Perjalanan Si Anak Gembala menaiki Panggung Selebriti

Emi Ganteng namanya. Ketika pertama kali sahabat saya itu memproklamirkan nama bekennya, saya pun protes “Ihhh…narsis amat sih Kak…..”

“He he he….biar gampang diingat aja Bun….” demikian jawabnya enteng dengan senyuman yang selalu merekah. Masih dengan logat Tegalnya yang kental.

“Bunda…..” sebutan multi makna. Sebuah penghargaan, sekaligus penyadaran diri. Sebutan indah yang menyentakkan, bahwa sejatinya usiaku terus bertambah sepanjang tahun….Tak terasa musim telah ratusan kali berganti, tak terhitung jumlahnya. Mengantarkan dan menempatkanku di tempat seharusnya. Usia seharusnya….

Mungkin beginilah hidup….Masih jelas dalam ingatan, masa kanak-kanak yang seru dan penuh ceria melintas begitu saja. Masa remaja penuh cerita berlalu bak mimpi-mimpi yang terus berganti.

Apakah nanti di saat punggung telah bungkuk dan rambut menjadi keperakan, hari ini pun kan tersimpan selayaknya mimpi yang cepat bertukar kenyataan?

Ya, itu pasti….. Tersimpan sebuah harapan di hati. Semoga rangkaian waktu dan hari ini akan menjadi jutaan mimpi yang kan indah untuk ditampilkan kembali di kemudian hari….:)

Kira-kira demikian pula kenangan yang menari-nari dalam kotak memori seorang sahabat kami, Emi. Tentang hari ini, dan masa lalu. Maka, cerita masa kecil dan masa lalu mewarnai perjalanan kami di Kamis malam pekan lalu. Di sepanjang jalan tol Cipularang, dari Bandung ke Jakarta, sepulang daritechnical meeting dengan salah satu klien kami.

Emi adalah salah satu team andalan kami. Meski cepat atau lambat ia akan menjadi milik banyak orang, namun kebahagiaan atas kesuksesan dan perkembangan kariernya di dunia MC /pengisi acara adalah harga lain yang tak ternilai. Hari ini sosoknya cukup dikenal luas di kalangan Event Organizer dan Travel di Jakarta. Ia tercatat telah bekerja sama dengan 20 EO /Travel dari skala kecil seperti kami, hingga travel-travel besar.

Namanya kian meroket dari hari ke hari, karena ’ada yang khas’ dalam setiap penampilannya sebagai MC maupun Games Master di acara outbond. Job ordersebagai pengisi acara (MC) dan games master maupun tour leader seolah mengalir tanpa jeda.

Selalu saja penampilannya bisa menciptakan kegembiraan dan kemeriahan dalam berbagai acara. Logat Tegal-nya yang medok justru menjadi identitas diri yang menjadikannya semakin menarik perhatian.

Sabtu, 29 Oktober 2012 sebuah kesempatan baik datang. Ia dipercaya memimpin acara  games di acara JKT Second Generation – RCTI. Sebuah acara kompetisi lagu bersegmen penonton remaja dengan bintang tamu Cherrybelle. Sesungguhnya ini bukan kesempatan pertama tampil satu panggung dengan artis. Sebelumnya Emi juga pernah ’tandem’ beberapa artis lain seperti Temon, Panji, Yuke, Reza, Iwa K, Fadli, Donna Agnesia dll di berbagai acara corporate gathering, event-event kampus, CSR dsb.

Di acara JKT Generation tersebut, pihak creative RCTI cukup terkesima melihat ’aksi’nya. ”Mas….terimakasih atas penampilannya yang sangat bagus. Kami akan usahakan Anda untuk bisa tampil di kesempatan-kesempatan lainnya, termasuk di acara Dasyat…” Demikian janji salah seorang creative RCTI selepas acara.

Sebelumnya, team RCTI tertarik saat Emi memandu acara games di Ecopark Ancol di sebuah acara corporate. Dan karena kepuasan klien atas kinerjanya, ia diberi tanda terimakasih berupa tiket compliment Dufan sebanyak 40 lembar.

”Mana tiketnya Kak? Sini aku jualin…..!” naluri bisnis saya sudah langsung bekerja.

”Sudah aku bagikan ke anak-anak yatim Bun….biar mereka juga bisa sejenak berwisata di tempat yang pasti tak terbayar dengan uang sendiri” jawabnya ringan dengan wajah berseri-seri.

