diterima atau tidak, tepat atau malah keliru….karena, apapun jawaban saya, pastinya tidak akan maksimal, karena posisi saya pun sesungguhnya belum terlalu jauh dari si penanya itu sendiri…:)

Kesimpulan saya saat itu adalah, untuk dapat menjadikan kata-kata kita bernyawa, atau memiliki ruh, ibarat sebuah perjalanan, kita sudah harus berada di posisi tujuan yang dimaksud, atau setidaknya sudah mencapai jarak ribuan kilometer di depan si penanya atau orang yang diberi saran/masukan.

Jika pun akhirnya saya memilih jalan yang berbeda, dengan tidak tertarik ikut menjalankan MLM, bukan berarti saya tidak menaruh kepercayaan terhadap materi yang diajarkan.

Training singkat itu sungguh luar biasa dampaknya bagi saya, dalam membangun pikiran dan energi positif terhadap segala hal.  Kerja keras beliau adalah salah satu yang menjadi inspirasi bagi saya.

Apakah beliau masih perlu mencetak banyak uang? Apakah beliau demikian ambisius sehingga tak cukup menjadi presdir di perusahaan terkemuka di Indonesia? Apakah beliau kurang bersyukur terhadap jabatan direktur marketing di perusahaan obat terbesar di Asia?

Saya berani menjamin, bahwa bukan itu alasannya. Pasti ada alasan mulia lain yang menjadikan beliau menjalankan bisnis MLM tersebut. Saya yakin ada misi besar yang diembannya, dalam rangka mengembangkan Kalbe Group, sebuah perusahaan besar dimana pastinya lebih besar lagi tantangannya, lebih tinggi tingkat kesulitannya, lebih kompleks permasalahannya, sebanding dengan manfaat yang ditimbulkan atas keberadaannya di negeri ini, yaitu menaungi dan menafkahi ribuan karyawan dan keluarganya. Dan tempat menggantungkan hidup bagi banyak manusia.

Analisa awam saya adalah sbb :

1. MLM adalah laboratorium bagi Bu Ira dalam hal membangun diri. Banyak teori marketing dan motivasi ada di sana. Saya rasa hanya orang-orang nekad dan dapat menghipnotis dirinya sendiri yang sanggup menjalankan MLM. Mungkin hampir sama dengan cara penjualan produk asuransi. Penolakan berbagai cara dari tingkat rendah hingga dosis tinggi yang mungkin nyaris ke arah penghinaan ada semua di sana. Saya mengatakan ini, karena saya pernah menjalankan saat masih di bangku kuliah, dan mendapat perlakuan seperti itu.

2. MLM adalah sarana training langsung kepada anak buahnya. Dengan terjun di bisnis itu, memungkinkan beliau bersentuhan secara langsung pada karyawan kelas bawah seperti saya, dan memberikan suntikan motivasi secara langsung.

3. MLM sebagai media membangun jaringan untuk bisnis di sektor riil-nya, dan memungkinkan beliau berkomunikasi secara langsung ke masyarakat sehingga mengetahui secara persis kebutuhan pasar akan suatu produk.

4.   Bu Ira sedang mempelajari, seperti apa bisnis MLM dijalankan… Di sana beliau dapat mempelajari kekurangan dan kelebihan sistem mereka, berapa prosentase keuntungan yang harus didapatkan, berapa distribusi biaya marketing/agen, bagaimana mengobarkan semangat juang karyawan agar dapat dengan segenap kemampuan maju ke medan perang. Lalu, bagaimana maintaince klien, bagaimana sistem reward and punishment dijalankan, bagaimana detail bisnis itu dijalankan…dsb, dll. Ilmu ini akan sangat berguna dalam membangun sebuah sistem yang diaplikasikan di grup perusahaannya.

Mungkin saja analisa saya keliru….. Tak perlu dipikirkan, itu hanyalah analisa dan reka-reka saya sebagai seorang awam…:)

Motivasi dan inspirasi yang saya dapat malam itu, perlahan namun pasti, seperti virus yang bekerja menyerang seluruh otot persendian, otak dan hingga menyusup ke dalam alam bawah sadar saya, sehingga saya mampu membangun kepercayaan diri, dan mendapatkan keberanian untuk memutuskan hal terbesar berikutnya di awal 2004 yaitu : Mengundurkan Diri & Membuka Usaha

Bagi staf yang terbiasa menikmati penjara nyaman di sebuah kotak berpendingin dan bergaji tetap seperti saya, berjualan adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bukankah inti sebuah usaha adalah berjualan, atau berdagang? Dan bukankah saya harus mampu memulainya dari menjadi seorang sales?

