Kebahagiaanmu Terletak pada Rasa Syukurmu Hari ini

“Jalan yang kita lalui waktu itu mengingatkan saya pada seseorang yang pernah mengisi hampir seluruh hati saya Bu…. 25 tahun itu seperti baru kemarin saja rasanya….” begitu seorang pria sahabat saya memulai ceritanya.

Bukan ‘memulai’ barangkali tepatnya. Karena hampir setiap kali kami berkesempatan jalan bersama untuk sebuah pekerjaan, selalu saja cerita tentang “dia, dia dan dia”.

Dan selalu saja wajahnya berbinar-binar. Suaranya penuh energi terdengar.

“Wajah dan tampangmu itu orang baek Pak. Jadi please deh, tidak usah jadi bandel!” sela sahabat saya lainnya yang sudah mulai gemas dengan cerita yang lagi-lagi seputar ”dia”.

Bersamaan dengan itu, sesungguhnya jutaan rasa prihatin bercampur kesal juga saya rasakan. Namun hari itu, kuputuskan untuk sejenak menyimpannya dalam hati. Ya, kali ini aku harus bisa mencari cara yang lebih tepat. Untuk kebaikan dirinya, juga keluarganya.

Kubiarkan sahabatku itu meneruskan ceritanya. Meski sekuat hati aku melarang dan menghentikan imajinasi serta kenangannya tentang masa lalu, kutahu hanya akan sia-sia. Diperlukan ‘trik’ pendekatan yang lebih tepat. Terlebih dahulu saya harus memahami untuk bisa menyusupkan kalimat-kalimat bijak yang menghibur.

Untuk orang seusia kami, mungkin terdengar lucu untuk mendiskusikan cerita masa muda dengan berbagai kisahnya. Tapi inilah kenyataannya. Kenangan masa kecil, dan remaja akan selalu melekat dalam usia seseorang. Sekuat apa ia menempel, para pribadi mempunyai pengalamannya masing-masing.

Demi memahami perasaan sahabat saya itulah saya ‘memaksakan diri’ membaca novel yang lebih tepat dibaca anak-anak muda. “Berjuta Rasanya’ sebuah karya Tere Liye yang cukup segar dan menghibur. Di sanalah saya belajar untuk mengerti, dan berharap semoga bisa cukup berguna menolong sahabat saya, yang jujur saja saya khawatirkan ”tersesat dalam ruang dan waktu”

”Saat itu saya menyakini saya benar-benar ”fall in love” pada gadis tetangga saya itu. Dan mungkin itulah pertama kalinya saya merasa harus nekat menyingkirkan rasa malu untuk kemudian mendekatinya. Saya pun mati-matian mengejarnya…”

”Ha..ha..ha…Ini baru berita. Orang sependiam Bapak bisa juga melakukannya…Lalu dia mengabaikan Bapak bukan?” saya menggiring ceritanya lagi.

“Awalnya saya rasa begitu Bu… Saat itu saya baru lulus kuliah, dan ingin segera meminangnya. Tapi saya menengok diri yang kala itu baru lulus kuliah dan berstatus pengangguran. Maka, berangkatlah saya ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

Dan di libur lebaran yang cukup singkat, saya mudik ke kota itu. Kota kecil yang selalu sejuk dan memberikan rasa nyaman. Ketika itu saya sudah bekerja. Siap untuk menemuinya dan keluarga.

Dengan sepenuh harap, saya mendatanginya, yang hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah orang tua saya. Saya merasa sudah mengumpulkan seluruh keberanian dan tekad hari itu.

”Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah buat saya….”

Demikian batin saya bersemangat. Karena jika hari ini saya gagal, mungkin selamanya saya tak kan pernah mendapatkannya. Saya tahu banyak pemuda yang juga menginginkannya. Dia memang menarik. Sangat menarik…Meski saya tak kan dapat mendeskripsikannya di sini…” wajahnya selalu berbinar setiap kali kata ’dia” keluar dari mulutnya.

Namun nasib belum berpihak pada saya rupanya. Rumah itu lengang. Sepi. Tidak ada seorang pun yang di rumah. Seorang tetangganya yang melihat kedatangan saya bergegas menghampiri. Ia menyampaikan bahwa dia dan keluarganya sedang menghadiri sebuah acara keluarga di luar kota.

Saya lunglai tak bertenaga. Saya merasa harapan saya sudah harus saya tanggalkan di halaman rumahnya yang teduh. Dengan menelan kekecewaan mendalam tentunya.”

Weleh-weleh.  Suara lamat-lamat Gen FM di kendaraan kami memutar lagu ”Kehilangan”-nya Firman seperti tahu saja topik perbincangan kami sore itu. Praktis ia bekerja seperti backsound yang pas mengiringi kisah lama yang sedang diputar kembali.

Sejujurnya, ku tak bisa

Hidup tanpa ada kamu, aku gila

Seandainya kamu bisa,

Mengulang kembali lagi cinta kita…”

Dan pria kalem sahabat saya itu seolah mendapat tambahan energi melanjutkan kisahnya.

