Ruang Luas ini Milik Kita

“Ibu sibuk BBM terus sih…aku kan mau cerita Ibuuuu…..Dari tadi aku sudah menunggu nih…” Demikian protes Mutia, junior kami suatu ketika.

Dan seperti biasanya, saya berkilah demi menjaga perasaannya.

”Ini bukan BBM Nak, Ibu sedang balas-balas sms penting. Ibu kan hanya punya satu handphone ini, jadi ya sms atau BBM ataupun email, semua masuk di sini. Kalau tidak segera Ibu jawab, nanti mereka terlalu lama menunggu. Setelah selesai, pasti handphone Ibu taruh deh…. Ibu senang sekali mendengarkan ceritamu….”

Demi mendengar anaknya protes, Bapaknya ikut menimpali ”Sudah ditaruh dulu deh Bu…. Inilah yang disebut menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh….”

Wajah serius yang menyimpan kekesalan itu sungguh sangat tidak enak di mataku.

Degg!!

Teguran itu memang cukup halus disampaikan. Tapi terasa menyengat dan menyentak hati dan pikiran. Sejenak perasaan bersalah tiba-tiba menyelinap.

Benarkah tekhnologi telah mengendalikan dan menguasaiku?

Astaghfirullah….

Secepat kilat kutekan menu ”silent” agar tak terdengar satu ”notification” pun di sana. Kusingkirkan jauh-jauh dari pandangan.

“Baiklah….maafin Ibu ya… Di hari libur seperti ini Ibu janji tidak akan banyak pegang handphone lagi deh. Jika ada yang urgent, biarlah teman-teman Ibu menelepon saja. Agar Ibu dapat menemanimu bermain dan bercerita…..:) ” sebuah senyuman dan uluran tangan permohonan maaf kusampaikan dengan tulus hari itu.

Sebenarnya sudah lama saya tidak tertarik menggunakan Blackberry. Selain harga yang relatif mahal, juga dampak dari keribetan BBM yang datang memang cukup mengganggu kenyamanan.

Namun apa boleh buat, hampir semua klien dan rekanan selalu saja menanyakan nomor PIN BB. Juga rekan-rekan kerja yang semuanya menggunakan BB, akhirnya lebih efektif dan efisien berkomunikasi via grup.

Info yang dibagikan ke grup memungkinkan kami mendapatkan informasi yang sama, dan menghindarkan dari kekeliruan persepsi. Utamanya saat koordinasi acara, grup ini sangat membantu.

Maka sejak itu, saya ”terpaksa” menggunakan Blackberry Smart Phone.

Dari sisi pekerjaan sangat membantu. Komunikasi dengan email ke dan dari klien semudah kita mengirimkan sms. Dari sisi hubungan dengan teman-teman pun jadi lebih mudah, dan ”terasa” murah karena hemat pulsa.

Namun rupanya efek tersebut juga dibarengi dengan resiko-resiko lainnya, yang antara lain adalah :

1. Banyaknya grup yang dibentuk sehingga menambah PR untuk membalasnya.

Untuk menjadi pembaca pasif pun ada rasa sungkan karena sangsi sosial lainnya        menghadang. Dianggap sombong lah, tidak ”semedulur” lah…dst

2. Tanda pesan terkirim ”R” ( read – terbaca ) menjadi beban sendiri jika tidak segera membalasnya. Ada rasa khawatir si pengirim merasa dikesampingkan, diabaikan

3. Email, SMS dan BBM itu terasa mengejar kita untuk segera ditindaklanjuti. Semakin sempit ruang bebas yang kita miliki.

Maka sejak hari itu, saya mulai mencoba berbenah diri. Tekhnologi adalah sebuah sarana mempermudah manusia dalam melakukan sesuatu.  Maka, hal-hal yang saya lakukan adalah sbb :

    1. Keluar dari grup-grup yang terlalu aktif berkomunikasi dan kurang efektif, termasuk grup yang mempromosikan sebuah produk.
    2. Menyampaikan ke rekan-rekan bahwa jika saya telah membaca pesan dan belum membalasnya, berarti itu karena belum sempat. Dan bukan karena mengabaikannya.
    3. Mengkotak-kotakkan masalah dengan lebih cermat. Menyediakan waktu khusus untuk membalas semua email yang masuk. Sehingga tidak banyak waktu tercecer hanya berkutat dengan handphone di tangan.
    4. Sekali-sekali di acara makan di luar di hari akhir pekan, handphone tidak saya bawa.

Dengan pengendalian tekhnologi tersebut, saya merasa sangat terbantu. Ruang keluarga kami menjadi meluas. Cerita harian yang mengalir yang tak terpotong oleh bunyi ’notification” terasa lebih menentramkan di hati.

Maka, di ruangan sederhana tempat kami berkumpul,…hari-hari kami menjadi terasa lebih bermakna. Setiap kami telah menyadari, bahwa kebersamaan dengan orang-orang terdekat adalah sebuah harga termahal yang tak kan tergantikan.

Kebebasan dan kenyamanan hidup sepenuhnya kita sendiri yang menentukan.

Komunikasi yang sewajarnya adalah hal yang harus dilakukan dalam mengendalikan tekhnologi yang nyaris tanpa batas ini.

Semoga tulisan ini dapat mengajak rekan-rekan untuk menengok diri dan berkenan turut berbenah diri. Karena sejatinya, kitalah pemegang kendali tekhnologi itu sendiri, dan bukan sebaliknya…Agar ruang-ruang luas terus tercipta dan terjaga di istana kita, bagaimanapun bentuk dan rupanya….:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s