Ainun, Wanita Hebat di Balik Pria Hebat (1)

Ada wanita hebat di balik keberhasilan dan kehebatan seorang pria. Demikian banyak orang menarik sebuah kesimpulan tentangnya. Sebagaimana ada Siti Khadijah, seorang wanita kuat, lembut, sabar, pebisnis hebat nan kaya raya yang telah memberikan dukungan sepenuh sisa hidupnya pada jihad seorang anak manusia bernama Muhammad SAW dalam menjalankan tugas sebagai penyampai wahyu Allah dan petunjuk hidup serta tauladan bagi umat sepanjang jaman.

Dan di edisi tulisan ini, saya masih ingin membahas mengenai sepasang anak manusia yang kisah perjalanan hidupnya sungguh menggetarkan jiwa kami. Memberi setitik cahaya yang semoga dapat terlihat dan membuat kita semua sejenak menengok diri, agar mampu memaknai setiap detik dengan berbagai ’pembelajaran tanpa henti”.

Ketika SMP, sekolah Habibie dan Ainun di Bandung letaknya bersebelahan. Mereka hanya kenal selintas saja. Namun keluarga Besari ( keluarga Ainun ) adalah merupakan kenalan baik keluarga Habibie, dimana sama-sama tinggal di Bandung.

Selulus SMP, keduanya melanjutkan di SMA yang sama, namun beda kelas. Habibie selalu satu kelas lebih tinggi. Dan Ainun justru berteman baik dengan adik Habibie, yaitu Fanny.

Saat SMA, Ainun yang adik kelas Habibie, cukup dikenal karena keunggulannya di pelajaran ilmu pasti. Guru mereka, Bapak Gow Keh Hong sering mengatakan bahwa sebaiknya wanita mengikuti jejak Ainun.

Demikian juga Habibie, mempunyai keungulan di pelajaran yang sama. Sehingga guru di kelas mereka sering melontarkan pernyataan bahwa Ainun dan Habibie kelak pantas menjadi pasangan suami-istri agar anak keturunannya menjadi pintar-pintar.

Namun komentar tambahan dari teman-teman mereka cukup menyinggung perasaan. Terutama menyangkut fisik keduanya yang terbilang sama-sama bertubuh kecil/pendek.

Mungkin karena ledekan itulah Habibie suatu hari mendatangi Ainun yang sedang duduk-duduk dengan teman-teman wanitanya.

Habibie secara spontan menyapa Ainun “Mengapa kamu begitu hitam dan gemuk?

Ainun tentun saja kaget dengan ucapan tidak sopan itu. Namun ia dan kawan-kawannya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala saja, tak menanggapi kalimat yang tentu sangat menyebalkan terdengar.

Rupanya kenangan itu terus membekas di hati keduanya hingga puluhan tahun kemudian, lengkap dengan penyesalan Habibie yang sebenarnya hanya bermaksud menarik perhatian gadis yang banyak disebut-sebut sebagai wanita pintar di sekolah tersebut.

Selepas SMA, Habibie melanjutkan studi ke Jerman. Ibu Habibie, yang bernama R.A Tuty Marini Puspowardoyo adalah kelahiran Jogja, dan Jawa yang sangat berpengaruh dalam pembentukan masa depan seorang Habibie. Di usia 14 tahun, ayah Habibie, Alwi Abdul Djalil meninggal dunia.

Habibie remaja mempunyai perilaku sering menyendiri dan konsentrasi pada lingkungan dunianya. Sering lupa makan, sehingga sering sakit. Ibunya sering memaksa Habibie untuk bermain di luar dengan anak-anak lain.

Ibu yang sangat paham dengan bakat dan potensi anaknya, lalu mendorong Habibie untuk merantau. Ia berlayar dengan kapal laut seorang diri  dari Makasar ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan dan menempuh SMP di Bandung.

Dan 5 tahun kemudian, di usia 19 tahun, Habibie juga seorang diri naik pesawat terbang ke Jerman untuk melanjutkan sekolah ke pendidikan tingginya.

