Catatanku tentang Sekolah Kita

Rasanya baru kemarin sekolah itu kami tinggalkan. Sebentuk gedung megah di mataku ketika itu. Bangunan indah nan tinggi menjulang berhalaman luas membentang, dikelilingi pepohonan besar yang rindang. Juga taman-taman asri di depan setiap kelasnya adalah magnet pertama bagiku, dan kuyakin bagi semua siswa-siswi baru di sekolah itu.

Puluhan guru-guru muda yang antusias mengajar terbaca dari tatapan mata, senyum, sapa dan gerak geriknya yang adalah daya pikat lain bagi kami semua.

Setiap kali sepeda jengki biruku memasuki halaman SMP itu, di saat yang sama mataku akan menatap ke sebuah lukisan besar dan indah yang terpampang tepat di atas kantor tata-usaha, yang juga adalah serambi muka sekolah kami.

Lukisan siswa-siswi berseragam putih-biru menyungging senyum penuh energi dan bertuliskan sebuah slogan edukatif : CERDAS-TRAMPIL-TAQWA telah menggambarkan segenap tekad menggapai impian di depan sana. Setiap kali menatapnya, dadaku sesak oleh semangat untuk menjadi orang yang berguna nantinya. Berbagai ilmu yang kan dialirkan oleh para guru-guruku, semoga kan membentukku menjadi pribadi yang cerdas, menguasai berbagai ketrampilan dan menjadi pribadi berkarakter yang bertaqwa.

Maka ketika suatu hari kakakku yang di Jakarta pulang, dan bertanya kepadaku “Apa cita-citamu nanti?”

Dengan sepenuh kepedean diri, aku menjawabnya dengan lantang “Aku mau menjadi arsitek!”

Cukup sederhana analisaku untuk menggapai sebuah profesi yang di mataku amat bermartabat ; seorang arsitek. Aku suka membuat sket dan gambar, juga hobby memadukan garis dan warna dalam sebuah lukisan. Dengan ditambah pengetahuan terhadap ilmu eksakta yang diperlukan, tidak mustahil cita-cita setinggi bintang di angkasa itu kan kuraih suatu hari nanti.

Barangkali, lukisan itulah yang mendongkrak impian anak desa sepertiku membumbung tinggi. Lukisan itu sungguh menggugah jiwa dan cukup berpengaruh bagi pembentukan karakterku, sejak ayunan langkah pertama di sekolah itu.

Bertahun-tahun kemudian baru kutahu, bahwa itulah maha karya sebuah team hebat di sekolah kami. Mereka adalah salah satu kakak kelas yang belum pernah kukenal hingga hari ini, dan 2 orang guru muda paling kreatif di jaman itu. Yang adalah Pak Lis Indrianto dan Pak Hartanto. Keduanya adalah guru muda favorit dan terkenal di masanya.

Masih jelas tersimpan kenangan masuk sekolah di hari pertama. Suasana hiruk pikuk yang terasa asing. Sejenak aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ohh…rupanya ada beberapa murid baru lain yang adalah teman SD-ku juga. Ada rasa gembira dan tenang yang diam-diam mengaliriku. Dalam hati aku bergumam ”Alhamdulillah, ada teman se SD. Setidaknya ada bala kurawaku di tempat asing ini.”

Bahwa aku memiliki teman lama di kelas itu terlambat kusadari. Aku duduk begitu saja, di sebelah siswi yang masih sangat asing, yang entah dari SD mana ia berasal.

”Indah, dari SD Mangunranan…!” Begitu gadis ayu berwajah putih bersih dan berambut ikal yang duduk di sampingku mengulurkan tangannya, tepat di saat aku baru saja menyelesaikan edaran mata mempelajari situasi baru di kelas itu.

Aku tersenyum lebar menyambut uluran tangannya, sambil menyebutkan nama panggilanku yang akrab di telinga sedari aku kecil….

Sejak itu kami menjadi teman sebangku dari kelas 1 hingga kelas 3, tanpa terpisah seharipun juga. Hubungan kami tidak hanya sebatas teman dan sahabat, namun sudah seperti saudara. Termasuk kedekatanku dengan orang tuanya, dan sebaliknya.

