Sahabatku, Wanita Kuat di Balik Pria yang Rapuh

Sepotong kisah perjalanan Habibie – Ainun telah menjadi inspirasi menulis beberapa hari yang lalu. Tiga judul tulisan dengan niat murni menyebarkan virus pembelajaran dan motivasi hidup telah saya tayangkan di beberapa media dan jejaring sosial.

Hingga tepat di hari ke 3, sebuah telepon dari sahabat lama datang di suatu pagi. Hampir 1,5 tahun kami tak berjumpa. Ada rasa kangen yang meluap mengaliri suara kami tentu saja.

Dari berbagi kabar ringan hingga tak terasa semakin berat muatannya. Berat, sangat berat, hingga membuat rongga dada terasa sesak demi menyimak ceritanya.

Sebuah kisah perjalanan yang adalah kebalikan dari apa yang telah saya tuliskan. Lengkap dengan perjuangan sahabat saya, seorang wanita cantik, baik, ramah dan mandiri yang sangat santun tutur bahasanya untuk menjadi pribadi yang terus berbenah diri. Menemukan pintu Allah yang selama ini menjadi misi utama dalam pencarian jalan lurus dalam kehidupannya.

Sejenak saya tersadar akan sesuatu. Saya seperti merasakan bahwa Allah memberitahu dan membukakan mata hati saya dengan caraNya. Bahwa wanita hebat tidak selalu berada di balik pria hebat. Bahkan kadang ia tersembunyi di balik pria yang rapuh…😦😦

Ingatan saya melayang pada 2,5 tahun silam. Ketika itu, saya berkunjung ke rumah seorang sahabat atas undangannya. Ialah wanita cantik yang saya maksud, Mbak Afni namanya ( bukan nama sebenarnya…red). Rumahnya yang berlokasi di bilangan Jakarta Selatan sungguh bersih dan tampak asri. Begitu kesan pertama saya menginjakkan kaki di tempat tinggalnya.

Berbagai jenis tanaman bunga dan aneka macam tanaman hias yang tumbuh di teras depan dan belakang rumahnya terawat sempurna. Tak henti-henti saya mengaguminya. Betapa apik si tuan rumah menata semuanya sehingga terasa pas di mata.

Subhanallah, ini pohon kaktus raksasa yah Bu… Berapa usia pohon ini?Wow…ini seperti tanaman langka…” tanya saya sambil keliling kebun di belakang rumahnya.

Usianya hampir sama dengan anakku yang sudah mau masuk kuliah tahun ini Mbak….Kalau mau coba menanam, nanti saya siapkan bibitnya. Mau yang mana saja boleh….” sahutnya ramah dengan wajah berseri-seri.

Terimakasih Mbak…. Sayangnya aku tidak terlalu telaten memelihara tanaman yang perlu perawatan khusus. Lagi pula, tempatku tidak seluas ini, jadi ya beberapa pohon tumbuh sudah akan memenuhi seluruh halamannya..he he he..” sahut saya jujur.

Kami mengobrol aneka topik di ruang makan yang letaknya dekat mushola keluarga. Ruang makan itu bersebelahan dapur mini yang juga terlihat tertata rapi.

Mbak Afni bergegas menghidangkan makanan yang dimasaknya sendiri ;  ketupat tahu dan asinan lobak dingin yang baru dikeluarkan dari dalam kulkas.

Wuiihh mantap nih ketupat tahunya. Enak, enak…! Terus saya baru tahu nih, ada lobak dibuat asinan. Ternyata segar juga yah. Hilang aroma lobaknya…” seru saya sambil mengisyaratkan jempol untuk pujian tulus padanya.

Ini bisa berfungsi sebagai obat juga. Memperkuat ginjal kita…” jawabnya bersemangat.

Saya jadi teringat film seri Korea berjudul Jewel in The Palace, dimana Jung Geum selalu memasak makanan dengan pertimbangan kesehatan, tidak hanya sekedar masakan yang terasa enak di lidah saja. Aneka kombinasi sayur mayur selalu diperhitungkan dengan matang fungsinya bagi tubuh. Penyajiannya pun dengan cita rasa seni yang menggugah selera, meski bahan-bahan yang digunakan adalah murah adanya.

Obrolan berikutnya seputar resep asinan, menyambung ke tema pendidikan anak, bisnis, dan seterusnya. Tak terasa jam telah menunjuk angka 17.00 saat saya berpamitan pulang.

Setelah kunjungan hari itu, Mbak Afni setidaknya dua kali main ke tempat saya, yang tentunya jauh dari rapi dan mewah sebagaimana kediamannya…:)

Perkenalan kami diawali hubungan antar vendor dan klien. Saya adalah vendor EO di perusahaannya, sehingga praktis hubungan kami adalah mengenai pekerjaan saja pada mulanya.