Peran ibu sangat besar dalam melakukan perubahan tersebut. Sang ibunda bukan saja memberi dorongan secara moril, namunj uga menyanggupi pembiayaan pendidikan hingga Habibie dapat mandiri dengan kuliah sambil bekerja di negara tersebut.

Sementara, Ainun sendiri melanjutkan ke Fakultas Kedokteran UI, di Jakarta. Inilah catatan Ainun dalam buku A. Makmur Makka ”Setengah Abad Prof. Dr.Ing.B.J.Habibie ; Kesan & Kenangan’ 1986 (SABJH) sbb :

Ada satu ucapannya yang tak pernah saya lupakan. ”He, kenapa sih kamu kok gendut dan hitam? Kami gadis-gadis semua kaget. Eh kok begitu. Mau apa dia?” Saya dan teman-teman lagi duduk-duduk ngobrol waktu itu. Tiba-tiba saja ia datang menghampiri dan mengatakannya. Mungkin ada maksudnya. Entahlah. Memang, kita berdua sudahsaling tahu-mengetahui sejak dari SMP 5 dan SMP 2 kita yang bersebelahan di Bandung itu. Katakanlah saling kenal mata. Keluarga kami berkenalan baik dan saling datang ke rumah, keluarganya di Jalan Imam Bonjol, orang tua saya di Ciumbuluit”.

Namun dapat dikatakan bahwa kami saling memperhatikan di SMA Kristen di Jalan Dago. Bagaimana tidak. Karena kita dua-duanya sama kecil dan sama-sama paling muda di kelas masing-masing, kita selalu dijodoh-jodohkan oleh para guru : Itu lho yang cocok buat kamu”. Dia setahun laebih tua dan selalu satu kelas lebih tinggi. Tetapi kami tidak pernah berpacaran. Malah Fanny, adiknya lebih akrab dengan saya. Fanny kuanggap ”konco, dia sendiri teman biasa. Ia banyak disenangi gadis-gadis yang sedikit lebih tua. Saya ingat ia suka bersepatu roda. Saya sendiri suka berolah-raga; softball, volley, berenang. Juga suka makan. Jadi kulit memang agak hitam; badan memang berisi. Bukan dia satu-satunya lelaki yang menjadi perhatian saya; buat anak gadis umur 16 tahun para mahasiswa yang hebat-hebat dan gagah-gagah memakai sepeda motor Harley Davidson tentu lebih menarik. Dia masih bersepeda waktu itu. Apakah ia minta lebih kuperhatikan lebih banyak? Tak tahulah”.

Sehabis SMA kami jalan sendiri-sendiri; dia ke Jerman belajar menjadi insinyur, saya ke Jakarta masuk Fakultas Kedokteran UI. Indekos mula-mula pada keluarga Harjono MT di Jalan Borobodur, kemudian keluarga Abidin di Jalan Lembang. Hidup cepat berlalu; tahun 1961 saya lulus, lalu bekerja di bagian Kedokteran Anak FKUI. Saya pindah rumah ke Jalan Kimia agar dekat dengan tempat kerja.

Tahun 1960 ia selesai. Kata tante Habibie (saat itu belum saya panggil mami) ia baru sakit dua tahun lamanya. Sudah tujuh tahun dia tidak pulang. Kata tante ada baiknya ia pulang berlibur dulu sebelum meneruskan promosinya, siapa tahu ia bertemu jodohnya wanita Indonesia di sini”.

Saya sakit waktu itu; mungkin karena bekerja terlalu keras dan setelah masuk rumah sakit beberapa lama, diberi cuti untuk istirahat. Maka pulanglah saya ke Bandung. Ke Rangga Malela, ke tempat orang tua saya sementara itu sudah pindah. Jahit-menjahit,  ngobrol, istirahat”

Suatu hari menjelang lebaran tahun 1962 Fanny ke rumah dan langsung masuk ke dapur mencari ibu saya. Rupanya ia sendiri menunggu di mobil. Dan karena Fanny lama tidak keluar-keluar, akhirnya dia sendiri masuk.

