Hidangan Istimewa dari Guru Kami

Belasan tahun lalu,..

Siswa itu selalu terlambat setiap hari Rabu. Hampir dipastikan ia sampai ke sekolahnya terlambat 1/2 hingga 3/4 jam. MTS Negeri di sebuah kota kecil di Jawa Tengah itu sedang giat-giatnya berbenah setelah dapat mensejajarkan diri dengan pendidikan setingkat Sekolah Menengah semacam SMP Negeri di daerah kami. Sebelumnya, MTS itu lebih sering diolok-olok sebagai Madrasah Tengah Sawah, dan sejenisnya…

Pak Ds, sebagai guru yang baru dipindah dari SMP kami itu cukup prihatin dengan kondisi awal saat saat ia tergabung di jajaran pendidik MTS dengan label sekolah nomor dua itu. Dan beliau menggagas penyelenggaraan sebuah event akbar yang dihubungkan dalam rangka perayaan Milad MTS tersebut.

Berbagai lomba mata pelajaran, sepeda santai dan lomba senam diselenggarakan dengan melibatkan ratusan SD di wilayah itu. Targetnya adalah, agar para calon siswa, calon wali murid dan segenap lapisan masyarakat dapat melihat dari dekat perihal belajar-mengajar, fasilitas pendidikan yang tersedia dan pola didik mereka yang mestinya tak kalah dengan sekolah umum lainnya.

Maka event  yang dibuka oleh Bupati Rustriningsih ( bupati saat itu) berlangsung sangat meriah, meski dengan konsumsi yang seadanya. Rebusan pisang kepok dan ubi menjadi hidangan Ibu pejabat bersama para pungawanya. Dan siswa-siswi antusias berbondong-bondong mengikuti berbagai perlombaan dengan berbagai hadiah. Peluncuran program beasiswa berprestasi bagi siswa baru diumumkan.

Dan tak pelak lagi, di awal tahun ajaran, mereka datang berduyun-duyun mendaftarkan diri ke MTS tsb. Citra sekolah naik drastis, karena lingkungan telah melihat bahkan mengamati dari dekat.

Mereka menjadi tahu bahwa MTS adalah tempat yang layak diperhitungkan untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Ditunjang berbagai fasilitas laboratorium dan sarana prasarana pendidikan, menjadi daya tarik tersendiri bagi para orang tua untuk menitipkan putra-putrinya. Para orang tua pun dapat memberikan kepercayaan bahwa sekolah itu mampu mengantarkan putra-putrinya menjadi generasi yang berkepribadian teguh, berlandaskan kultur keagamaan yang kental, dan mata pelajaran umum yang sama bahkan lebih dari Sekolah Umum lainnya.

Di tahun itu penerimaan murid baru meningkat dari 7 kelas menjadi 12 kelas, masih dengan kesempatan memilih bibit-bibit unggul pula! Sebuah pencapaian yang membanggakan, bukan semata-mata berapa jumlah siswa yang diterima. Melainkan image MTS sebagai sekolah berbasis agama yang telah terbangun sebagaimana mestinya.

Maka, saat ada pelanggaran murid yang melalaikan disiplin, sebagian besar guru sudah geram untuk segera memberikan teguran keras. Disiplin adalah hal yang tak bisa ditawar dan harus tegakkan! Itulah kira-kira motto yang mereka perjuangkan setiap harinya.

Namun, Pak Ds, yang terbiasa lebih memilih jalur investigasi demi mengetahui akar masalah, memanggil muridnya di suatu siang.

” Maaf Pak…. setiap hari Rabu saya harus membantu Ibu saya mengangkut barang dagangan ke pasar….” demikian penjelasan murid itu jujur.

Pak Ds yang setengah kaget mendengar jawaban itu, buru-buru tersenyum menenangkan. ”Ooh..ya sudah, biar saya yang akan membujuk ibumu mencari cara agar kamu tidak telat lagi”.

Dan tak lama dari situ, Pak Ds datang menemui Ibu dari muridnya, yang ternyata berjarak 16km dari sekolah tersebut. Di sebuah pelosok desa yang cukup sulit terjangkau.

Pak Ds mendiskusikan masalah muridnya itu dengan sangat hati-hati. Diberikannya cara-cara agar sang ibu dapat sampai di pasar lebih cepat, sehingga putranya sudah sampai sekolah paling lambat jam 7 pagi.