”Subhanallah….great…!” sahut saya cepat. Selalu saja anak itu memberikan pelajaran demi pelajaran sepanjang waktu. Selama ini dengan berbagai perjuangan susah payah menjadi fasilitator games, menjadi crew event, menjadi tour leader berhari-hari ke luar kota, ia bahkan sudah bisa mengurus 14 anak yatim lainnya dari kampungnya. Anak-anak itu dimasukkan di panti asuhan di bilangan Jakarta Selatan, dimana ia dulu ditampung dan mendapat pendidikan. Sebagian telah ia salurkan ke tempat kerja yang jaringannya perlahan ia bangun. Antara lain di Pelita Desa Ciseeng, sebuah tempat outbond yang terkenal lengkap dan murah di Bogor. Beberapa keperluan hidup mereka ditanggung oleh pundaknya yang relatif kecil.

”Saya ingin melakukan sesuatu melebihi mereka yang dalam posisi berada, mampu bahkan kaya Bun…. Dan Subhanallah….saya telah menjalaninya bertahun-tahun ini. Allah selalu memberikan kemudahan pada proyek pribadi saya ini” demikian ujarnya tulus.

”Ya, aku juga sangat yakin Kak….Jika kita ”melamar” menjadi kran dan pralon-pralon atas rizkiNya, maka Sang Maha Pemberi yang juga Maha Melihat pasti kan mempercayakan rizki itu melewati tangan kita. Bukan untuk berhenti di sini, tapi untuk didistribusikannya kembali sebagaimana harapanNya….” sahut saya menimpali.

”Meski seberapa berani ’berbagi’-nya kami, masih jauh di bawah keberanianmu…” tambah saya jujur.

Tampil di televisi bukan barang mewah atau prestasi mengagumkan bagi banyak orang barangkali. Bagi para politisi, artis dan mereka yang menekuni pekerjaan di dunia hiburan, presenter, media elektronik yang wajahnya telah mondar-mandir menghiasi layar kaca, tentulah merupakan hal yang biasa. Tapi tidak bagi mereka yang berangkat dari bawah, seorang anak yatim berlatar belakang penuh keterbatasan seperti sahabat saya itu.

Itulah yang sering saya sebut ’pasal karet’ sebuah kesuksesan. Sukses itu melekat pada setiap pribadi, seiring pencapaian dari titik start. Seiring bagaimana ia memaknai pencapaian itu sendiri.

Bagi Emi Ganteng yang bernama asli Usman ’saja’, mulai menghiasi layar kaca adalah sebuah prestasi yang sangat mendatangkan kesyukuran. Dan kebahagiaan itu telah menjalar ke semua team, termasuk saya pribadi.

Sepenggal kisah masa lalu sahabat saya berikut ini semoga hanya akan menjadikan kita bercermin dan selalu belajar. Saya tuangkan di sini sebagai pengingat diri, sekaligus sebagai virus inspirasi dan motivasi bagi siapapun yang sempat menyimaknya. Atas sebuah bukti firman Allah SWT QS 13; 11 bahwa : ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka

Usman balita telah menjadi yatim di usia 1 tahun. Tak ada yang diingat meski segaris wajah sang ayah tentu saja.

Saat Bapak meninggal, ibunya yang wanita desa berjuang sekuat tenaga untuk bisa bertahan hidup di tengah-tengah kemiskinan yang nyaris absolut. Dengan bekerja apa saja secara serabutan.

Masih lekat dalam ingatan, tak pernah ibunya memasak nasi putih dalam setiap harinya. Hidangan nasi jagung tanpa lauk telah mengantarkannya tumbuh menjadi anak yang lebih kuat secara fisik dan mental dibanding anak-anak berkecukupan.

Usia 10 tahun, Usman kecil menjadi pembantu di sebuah keluarga pengemudi taxi di daerahnya. Supir taxi tersebut sejatinya pun bukan orang kaya. Hanya rasa iba yang mendorongnya menawarkan Usman sebuah pekerjaan sebagai penggembala kambing. Usman kecil pun segera menerima uluran tangan tersebut dengan suka cita. Imbalan makan, tanpa gaji lebih dari cukup untuknya. Maka tubuh kecil itu sudah gesit dan lincah mencari rumput dan menggembala 13 ekor kambing milik sang majikan. Aktifitas dimulai nyaris saat baru saja terbuka di pagi hari selepas shalat Subuh.

