Smartnival ; Ketika Kegagalan Menghampiri

Semangkuk mie ayam jamur telah terhidang di sebuah kafe persis di bawah ruang tempat kami meeting 10 menit yang lalu.

Saya dan sahabat berbagi meja dengan 4 pria, setelah sebelumnya bertukar kartu nama. Tidak semuanya memang, karena satu di antara mereka telah akrab dengan kami. Beliau adalah orang yang mendadak menjadi paling penting kedudukannya bagi kami di hari ini. Pak Ar namanya, yang adalah satu dari team manajemen Taman Wisata Matahari. Hari ini kami ingin khusus bicara sebuah keputusan penting.

Sementara Bapak-Bapak yang baru kami kenal itu adalah para vendor juga di TWM. Dan kehadiran mereka di sana tentunya memenuhi undangan meeting vendor yang baru saja usai.

Sejujurnya setelah berkali-kali berjumpa dengan Pak Ar, baru kali itu saya melihat dengan jelas bagaimana cerdas dan luas wawasan pria yang incharge dalam penanganan seluruh vendor di tempat wisata tersebut. Sikap yang tegas sudah terlihat dari logat bicara dan gerak-geriknya. Dari catatan para rekan vendor lama, beliau termasuk pemegang komitmen yang baik.

Sejenak saya menengok jarum jam sudah hampir menunjukkan angka 14.00. Jika saya menunda mempunyai waktu khusus, bisa kesorean bahkan kemalaman kami turun dari puncak.

“Inilah waktunya. Tidak usah menunda nanti atau esok hari”

Gumam saya dalam hati untuk mendorong diri agar tak ragu menyampaikan niat utama kedatangan kami hari ini.

“Begini Pak Ar…Semestinya kami meminta waktu khusus Bapak untuk berdiskusi dan mengajukan permohonan. Tapi tidak apa, saya pikir di sini Bapak-Bapak yang lain juga adalah bagian dari keluarga di sini…Jadi biarlah mereka ikut mendengarkan.

Setelah  beberapa bulan wahana kami tidak juga bisa menghidupi diri sendiri, dan terpaksa harus kami suntuk dari project lain, kami harus mengambil sebuah keputusan yang semoga Bapak dapat memahami.

Berbagai cara telah ditempuh. Tidak ada yang salah dengan Bapak dan team. Namun setelah kami evaluasi, rupanya jenis permainan yang tersedia lebih cocok untuk grup. Untuk sebuah event besar, dimana fungsinya antara lain adalah memberikan rasa nyaman anak-anak sehingga mereka tidak akan meninggalkan area sebelum acara panggung selesai…

Jadi, meski perjanjian belum berakhir, kami mohon undur diri. Semoga di lain waktu kita masih bisa bekerja sama dengan hasil yang lebih saling menguntungkan..”

Dan diskusi kecil pun terjadi setelah itu. Sempat ada penawaran memperpanjang dengan solusi yang diajukan. Tapi keputusan kami sudah bulat. Dan saya tidak akan menengok kembali

Akhirnya, pengunduran kami pun disetujui, meski diperlukan pengajuan surat tertulis esok hari. Berikut kemungkinan membuat penawaran baru dengan menyewakan property tersebut untuk grup-grup besar, dsb.

Inilah akhir babak sebuah pembelajaran Smartnival, sebuah kebun yang pohon-pohonnya mengering sudah. Benih-benih yang kami semai telah kandas tertiup angin. Pelajaran sangat mahal? Tentu saja….!

Namun inilah sebuah perjalanan. Dan hari ini, saya sedang menikmati sebuah kegagalan. Kegagalan ini cukup pahit rasanya. Kepedasannya setingkat keripik Maicih level 10 barangkali…..:)

Kadang kita memang harus melihat diri, bukan saja di saat sukses, tapi juga di saat gagal. Sekokoh apakah pilar-pilar yang telah kita bangun? Sekuat apakah keyakinan kita bahwa masih banyak harapan di depan sana?

Peluang demi peluang memang hanya akan teruji setelah kita mencoba memasukinya. Ada kalanya kita sedikit berjalan mundur sejenak untuk terus berjalan dan berlari.

Hari ini kami telah gagal mendirikan sebuah unit usaha baru. Kerugian materi sudah tentu tak terhindarkan, meski tak sampai babak belur. Namun jelas kami mencatat berjuta pembelajaran.

Beruntung kami telah menyadari sejak awal, jika kita mempunyai dana 1.000, maka 100-150 adalah nilai tertinggi yang bisa kita “mainkan”.  Jadi andai uang itu hilang, maka tidak sampai membuat kita mengubur diri sendiri…:)

Untung kami masih ini dan itu……dan sebagainya.

Alhamdulillah…….”Maka nikmat Tuhanmu mahakah yang engkau dustakan?”

Biarkan kulesakkan segenap rasa syukur pada kegagalan kami hari ini. Hanya karena mengingat berbagai nikmatNya yang lain dimana tak kan sanggup kami menghitungnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s