”Sore itu saya sudah memesan tiket keberangkatan ke Jakarta. Waktu itu belum ada telepon ataupun handphone. Dan saya alergi membuat surat, mengingat pengalaman seorang teman. Surat yang dikirimkan tidak sampai ke tangan penerima, tapi malah jatuh ke tangan orang lain.

Saya mudik hanya sekali setiap lebaran saja pada saat itu. Jarak setahun untuk menunggu lebaran berikutnya membuat saya harus membela diri untuk tidak terjebak pada ’keinginan dan harapan” yang saya sendiri tidak terlalu yakin dapat terwujud. Terus terang saya hampir menjadi gila memikirkannya

“Haduh…lebay juga nih Bapak…. Lha untung-untung ga sampai hancur seperti butiran debu yah Pak. he he he..” saya mencoba melemparkan guyonan di sela-sela ceritanya.

Makanya… saya memutuskan menolong diri sendiri. Sekuat tenaga saya meyakinkan diri. Bahwa semuanya akan baik-baik saja tanpanya. Saya harus menemukan orang lain yang sudah pasti menginginkan dan membutuhkan saya. Bukan dia wanita satu-satunya di dunia ini.

Singkat cerita, saya bertemu dengan wanita berikutnya yang sekarang menjadi istri saya”

Lebaran berikutnya, kami resmi bertunangan dan tinggal menentukan hari H. Dengan pertimbangan agar orang tua saya tidak repot datang ke Jakarta, calon istri dan kerabatnya saya ajak pulang ke kampung untuk membahas berbagai persiapan.

Rupanya inilah cerita dari seorang tetangga. Sepulang dari rumah “dia” setahun lalu, tetangga tersebut menyampaikan kedatangan saya.

“Kuwi lho…putrane Bapak S wingi moro nggoleki panjengan ( Itu loh…putranya Bapak S kemarin mencarimu…” kira-kira begitu pesan yang disampaikan sang tetangga pada gadis itu.

Maka, hari itu dia diantar orang tuanya mendatangi rumah saya dimana saya sudah berangkat ke Jakarta.

Lebaran tahun berikutnya kejadian itu berulang. Demi mendengar saya pulang, dia bergegas mendatangi rumah saya. Dan aral tak dapat ditolak. Calon istri saya yang menghidangkan minuman untuknya ketika saya justru sedang berkunjung ke rumah teman.

Ibu bisa tahu apa yang terjadi. Dia balik kanan, ketika mengetahui bahwa saya sedang mempersiapkan hari besar : sebuah pernikahan. Dan sejak itu saya tidak pernah berjumpa lagi dengannya”

“Hadeeeeuh…. Cukup tragis Pak. Tapi itulah hidup. Tidak semua apa yang kita ingin dan rencanakan pasti kita dapatkan. Karena Dia memberi bukan apa yang kita ingin, melainkan apa yang kita butuhkan. Yakinilah Allah telah menggariskan segala hal baik. Kalau boleh tahu dimana dia sekarang?”

”Dia sedang mengambil studi di Australia Bu… Sudah berkeluarga dengan 2 orang anak. Saya tahu dari facebook-nya. Saya hanya ingin tahu kabar beritanya. Sekedar mengintip sejenak perjalanan hidupnya. Tidak lebih dari itu. Dan saya bahagia, melihat dia bahagia…”

”Senang jika Bapak sudah menempatkan diri di tempat seharusnya…. Bapak sekarang telah memiliki keluarga yang utuh dengan anak-anak yang lucu. Istri yang sabar dan selalu mengerti. Ia tak pernah protes bahkan ketika berminggu-minggu Bapak tak juga pulang karena menemani para klien berwisata ke berbagai tempat dan kota.

Anak-anak yang selalu mengharap kepulangan ayahnya dengan membawa berbagai oleh-oleh cerita perjalanan.

Orang-orang terdekat di sekeliling yang adalah bagian hidup kita sekarang jauh lebih penting untuk mengisi seluruh hati dan pikiran. Komitmen berbungkus niat menyempurnakan pengabdian kepadaNya adalah hal terindah yang harus kita bangun dan jaga Pak….

Kenangan tentangnya mungkin tak bisa dihapus secara sempurna, saya tahu. Karena semakin kuat seseorang berusaha melupakan sesuatu, biasanya malah lebih teringat bukan?🙂

Tapi belajarlah membangun imajasi dan rasa syukur atas hari ini. Ini sangat efektif dan otomatis akan menempatkan kenangan masa lalu hanya selintas cerita yang mewarnai perjalanan hidup Pak…

Kata orang bijak, syukuri apa yang kita miliki. Ketika yang dimiliki telah lepas dari genggaman, di saat itulah kau akan merasa kehilangan” Demikian kalimat-kalimat saya mengalir dengan sepenuh energi dengan berbagai penekanan.

Berharap energi itu bisa menjalar pada pendengarnya. Membangkitkan kesadaran atas nikmat Allah yang tak kan sanggup kita untuk menghitungnya…

Karena kata-kata itu pun telah cukup menciptakan sebuah kebahagiaan yang menyusup hati dan pikiran saya hari itu….:):)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s