Perlahan seiring dengan kemampuannya, Usman diberi tambahan tanggungjawab. Membantu mencangkul, menanam padi, menyiangi rumput di sekitar tanaman padi dan sebagainya. Berangkat pagi dan pulang sore, berbagi dengan sekolahnya di sebuah SD Negeri. Waktu belajar di sekolah yang hanya beberapa jam saja, lebih pendek dibanding waktunya di sawah.

”Porsi nasi bungkus yang dikirim ke sawah tidak mencukupi untuk ukuran perut yang sedang kuat-kuatnya makan Bun……Maka ketika itu, saya sering mengendap-endap di malam hari mencari makanan di laci lemari saat majikan saya sudah tidur. Tentu saja itu semua saya lakukan dengan takut-takut….”

Mengenang kegetiran hidup, pastinya akan mendatangkan kesyukuran karena hari ini ia telah mampu melalui ujian hidup tersebut.

2 tahun setelah lulus SD, ia masih bekerja serabutan selayaknya para laki-laki dewasa di desanya..menjadi tukang kayu, ke sawah, mencari rumput, dsb. Vakum dari sekolah, karena tak ada biaya.

Sampai suatu hari, sang majikan yang adalah supir taxi mendapat info dari seorang penumpang. Bahwa di Jakarta, ada sebuah yayasan yatim piatu yang menampung ribuan anak yatim. Tepatnya di daerah Pondok Cabe, Jakarta Selatan.

Yayasan tersebut rupanya menampung ribuan anak yatim dari berbagai pelosok nusantara. Dari Sabang hingga Merauke. Dan deretan donatur tetapnya adalah nama-nama yang tak asing di telinga antara lain Tommy Soeharto, Marzuki Darusman, Dali Taher – Direktur PSSI, Hadi Purnomo – mantan Dirjen Pajak.

Usman mengakui, di yayasan itulah sejatinya tumbuh kembang dan pembentukan karakter diri ia dapatkan. Berkali-kali ia menggarisbawahi bahwa tanpa didikan dan arahan serta gemblengan di yayasan tersebut, dia tidak kan dapat tumbuh menjadi pribadi seperti sekarang. Jutaan bekal ilmu telah ia dapatkan. Lengkap dengan kasih sayang dan didikan para guru-guru yang disebutnya sebagai ’ustad dan ustadzah’.

Selain makan berkecukupan, ia juga mendapat kesempatan meneruskan pendidikan formal di SMP hingga SMA. Dengan aktifitas harian yang terjadwal dengan baik, hari-harinya menjadi teratur, meski tentu saja ada hal lain yang dikorbankan. Yaitu meninggalkan keluarga tercintanya di kampung untuk hanya dapat menjenguknya setahun sekali di kala lebaran tiba. Ada harga yang harus dibayar untuk masa depan, itulah nilai pertama yang berhasil dipahami.

Pagi sekolah hingga jam 2 siang, lalu istirahat hingga jam 3 untuk kemudian shalat Ashar berjamaah. Jam 4-6 sore belajar intensif bahasa Inggris dan Arab.  Selepas shalat Maghrib belajar Al-Quran dan kitab-kitab lain ( kitab kuning dll ).

Jam 10 malam menyiapkan pelajaran esok hari dan belajar. Tidur sekitar 3  jam untuk kembali bangun shalat tahajud jam 1 malam. Sepertiga malam yang akhir dihabiskan untuk tadarus dan berzikir menjelang shalat Subuh.

Sehabis shalat Subuh, ia mengaku sering mencuri waktu untuk tidur sejenak hingga jam 7 untuk bergegas sekolah.

Di malam Minggu, acaranya adalah latihan ceramah dalam bahasa Indonesia dan Inggris atau sering disebut MUHADHOROH. Begitulah rutinitas selama 3 tahun tanpa jeda ia jalani. Berbagai kegiatan kepramukaan dan perlombaan ceramah menjadi favoritnya yang ampuh mengusir rasa jenuh.

Alhamdulillah…..akhirnya ijasah SMP telah ia genggam, sehingga mendaftarlah ia di SMA di Yayasan yang sama.

Dalam diam, ia merenungkan kata-kata seorang ustad di yayasan tersebut. Bahwa menuntut ilmu di tempat berbeda akan memberikan kekayaan ilmu yang lebih dibanding di satu tempat.

Maka ia memutuskan untuk keluar dari panti tersebut dan masuk ke pesantren Salafi Sunanul Husna Ciputat. Dan berkat gelar ’yatim’ yang disandangnya, lagi-lagi…ia mendapat fasilitas sekolah gratis di MAN dalam pesantren tersebut. Sekolah gratis, tinggal dan makan gratis…….(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s