Maka bertemu kembalilah kami setelah sekian tahun tidak bertemu muka. Bertemu di kamar makan orang tua saya. Dua-duanya sudah dewasa. Saling berpandang mata. Saling menegur.; ”Kok gula jawa sudah jadi gula pasir,” katanya.

Singkat cerita, dari pertemuan itu kemudian keduanya saling tertarik dan kemudian meyakini bahwa pertemuan tak direncanakan itu adalah awal takdir perjodohan yang telah diatur olehNya.

Pertemuan itu berlangsung pada malam takbir Lebaran tanggal 7 Maret 1962. Sementara Habibie sudah harus kembali ke Jerman di Mei tahun yang sama. Maka dalam waktu yang cukup singkat, mereka mengumumkan pertunangan dan kemudian menikah di tanggal 12 Mei 1962. Resepsi dilakukan sehari setelah akad nikah, di Bandung.

Akhir Mei, Ainun, yang kala itu berprofesi sebagai dokter muda dan telah resmi menjadi istri Habibie, berangkat ke Jerman mengikuti suaminya. Ia rela meninggalkan karier pribadinya untuk bertekad menjadi pendamping hidup dan ibu rumah tangga secara penuh untuk keluarga yang baru saja dibangunnya.

Di Aachen, mereka tinggal di Jalan Preubweg no. 123, sebuah apartemen kecil terdiri dari kamar tidur, kamar tamu, dapur kecil dan kamar mandi. Paviliun itu terletak di atas garasi untuk tiga mobil milik keluarga Goldman, seorang pengusaha percetakan buku.

Rumah besar Goldman sangat indah dan halaman serta kebunnya besar dengan pemandangan yang indah. Dareah rumah Villa Goldman termasuk mewah di daerah elit Aachen. Habibie mendapat rekomendasi dari Professor Dr. Ing Hans Ebner dimana sejak 1960 ia bekerja sebagai asisten dan juga peneliti.

Gaji Habibie termasuk tunjangan DM 1.300,- ( sekitar 680 Euro) bersih adalah jauh lebih dari cukup untuk hidup seorang diri. Tapi sangat terbatas untuk sebuah rumah tangga baru mereka.

Dalam catatan Ainun, pada buku SABJH halaman 383 keadaan mereka di awal tahun dilukiskan sebagai berikut :

Di Aachen kami mula-mula menyewa suatu paviliun tiga kamar. Pada mulanya hidup tidak berat; saya dibantu seorang pembersih rumah. Setelah pembersih rumah tidak ada pun hidup tidak terasa berat  karena dari kecil saya sudah diajari mengurus rumah tangga,memasak, mencuci, membersihkan dan sebagainya”

Waktu saya sudah hamil sekitar empat bulan, kami merasa rumah yang kami tinggali akan terlalu kecil buat bertiga nanti.

Kami temukan sebuah rumah susun di luar Aachen. Letaknya di Oberforstbach. Besarnya lumayan, ada kamar keluarga, kamar tidur, kamar anak-anak, dapur dan kamar mandi.

Hidup mulai agak berat. Berat bukan karena beban pekerjaan di rumah tetapi karena rasa kesendirian.

Oberforstbach sebuah desa; kalau mau ke Aachen untuk keperluan tertentu seperti memeriksakan kandungan ke dokter, orang perlu naik bis. Bis hanya ada setiap dua jam pagi dan sore.

Hidup terasa sepi sekali; jauh dari keluargak jauh dari teman-teman; jauh dari segala-galanya. Tidak ada yang dapat diajak ngobrol. Berbahasa Jerman pun waktu itu kurang disukai; bahasa Jerman ex-SMA ternyata tidak begitu menolong. Yang ada hanya suami tetapi suami pun pulang larut malam. Ia harus bekerja, ia harus menyelesaikan promosinya.

