Idul Fitri Penuh Pesona

Lebaran Idul Fitri 1433H telah usai. Semua telah kembali bergelut dengan aktifitas dan rutininitas sehari-hari. Namun bagi keluarga kami, berjuta kesan di momen lebaran terpatri indah. Suasana dan kebersamaan di hari Idul Fitri menjadi momen menyenangkan untuk diingat dan dikenang sepanjang tahun. Ia membuat kami semua selalu kangen untuk selalu pulang kampung kembali…dan kembali.

Setiap Idul Fitri, dua orang dari kami, anak-anak Mbah Harjo yang kini telah menjadi orang tua bertugas menjadi panitia lomba untuk para keponakan. Ada 13 cucu dari total 8 anak yang dimiliki orang tua kami, dan tingkat kehadiran hampir selalu mencapai 80% dalam setiap tahunnya. Berikut adalah catatan lomba dalam 6 tahun terakhir :

Idul Fitri 1428H Menggambar & mewarnai di kertas

Idul Fitri 1429H Menggambar & mewarnai di kertas

Idul Fitri 1430H Menggambar dan mewarnai bebas di kaos ( Painting on T-Shirt)

Idul Fitri 1431H Menata sandal

Idul Fitri 1432H Menghias coklat & lomba memancing ikan

Idul Fitri 1433H Memasukkan bola ke keranjang (cepon) dan ember bekas & lomba memancing ikan

Lomba ini memang terlihat sederhana dan minim biaya. Namun berkat dukungan dari seluruh keluarga, acara tersebut selalu saja berjalan ramai dan meriah. Selalu penuh canda yang mengundang gelak tawa nan riuh rendah, karena masing-masing orang tua menjadi supporter bagi putra-putrinya.

Kakek-nenek mereka pun mendapat suguhan pertunjukan yang sangat menghibur tentunya.

Adapun hadiahnya adalah berupa uang saku yang dimasukkan di dalam amplop  ( angpau). Para anak telah mempersiapkan angpau sejumlah cucu, tanpa kecuali. Jumlah isinya pun bervariasi, seikhlasnya saja….Dari mulai 25.000 hingga terbesar 40.000,- yang rata-rata adalah pecahan uang baru semua. Tujuan utama adalah menciptakan kemeriahan acara dengan tanpa memberatkan semua pihak, dimana kondisi kantong setiap keluarga, mungkin saja berbeda. Tergantung rizki yang sampai ke tangannya pada saat itu. Dan pesan yang tak kalah penting adalah, agar para keponakan pun mengerti makna terdalam dari cara tersebut. Bahwa bukan besarnya uang saku yang diperoleh, tapi adalah kebersamaan yang tak tertukar oleh nilai uang itu sendiri.

Semua peserta mendapat hadiah, tak peduli menang atau kalah. Si pemenang hanya cukup bergembira atas prestasi yang diperolehnya dengan ucapan selamat yang diberikan oleh semua saudara sepupu, pakde-bude dan om-tante. Sebuah kebanggaan dan kegembiraan tersendiri jika dinobatkan menjadi peraih juara lomba.

Di edisi lebaran 1433H lalu, para keponakan berkumpul seperti biasanya. Usianya bervariasi. Dari mulai yang baru menginjak usia 1 tahun, hingga yang kuliah di semester 6.  Kami pun tinggal di berbagai tempat yang berbeda. Di Semarang, Bandung, Bekasi, Jakarta dan terjauh adalah Texas-USA.

Agar sesi acara ramah-tamah antar keponakan menjadi satu momentum untuk dapat saling berbagi dan utamanya menjadi spirit dan motivasi, maka dibuatlah acara dibuatlah acara “CeritaKu & CeritaMu…”.

Setiap mereka bercerita tentang aktifitas sehari-hari, dan yang lain menanggapi. Termasuk bercerita tentang cita-citanya….Para om-tante dan pakde-budhe mereka sebagian menjadi pendengar, sebagiannya lagi menimpali dan melengkapi cerita anak-anak mereka.

Ayo….Mba Hima bisa berbagi cerita seputar UI….Mas Cahyo seputar Bandung dan Institut Teknologi Telkomnya…Dan Mba Dian tentang Georgetown University-nya ya….! Agar Mutia, Kinkin, Nanda, Sekar dan Lintang serta lainnya…bisa mengikuti jejak kalian… Semua coba ceritakan cita-cita masing-masing ya….Cita-cita itu gratis. Jadi jangan takut punya cita-cita setinggi bintang di angkasa. Setujuuu?” Begitu ucapan bernada provokasi saya sebagai moderator amatiran saat membuka sesi CeritaKu CeritaMu itu.

Setujuuuu….!” Jawab keponakan serentak.

Maka mulailah acara itu berlangsung dengan serunya. Selain melatih untuk berani berbicara, diharapkan momen itu menjadi pemecah kebekuan ( ice breaking)karena sekian lama kami pun tak berjumpa. Dan terlebih adalah membangun motivasi bagi mereka untuk berani bercita-cita, berani bermimpi.

Di antara mereka punya prestasi yang bisa ditauladani oleh para juniornya. Dan jikapun ada sebuah kegagalan yang pernah dialami, atau ketertinggalan oleh sebagian yang lain bukanlah sebuah hal yang menjadikan rasa rendah diri atau minder, seperti rangking di kelasnya yang sedang meluncur ke bawah misalnya….Tapi adalah sebuah cambuk bahwa jika saudara mereka bisa, pasti ia pun bisa meraihnya. Dengan melihat, mengamati dan meniru berbagai trik belajar dan usaha yang dilakukan oleh para senior tentunya.