Namun belakangan, setelah banyak berbincang berbagai tema, kami mulai saling cocok dalam berdiskusi. Dan hubungan kami meningkat menjadi teman, bahkan sahabat, terutama setelah Mbak Afni memutuskan untuk keluar kerja dari perusahaan tersebut. Pertimbangannya, setelah bertahun-tahun meniti karier hingga di puncaknya, Mbak Afni merasa ingin memberikan perhatian penuh pada kedua putranya yang beranjak dewasa, dan hendak masuk ke bangku kuliah.

Rabu, 23 November 2012.

Sudah hampir setahun kami tak saling berkunjung karena berbagai kesibukan keseharian masing-masing. Mbak Afni juga pasti mondar-mandir mendampingi putranya dalam berbagai hal karena mereka kuliah di luar kota. Di samping itu, ia juga mulai aktif di berbagai kegiatan sosial sesuai dengan rencana ’pensiun dini’nya.

Akhirnya kami hanya sekedar saling berkirim sms ucapan Idul Fitri, Idul Adha selama ini.

Sampai beberapa minggu lalu ada seorang teman mengabarkan bahwa Mbak Afni sudah berangkat haji tahun lalu. Sebuah kabar yang selalu menularkan rasa bahagia. Maka sebuah sms bertanya kabar saya kirimkan pagi itu.

Dan kisah pedih berbalut bahagia mengalir dalam gelombang elektromagnetik handphone kami pagi itu. Sangat tegar ia bercerita, dengan penguasaan emosi yang terdengar nyaris sempurna. Dan ketenangan hidup karena keikhlasan di titik tertinggi akan takdirNyalah yang membuatnya bahagia.

Selamat ya Mbak, aku seneng banget dengar Mbak Afni sudah berkesempatan naik haji lho…. Sebuah karunia tertinggi bisa menghadap zat yang Maha Indah yah Mbak….Aku aja setiap kali dengar lagunya Opick ”Haji” itu selalu saja terbawa haru.. Menginjakkan kaki di bumi para nabi. Mengenang perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya menegakkan firman Allah dengan berbagai pengorbanan yang tak terbilang… Subhanallah. Semoga Allah memberi saya kesempatan suatu hari nanti…..” demikian saya mengungkapkan kegembiraan pada sahabat saya itu.

Terimakasih Mbak….Itu juga karena aku bilang ke suami…Pap…tetangga kita sudah banyak yang berpulang. Ada yang masih muda, ada yang setengah baya. Tidak tahu juga kapan tiba waktuku menghadapNya. Aku pengen banget haji. Aku sampaikan begitu karena Alhamdulillah selama aku kerja sekian tahun dan hampir seluruh gaji kupakai untuk membantu keluarga besarku, di samping biaya hidup di rumah, Allah mengembalikan dengan utuh rizki itu saat aku berhenti kerja Mbak. Subhanallah…”

 Awalnya ia masih belum tergerak sampai aku sampaikan ”Ya sudah Pap…kalo sampai aku meninggal lebih dulu, tolong qodho-in hajiku. Aku sungguh pengen kesana.”

Akhirnya suamiku pun mau mengurus kepergian kami berdua dan jadilah kami berangkat menggunakan ONH plus tahun lalu.

Tentang ’rahasia dapur’ bahwa selama ini yang mengcover kebutuhan rumah tangga seorang diri, sungguh nyaris tak dapat dipercaya.

Bagaimana tidak. Sang suami adalah seorang jajaran pimpinan di sebuah BUMN. Dan di dinding rumahnya saat saya berkunjung ke rumahnya 2,5 tahun lalu, kulihat foto-foto bersama menteri dan bahkan Presiden di beberapa acara terpampang di sana. Rupanya pergaulan yang salah menjadikan orang dengan keimanan yang kurang memadai menjadi oleng bahkan tumbang oleh godaan dunia.

Singkat cerita, Mbak Afni mengisahkan bahwa sekitar 4 tahun kehidupan keluarganya bak diombang-ambing oleh gelombang pasang. Sang suami pindah ke lain hati, dan dengan sabar ia mempersilakan untuk menikah dengan wanita tersebut demi pertimbangan kedua anaknya. Ia bahkan menemui si wanita yang ternyata ’amat biasa’ ditilik dari segala macam kualitas dan ukuran, dengan kepala dingin. Dengan kemampuan penguasaan emosi yang lebih dari rata-rata orang dengan luka hati yang terbuka dengan kucuran darah yang masih terlihat nyata.

