Ketika Para Bos Gundah Gulana

Jumat ini sesuai kesepakatan sebelumnya, saya dan 3 orang rekan memenuhi undangan presentasi kegiatan training komunikasi dan motivasi di sebuah lembaga perbankan. ”Jangan lupa ya, kita harus tepat jam 9 sampai di sana. Meeting Ini akan dihadiri orang nomor satunya.” demikian wanti-wanti salah seorang rekan yang telah nyata tinggi kedisiplinannya.

Menembus kemacetan Jakarta pagi hari adalah sungguh memerlukan kesabaran ekstra. Jika tidak, sudah otomatis kami sampai di lokasi dengan wajah kisut berkerut-kerut menahan marah, kesal, jengkel dan sebagainya.

Terkait kemacetan ini, saya sering menyelipkan rasa syukur yang tinggi. Karena kantor yang terletak hanya beberapa meter dari rumah, adalah berkah Allah yang tak terhitung nilainya.

Syukur itu dibarengi dengan rasa penghargaan yang nyaris setara terhadap manusia yang rela berjuang setiap harinya, menjalani rutinitas kemacetan ibu kota. Ya, jangan-jangan mereka-lah yang disebut golongan orang-orang sabar di hadapanNya. Sehingga karena jihad menafkahi keluarga dengan tetesan keringat dan perjuangan berat itu, panen raya tinggal menunggu di akhirat nantinya.

”Hoaaaam….haduh kok aku masih ngantuk yah Om. Semalam pulang dari Karawang super macet jadi gempor juga. Bangun kepagian, mau tidur lagi takut kebablasan…” curhat saya pada Om Martin, yang hari ini kembali menjadi pilot kami.

”Ya sudah Bu…tidur aja dulu.  Nanti saya bangunkan….” jawabnya mencoba memberi solusi.

“Yang pernah kudengar, waktu tidur paling berkualitas itu jam 21.00 hingga jam 01.00 malam Om. Makanya jika kita bangun jam 3 dini hari, seperempat malam yang akhir untuk shalat malam, dan kita tidak bisa tidur lagi hingga pagi, kita akan baik-baik saja. Secara penelitian memang tidak akan mengganggu kesehatan. Jadi rasa kantuk yang menyerang saat kita bangun kepagian ini, sebenarnya bukan masalah kurangnya jam tidur. Pikiran sebagai pengendali tubuh saja yang belum terlatih. Sehingga kita merasa seolah-olah kurang tidur…..” demikian ucapan saya yang mungkin lebih tepat berfungsi mengedukasi diri.

Sebenarnya bisa saja saya teruskan tidur. Toh tidak mungkin si pilot akan berani mengirimkan saya ke tempat lain, memelencengkan tujuan, atau lebih parah lagi, membawa saya kembali ke rumah sebelum tiba di TKP….:)

Tapi kali ini saya memang sedang ingin mempraktekkan teori saya sendiri. Bahwa pikiran adalah pengendali tubuh. Jika otak memerintahkan hati untuk merasa cukup dengan tidur saya jam yang hanya mundur beberapa saat dari jam 21.00 dan terbangun jam 03.30, seharusnya saya tidak akan merasakan kantuk lagi.

Saya boleh bergembira karena akhirnya saya dapat membuktikannya, sehingga tiba di salah satu gedung pencakar langit di Kebon Sirih itu dengan mata terbuka sempurna…!🙂

Hmm….megah sekali ruangan ini. Di beberapa sisi temboknya dilapisi kayu, memberikan kesan nyaman. Ruang tamu dengan beberapa sofa empuk terhampar di atas permadani tebal. Bunga artifisial nan anggun yang terletak di beberapat titik menambah keasrian. Kemewahan itu masih dilengkapi dengan sebuah layar LED lebar berada di salah satu sudutnya.

3 orang petinggi di lembaga itu menyambut kami dengan keramahan tuan rumah yang sempurna.

Dan di ruang meeting itu presentasi tidak berjalan seformal yang kami bayangkan. Secangkir teh dan 2 buah kue yang tertata di piring putih elegan yang disajikan melengkapi sambutan sang tuan rumahnya.