Penghasilan kami pas-pasan; mendapat setengah dari Diploma Ingineru, oleh karena bekerja setengah hari sebagai Asisten pada Institut Konstruksi Ringan Universitas, enam ratus DM lagi dari DAAD, Dinas Beasiswa Jerman. Untuk menambah penghasilan, suami dengan mencuri-mencuri waktu bekerja sebagai ahli konstruksi pada pabrik kereta api mendisain gerbong-gerbong berkonstruksi ringan. Waktu sangat berharga dan harus diatur ketat. Pagi-pagi ke pabrik dulu, kemudian sampai malam di Universitas. Pukul 10.00 atau 11.00 nakan baru sampai di rumah dan menulis disertasi. Kemana-mana naik bis, malah karena kekurangan uang untuk membeli kartu langganan bulanan, dua tiga kali seminggu ia jalan kaki mengambil jalan pintas sejauh lima belas kilometer. Sepatunya berlobang-lobang; baru menjelang musim dingin lobangnya ditambal.

Soal pengeluaran tetap meningkat. Di samping keperluan sehari-hari perlu ada tabungan untuk hari depan. Harus dibayar asuransi kesehatan, dan ternyata asuransi kesehatan bagi wanita hamil cukup tinggi karena memperhitungkan segala kemungkinan; rumah sakit, terjadinya komplikasi, dsb-nya.

Untuk menghemat, sejauh mungkin semuanya dikerjakan sendiri. Mulailah saya belajar sendiri menjahit. Lama kelamaan jahitan saya tidak terlalu jelek; memperbaiki yang rusak, membuat pakaian bayi, merajut, dan menjahit pakaian dalam persiapan musim dingin. Maka tidak kebetulan bahwa yang pertama kami beli sebelum Ilham lahir adalah mesin jahit. Bukan mesin cuci, bukan oven yang serba otomatis, bukan perlengkapan lainnya. Tetapi mesin jahit. Itulah prioritasnya waktu itu. Mesin jahit diperlukan untuk persiapan-persiapan. Dengan bertambahnya anggota keluarga, tentu biaya hidup meningkat ; untuk makanan bayi, untuk dokternya, obatnya, untuk ini dan itu”.

Jalan yang menghubungkan Obesforstbach dengan Aachen adalah jalan dimana bus yang tidak sering datang. Pagi sekali Habibie meninggalkan Ainun seorang diri dengan dana yang sangat terbatas, dan kembali larut malam dengan sering berjalan kaki untuk pengematan.

Jalan pintas itu melintasi kuburan. Jika hujan dan dingin, Habibie berjalan dengan payung dan mantel dengan sepatu yang diberi alas kertas yang diisolasi untuk mengurangi rasa dingin.

Jika Habibie pulang, Ainun sering menunggu kedatangannya dengan memandang keluar jendela dari kontrakannya yang sederhana. Setiba di depan rumah, Ainun membuka pintu dan memandang suaminya dengan senyuman terindah yang selalu menentramkan.

Habibie mengenang almarhumah istrinya dengan sebuah kalimat yang memaksa kami untuk turut larut dalam haru, dan barangkali menjadi duka seorang burung yang patah sebelah sayapnya.

”Rasa kedinginan, letih dan lapar hilang terpukau oleh pandangan mata Ainun yang mencerminkan kebahagiaan, dan cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi”

Kisah lengkap dapat dibaca di buku Habibie & Ainun yang diterbitkan oleh PT. THC Mandiri – Jakarta tentu saja. Ekstrak kisah yang masih ingin saya lanjutkan di tulisan berikutnya semoga cukup membantu bagi siapa saja yang belum sempat membacanya.

Membangun diri menjadi wanita hebat yang sepenuhnya menjadi ”energi” bagi para pasangan hidup dalam perannya masing-masing di dunia ini. Dan memberi inspirasi bagi para pria untuk menjadi suami teladan yang terus berjuang bagi wanita yang telah diciptakan Allah sebagai pendamping hidup. Dalam sebuah MISI BESAR yang adalah saling menyempurnakan dalam PERIBADAHAN kepada ALLAH semata sesuai dengan TUJUAN penciptaan manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s