Rengginang dan Kisah Hidup Pagi Itu

Selasa pagi, 10 Oktober 2012 tepat jam 8 pagi Mbak Cn datang ke kantor kami, 2 jam lebih awal dari waktu yang telah kami sepakati.

”Saya sengaja datang pagi. Ga apa-apa biar saya yang nunggu saja jika Ibu sedang sibuk” demikian wanita 40 tahunan itu berujar dengan santun.

”Ga apa Ibu Cn…. saya yang mohon maaf karena tadi harus menyelesaikan pekerjaan pagi dulu..” sahutku yang baru bisa menemuinya 1 jam kemudian.

Saya merasa harus memanggil beliau Ibu, karena wanita tersebut terlihat sudah sangat matang dengan penampilan dan gerak geriknya yang berwibawa.

Dari sikap tubuh dan pakaian yang dikenakan, beliau lebih cocok berprofesi sebagai guru.

Sehari sebelumnya beliau sms bahwa perlu pekerjaan, dan mau mencoba melamar ke tempat kami. Suaminya yang seorang guru adalah teman baik  sahabat saya yang mantan guru olahraga, dan kini berprofesi sebagai manager sebuah fitness center ternama di Jakarta. Tak ada salahnya kami terima kedatangannya, barangkali saja ada pekerjaan yang bisa kami tawarkan, sehingga bisa saling mengisi dan membantu.

Obrolan demi obrolan mengalir…. Ditariklah sebuah kesimpulan, bahwa pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan keinginan dan harapan, termasuk keahliannya. Tapi kami berkomitmen untuk menjadikan pertemuan itu sebagai awal silaturahim. Selanjutnya kami adalah teman dan sahabat. Dan untuk itulah kami terus berfikir mencoba mencarikan peluang-peluang yang sesuai.

“Saya sebenarnya sudah 2 tahun terakhir menjalankan usaha sendiri. Bikin rengginang ( sejenis kerupuk yang terbuat dari beras ketan ). Ada rasa manis dan gurih/asin. Rengginang buatan saya sangat laris di pasar. Saya juga memasok ke warung-warung padang di sekitar rumah. Bahkan sudah sempat kredit motor dengan membayar cicilannya dari keuntungan penjualan. Tak seperak pun saya mengambil uang jatah dapur kami.

Tapi suami saya tidak setuju saya berdagang. Dia bilang, tidak usah capek-capek mengantar ke tempat yang jauh, ribet. Saya diminta menjaga anak saja di rumah. Atau jika bekerja boleh, tapi kerja di kantor saja seperti sebelumnya, uangnya jelas. Akhir bulan saya dapat sekian. Tidak repot.

Saya termasuk orang yang tidak bisa diam di rumah. Saya sungguh ingin memperbaiki hidup. Kemarin pas reuni dengan teman-teman suami, rata-rata temannya sudah hidup mapan. Sudah jauh lebih baik dari kami yang begini-begini saja. Ketika saya tanya ”Emang nggak ingin seperti mereka ya Pak?” Pasti jawabannya standard : ”Sudah, syukuri saja apa yang ada. Tidak usah melihat orang lain”.

Tapi apa saya salah jika saya mempunyai keinginan memperbaiki nasib? Bukannya kalau kita diam rejeki tidak akan turun sendiri? Saya hanya ingin ketiga anak kami bisa selesai pendidikannya nantinya. Tidak mengulang kisah ibunya yang putus sekolah karena biaya.”

Beliau seperti menumpahkan unek-unek yang lama tersimpan. Cerita bernada kekesalan terus mengalir, dan saya mendengarkan dengan seksama.

”Waduh…… Ini pagi-pagi segitu peliknya masalah hidup yang ada di depan mata. Astaghfirullah….Mimpi apa ini?”

Dan tanpa diminta, mengalir pula komentar dan sumbang saran saya.

”Ibu,….. percayalah. Setiap rumah atau keluarga tidak ada yang tidak kurang dalam hal uang. Sejumlah berapa pun, sebanyak apapun pendapatan, pasti akan tetap saja kurang seiring dengan bertumbuhnya keinginan manusia. Jika uang berlebihan….mungkin malah sudah tidak akan laku. Tidak akan ada yang memperjuangkannya Bu…he he he..

Dan membanding-bandingkan dengan rumput tetangga pun sebaiknya tidak dilakukan. Ini hal yang sangat sensitif bagi banyak orang. Barangkali suami Ibu juga kurang nyaman mendengarnya. Tidak salah mempunyai keinginan untuk lebih baik, tapi ada kalanya kita bekerja dengan diam.  Utamanya jika melihat kasus Ibu, suami Ibu termasuk yang sensitif dalam hal ini.