Prestasi juara renang tingkat provinsi Jawa Tengah yang pernah diraih Hima misalnya, adalah buah dari usaha dan belajar sangat keras yang dilakukan secara rutin setiap harinya. Sekitar jam 05.00, sehabis Subuh, di saat anak-anak lain masih bermalas-malasan di tempat tidur, ia telah berlatih renang dengan bimbingan Bapaknya yang adalah guru olah raga. Rasa malas dan dingin menusuk tulang telah berhasil dilawan dan disingkirkan.

Juga Bonita ( biasa dipanggil Bo saja) yang kini adalah 1 diantara 20 orang yang berhasil menyingkirkan ribuan kandidat mahasiswa yang diterima di program S2 di Georgetown University – Washington DC, jurusan molekuler medical science bukan saja menjadi kebanggaan keluarga, namun adalah bukti prestasi anak Indonesia di dunia Internasional.

Lebaran kali ini terpaksa ia tak bisa ikut pulang kampung karena kesibukan kuliah sambil bekerja di sebuah laboratorium, sehingga kisah tentangnya diceritakan oleh adiknya, Dian. Adapun Dian sendiri yang sedang menempuh pendidikan S1 di universitas yang sama jurusan Tekhnologi Informasi, terpilih sebagai President Women Engineer di kampusnya. Artinya, kehadirannya pun diperhitungkan di lingkungannya yang mayoritas adalah anak-anak Amerika sendiri.

Dian berkisah, bahwa Bo, gadis mungil nan lincah yang adalah kakak satu-satunya memberi tips bahwa, ia berteman dengan siapa saja. Tapi ia selalu berusaha lebih mendekati anak terpintar di komunitasnya, untuk melihat dan meniru bagaimana mereka belajar dan berusaha. Bagaimana mereka mengatur waktunya. Bagaimana mereka membuat perencanaan, membuat peta hidup yang akan datang.

Dari orang-orang terpintar di lingkungan itulah sebenarnya mereka belajar. Sehingga ibarat arus, mereka jadi ikut arus perjuangan menuju sebuah titik keberhasilan, dimana titik itu terus naik dan menjauh, serta harus selalu ada usaha untuk mengejar dan menggapainya.

Di saat mereka masih di bangku SMP dan SMA, mereka juga dengan senang hati memberikan les bagi adik-adik kelas maupun tetangga di sana. Kebetulan orang tua mereka memang tinggal di sana sehingga memungkinkan rumahnya untuk didatangi tetangga dan teman. Ada yang membayar, dan ada yang gratisan.

Berbagi ilmu, akan menjadikan ilmu itu melekat lebih lama dalam kepala….” begitu saya menambahkan.

Anak-anak tidak pernah main games di masa kecil. Tidak punya playstation.Bahkan tidak pernah nonton TV. Sekarang Dian justru sudah bisa membuat games di komputer. Bo di kost-kost-annya di Texas juga tidak ada TV. Sebenarnya main games boleh saja, tapi kadang kontrol waktunya yang akan sulit. Banyak orang terlena dan menjadi malas mengerjakan hal-hal lain yang lebih membangun. Dulu Mba Dian adalah atlet basket yang ikut lomba dari satu kota ke kota lain, karena waktu luangnya untuk main basket.” Begitu tambah Budhe Titi, orang tua mereka memprovokasi keponakan-keponakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat.

Ya tidak selamanya games itu negatif sih ya….Asal bisa ditakar seperlunya. Yang parah adalah, kadang seorang ibu lebih senang anaknya main games di depan komputer atau PS-nya berjam-jam karena jadi merdeka tidak terganggu kesehariannya. Tapi semoga kita ga ikut-ikutanlah.. Ohya…aku dapat cerita dari salah seorang kepala sekolah klienku, sekolah Katolik  di Harapan Indah. Beberapa siswanya jadi langganan psikiater karena kecanduan games. Karena terlalu tinggi frekuensi main games-nya, jadi mereka tidak bisa membedakan antara dunia nyata dan imajinasi. Akibatnya sulit menerima pelajaran di sekolah. Memprihatinkan.. :(:( Demikian saya menambah komentar dan cerita yang memang saya peroleh dari klien yang kini menjadi sahabat saya.

Berharap menjadi perhatian bagi kami, terutama kaum ibu yang turut berkumpul di ruang tengah tempat kami bercengkrama.

Demikianlah…..cerita demi cerita bergulir apa adanya….Perbedaan garis nasib dan strata sosial adalah sekat yang dibuat oleh manusia itu sendiri, yang memungkinkan kita semua hidup terkotak-kotak. Alhamdulillah kami semua menyadari dan meyakini, bahwa rizki adalah urusanNya, dan usaha adalah urusan kita, sebagai hambaNya.

Yang perlu kami tanamkan pada diri anak-anak adalah, di rumah itulah, kampung halaman kami semua. Meskipun terletak jauh di ujung desa….dengan segala kesederhanaannya, itulah asal usul kami ada di dunia.

Berjuta bangunan indah di tempat lain tak kan mampu menggeser nilai kesejarahan kampung kami tercinta.

Semoga mereka akan mencatat, bahwa kampung halaman kami adalah tempat paling permai yang selalu menarik untuk dikunjungi. Dengan balutan segala kehangatan kasih dan sayang keluarga besar yang ada di dalamnya. Dengan segala inspirasi dan motivasi yang terpancar dari para sanak saudara.

Meski semua kan meneruskan meniti hidup dengan perjuangannya masing-masing di rantau orang,…bahkan di belahan bumi yang lain nun jauh di sana.

Berharap Idul Fitri 1434H mendatang kami kan lengkap berkumpul kembali. InsyaAllah, semoga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s