Kereta Api dan Pabrik Harapan Kami

Berapa nomor telepon kantor?” tanya seorang klien kemarin pagi yang lebih hafal nomor handphone saya sehingga sepertinya tak berminat menyimpan nomor telepon kantor kami di daftar phone book-nya. Ini adalah salah satu keunikan hidup yang kadang saya sendiri bingung, harus heran atau mengagumi sebagai penghargaan tertinggi atas apresiasi terhadap sahabat yang belum pernah sekalipun bertatap muka meski berkali-kali bekerja sama..:)

Beliau adalah seorang Bapak ketua yayasan sebuah sekolah di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

02148703644; 48700121. Saya akan segera hubungi Bapak setelah tamu saya pulang ya…:)”demikian balas saya cepat. Saya mengusahakan untuk membalas sms secepat jari-jari si pengirim pesan menekan key pad handphone-nya. Jika tak sempat membalas panjang, saya terbiasa mengetik singkat “otw” untuk menjelaskan saya sedang di jalan, di ojek, dsb. Atau “meeting”, atau “masak dl y, tar sy call back” atau “sdg ribet,tar ya”..dst.

Kebiasaan itu mungkin tidak murni 100% dapat berjalan seideal yang saya pikirkan dan niatkan. Namun setidaknya, telah tertanam dalam benak untuk dapat menjalankan sesuai nilai-nilai yang saya yakini dapat membuat nyaman orang lain karenanya.

Meski kenyataannya juga tidak segampang teori-teori yang mutlak telah kita sepakati dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai pesuruh masyarakat di lingkungan kami, saya terbiasa menerima teman-teman yang membutuhkan tanda tangan dan stempel RT untuk berbagai keperluan, entah pembuatan KTP, perubahan KK, surat pindah, surat pengantar nikah, dan berbagai surat keterangan lainnya. Ini karena pemegang otoritas tanda tangan biasanya telah pergi ke ladangnya di pagi buta, sementara kepentingan orang juga tak dapat ditunda. Jadi praktis 80% tanda tangan diwakili oleh saya yang lebih mudah orang untuk menemui di markasnya. Ketua RT, adalah jabatan tak diharapkan oleh  sebagian besar masyarakat daerah perkotaan maupun pinggirannya…:)

Rutinitas dan kesibukan “mencangkul sawah dan ladang” di perkotaan memang kadang mengantarkan kita menjadi orang yang malas dan enggan untuk mengurusi kegiatan lain, apalagi sosial yang lebih banyak ribetnya daripada nilai “kebebasan dan kenyamanan” hidup yang kadang tak ternilai harganya.

Buku “Habibie dan Ainun”-lah antara lain yang membuka mata kami tentang arti sebuah kepedulian. Di halaman 146 buku yang menjadi sepenggal catatan hidup salah satu tokoh terbaik negeri ini, Pak Habibie menuliskan :

Saya berkeyakinan bahwa dalam ajaran agama Islam, dengan nilai moral dan etik Al Quran, cendekiawan adalah siapa saja yang sangat peduli terhadap lingkungannya, baik manusia atau seisi jagad raya alam semesta ini. Mereka harus peduli apa saja. Kalau pun dia seorang Guru Besar – Profesor Doktor dan meraih hadiah nobel, tetapi dia tidak peduli pada sekitarnya, bagi saya dia adalah seorang ahli atau pakar saja. Bukan seorang cendekiawan. Mereka yang tak peduli terhadap kehidupan lingkungannya dan hanya kepada buku dan ilmunya saja, dia bukan cendekiawan….”

Kami pasti tak dapat disetarakan dengan para ahli dan kaum cerdik cendekiawan yang tersebar di negeri ini. Juga bukan termasuk barisan orang-orang hebat dan terkenal serta pandai di depan sana. Namun definisi cendekiawan menurut Pak Habibie itu jelas adalah semangat bagi semua manusia termasuk saya, untuk dengan segenap gairah mendapatkan gelar “cendekiawan” di hadapanNya. Bukankah orang-orang berilmu itu yang kelak akan mendapat derajat kemuliaan di sebuah kehidupan abadi di hari akhir?

