Mulutmu adalah Harimaumu

“A calm sea doesn’t a good sailor make / laut yang tenang tidak membuat seorang pelaut menjadi baik “

Dengan kata lain, jika kemudahan datang kepada Anda, itu bukan berarti Anda berbakat, namun karena Anda beruntung.

Barangkali itulah pepatah tepat yang kami alami sebagai penyelenggara corporate event di beberapa waktu yang lalu. Bahwa kebaikan dan prestasi yang kami torehkan, tidak membuat kami menjadi baik di mata “salah satu” anggota team klien kami.  Segala macam cara mendiskreditkan dari awal hingga akhir acara telah kami tangkap sebenarnya.

Demi kepentingan yang lebih besar, kami memilih untuk “MEMBIARKAN” karena mempertimbangkan TUJUAN YANG LEBIH BESAR yaitu KESUKSESAN ACARA.

Memang dari sekian belas panitia, hanya satu orang yang terpaksa harus kami sebut sebagai “oknum” dalam hal ini.

Meski demikian, nyata ucapannya tidak hanya menyinggung, bahkan telah mengusik harga diri kami. Ini memaksa saya harus memberikan pelajaran cukup pedas pada akhirnya. Inilah kisah pembelajaran email sepedas maicih level 10 yang saya kirimkan. Berharap ini akan menjadi pembelajaran yang akan menjadi titik balik “beliau” di hari-hari mendatang. Dalam berhubungan dengan rekan kerja, keluarga, teman, kenalan, dan siapapun juga.

Pagi, 27 November 2012

Sebuah email datang tepat jam 08.10 pagi. Email mengejutkan yang ditujukan kepada saya dan pimpinan perusahan tersebut, lalu di CC ke mayoritas panitia yang terlibat di dalam penyelenggaraan acara mereka.

Ada 3  point kritikan sehubungan dengan klaim biaya, dan semuanya saya jawab point demi point disertai data pendukung tentu saja. Dan point ke 4 tertulis sebagai berikut :

Baru kali ini kita tour tetapi msh byk tagihan & kekurangan lain2, menurut hemat saya kalau EO menang tender harus mau menghadapi keuntungan maupun kerugian yg timbul dikemudian hari, krn dari awal sdh mematok harga.”

Sebenarnya, kalimat di atas bukan satu-satunya kalimat yang bernada negatif dan provokatif. Banyak kalimat lain yang lebih provokatif di jaringan grup kami yang mau tidak mau masih tersimpan dalam memori meski akhirnya terbantahkan oleh data. Rupanya pembelajaran sebelumnya tidak menjadikannya jera. Kedatangan email pagi itu sebagai buktinya. Email yang dikirim dari alamat resmi perusahaan dan ditujukan ke pimpinan pula, masih dilakukannya.

Sekilas cerita sebelumnya. Proposal dan Surat Penjanjian Kerjasama telah terang benderang menyebutkan fasilitas apa saja yang akan kami berikan sesuai harga yang disepakati bersama. Termasuk sebuah pasal yang menyebutkan jika jumlah peserta berkurang dari jumlah awal yang telah kami kalkulasi, maka kami sebagai pihak penyelenggara berhak untuk menghitung ulang dan mengajukan harga baru. Juga disebutkan biaya apa saja yang tidak dapat kami tanggung. Dan segala kondisi yang memungkinkan menjadi konflik telah kami cantumkan.

Ketika di akhir cerita jumlah peserta rupanya tidak memenuhi jumlah yang ditetapkan karena berbagai kendala. Setelah klien meminta untuk memberlakukan harga tetap, dengan pertimbangan akan berdampak cukup luas, kami pun masih mencoba mengikuti. Tentu saja dengan konsekuensi estimasi margin profit yang pasti akan berkurang.

Kembali, kami berkomitmen untuk memberlakukan harga sama, dengan fasilitas tetap tanpa pengurangan apa pun.

Inilah sebuah itikad baik. Aturan dengan pasal setebal apapun kita buat, sebenarnya itikad baiklah yang akan menjadi solusi atas sebuah permasalahan. Hubungan baik dan silaturahim yang tetap harus menjadi prioritas utama kita”

Demikian saya memberi kesimpulan kepada team, agar mereka pun dapat menerima dan menjalankan keputusan yang telah kami ambil dengan ikhlas dan lapang hati.

Dan ketika di tengah perjalanan terdapat permintaan penambahan pelayanan di luar yang kami telah sepakati, satu per satu masih coba kami penuhi. Namun ada hal-hal dimana batas toleransi pun tidak bisa kami langgar begitu saja.

Pada saat ada penambahan biaya di luar tanggungan kami, maka diputuskan di rapat terakhir bahwa mereka, Bapak-Bapak panitia menyepakati untuk membayarkan ”additional charge” tersebut.

Kami pun menyampaikan bahwa additional charge akan kami tagihkan selesai event. Setiap penambahan akan dilaporkan pada panitia, agar mengurangi mis-komunikasi.

