Mulai Menulis ( Lagi) Setelah Mudik Lebaran

Genap dua pekan libur total dari dunia tulis menulis. Kehebohan mudik lebaran  telah menciptakan berbagai ketidakteraturan aktifitas sehari-hari. Dari hal pola makan, minum, tidur, dsb hingga menulis, yang adalah saya maknai sebagai olah raga otak dan batin, sebagian tergeser jadwalnya, dikurangi atau ditambah porsinya, dan sebagian lain dengan sadar ditiadakan. Tentunya dengan pemakluman ala saya, “pertimbangan skala prioritas yang memang harus didahulukan”.

Acara ramah-tamah dan silaturahim, berkunjung dari satu rumah ke rumah lain yang mewarnai hari-hari selama di kampung halaman adalah keindahan yang sulit tergantikan.

Bertemu sanak saudara, tetangga, guru SD & SMP ( bukan mantan guru) dan sahabat-sahabat lama menjadi hiburan paling menarik sepanjang sejarah.

Barangkali, itulah uniknya mudik. Orang akan rela menempuh ratusan hingga ribuan kilometer jauhnya. Dengan kemacetan luar biasa, jarak tempuh bisa memakan waktu hingga 2 kali lipatnya. Lengkap beragam cerita perjuangan masing-masing. Pengendara mobil yang kempes ban atau mogok di tengah jalan. Motor-motor yang menempuh perjalanan ekstra panjang gegap gempita, dengan sepenuh semangat dan keberanian bak terjun ke medan perang.

Sebagian lainnya yang menggunakan transportasi umum berdesak-desakan di bus yang tak berpendingin hingga puluhan jam. Beraneka aroma harus dikesampingkan demi sebuah tekad ; sampai ke kampung halaman.

Meski menulis ini adalah hobby yang baru  saya temukan bebarapa bulan terakhir, tapi nyata sangat berdampak positif dalam mewarnai hari-hari saya dan keluarga. Maka, saya pun bertekad untuk terus belajar dan belajar menuangkan ide ataupun sekedar cerita ringan yang berharap menjadi salah satu suplemen dan vitamin bagi diri dan siapapun yang berkenan membacanya.

Tak terkecuali saat mudik….yang rupanya rencana itu hanya sepenggal tekad tanpa dapat mewujudkannya…:(

Ya, mungkin inilah alasan seorang pembelajar pemula seperti saya. Menghadapi libur lebaran saja sudah tak mampu untuk terus menjaga kontinuitas menulis. Bagaimana jika memiliki kesibukan ekstra tinggi tak berjeda?

Nanti saja setelah lebaran usai. Nanti saja pas malam di saat tamu sudah pulang. Besok pagi saja sebelum pergi ke acara reuni. Lusa saja setelah punya waktu lebih luang. Dan….rencana itu menguap begitu saja. Tanpa bekas setitik pun juga…:(

Memang begitulah yang banyak dialami oleh mereka yang ingin memulai menulis. Alasan-alasan yang kemudian ditolelir sendiri, akhirnya menjadikan seseorang tak melakukan apapun. Padahal ide segar mengalir setiap hari, hingga tak terasa lenyap tanpa bekas. Gumpalan gagasan dalam pikiran tak sempat ditorehkan, sehingga tertumpuk gagasan-gagasan lainnya, yang berarti lepas entah kemana.Atau pun jika masih menempel di kepala pun, ada kesan sudah tidak ”up to date” sehingga timbul halangan baru berupa malas menulis karena semangat sudah terlanjur menurun.

Selama ini, menulis buat saya menjadi aktifitas seru yang menantang. Seperti anak sekolah yang mendapat PR harian yang siap disetorkan pada sang guru keesokan harinya. Atau bagai sebuah kebiasaan yang jika tidak dilakukan hidup ini jadi terasa ada yang kurang.