Banyak pertanyaan yang membelenggu kaki saya sebelumnya. Apakah saya bisa jadi sales? Bagaimana jika apa yang saya jual tidak laku? Terus bagaimana jika rugi? Darimana menutupnya? dsb, dll.

Yang lalu pikiran lain terburu menyerbu….”Sudahlah…perusahaan ini sudah cukup bagus menggajimu, bonus akhir tahun bisa mencapai 6-10 x gaji dengan sedikit prestasimu….dll dst…

Namun, virus pembelajaran Bu Ira yang hanya disuntikkan dalam durasi 1,5 jam itu cukup ampuh dan mampu mempengaruhi saya secara sempurna. Sehingga, tepat di bulan April 2004, kantor saya telah resmi berpindah ke sebuah sudut ruang tamu kediaman kami. Segala kenangan indah dan penuh kesan selama saya di SHP, saat ini bernama Kalbe Nutritionals Food masih saya bingkai di sudut hati. Menjadi bagian episode hidup saya, yang mewarnai perjalanan seorang anak desa di kota Metropolitan.

Saya memang memilih menjalankan usaha di sektor riil secara konvensional dan bukan memilih jalur MLM, karena berbagai pertimbangan. Saya hampir terus mengikuti kisah perkembangan Kalbe Group, berbagai proses akuisisi perusahaan dan expansi bisnisnya, hingga ke Nigeria dll.

Dan setiap kali saya membaca berita di media masa, saya turut berbangga seolah-olah saya masih berada di sana, menjadi bagian keluarga Kalbe Group.

Dan, saat 25 Mei 2012 lalu, Bu Ira tampil di Kick Andy untuk memberikan Fasilitas Perawatan Kesehatan Gratis seumur hidup bagi seniman serba bisa di masa kecil saya, Bp. Kris Biantoro, saya turut terharu, bahagia dan lagi-lagi berbangga pada mantan Big Boss saya. Beliau telah mampu menuangkan coretan di selembar kertas berisi peta hidup itu, dan menjadi orang yang bermanfaat bagi sebanyak-banyak manusia.

Dan tayangan sosok inspiratif Kris Biantoro itu sendiri juga satu hal yang sangat menarik dan layak ditonton oleh seluruh komponen bangsa ini. Yang belum sempat nonton, silakan bisa buka di link berikut :http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2012/05/25/12683/190/Penyakit-Ginjal-Bukan-Halangan-Hidup

Perjalanan saya sebagai pengusaha memang terbilang masih sangat awal…. Belum banyak pencapaian berarti. Namun kini saya bersyukur karena kebebasan berkreasi dan mengatur waktu itulah yang tak terbayar. Kesempatan mendampingi tumbuh kembang putri kami adalah kesempatan yang tak kan dapat diulang….dan Alhamdulillah, saya telah mengayunkan langkah awal perjuangan ini, karena segenggam keberanian yang telah Bu Ira sematkan di hati….

Buat Bu Irawati Setiady,

Terimakasih tak terhingga untuk kunjungan Ibu beberapa waktu lalu,

Karena 9 tahun itu terasa sangat pendek,

Biarkan saya merasa seakan-akan baru kemarin nasehat dan lecutan semangat yang Ibu tularkan,

Coretan-coretan spidol di atas kertas manila putih masih melekat di ingatan,

Tak perlu resah sejauh mana pencapaian itu kelak kan kami dapat,

Itu bukan urusan saya, melainkan urusanNya,

Tak perlu takut onak dan duri tersebar di jalanan di depan saya,

Kan kami punguti dan singkirkan dengan sabar satu persatu,

Semoga, saya pun dapat menjadikan Ibu sebagai guru,

Agar semua generasi muda lebih berani mengambil keputusan,

Untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri,

Jika Ibu, yang adalah seorang wanita mampu mengukir prestasi sedemikian dasyatnya…

Bagaimana dengan para pria dan generasi muda laki-laki negeri ini?

Masihkah mereka memilih menganggur, dan mengatakan bahwa negara ini tak menyediakan lapangan pekerjaan?

Tidak malukah mereka menatap Ibu yang tak kenal lelah berjuang memberantas kemiskinan di negeri ini?

Hayo adik-adikku….jangan tunda apa yang bisa kau lakukan hari ini…

Mari berkarya dan bekerja seolah-olah kita kan hidup seribu tahun lagi,

Sambil tak lupa, mari bersujud dan beribadah, seolah-olah esok kita kan mati.

Bagi siapa pun yang sempat membaca catatan seorang BOS ( Bekas Orang Sanghiang…red ) ini, semoga menginspirasi Anda untuk lebih berani mengayunkan langkah🙂🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s