Dari Kereta Api hingga Suramadu

Berbagai kejutan seringkali mewarnai perjalanan hidup setiap manusia. Begitu saya memaknainya. Bahkan di dalam sebuah rutinitas pun saya percaya ada kejutan kecil yang tersembunyi. Dan kejutan-kejutan seperti itulah yang saya rasakan turut menyemarakkan hidup ini.

Termasuk ketika sebuah pesan singkat masuk ke handphone saya Jumat, 2 November 2012. “Yth. Prasasti Selaras, dimohon kehadirannya untuk meeting persiapan acara Semen Gresik Factory Visit 2012. Waktu dan Tempat : Jam 13.30 WIB, Kantor Pusat Gresik, Senin, 5 November 2012”

“Haduuuh…jauh amat yah….Siapa saja yang harus berangkat? Apakah saya bisa mewakilkan ke teman lain? Tapi cukup santunkah mangkir dari undangan tersebut? Bukankah para Bapak petinggi di perusahaan klien kami tersebut telah berbaik hati memberikan kepercayaan dalam menangani event yang adalah pilot project bagi mereka sendiri?” Pertanyaan-pertanyaan itu dalam sekejap telah memenuhi kepala saya.

Segera saja saya membuat pilihan rencana dalam menyikapi kejutan yang terjadi. Rencana A, B dan C. Dan dalam waktu tak lebih dari 1 jam, keputusan telah saya ambil dengan berbagai pertimbangan dan kesepakatan.

”Pak Eko, OK, saya bisa ikut pergi. Tapi saya ajak Mutia dan Pwd ya. Sekali-kali Senin mereka off dulu menemani saya. Kita naik kereta saja besok pagi. Balik Senin malam, agar Selasa pagi sudah bisa on air…. ”

Yang segera dijawab dengan suka cita oleh rekan kerja saya ”Sipplah… :):)” Perasaan lega sahabat saya itu sudah tercermin dari jawaban pesannya.

Sabtu pagi, 3 November 2012 jam 08.15 kami tiba Stasiun Gambir. Entah telah berapa puluh tahun lamanya saya tak pernah lagi menggunakan jasa kereta api untuk perjalanan jarak jauh. Ini bukan soal suka dan tidak suka, atau ingin dan tidak ingin. Membayangkan antrian tiket yang mengular, untuk kemudian hanya menatap pengumuman di dinding kaca ”maaf tempat duduk habis’ adalah pengalaman yang terlalu menyebalkan untuk diulang.

Padahal di masa kecil, naik kereta api adalah perjalanan paling menyenangkan bagi saya. Masih lekat dalam ingatan keriangan saat mengisi liburan sekolah ke Jakarta. Sebuah kota ratusan kilometer di kejauhan sana. Pedagang kaki lima yang lewat hilir mudik menjajakan dagangannya adalah serupa hiburan yang menyemarakkan suasana. Bahkan perasaan gembira itu telah menyusup saat menunggu kereta ekonomi senja yang sebentar lagi akan tiba. Kebahagiaan di masa kecil yang ternyata masih cukup membekas hingga puluhan tahun berikutnya.

Kegiatan dan kesibukan hari-hari di perkotaan puluhan tahun setelah masa itu telah mempengaruhi setiap keputusan yang diambil. Di dalam putaran waktu, menjalankan aktifitas di perkotaan sebagaimana dialami mayoritas penghuninya, saya sudah enggan untuk bergelut dengan segala hal ketidakpastian.

Termasuk dalam pembelian tiket kereta api yang menurut saya masih menyimpan ‘gambling’ alias mengadu peruntungan nasib sebelum pembenahan sistem reservasi yang dilakukan baru-baru ini.

Dan hari itu, saya telah merasakan image baru berkereta api. Pembelian tiket yang sangat mudah, dengan kepastian harga dan perolehan tempat duduk adalah sebuah prestasi PT KAI yang patut diapresiasi oleh semua pihak.

Cukup datang ke Indomart terdekat dengan menyerahkan nama dan nomor KTP, menyebutkan tujuan, lalu melakukan pembayaran. Dengan sistem online dan terintegrasi dengan PT. KAI, layar di monitor teller Indomart dapat menginformasikan ketersediaan tiket.

Reservasi dan pembelian tiket juga dapat dilakukan melalui transfer ATM/ internet banking dihttp://www.kereta-api.co.id/layanan-produk/reservasi-tiket.html.

Hari itu menjadi perjalanan berkereta ternyaman sepanjang sejarah. Kami berempat mengisinya dengan berbagai cerita ringan. Di sela-selanya kami gunakan menghabiskan buku bacaan masing-masing yang sempat tertunda. Kumpulan cerita Tere Liye ”Berjuta Rasanya” yang baru beberapa lembar terbaca menjadi salah satu pengisi waktu yang cukup mendatangkan kesegaran baru….:)

Jarum jam menunjukkan angka 19.30 WIB ketika kereta Argo Bromo Anggrek yang kami naiki memasuki stasiun pemberhentian ”Pasar Turi”. Berarti tepat 10 jam perjalanan telah kami lewati. Dan dalam hitungan menit,kendaraan yang kami sewa telah melintasi Jembatan Suramadu.