Perkenalan itu telah menjadi pembuka sejarah persahabatan dan persaudaraan kami hingga puluhan tahun berikutnya.

Buat Indah, keberadaanku barangkali saja cukup dirasakan sebagai pelangkap hari-harinya. Ia yang cenderung sabar, pandai menahan diri, santun dan sedikit penakut, serta amat pemalu, merasa mendapat teman yang pas. Begitu lembutnya ia bertutur, hingga suaranya nyaris tak terdengar setiap kali diminta maju ke depan kelas.

Di sampingnya hari-hariku pun menjadi terasa lebih berarti. Ia banyak mengandalkanku di berbagai situasi.

Meski rambut lurusku kubiarkan panjang sepinggang tapi tingkahku mungkin jauh dari feminin. Biasanya aku hanya mengikat rambut itu menjadi satu ikatan ke belakang dengan karet warna-warni. Penampilan yang simpel saja tentunya.

Tak heran, guru idolaku adalah guru IPS, Ibu Pur. Gaya ibu guru cantikku itu sangat mencerminkan seorang wanita mandiri yang tegas, dan cenderung galak barangkali. Suara sepatunya yang berhak tinggi “theklok..theklok…theklok…” sudah mencerminkan kewibawaannya. Suaranya yang merdu, terdengar tegas. Meski beliau suka menyelipkan guyonan di sela-sela mengajarnya, seluruh murid hanya akan ikut tertawa sekadarnya. Entah mengapa, seluruh murid begitu segan terhadap beliau.

Itulah sosok yang di mata saya begitu luar biasa berkharisma….!:)

Di masa remaja itu, yang kuingat perangaiku sedikit galak, sedikit judes, dan teman-temannya….:)

Lengan baju yang sedikit dilinting ( dilipat ) satu kali adalah ciri khasku yang mungkin terkesan agak sedikit ”bergaya”. Entahlah….aku merasa lebih keren dengan penampilan itu…he he he..

Di sekolah kami, banyak sekali guru yang menjadi idola murid-murid karena berbagai keistimewaannya. Sebutlah namanya Pak Khamdi Sucipto. Tak ada yang tak mengenal guru paling kocak dalam sejarah belajar-mengajar di sekolah kami. Guru bahasa Indonesia itu seolah mempunyai segudang cerita yang tak pernah ada habisnya. Seperti mata air yang tak pernah kering layaknya. Beliau adalah salah satu guru favorit murid sepanjang masa. Setiap ada pelajaran kosong, selalu saja beliau kami jemput untuk mengisi kekosongan kelas.

Berbagai kisah dan dongeng seperti 1001 malam yang pun diceritakan secara bersambung, si Kancil, dan Kisah Roro Jonggrang serta aneka kisah fabel lain yang sangat menarik menjadi hal yang kami tunggu-tunggu.

Beliau juga mengisi majalah dinding dengan cerita menarik serupa ”Si Tepos”. Sebuah cerita bersambung yang tebakan kami adalah, penjelmaan seorang kisah seorang murid pintar di sekolah kami. Kakak kelas kami itu kini telah menjadi seorang profesor muda di sebuah Universitas Negeri di Jawa Tengah.

Pak Khamdi adalah kamus berjalan yang hafal hampir seluruh nama-nama murid yang pernah beliau kenal. Kemampuan menghafalnya yang luar biasa mungkin setara Gus Dur!:)

Tentu banyak guru lain yang meninggalkan berbagai catatan indah di hati kami. Tentang Ibu Kristiningsih, wali kelas kami yang selalu ramah dan bersahabat. Tentang guru seni rupa, Pak Agus yang telah memberikan suntikan motivasi dengan pujian kecil pada lukisanku. Tentang pengalaman pertama mewarnai pakaian dengan zat pewarna tekstil ’wenter”,belajar menyeterika pakaian dengan rapi, belajar mengelantang pakaian, adalah kenangan indah lainnya dari Ibu Hayati, guru ketrampilan kami.

Di waktu istirahat, ada 2 hal yang sering kulakukan. Jajan di kantin, dan ke tata usaha mengambil surat dan wesel dari Jakarta.

