Tentang Ipung – Edisi 1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Secangkir teh manis dan pisang goreng hangat menjadi teman ”bersantai” sore ini…

Pisang uli masak yang dibelah dua, diceburkan ke dalam adonan tepung terigu, sedikit mentega, sedikit gula pasir dan sedikit tepung tapioka sangat renyah dan maknyuuus terasa… Siapa lagi yang akan memuji hasil karya sendiri bukan?🙂

Di saat tak ada asisten rumah tangga seperti sekarang ini, saya memutuskan untuk menghadapinya dengan santai dan tak ”seheboh” dulu. Urusan beres-beres rumah yang tak ada putusnya meski dengan area yang tak seberapa luasnya, bisa mengundang kejenuhan bagi siapa saja. Belum lagi urusan menyiapkan makan, mengurus keperluan anggota keluarga lain ( anak + suami ), tentunya aktifitas lain yang dapat terlihat sepele, tapi tetap menyita perhatian dan energi.

Nak,…biarkan embak pulang…tak usah ditangisi. Siapapun yang bekerja di rumah ini bisa datang dan pergi…Karena mereka juga punya orang tua, dan punya masa depannya sendiri. Yang penting Bapak dan Ibumu selalu ada di sini,…Kita tetap bermain dan bercerita setiap hari,…Membaca buku bersama…dan bla bla bla….” Demikian saya menata mental putri kami yang sangat dekat dengan embaknya yang memang sangat baik hati, lembut tutur kata dan bahasa serta perilakunya.

Sejak itu, kami semua terlatih mandiri. Terutama setelah musim Lebaran usai, saat asisten belum datang atau tidak datang kembali. Segala keribetan akhirnya dapat ternikmati, dengan keyakinan yang sama di antara kami ; yang penting kami bertiga lengkap berada di rumah ini, dengan nikmat kesehatan yang adalah karunia tertinggi.

Saya meyakini keibukan ibu rumah tangga, pekerja, pedagang, wirausahawan, pelajar dan semua jenis profesi adalah hal yang dihadapi semua manusia. Jika kita tidak pandai-pandai memotong aktifitas tersebut sekedar menikmati ’suasana santai” yang kita buat sendiri, pastilah ia akan bergulir terus hari demi hari. Ketidakmampuan mengatur waktu itulah yang menjadikan kita terbelenggu oleh rutinitas hidup yang seolah tanpa henti.

Jika Pak Habibie dan Pak Dahlan Iskan disela-sela kesibukan yang teramat tinggi masih menyempatkan diri membaca novel bermutu, pastilah ada sebuah manfaat besar yang mereka peroleh darinya.

Bukankah melakukan sesuatu yang juga dikerjakan oleh orang-orang hebat adalah sebuah spirit tersendiri? Ya, karena sebuah keyakinan akan menjadi dasar dan landasan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik.

Maka, tradisi ”minum teh hangat” sambil membaca atau menulis ini adalah salah satu upaya saya dalam mendapatkan kegembiraan di sepanjang hari….

Dan sore ini, saya mengisinya dengan membaca sebuah novel berjudul ”Hidup ini Keras, Maka Gebuklah!” karya Prie GS.

Saya sudah menduga, judul yang provokatif itu pastilah berisi cerita bermakna yang dibungkus tradisi penuh humor penulisnya.

Novel ini adalah kumpulan 3 cerita berjudul Ipung 1, Ipung 2 & Ipung 3. Tulisan Ipung 1 lahir di 1980-an, Ipung 2 & Ipung 3 terbit di tahun 2000-an dengan jarak waktu sekitar 2 tahunan. Sebenarnya sang penulis berencana melanjutkan ceritanya hingga Ipung 7, yang sampai sekarang belum terwujud.

Meski cerita lama yang diangkat kembali, buat saya tetaplah cerita baru karena memang baru sekarang tulisan ini sampai ke tangan saya.

Benar dugaan awal saya saat membaca judulnya….! Buku ini akan mempu memberikan hiburan dan kegembiraan tersendiri buat saya. Dan ternyata lebih dari itu, saya mampu tersenyum dan tertawa-tawa seperti orang gila…! Edaaaan, Mas Prie GS!

Di sini saya akan mencoba berbagi cerita meski saya yakin tak akan sanggup memberikan pemahaman sebagaimana seseorang membaca langsung buku tersebut.

—————————————————————————————————————–

IPUNG 1

Ipung adalah seorang anak yang berlatar belakang keluarga miskin di sebuah desa bernama Kepatihan, Solo. Ayahnya sudah lama meninggal, sehingga ia hidup bersama Minarni, sang Ibunda dan Lik Wur, adik ibunya yang berusia 35 tahunan.

Lik Wur terkenal sebagai pribadi yang kocak, penuh humor dalam keseharian di tengah kesederhanaan hidup keluarganya. Ia menjadi motivator terbaik Ipung, sehingga apa yang diucapkan Pakliknya menjadi mantra tersendiri yang bekerja dengan sangat ampuh baginya.

Sudirman itu jendral, Soeharto juga jendral. Keduanya dari desa. Soekarno itu presiden, Susilo Bambang Yudoyono juga presiden. Keduanya juga dari desa. Mereka semua, asalnya dari desa. Kesimpulannya, semua orang hebat adalah wong ndeso. Karena itu kamu jangan minder, meski kamu wong ndeso” ujar Lik Wur dengan tawanya yang ngakak. Sebuah kalimat yang membuat Ipung sesak oleh semangat.

