Perjalanan Si Anak Gembala menuju Panggung Selebriti (2)

Masih seputar sahabat kami, Emi Ganteng. Si anak gembala yang juga bergelar yatim itu telah melalui perjuangan panjang nan ’dramatis’ di mata saya.

Hidup serba gratis di lingkungan pesantren itu rupanya tidak selalu mendatangkan kenyamanan adanya. Seringkali para donatur dan tamu datang memberikan santunan. Dan semua anak terbiasa menyisihkan infak dalam setiap dana yang diterima.

”Jika dapat 10.000, yang 1.000 diinfakkan. Begitu juga dapat 100.000, kami berinfak 10.000,- nya. Ini jadi latihan sangat berguna di kemudian hari bagi kami semua. Karena kami telah terpaksa terdidik untuk menyadari bahwa ada hak orang lain dalam setiap rejeki yang kita terima.

Meski semua gratis dan sering mendapat santunan, ada rasa tidak enak sesungguhnya menjadi pihak dimana tangan berada di bawah. Maka, ketika saya naik kelas 2 Aliyah, saya memutuskan untuk tinggal di luar pesantren. Maksudnya agar saya bisa belajar mencari uang sendiri. Saya tetap belajar di sana, istilah santrinya ’ngalong’.

Keluar dari pesantren, saya ikut bos baso. Pagi masih sekolah di MAN di pesantren tersebut pulang sekitar jam 12. Istirahat sebentar untuk kemudian jam 2 hingga jam 9 malam saya berkeliling menjajakan dagangan. Hasilnya lumayan. Omset sekitar 80rb-100rb per hari. Saya dapat keuntungan bersih 15-20rb per hari.

Setelah menjalani profesi sebagai pedagang baso keliling, saya ingin naik kelas dengan menjalankan usaha sendiri. Di bisnis baso saya karyawan.

Maka saya banting stir menjadi pedagang dawet ayu. Saya ngontrak di rumah petak dengan biaya Rp. 150.000,-/ bulan.

Jualan es dawet  hanya berlangsung 2 bulan, karena jika tidak impas, saya pasti rugi. Ketika itu musim hujan, jadi es dawet saya sering tidak laku. Kalo pulang ke kontrakan suka diledek tetangga kiri-kanan ”tukang es nangis…tukang es nangis….”

Saya masih ingat banget itu Bun…. Sebenarnya sedih juga, tapi saya hanya menanggapi dengan senyum saja. Dawet itu pasti saya bagi-bagikan ke tetangga, tukang becak dan siapa saja.”

Kisah tragis itu diceritakan dengan raut wajah lucu..Haru bercampur geli mendengarnya.

”Memangnya berapa modal es dawet itu itu Kak?” tanya saya penasaran.

Yang segera dijawab cepat ”Sekitar 50rb hingga 100rb doang Bun….ga banyak sebenarnya”

”Es dawet saya sudahi, saya mencoba peruntungan baru, jualan empek-empek..!” tambahnya

”Hah??? Yang bener? Emang bisa buat empek-empek? Belajar dimana?” dengan antusias saya memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.

”Ya Bun…ceritanya tetangga kontrakan di rumah petak itu adalah pedagang empek-empek. Sambil mbantuin, ya saya curi ilmunya. Maka jadilah saya pedagang empek-empek. Setelah 5 bulan saya jalankan sendiri menjadi penjual empek-empek keliling, akhirnya saya berhasil mempunyai 2 anak buah. Pagi saya belanja dan masak, lalu anak buah saya yang ’ngider’. Praktis saya jadi lebih banyak waktu di rumah. Di situlah akhirnya saya mendapat tawaran nge-les anak seorang anggota DPR. Les ngaji dan bahasa Inggris, di setiap jam 4. Lalu tambah 1 murid lagi di keluarga lainnya. Jadi saya ngeles lagi sehabis maghrib.

Karena bahasa Inggris saya juga pas-pasan, maka saya siang les bahasa Inggris. Untuk kemudian ilmu yang saya dapat, saya transfer lagi ke dua anak yang saya ajari itu” ceritanya polos.

”Haa haa haa…cara cerdas Kak Emi! Bener juga, habis terima pelajaran di tempat les, diajarkan lagi ke anak yang dilesin. Itu sama saja dengan les gratis. Lha kan yang mbayari 2 anak-anak itu….he he he he….” Tak tahan saya tertawa bangga mendengar kecerdasan dan kepolosan ceritanya.