Kantin itu cukup sederhana, namun lebih dari cukup untuk ukuran kami saat itu. Tahu brontak dan bakwan Pak dan Bu Simun sangatlah melegenda.

Kecambah kacang hijau (tauge) dan potongan wortel dan kol yang masukkan di tahu kulit yang kosong dan dibungkus tepung itu sungguh nikmat dan gurih terasa. Tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya selain maknyuss!🙂

Surat dan wesel dari kakak di Jakarta yang datang secara periodik menjadikan seluruh staf TU mengenalku dengan sangat baik tentunya…:)

Sebagaimana masa remaja pada umumnya, cerita-cerita anak muda juga turut mewarnai hari-hari kami.

Suatu ketika, seorang teman tersenyum-senyum mendekatiku sambil menyodorkan sebuah amplop. ”Dit…ada titipan dari X”.

”Apa ini ?? hmm… ” Kuraih amplop dari tangan Iwan, teman sekelasku. Tanpa sempat kubaca isinya kurobek dan kulemparkan ke tempat sampah. Kontan si kurir itu terbelalak, namun tertawa sambil berlalu.

”Wis, ora ngurusi cah iseng In!” * demikian ceritaku pada Indah, sahabatku. Dan tak pernah kutahu isi surat itu hingga hari ini. Surat cinta monyetkah? Atau surat permintaan kenalan saja? Entahlah…. Yang jelas, cukup geli mengingat kekonyolan sikapku hari itu…Dasar anak-anak! :):)

Indah sahabatku, telah banyak mengajarkanku akan sebuah kesabaran, toleransi, dan berjuta kebaikan lainnya. Perlahan tapi pasti, aku berhasil menurunkan egoisme dan rasa mau menang sendiri dari berbagai hal kecil yang kami hadapi. Terimakasih sahabatku…..:)

Mengenang sekolah beserta seluruh isi dan penghuninya…. seperti menghadirkan berjuta kenangan indah yang tak kan lekang oleh waktu. Jika kutuliskan sebuah buku setebal 500 halaman pasti tak kan cukup menampung seluruh kisahnya.

Sahabat dan guru-guruku adalah satu episode dalam sejarah hidup, dimana mengenang mereka semua, menjadikan hidupku merasa lebih bermakna.

Jutaan pelajaran hidup maha penting yang kan mempengaruhi pembentukan karakter diri telah kudapatkan di sana.

Arsitek, sebuah profesi yang kucita-citakan memang tak kugapai hari ini. Tapi proses hidup telah banyak mengajarkanku bahwa, ruh dari cita-cita itu sendiri lebih tinggi peranannya dibanding perolehan atau hasilnya.

Cita-cita itu telah menuntun langkahku untuk berjalan dengan lebih hati-hati. Menyusupkan sebongkah harapan di sepanjang nafas perjalanan. Meniupkan ruh yang menjadikanku menjadi diri sendiri.

Meski kini, kami semua melanjutkan hidup di jalan masing-masing di atas takdir yang telah digariskanNya, namun kenangan bersama mereka, sahabat dan guru-guruku akan selalu indah dan tertata rapi dalam sanubari.

Tak akan ada hari ini, jika tak ada hari yang lalu…

Yang kutahu, engkau semua telah andil dan berperan banyak dalam kehidupanku….Semoga segala kebaikan dan kebahagiaan pun mengiringi langkah kalian semua, sahabat dan guru-guruku, inspirasiku.

Jika Allah menghendaki, semoga Ia mempertemukan kita kembali dalam jalinan silaturahim di masa kini dan hari-hari selanjutnya…

Dengan segala kehangatan persahabatan dan keindahan yang adalah milik kita bersama….:)

Note :

*) Sudah, tidak usah diurus, anak iseng.

Tulisan sederhana ini saya buat sebagai suntikan semangat buat teman-teman di Grup FB Alumni SMP N 1 Mirit, Kebumen. Meriahkan ajang lomba menulis di grup kita sebagai ajang mempererat silaturahim! Ditunggu kiriman tulisannya sebelum 31 Oktober 2012 ya!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s