Langit Bercahaya di Atas Atap Tetangga Kami

Minggu pagi, saya menghadiri acara syukuran pemberangkatan haji salah seorang tetangga kami. Minggu depan, pasangan suami istri itu akan melaksanakan panggilan Allah ke tanah suci.

Sudah puluhan kali acara seperti ini kami hadiri, dan puluhan kali pula meninggalkan kesan yang mendalam di hati. Berbagai perasaan menyeruak muncul seiring dengan lantunan shalawat dan ucapan selamat jalan. Rasa haru, sedih dan bahagia yang sulit untuk diterjemahkan ke dalam rangkaian kata.

Beribu jalan menuju Roma. Pun berbagai cara manusia untuk dapat mencapai rumahNya di Baitullah sana.

Tentu saja ada segelintir orang dapat meraihnya tanpa perjuangan yang keras. Karena warisan orang tua atau keluarga, karena sebuah ongkos perjalanan dinas dari sebuah lembaga. Karena traktiran saudara, karena rizki yang melimpah yang sampai ke tangannya. Ya, banyak sekali cara…..yang semuanya pastinya menyimpan hikmah dan kisahnya masing-masing.

Teringat obrolan dengan tetangga saya tersebut beberapa waktu lalu….

Sudah lama kami hanya sempat bertegur sapa di kejauhan, sambil saling melempar senyuman. Maka ketika kebetulan kami berkesempatan jalan kaki bersama sepulang dari arisan RW, saya pun melemparkan sebuah pertanyaan yang  memang lama terpendam ;

”Bu, kok sudah 2 Ramadhan tidak jualan bakwan dan tahu isi yah….Padahal enak sekali loh… Saya berapa kali sengaja melewati rumah Ibu, tapi tak ada tanda-tanda sajian apapun di sana”

Sebenarnya dulu saya juga sering membeli masakan berupa aneka lauk pauk matang di rumahnya, di luar bulan Ramadhan. Ini sangat membantu di saat banyaknya pekerjaan, utamanya di waktu tak ada asisten rumah tangga di rumah kami. Masakan rumahan yang disediakan memang terbilang murah dan nikmat rasanya.

Jelas terlihat tidak hanya asal matang, tapi juga memperhatikan kualitas, kebersihan, cita rasa, estetika dan daya tarik lainnya.

Maka tanpa sengaja, kisah yang tersimpan sangat rapi dari keluarga tetangga saya itu keluar juga.

”Iya Bu…. Sekarang sudah tidak sempat jualan lagi. Alhamdulillah usaha kami sudah jalan kembali….Allah telah membayar semua cobaan dengan cash lengkap dengan devidennya!”

Dikisahkan, sekitar sepuluh tahun terhitung dari 1998 – 2008, Ibu Yj dan suaminya yang menjalankan usaha dalam bidang cargo telah berhasil menggelindingkan usaha dengan sangat baik. Sebuah rumah terbeli, dan sejumlah tabungan berhasil dikumpulkan. Malang tak dapat ditolak, cobaan pun datang bak gelombang tsunami yang menghajar dan meluluh lantakkan perekonomian keluarga itu.

Berbagai ujian berupa piutang ratusan juta yang tak tertagih, dibohongi rekanan, dan aneka bentuk kerugian yang datang bertubi-tubi menjadikan usaha dan ekonomi terpuruk seketika. Tabungan amblas, dan usaha berhenti karena kehabisan nafas.

”Suami saya hampir stress ketika itu. Beliau banyak berdiam diri di rumah dengan berbagai perasaan yang sangat menyiksa. Menjadi sangat sensitif dan mudah marah. Ya, gabungan antara marah dan putus asa tepatnya.

Tapi saya berusaha untuk kuat dan ikhlas menerima semuanya.

Saya terus berusaha memahami dan menyadarkan suami bahwa inilah hidup yang sebenarnya. Betapa Allah sangat berkuasa atas makhluknya. Jika Ia berkehendak, dalam sekejap, harta yang kita miliki akan lenyap seketika. Bagaimanapun kita harus berserah dengan terus meyakinkan diri bahwa ketentuanNya adalah yang terbaik bagi hambaNya. Tak ada tempat berharap selain pertolonganNya. Sungguh berat memang, dan pastinya tak akan mampu saya ceritakan semua. Intinya dalam kesulitan yang membelit kami, banyak saudara menjauhi. Bahkan pembantu rumah tangga pun memilih meninggalkan kami.