Perkaranya sekarang adalah ; menekan cost/biaya rumah tangga atau menambah sumber pendapatan. Ini harus disepakati kedua belah pihak, baik Ibu ataupun suami.

Jika keputusannya adalah menambah pendapatan, dan suami tidak mengijinkan untuk usaha, ini juga perlu didiskusikan dengan detail tentang kelebihan dan kekurangan. Antara bekerja dan berwirausaha.

Pelajari, apa sebenarnya yang dipermasalahkan? Resiko apa yang dikhawatirkan? Waktu dan tenaga?

Rasanya Ibu perlu membuat semacam studi kelayakan dimana tertuang dengan jelas dan meyakinkan bahwa hanya perlu keseriusan membangun sistem agar tenaga Ibu tidak habis untuk itu.  Apalagi dengan modal Rp.10.000 dan terjual Rp.40.000,- seperti yang Ibu sampaikan, saya sebenarnya sangat yakin bahwa usaha tersebut berpotensi dikembangkan lebih luas dengan memberdayakan tenaga-tenaga orang lain.

Ada bagian marketing ( pemasaran) dan sampling product , bagian delivery order ( pengiriman), produksi.  Sementara administrasi serta keuangan bisa dilakukan oleh Ibu sendiri. Ibu dapat bekerja di rumah sambil mengawasi tumbuh kembang putri Ibu yang masih 3 tahun itu.

Saya memang belum mencicipi rengginang Ibu,… Tapi dari cerita berkwintal-kwintal rengginang telah Ibu buat dan pesanan terus mengalir, saya sangat yakin Ibu adalah koki hebat yang adalah aset tak ternilai….:)

Tapi jika suami Ibu menganjurkan agar tetap mencari kerja, level apa yang mungkin Ibu dapatkan di usia ibu sekarang? Meski dulu adalah manager area, tapi Ibu sangat mungkin dianggap sebagai pemula di perusahaan lain. Ini posisi yang kurang menguntungkan tentunya…:(

Saya rasa lebih mulia jika Ibu konsentrasi di rumah mengurus anak-anak. Mengurus keluarga dengan segenap ketenangan hidup dan doa. Semoga Allah membukakan jalan rizki yang lebih luas, jika hati Ibu telah lurus menjalankan semua itu dengan misi terbesar, yaitu ibadah.

Maka hal yang paling penting adalah menyamakan visi dan misi hidup. Kadang hiruk pikuk persoalan dunia memang dapat mendatangkan berbagai prahara. Kadang berbagai cobaan mampu menyamarkan visi dan misi hidup bersama yang pernah dituangkan.

Coba Ibu dan suami mengingat kembali keputusan besar yang telah diambil puluhan tahun lalu, yaitu : pernikahan.

Kenangkan bahwa Ibu pernah membulatkan niat untuk menjadi pendamping suami Ibu mengarungi lautan yang penuh ombak dan badai. Tak peduli susah ataupun senang, keduanya adalah berkah hidup yang dilimpahkanNya.

Jadi saran saya hanya 2 sekarang :

Jika Ibu tidak diijinkan menjalankan usaha rengginang yang saya melihatnya sebagai sebuah peluang emas di depan sana, ambillah peluang permata sebagai ibu rumah tangga saja.

Jalankan hasil diskusi itu dengan sepenuh tekad dan keyakinan….emas ataupun permata yang akan diperjuangkan, keduanya sama baiknya. Termasuk sama resikonya.

Hubungi saya kembali  jika suami Ibu mengijinkan menjalankan rengginang itu. Saya akan berusaha membantu mencarikan jalan, membuat perencanaan sederhana. Dan mencarikan ide, kemana saja produk Ibu bisa dipasarkan. Semoga ada teman-teman yang berminat turut mengembangkan rengginang Ibu…:)

Demikianlah….

Waktu terus berjalan, dan genap seminggu Ibu Cn berlalu tanpa kabar dan pesan.

Jika emas tak ia raih, berharap ia kan teguh memperjuangkan sebuah permata hidup yang sesungguhnya. Yang tak lain adalah kedamaian dan kebahagiaan dalam keluarga. Segenggam keyakinan semoga telah tertanam. Bahwa tak ada alasan untuk tidak bahagia, bagaimanapun adanya!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s