Setelah program training komunikasi dan hipnoterapi yang rencananya akan diselenggarakan di luar kota akhir bulan depan itu kami presentasikan, seperti biasanya kami memberikan kesempatan untuk ditanggapi. Melihat respons klien apakah target yang kami bidik telah sampai sasaran.

Mengalirlah berbagai info yang lebih mirip curhatan dari para Pak Bos itu. Di devisi mereka rupanya terdapat seorang karyawan yang karena ulahnya, membuat seluruh rekan kerja hingga bosnya kepusingan. Ketiga bos di depan kami pun terlihat gundah gulana. Jelas tergambar penderitaan batin mewarnai hari-hari mereka.

Si “sakit” yang jebolan universitas negeri ternama di Jakarta ini seperti benalu dalam lingkungan. Semua sangat mengkhawatirkan jika ini akan menjadi virus yang menular. Berbagai predikat ; malas, sering mengabaikan perintah atasan, tidak mau belajar dan semaunya sendiri telah disematkan.

Berbagai teguran telah dilakukan, hingga dimutasi ke bagian lain. Ternyata itupun tidak menolong, bahkan mungkin dapat disimpulkan menambah “kecuekan”. Dan karena ia telah menjadi karyawan tetap, sebagai pegawai negeri, tidak mudah pula untuk memberhentikan. Selain pertimbangan rasa kemanusiaan, juga banyak prosedur yang harus dilewati oleh para atasannya itu.

Jelas training berdurasi 2 hari itu tidak dapat mengobati penyakit seakut itu. Satu langkah awal ”penyadaran diri” adalah hal yang kami usahakan.

Selanjutnya ada langkah-langkah susulan untuk mengobati si ”sakit” dengan berbagai jalan. Tapi semua kita pasti sepakat bahwa seorang penderita sebuah penyakit akan dapat menemukan kesembuhannya manakala ia sadar diri bahwa sejatinya ia sedang sakit, dan perlu perawatan/pengobatan. Tanpa kesadaran itu sendiri, rasanya dokter mana pun akan sulit untuk membantu mengatasinya.

Pertemuan itu ditutup dengan permintaan revisi tempat penyelenggaraan, menjauh ke sebuah kota hujan di Jawa Timur, yaitu Malang.

Berbagai bentuk revisi proposal hanyalah sebuah bagian proses pekerjaan kami.

Seiiring perjalanan meninggalkan gedung itu, saya terus dipenuhi berbagai pertanyaan. Beginikah problematika hidup? Bahkan di tempat penuh pertunjukan kemewahan dan simbol-simbol kekuatan di negeri ini pun terselip ketidaknyamanan yang tak tampak dari luar?

Berbagai tanya muncul di benak saya, terkait status pegawai negeri yang jika pun bekerja semau sendiri tidak mudah untuk diberhentikan seperti kasus yang begitu saja muncul di hadapan kami.

Sejatinya tentang fasilitas gaji dan jaminan hidup yang diberikan oleh pemerintah adalah untuk tujuan baik, saya sangat memercayainya.

Perihal oknum yang memanfaatkan fasilitas dengan tidak semestinya, itu adalah persoalan lainnya.

Mungkin juga hampir setara dengan adanya outsourcing yang pro dan kontranya. Jika dilakukan sesuai aturan, semestinya keberadaan outsourcing akan menguntungkan baik karyawan maupun perusahaan, termasuk memberi dampak positif pada iklim investasi di negeri ini.

Namun bilamana keduanya sudah ingin mengambil keuntungan pribadi dan golongan, yang terjadi adalah kerunyaman demi kerunyaman belaka.

Memikirkan itu semua, tak banyak yang bisa saya lakukan, selain harapan dan doa demi doa. Semoga suatu ketika bangsa ini terbebas dari segala belenggu penyakitnya. Setidaknya figur-figur pemimpin masa depan yang lebih bermartabat nampaknya mulai bermunculan.

Semoga benar, apa yang diprediksikan Pak Chairul Tanjung bahwa di 2030 Indonesia dengan bonus demografinya menjadi negara dengan tingkat kemakmuran yang dicita-citakan. Otomatis juga karena pergantian generasi pemegang tongkat estafet pembangunan telah mulai dirasakan dampaknya.

Dan buat saya, menghidupkan keyakinan akan hal-hal baik dan menggembirakan adalah energi positif untuk hari-hari yang terus bergulir dan berjalan!:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s