Saya jualan makanan itu adalah bagian dari ikhtiar. Setidaknya kami dapat makan sehari-hari dari keuntungan yang didapatkan hari itu. Setidaknya kami dapat menolong diri dan keluarga dari bencana kelaparan.

Dan itu berlangsung hingga 2 tahunan saya jalani hari-hari dengan terus memohon uluran tanganNya.

Saya terus membina silaturahim dengan teman-teman yang masih menjalankan usaha di bidang yang sama. Perlahan tapi pasti, Allah seperti membukakan pintu-pintu yang tadinya kami lihat tertutup rapat.

Singkat cerita, berkat bantuan seorang rekan yang berkenan menjadikan kantornya sebagai ”kantor tumpangan” kami, maka usaha kami perlahan-lahan bangkit.

Usaha expedisi cargo kami Alhamdulillah sudah jalan kembali. Saat ini kami banyak melayani pengiriman barang ke Timur Tengah. Subhanallah….saya hampir tak percaya dengan skenario Allah terhadap kami. Sekarang semua cobaannya saya rasakan adalah bentuk peringatan terbesar dari Sang Pemberi Waktu.

Ia bahkan telah membayar secara tunai, lengkap dengan devidennya.

Uang itu sangat mudah kita dapatkan, jika Allah telah berkehendak. Saya sekarang melihat uang dan dunia itu jauh lebih kecil dibanding saat sebelum menerima cobaan berat itu. Berapa pun uang yang kita peroleh, ternyata tak ada artinya dibanding dengan limpahan Rahmat dan BerkahNya berupa hidup, waktu dan kesempatan.

Bulan depan InsyaAllah kami berangkat ke tanah suci Bu…Doakan agar ibadah kami diterima oleh Allah SWT. Semoga jika kami diberi umur panjang, rejeki dan kesempatan, kami dapat meluruskan tekad, bahwa inilah ajang kami berjihad di jalanNya. Dengan segala hal yang Dia titipkan kepada kami…”

Saya mendengarkan dengan penuh rasa haru dan takjub. Takjub atas skenario hidup yang melekat pada wanita setengah baya, yang terkenal baik ramah dan baik hati.

Sungguh kisah hidupnya di luar perkiraan saya, sebagai teman dan tetangga.

”Subhanallah…Semoga Ibu dan keluarga menjadi golongan orang-orang yang beruntung di hari kemudian. Semoga menjadi haji yang mabrur. Terimakasih atas cerita hidup yang sarat pembelajarannya yah Bu… ”

Kalimat tanggapan yang hampir berhenti di tenggorokan karena haru yang mendalam saya ucapkan sebagai perpisahan kami di simpang jalan hari itu.

Maka, dalam pelukan persahabatan kemarin dan tetesan air bening kami semua, diam-diam saya panjatkan doa dengan setulus hati. Semoga Allah merahmati hidup dan keluarganya. Semoga predikat haji mabrur berhasil mereka raih nantinya.

Haji, sebuah ibadah yang sangat dirindukan oleh umat muslim sedunia.

Ia menjadi sarana mendekatkan diri kepada Sang Khalik di bumi para nabi dilahirkan.

Menghadap Zat yang Maha Indah,

Dengan segala Keagungan yang sempurna adalah milikNya,

Semoga sebelum ruh terlepas dari badan,

Kami pun dimungkinkan bertamu ke sana,

Menjadi satu dari jutaan orang yang gegap gempita,

Meluapkan kerinduan, melepaskan segala penat dan dahaga,

Memohon segala ampunanNya,

Sepenggal kisah Ibu Yj menjadi energi besar dalam melanjutkan perjalanan dan perjuangan kami di bumi ini.

Bahwa jika pun hidup sedang berada di titik terbawah, dan sekujur tubuh terasa dihempaskan badai kehidupan, terus berbaik sangkalah kepada Sang Pemilik hidup. Berusahalah terus bangkit dengan iringan do’a dan tawakal yang sempurna.

Berhaji ke tanah suci adalah cita-cita mulia yang terbuka untuk siapa saja yang mengharap panggilanNya.

Jalan mana yang akan terbuka untuk kita, biarkan Allah yang akan menentukanNya…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s