Dan pada sang suami ia berujar :

Allah meminjamkanmu untuk waktu yang tertentu. Dan aku ikhlas melepaskannya, karena pertemuanmu dengannya adalah karena kehendakNya. InsyaAllah kakiku akan terus tegak berdiri karena aku memiliki pegangan terkuat dari yang kuat, yaitu Allah semata.Aku bersyukur karena memiliki mereka, kedua putra yang sangat baik. Jika divorse bukan pilihanku, itu karena anak-anak pasti akan menjadi korbannya. Aku sudah cukup banyak belajar dari para psikolog akan dampak sebuah perceraian yang dapat berpengaruh besar dalam tumbuh kembang psikis mereka”.

Saya bisa saja melaporkan ke kantornya Mbak, tapi saya memilih untuk tidak melakukannya…Saya juga disidang oleh keluarganya, karena awalnya saya disangka wanita matre yang hanya senang jalan-jalan. Dan setelah keluarganya kuceritakan apa adanya, mereka berbalik membela saya. Dan sejak itu ½ dari pendapatan suami masuk ke saya, untuk keperluan rumah dan anak-anak

Apa akhirnya suami jadi nikah dengan wanita itu Mbak? ” Tanya saya hati-hati.

Tidak jadi….. Perlahan ia mulai menyadari kekeliruannya. Dan akhirnya ia kembali pada kami. Meski pastinya sebagai manusia, tentunya ibarat sebuah kaca, goresan di sana sini sudah demikian dalamnya. Saya terus berjuang menata hati, dan memohon pertolonganNya. Agar pengabdian sebagai pendamping hidup adalah semata-mata ibadah karena Allah semata

Saya kemudian memutar balik ingatan akan perjalanan hidup saya sendiri. Sewaktu SMA saya masuk Islam hanya ikut-ikutan saja. Setelah saya seorang muslim, saya juga gelisah serta bingung, sebenarnya apa yang saya cari dalam hidup sehingga membuat saya tenang? Akhirnya saya memohon kepadaNya, agar ia menunjukkan pintu mana yang harus saya masuki.

Dan saat saya masih kerja, saya meluangkan waktu untuk mengikuti berbagai pengajian di majelis-majelis taklim. Tapi saya merasa hasilnya juga segitu-gitu saja.

Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang guru, lulusan Cairo, Mesir dalam pengkajian ayat-ayat suci Al-Quran secara mendalam selama setahun terakhir ini. Bahkan guru itu saya temukan setelah pulang dari Mekah.

Subhanallah Mbak….jadi saat kita membaca Al-Quran secara tartil dan makna serta susunan sastra bahasa Arabnya kita ’mudeng’, maka dampaknya luar biasa sekali. Saya menjadi betah berjam-jam di malam hari membaca ayat-ayatNya.

Teman sepengajian saya ada yang usianya 70 tahun dan sudah hafal 10 jus. Teman lainnya yang usianya 50 tahun sudah hampir hafal 30 jus. Sekarang saya semakin yakin janji Allah, bahwa Al Quran itu dibuat mudah untuk siapa pun yang berniat untuk menghafalkannya, tanpa kecuali. Meski usianya sudah lanjut sekali pun.

Hidup saya sekarang terasa jauh lebih tenang. Saya bersyukur Allah telah menunjukkan pintu yang saya cari selama ini. Dan saya tidak ingin menikmati itu sendirian. Jika Mbak berkenan, saya bisa pinjamkan buku-buku yang saya punya.Guru dan hidayah memang harus kita cari Mbak, bukan kita diam menunggunya.

Iya Mbak, benar sekali. Ibadah secara luas berupa bekerja, mencari nafkah, membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, berbuat baik pada sesama memang tidak bisa menggugurkan kewajiban kita dalam mempelajari ilmu agama untuk tujuan hubungan kita secara vertikal pada Allah SWT. Berbahagialah ketika tangan Allah telah meraihmu… Doakan semoga aku juga bisa memperdalam ke arah sana. Aku perlu banget bantuan Mbak Afni untuk itu……..” demikian saya menimpali.

Dan ketika pembicaraan per telepon di akhiri, saya masih saja duduk termangu. Ada kepedihan yang dalam mengingat kisahnya. Ada rasa haru dan bahagia mendapati sahabat saya telah menemukan petujuk dan pertolongan Allah, Tuhan yang Maha Penyayang hambaNya.

Semoga Dia kan menjaga dan memelihara sahabatku di sepanjang hidup dan matinya, sebagaimana Dia memuliakan jasad dan ruh para syuhada yang berjihad di jalanNya.

Amien YRA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s