Inilah sepenggal respons email yang saya kirimkan sekitar 1 jam kemudian. Reply all tentu saja🙂🙂

”………………………………..  Kami  masih mencoba membantu dengan rincian terlampir senilai +/- Rp…………..,- yang seharusnya tidak perlu kami utarakan, jika saja email ini tidak sampai kepada kami pagi ini

Testimoni dari seluruh peserta yang sangat baik, adalah hal paling menghibur bagi kami semua di project ini. Kami akan kirimkan bersamaan dengan dokumentasi nantinya.

Setelah semua kesalahpahaman dan sikap yang tidak patut ini terjadi (berkata yang tidak menyenangkan, mencaci maki , fitnah dll),  saya hanya mau menyampaikan bahwa yang dapat berlaku CURANG dengan cara mengurangi timbangan itu tidak hanya penjual, namun di posisi pembeli pun berpeluang melakukan kekhilafan tsb. 

Yaitu dengan cara melebih-lebihkan fasilitas dan hal-hal yang  sudah disepakati bersama. Semoga Allah menjaga kita dari hal-hal dzalim yang demikian.  

Demikian, semoga tanggapan ini masih dalam koridor yang wajar berdasarkan fakta yang berpandu pada Surat Perjanjian dan Kesepakatanjauh dari persepsi pribadi yang subjektif dan tidak adil.

Bersyukur kami mendapatkan pekerjaan dari Bapak karena InsyaAllah merupakan tempaan bagi kami. Semoga kami dapat belajar untuk menjaga sekuat-kuat lisan dan tangan ini agar tidak melukai hati siapa pun juga.

Terimakasih & Salam…”

————————————————————————————————————————————

Dua menit kemudian,….

Salah satu dari sekian orang yang mendapatkan CC email tersebut merespons melalui pesan di BBM :

Baik bu Dita, tks atas pengertian dan kerja keras-nya utk kesuksesan acara bagi kami, mhn ma’af apabila ada pernyataan dari tim kami yg kurang berkenan, tentunya kami akan upayakan agar apa yg msh menjadi tanggungan kami bisa dibayarkan sesuai dg kewajiban yg seharusnya dibayarkan kepada Prasasti, kami akan komunikasikan dg team yg lain. Tks 

Sepuluh menit kemudian,…

Handphone saya berdering. Ternyata dari salah seorang wakil pimpinan di perusahaan tersebut.

Haduh..haduh….Begitu ya Mbak…Maafkan rekan kami, mohon jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Kami jadi tidak enak semua ini. Paling lambat besok akan kami bereskan urusan kekurangan pembayarannya. Dan bla bla bla….”

Yang segera saya jelaskan :

Maaf juga Bapak, jika respons saya terlalu keras. Dengan semua data yang kami berikan itu, semua akan jelas dan terang benderang. Ada saatnya kita harus diam dan membiarkan orang lain berfikir apapun selagi kita ‘on the right track’. Tapi ada kalanya kita harus mengingatkan juga Pak. Dan saya berharap beliau berkenan berbenah diri. Semoga Pak Bos pun bisa memikirkan training yang tepat untuk pengembangan kepribadian beliau…”

Satu jam….dua jam…hingga berjam-jam berikutnya, sepi. Tak ada tanggapan resmi yang keluar dari pihak yang kami kritisi.

How hard to know his response” Begitu komentar sahabat saya yang sebenarnya mewakili pertanyaan demi pertanyaan yang ada dalam kepala saya.

“Apakah beliau menyesal telah berbuat demikian tak adil? Semoga.

Apakah beliau bahkan marah dan kehabisan amunisi karena data-data yang kami ungkapkan dimana justru mempermalukan di forum resmi tersebut atas kekhilafannya? Entahlah.

Apakah kemudian beliau menyesal telah menemukan EO yang tak bisa ditindas sedemikan rupa sebagaimana jaman feodalisme? Semoga tidak seburuk itu yang terjadi….”

Astaghfirullah….

Ampuni kami semua dari segala khilaf dan alpa.

Jauhkan kami dari segala bentuk kezaliman dan buruk sangka,

Semoga pelajaran demi pelajaran hidup yang adalah kehendakNya menjadikan kami semakin dapat memahami, bahwa inilah dunia….

Tak selamanya hari berisi cerita indah saja…

Dan jika pun orang lain tak melihat perbuatan baik yang kita usahakan pun, tetaplah terus berbuat baik,

Hanya karena sebuah keyakinan bahwa Dia-lah sebaik-baik pembalas amal manusia. Baik ataupun sebaliknya, seberat zarrah pun pasti kan tercatat secara sempurna.

Kini, saya telah berhenti mengharap balasan email tersebut. Tidak penting membalas atau tidak. Karena tujuan saya toh jauh lebih besar dari itu. Agar semangat dan virus pembelajaran untuk terus sekuat tenaga berbenah diri bagi kita, manusia yang tak luput dari alpa dan khilaf dapat menginfeksi dalam hatinya.

Peristiwa ini sesungguhnya adalah pengingat diri. Bahwa kita tak pernah dapat menarik ucapan yang telah melesat tajam bak anak panah terlepas dari busurnya. Untuk itu, berhati-hatilah. Ucapkan hanya kata yang baik dan benar. Karena sebaik kata-kata adalah yang bermanfaat. Semoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s