Dan masalah sang murid teratasi sudah. Tak ada cerita terlambat masuk sekolah di hari-hari selanjutnya.

***

Celana Coklat

Kisah berikutnya mengalir dalam obrolan kami malam itu. Masih mengenai murid di sekolah dimana Pak Ds pernah mengabdikan diri selama kurang lebih 18 tahun sebelum kembali ke SMP almamater kami kembali.

Seorang murid laki-laki selalu yang seharusnya mengenakan seragam pramuka di hari Jumat-Sabtu, tak mematuhi aturan sekolah. Setiap Sabtu, atasan coklatnya dipadukan dengan celana biru. Dan itu berlangsung berulang kali…

”Celana coklat itu dipakai kakak saya di hari Sabtu Pak….Kami memang memakai seragam Pramuka itu bergantian….” jawabnya tersedak, air bening sudah hampir mengalir di ujung-ujung matanya.

”Oh, jadi kalau Jumat berarti kakakmu yang tidak bisa memakai seragam karena celana coklatnya kau pakai? Begitu?” Pak Ds ingin mengkonfirmasi cerita yang nyaris tak dapat dipercaya untuk jaman itu, dimana anak-anak lain sudah memikirkan membeli barang-barang sekunder semacam handphone misalnya.

Anggukan pelan dari muridnya telah membangkitkan rasa nelangsa yang amat dalam. Sehingga esok harinya Pak Ds mendatangi rumah sang murid sebagai pembuktian akhir atas cerita sebelumnya.

Pak Ds dipersilakan duduk di sebuah kursi kayu panjang ( rusban ) di ruang tamu sambil beramahtamah dengan walimuridnya.

”Astaghfirulllah…haduh….apa ini???” Teriak Pak Ds kaget saat kakinya dipatok ayam betina yang sedang bertelur di bawah kursi panjang yang didudukinya itu…

MasyaAllah…rupanya ruang tamu itu juga merangkap kandang ayam, lengkap dengan tumpukan jerami di sebelah kiri, dsb dll…

Rasa geli perihal “babon angrem” itu terkalahkan oleh rasa keprihatinan yang jauh lebih dalam demi melihat kondisi perekonomian keluarga itu, yang dapat terlihat secara fisik dengan terang benderang.

”Nanti habis pelajaran, tolong ke ruangan saya ya….” perintah Pak Ds setengah berbisik pada sang murid.

“Ini saya belikan 2 celana coklat, untukmu dan kakakmu. Semoga pas di badanmu..” ucap Pak Ds sambil mengulurkan bungkusan plastik begitu sang murid datang menghadapnya.

Sang murid mengucapkan terimakasih yang nyaris tak terdengar karena menahan haru, dan barangkali juga bercampur malu, sedih, dsb.

Bertahun-tahun waktu berlalu….

Si murid selalu memberikan update report pada Pak Ds. Melanjutkan dimana, diterima dimana, dsb….Kini murid itu bekerja di sebuah perusahaan di Malaysia. Dan komunikasi murid-guru tersebut tetap terbina dengan baik hingga hari ini.

Setiap lebaran jika ia tak mudik, selalu saja ada sebuah Kartu Lebaran yang dikirimkan ke Pak Ds, dan di bawah tanda tangannya, selalu saja ia menyantumkan “Dari CELANA COKLAT”.

Kisah menarik dan inspiratif malam itu menjadi hidangan istimewa bagi saya dan 3 orang sahabat yang bersilaturahim di momen lebaran 1433H lalu.

Sepatutnyalah kami menaruh apresiasi yang tinggi atas hasil olah pikiran, jiwa pengabdian, dan segudang pencerahan yang terus beliau lakukan dari waktu ke waktu.

Nyata sekali ada niat tulus dari Pak Ds, untuk berbagi kebahagiaan, dan semangat… Untuk lebih peka melihat, mendengar dan mengamati, lalu bertindak.

Bahwa kita tak kan pernah menyelesaikan masalah jika tidak menggali akar masalah itu sendiri.

Bahwa bantuan yang kecil bisa jadi bermakna besar untuk orang lain.

Karena kita semua mempunyai kesempatan yang sama dengan Pak Ds, untuk berbuat sesuatu…dari hal kecil sekalipun…:)

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s