Inilah salah satu obyek yang akan menjadi tujuan wisata para agen Semen Gresik di wilayah Jawa Barat minggu depan.

Dalam Semen Gresik Factory Visit 2012, perusahaan bermaksud memberikan reward ”wisata gratis” pada agen-agen terpilih di Jawa Barat untuk berkunjung ke pabrik raksasa mereka di Tuban, mengunjungi Jembatan Suramadu dan tour ke Batu – Malang.

Ya, PT. Semen Gresik patut berbangga dan sesak oleh rasa bahagia menyaksikan bangunan monumental yang seluruhnya menggunakan Semen Gresik. Dan kebanggaannya itu ingin dialirkan ke seluruh partner kerjasama yang adalah agen-agen terbaik di masing-masing kota. Agar mereka dapat turut menjadi saksi atas sebuah motto : KOKOH Tak Tertandingi. Dimana diharapkan semangat dan motivasi mereka akan turut terdongkrak karenanya.

Jembatan Suramadu di waktu malam sungguh indah, megah dan anggun mengagumkan. Lampu nan terang benderang beraneka warna yang menyirami tiang kokoh yang  menjulang itu sungguh membangkitkan kebanggaan bagi siapapun yang melintasinya. Jembatan terpanjang di Asia Tenggara itu lebih tepat disebut sebagai mahakarya anak bangsa. Ia menjadi proyek percontohan menghubungkan pulau-pulau lain di Indonesia.

Sebelum jembatan ini dibangun, setidaknya 25.000 orang sepanjang hari melintasi pelabuhan Ujung di Kota Surabaya – Pelabuhan Kamal. Jumlah tersebut terus meningkat sepanjang waktu karena merupakan jalur tersebut merupakan yang terpadat lintas pulau di Indonesia.

Adapun ide hingga realisasi pembangunan mahakarya Indonesia itu memakan rentang waktu yang cukup panjang dimulai dari para pendahulu. Ide awal tersebut dicetuskan oleh wakil wali kota Bangkalan, Madura di tahun 1950.

Ide tersebut kemudian dilanjutkan oleh seorang insinyur Indonesia kelahiran Karang Anyar Jawa Tengah, bernama Prof. Ir. R.M. Sedyatmo dengan konsep yang dinamakan Trinusa Bima Sakti di tahun 1960-an. Ir. R.M Sedyanto yang merupakan alumni Technische Hogescholl (THS, sekarang ITB…red), adalah insinyur perencanaan berbagai instansi pemerintah. Sedyatmo sering dijuluki si Kancil karena kecerdikan akalnya. Ia juga dikenal sebagai penemu ”Pondasi Cakar Ayam” pada tahun 1962.

Jembatan ini merupakan penghubung utama antara pulau Jawa dan pulau Madura dan merupakan jalur terpadat di Indonesia. Suramadu ditandai pembangunannya dengan penanaman tiang pancang tanggal 20 Agustus 2003, oleh Presiden RI saat itu, Megawati Soekarnoputri.

Rentang waktu cukup panjang dan melelahkan bagi semua team proyek yang tergabung disana terbayar sudah dengan berdirinya bangunan monumental yang sekaligus menjadi ikon nasional dimana saya berkesempatan menjadi salah satu saksi malam itu. Suramadu, berdiri kokoh 35 meter di atas permukaan air laut, dan membentang melintasi laut sepanjang 5.438 meter.

Special blanded semen yang diproduksi khusus oleh PT. Semen Gresik untuk menciptakan sebuah bangunan beton yang kokoh, mengurangi reaksi hidrasi beton terhadap air laut, mempertinggi kepekatan, dan segala hal yang telah diperhitungkan oleh para ahli dan diuji coba sebelumnya semoga dapat mencapai target maksimal usia Suramadu hingga mencapai 100 tahun.

Detail tentang perencanaan, konstruksi bangunan, tata letak dan sebagainya silakan kunjungi di Semen Gresik Suramadu Kiprah in YouTube.

Suramadu perlahan tapi pasti telah memberikan kontribusi pada peningkatan kemakmuran di negeri ini. Di industri pariwisata, Suramadu jelas telah membantu memperlancar trip Bali Overland Tour yang memungkinkan mengangkut wisatawan domestik maupun manca negara lewat jalur darat ke Bali. Sebuah pulau indah yang kabarnya bahkan lebih terkenal di seluruh penjuru dunia melampaui kemasyuran negeri  dimana ia berpijak…:)

Dan makan malam di rumah makan Ole Olang spesial bebek bakar /goreng di Bangkalan Madura menjadi momen yang menyelipkan sebongkah rasa syukur dan kesan mendalam.

Satu per satu cerita hari itu melintasi pikiran kami masing-masing.

Kereta api nan bersih, nyaman, tepat waktu dengan segala kemudahan pembelian tiketnya…. Suramadu yang kokoh, anggun, menawan dan membanggakan,

serta semilir angin di bumi Madura menjadi kesan terbaik penutup hari itu….

Semoga ada kesempatan untuk singgah kembali ke sana. Suatu ketika…

 

Suramadu di Waktu Malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s