( Mengenai novel ini ditulis tahun 1980-an, saya sendiri agak bingung. Kok ada SBY segala? Suatu ketika jika ada kesempatan akan saya klarifikasi ke penulisnya…:).red )

Kata-kata itulah yang diingat Ipung saat ia diterima di sebuah sekolah SMA Unggulan bernama SMA Budi Luhur di Semarang. Sebuah kota impian di masa kecil, yang kelak akan mengantarkannya ke masa depan yang lebih baik. Bahkan jika mungkin akan ia putar nasib hidup keluarganya agar tak semiskin hari itu.

SMA Budi Luhur adalah gudangnya anak orang kaya. Deretan mobil mewah di parkiran adalah kendaraan para siswa di sekolah itu. Sementara Ipung, memarkir sepeda tua satu-satunya di parkiran motor dengan tanpa ada rasa minder maupun rendah diri sedikitpun.

Pak Bakrie, adalah guru yang merangkap wakil kepala sekolah di Budi Luhur. Beliau adalah guru yang terkenal galak dan menjaga kewibawaan dengan sangat hati-hati.

Maka, di hari pertama masuk sekolah, semua siswa sudah mengumpulkan segala hormat dan taat pada guru yang sejak MOS ( Masa Orientasi Sekolah ) telah menunjukkan sifat sok galaknya.

Ipung sebel melihatnya. Tapi tak satupun siswa yang dapat memperlihatkan sikap tidak tegang hari itu. Semua saling asing dan saling menjajagi.

”Sebuah sekolah unggulan di kota, tapi untuk menghadapi rasa tegang, ternyata sama kampungannya” begitu pikir Ipung🙂

Saat Ipung mengedarkan pandangan, ia menangkap sesosok gadis cantik dengan rambut tergerai. Kulitnya bersih dengan tampang anak kota, yang belakangan ia ketahui bernama Paulin. Rupanya Paulin ini bukan hanya tercantik di kelasnya, bahkan di sekolahnya… Meski sebentar memandangnya, tapi dada Ipung lama berdesir….( cerita khas anak muda, tapi ada hal yang tak biasa, yang akan kita lihat di babak selanjutnya).

Di puncak wibawa Pak Bakrie mengajar, Ipung tunjuk jari. Darah Pak Bakrie naik ke ubun-ubun.

Ada apa?” sapa Pak Bakrie mencoba tenang dan berhasil menguasai keadaan dengan cepat.

Saya minta ijin ke belakang Pak..!” dan….”Gerrrr....” tawa seluruh kelas meledak seketika.

Spontan. Nada bicara Ipung yang orisinal dan tanpa beban, sangat lucu terdengar.

Pasti ada masalah dengan kandung kemihmu,” Pak Bakrie menjawab dengan tetap mempertahankan wibawa sebisanya.

Itulah Pak…Padahal baru jam pertama” timpal Ipung enteng. Ia ngeloyor pergi dengan sedikit di tekuk. Lagi-lagi anak-anak tertawa. Apa salahnya anak ingin buang air kecil. Dan suasana kelas cair seketika.

Singkat cerita, Ipung, si cowok desa kerempeng dengan kulit coklat ketuaan itu telah berhasil memberikan kesan pertama di kelasnya. Pak Bakrie, guru yang tak pernah hafal nama ratusan muridnya, di kemudian hari jadi enteng dan selalu teringat dengan seorang murid bernama Ipung.

Dimulai kesan pertama itulah Ipung menjadi terkenal tidak hanya di kelas, tapi hingga ke kelas-kelas lainnya. Dan gadis cantik bernama Paulin, diam-memperhatikannya, meski dengan sekuat tenaga ia menyimpan rasa kagum yang entah darimana datang begitu saja.

Ipung melihat dengan kilatan matanya. Gadis itu membersitkan senyum di kejauhan. Ipung pura-pura tak melihatnya. Ia yakin aktingnya sempurna. Ia punya alasan untuk tak melihat karean kerubutan para “fans”nya.

Rasain, batin Ipung. Tak ada cewek tertarik padaku lewat pandangan pertama. Tampangku kumal. Tapi lihat, ada yang lebih berharga dari pandangan pertama… :):)

Bubar sekolah Ipung cabut dengan cepat. Paulin anti memburu dengan kilatan matanya. Tuhan, cowok kerempeng itu tak punya cukup waktu untuk memperhatikanku. Paulin terpaksa meragukan kecantikannya sendiri. Padahal, di jalanan, Ipung bernyanyi dengan kepala dipenuhi potret si Paulin…

Di babak pertama novel ini saya sudah terhibur dengan cara penulisnya menggiring imajinasi untuk merasakan kelucuan dari cerita keseharian anak-anak muda.

Namun satu hal yang menjadi catatan saya adalah, kalimat-kalimat dari Lik Wur yang layak dicermati oleh generasi muda. Anak desa, anak yang terlahir dari keluarga sederhana bahkan miskin sekalipun, perlu melekatkan pesan itu di dalam kepala ;

” Sudirman itu jendral, Soeharto juga jendral. Keduanya dari desa. Soekarno itu presiden, Susilo Bambang Yudoyono juga presiden. Keduanya juga dari desa. Mereka semua, asalnya dari desa. Kesimpulannya, semua orang hebat adalah wong ndeso. Karena itu kamu jangan minder, meski kamu wong ndeso”.

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s