”Bagaimana sistem penggajian karyawan saat itu?”

”Bagi hasil Bun… mereka, dua anak itu dapat 20% dari keuntungan. Biasanya sehari bisa 80rb-100rb keuntungan bersih”

”Tapi saya juga tidak berhenti di situ, karena saya tahu, jadi tukang empek-empek adalah batu loncatan saya. Untuk kemudian meloncat ke batu yang lain. Maka setelah lulus MAN, saya berhenti jualan, karena saya sudah mengajar Pramuka di 3 sekolah.  Saya belum melanjutkan kuliah saat itu.

Sebuah sekolah menawari saya untuk menjadi wali kelas, dan saya sempat menerimanya. Tapi tidak berlangsung lama, hanya sekitar 2 bulan saja. Saat itu ada seorang teman yang adalah ibu-ibu dengan 2 anak lulusan S1 menemui saya. Beliau minta bantuan untuk mengajukan lamaran kerja pada pihak sekolah.

Esoknya saya menghadap kepada kepala sekolah, lalu saya menyampaikan pada Pak Kepsek. Pak, mohon maaf saya mengundurkan diri jadi wali kelas. Ada seorang wanita yang lebih pantas menduduki jabatan ini. Selain beliau sudah S1, beliau juga lebih membutuhkan pekerjaan karena sudah berkeluarga.

Singkat cerita, teman saya itu menjadi wali kelas dan saya kembali menjadi guru pramuka.

Di salah satu sekolah itulah saya bertemu dan berteman dengan salah seorang guru senior, Mas Ardy. Saya diajak ikut menangani kegiatan outbond di Situgintung, dimana Mas Ardy sering menjadi games master di sana di luar jam mengajar.”

”Oooh…iya..iya sampai sini aku dah tahu lanjutannya. Disitulah kita bertemu, bekerja sama, dan lalu sepanjang tahun sebagai partner di PS dalam menjalankan event-eventnya…! JJ” sahut saya cepat.

”Hmm…..Om Martin. Hayo, kapan bisa nggantiin Sule! Belajar sama Kak Emi coba ya…!” celoteh saya menyemangati pilot freelance kami malam itu yang kemudian ditimpa dengan komentar –komentar kocak dan menghibur lainnya.

“Ya Om…begini lho… Hidup itu harus punya cita-cita. Dan cita-cita itu tidak sebatas rencana, tapi juga usaha nyata. Anggap tahun depan Om Martin ingin beli mobil box. Dari sekarang kumpulkan sehari misal 5 ribu rupiah.Ini angka semisal saja. Apa tahun depan sudah terkumpul untuk beli yang diinginkan? Itu urusan nanti. Yang penting dengan kita berniat dan merealisasikan dalam tindakan, kita sudah berusaha.

Saya pun demikian. Ketika saya merencanakan sesuatu, saya melengkapinya dengan usaha nyata. Pada saat saya jualan empek-empek, saya mengumpulkan uang itu bukan untuk belanja, jajan semaunya, dsb. Kita harus bisa membedakan mana kebutuhan, mana keinginan. Beli hanya sesuai kebutuhan, bukan keinginan.

Saya menebus ijasah Aliyah 2 juta dan membayar uang masuk di PTIQ sebesar 3juta saat itu dari uang yang saya kumpulkan saat jadi bos empek-empek….:)” demikian rangkaian kata motivasinya mengalir jernih ke telinga kami semua.

”Sekarang cita-cita saya kian membesar Bun….Saya ingin mempunyai Panti Asuhan nantinya…. Semoga Allah mengabulkan dan memberikan jalan. Karena masih banyak anak-anak yatim, miskin dan terlantar di negeri kita. Dan ustad saya bilang bahwa anak yatim itu bukan hanya anak yang ditinggal meninggal Bapaknya. Tapi adalah juga anak yang ’dibiarkan’ tanpa pengurusan oleh orang tuanya” ujarnya bersemangat memaparkan impian mulia di hari depan.

Ya, bercita-citalah setinggi bintang di angkasa. Mari merajut mimpi-mimpi indah untuk semata-mata berharap segala kebaikan di alam sana. Jangan pernah sepelekan mimpi dan cita-cita kita, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengabulkan…! :):)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s