Selamat pagi Pak….maaf baru bisa menghubungi. Bagaimana kabar? Ada angin segar apa pagi ini nih?” demikian saya membuka sambungan telepon memenuhi janji dalam sms sebelumnya.

“Iya Mbak, mau minta bantuan lagi. Seperti tahun lalu, kita mau bawa anak-anak ke Jogja lagi. Tapi dengar-dengar sekarang ada kabar baik tentang kereta api. Sekarang ini naik kereta sudah cukup nyaman, jadi ibu-ibu komite mengusulkan bagaimana kalau rombongan pulang-pergi pakai kereta saja. Lebih cepat pastinya. Nanti city tour di Jogja-nya bisa pakai bus lokal” demikian Bp. Rm menjelaskan maksudnya.

Oooh…iya ya….Tentang kereta api ini bukan hanya kabar baik bagi Bapak, tapi saya rasa juga kabar baik bagi seluruh penjuru tanah air, yang tadinya hampir putus asa kita menantikannya.

Baca artikel Pak Dis di http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/09/03/tidak-bayi-tergencet-akuarium-pun-jadi/, saya sudah ikut sesak oleh semangat dan energi.

( Dalam hati saya menggarisbawahi ; tulisan itu jelas menimbulkan harapan-harapan baru yang saya ciptakan sendiri. Tepat sekali jika tulisan itu bertajuk ”MANUFACTURING HOPE”, karena ia memang bekerja bak pabrik baru dengan mesin-mesin baru, bangunan  baru, dengan seluruh SDM yang mempunyai semangat baru, dan penuh segala hal yang TERASA BARU.

Dan mendengar testimoni saudara dan teman-teman yang sudah mencobanya, mengukuhkan keyakinan saya bahwa tulisan itu sangat bernyawa karena memang menceritakan kondisi sebenarnya. Bukan bualan semata. )

”Hayuuk lah, ke Jogja naik kereta Pak! :):). Kapan dan berapa orang rencananya Pak? Kami kalkulasi dan kabari Bapak segera” demikian sambutan meriah saya menanggapi permintaan penawarannya.

Hari ini kalkulasi estimasi anggaran jalan-jalan siswa itu akan kami siapkan dengan cermat dan teliti, berikut jadwal acara serta rute yang tidak hanya mendatangkan kegembiraan dan kenyamanan, tapi juga bermuatan edukasi yang seharusnya didapatkan.

Penawaran ini sesungguhnya adalah salah satu dari deretan pekerjaan team kami yang selalu riuh sepanjang hari. Susul menyusul datang silih berganti tanpa henti. Tidak semua penawaran itu kemudian akan menjadi job order kami, itu jauh-jauh telah kami sadari.

Dan kegiatan membuat penawaran, mengira-ira kemampuan, kebutuhan serta kesenangan orang inilah  menjadi sesuatu yang selalu menarik untuk dicermati. Kami bersemboyan bahwa untuk menjalankan sebuah usaha, diperlukan sebanyak mungkin penawaran dan prospek.

Semakin banyak prospek, berarti semakin tinggi kemungkinan menjadi JO( job order). Begitu pula sebaliknya….

Diam-diam saya memperhatikan proses demi proses yang terus terjadi dalam keseharian kami. Dan akhirnya saya sampai pada kesimpulan, tak peduli berapa kecilnya permintaan penawaran itu datang kepada kami, itu adalah sebuah rejeki. Kenapa? Karena permintaan penawaran itu setara dengan MH versi Pak Dis itu sendiri. Pabrik harapan bekerja lebih tinggi dari berapa nilai yang dihasilkan, namun berapa semangat dan energi positif yang ditimbulkan.

Dan dari pengamatan dan pengalaman itulah saya menarik kesimpulan berikutnya, bahwa ternyata manusia mampu mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya, jika saja ia mempunyai sebuah tujuan. Dan tujuan itu setara dengan sebuah harapan atau meminjam bahasa sebelah sana adalah ”HOPE” :):)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s