Tentang Ibuku,..

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman,

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang,

Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti dari kerabat dan kawan,

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang,

 

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan,

Jika mengalir akan jernih, jika tidak kan keruh menggenang,

 

Singa tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa,

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran.

 

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam,

Tentu manusia akan bosan padanya dan enggan memandang.

 

Biji emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang,

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.”

 

Imam Syafii ( 767-820)

Kalimat yang saya kutip dari salah satu Novel Favorit saya Negeri 5 Menara karya Bang Ahmad Fuadi tersebut di atas sejenak telah memberikan berjuta penghiburan bagi saya, sebagai seorang anak yang telah memutuskan meninggalkan kampung halaman puluhan tahun yang silam. Meninggalkan seorang wanita desa yang paling berarti dalam hidup saya. Yaitu IBUKU.

Dan hari ini, sebagaimana hari-hari menjelang akhir pekan, ingatanku selalu melayang ke hadapan wanita sederhana yang kini telah semakin ’sepuh’ dimakan usia itu..

Teringat saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, terasa separuh nyawaku tertinggal di sana.

Di desa terpencil ratusan kilometer jaraknya. Meninggalkannya sendirian menjaga ayahku yang telah renta, dan kemudian telah berpulang mendahuluinya…

Wanita yang dulu sangat tangguh itu adalah IBUKU…

Entah telah berapa tahun tepatnya kini usianya. Tak secarik kertas pun yang dapat menunjukkan tanggal bahkan tahun kelahirannya. Kuperkirakan, kini telah menjelang 80 tahunan. Punggungnya telah semakin membungkuk. Dan jari-jari halusnya kini telah keriput semua. Gigi-giginya telah tanggal sebagian besarnya.

Ketika gigi palsu pengganti kutawarkan, beliau menolak dengan sepenuh ketegasan. Dengan kemampuan mengunyah yang terbarukan, kuingin sedikit makanan masih dapat dinikmati setidaknya. Bukan untuk pertimbangan kecantikan dan estetika. Namun pendiriannya tetap sekokoh sebelumnya. ”Wis wayahe. Aku wis trimo ing pandum” –  Memang sudah waktunya, telah kuterima takdirNya, itulah sebuah kalimat yang tak dapat terbantahkan.

 

Wanita pendidik yang buta huruf itu adalah IBUKU…

Kuingat hampir di sepanjang malam Ibu menemaniku belajar. Membaca berbagai buku dan menulis,

Ketika itu listrik belum masuk ke desaku. Maka sebuah lentera minyak kecil menjadi teman setia belajarku.

Ibuku yang tak pernah duduk di bangku sekolah, selalu menyemangati. Agar aku tidak mengikuti jejaknya sebagai orang dahulu. Sebuah kalimat yang berulang-ulang disampaikannya  ”sinau sing sregep, ben mbesuk dadi wong pinter… – Belajarlah yang rajin, supaya nanti jadi orang pintar”. Nasehat sederhana, yang tak sesederhana itu ternyata dalam meraihnya. Alhamdulillah, kini anakmu sudah bisa membaca Bu… Dan sedang belajar menulis. Meski aku belum kunjung menjadi pintar, tapi aku tetap ingin menjadi seperti yang kau mau.

Wanita yang selalu harus kutinggalkan itu adalah IBUKU,…

Tinggal di kota, hanya membuatku menjadi seperti burung di sangkar. Aku tak akan meninggalkan rumah ini, nak. Bapakmu ingin aku menjaga rumah ini. Jadi, biarkan Ibu menghabiskan waktu di sini. Mengisi hari tua dengan ibadah sebisanya. Ibu masih bisa masak sendiri. Masih bisa shalat berjamaah di masjid. Masih bisa memberi makan ayam-ayam di kandang. Masih bisa menyapu halaman sambil salawatan. Ibu akan baik-baik saja…”

Lidahku kelu. Tak pernah kubisa membujuk beliau untuk bisa kuajak serta. Menaiki kapal kecil kami yang terasa semakin menjauh saja. Karena waktu kini menjadi penyekat utama. Antara aku dan IBUKU.

Hanya do’a-do’a sepanjang waktuku semoga sampai ke Arsy-Nya.

Kumohonkan segala kebaikan untuk wanita itu, yang adalah separuh jiwaku.

Kutitipkan beliau pada Dia, sebaik-baik penjaga.

Kumohonkan ketenangan hati dan kenyamanan jiwa mengisi hari-hari tuanya.

Kumohonkan kesehatan sebagai bekal ibadahnya.

Kumohonkan keberkahan dalam setiap tarikan sisa nafasnya.

Kumohonkan kesempatanNya untuk bisa sesering mungkin menjenguknya.

Dan pagi ini, sebuah lagu favorit saya menemani memulai akfitas hari ini.  Sepenuh harap kuberdoa, semoga bulan depan kami kan kembali dipertemukanNya…🙂

Mother, how are you today? Here is a note from your daughter. With me everything is ok. Mother, how are you today?

Mother, don’t worry, I’m fine. Promise to see you this summer. This time there will be no delay. Mother, how are you today?

Verse: I found the man of my dreams. Next time you will get to know him. Many things happened while I was away. Mother, how are you today?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s