Di pagi hari sambil menyiapkan sarapan pagi dan teh hangat misalnya, saya akan bertanya pada Pwd (suami)…”Pak….hari ini aku belum menulis nih. Ada idekah…? :):)”

Atau saya akan menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan akan prestasi seseorang pada Mutia, putri kami. Berharap di memori otaknya, akan menempel berjuta catatan-catatan baik yang layak dijadikan teladan. Semoga bekerja bak puzzle-puzzle berserakan yang siap dirangkai suatu hari kelak…agar kelak ia menemukan belajar dengan polanya sendiri, sesuai beragam informasi yang sempat berdiam lama dalam alam bawah sadarnya.

Nak…yang kemarin di Kick Andy penemu helm berpendingin namanya siapa yah? Kok Ibu lupa sih….Hebat banget yah dia…”

Linus Nara Pradhana Bu….Kelas 1 SMP Petra Surabaya. Iyah…Ibu nulis tentang dia aja Bu…Itu tuh dapat medali emas di lomba apaaa…gitu di Bangkok, Thailand!” sahut putri kami dengan mata dibelalakkan sebagai ekspresi kagum dan semangatnya.

Oh…iyaaaa….Ibu ingat sekarang. Nama acaranya adalah The 8th International for Young Inventors 2012 tanggal 28-30 Juni 2012 lalu. Iya, mestinya ibu bisa menulis tentangnya. Agar kita semua jadi tertulari semangat belajarnya” sahut saya cepat.

Dari kebiasaan membonceng motor Bapaknya yang adalah seorang guru SD, Linus Nara sering menyiram helm dengan air untuk mendinginkan helm yang tertimpa terik matahari. Dari situ ia merasakan helmnya lebih dingin, temperaturnya turun. Mulailah timbul ide untuk mengisi helm dengan air. Temperatur helm lebih turun, tapi rupanya masih terkendala dengan berat, dan rentan bocor. Kemudian timbul ide lain dengan mengambil isi dari popok bayi semacam pempers. Diambil gell-nya diisi air lalu dimasukkan kembali ke dalam helm.

Tentu percobaan itu berlangsung puluhan kali hingga akhirnya ia berhasil mendapati helm kestabilan suhu menjadi 25%C. Mengagumkan!

Tak diduga, proyek iseng-iseng itu berbuah manis, dan mengantarkan ia sebagai peraih medali emas di event bergengsi yang pastinya mengundang perhatian jutaan mata dunia. Sebuah prestasi anak bangsa yang mengagumkan kita semua.

Dan sebuah perusahaan/industri helm langsung memproses produksi helm itu dengan merk NARA VISION, dan rencana Agustus 2012 udah beredar di pasaran.

Memperbincangkan hal-hal pemacu semangat dalam keluarga, menjadi suntikan energi positif yang sangat mencerahkan bagi kami semua.

Dan mendiskusikan topik tulisan yang akan ditayangkan hari ini, besok atau lusa, adalah salah satu komunikasi efektif yang kami rasakan manfaatnya sebagai sebuah team work,yang saling melengkapi. Banyak hal yang akhirnya tak lolos dalam seleksi untuk menjadi tulisan, namun toh sarat pembelajaran. Karena belajar bersama, diskusi/ bertukar pikiran dengan bumbu humor-humor khas kami, mampu mewarnai hari-hari kami dengan belajar dan bermain, layaknya anak pra Sekolah…:)

Dan satu lagi…otomatis sangat efisien untuk mengurangi kesempatan memperbincangkan hal-hal yang kurang bermanfaat tentunya…:)

Itulah sekilas ”Behind The Scene” episode belajar menulis ala saya.

Berjuta jalan menuju Roma tentunya…. Banyak hal dan kegiatan positif lain yang bisa dilakukan di rumah, di saat kita dalam kondisi menunggu, atau mengisi berbagai waktu luang lainnya.

Namun kini saya semakin meyakini bahwa….menulis mempunyai segudang manfaat yang hanya bisa dirasakan saat seseorang telah mencobanya.

Jika saat ini baru hobby menulis status dan berkirim sms,…..semoga akan lebih banyak lagi rekan-rekan yang berkenan menyusun kata itu menjadi jalinan paragraf demi paragraf…..Agar hidup menjadi lebih berwarna. Karena menulis adalah sarana belajar yang menyenangkan…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s