Aduh Malunya! X_X

Inilah romantika keseharian seorang wirausahawan. Suka dan duka perjalanan mengiringinya sepanjang waktu. Hingga kadang bisa juga terjebak dalam situasi ’mengenaskan’ seperti yang dialami Pak Ws, seorang perancang dan produsen mesin dan berbagai spare partnya. Pak Ws ini adalah salah satu anggota paguyuban Direktur Mumet yang pernah saya tuliskan beberapa waktu lalu di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/12/06/obrolan-pada-forum-direktur-mumet-513777.html. Cerita memalukan dan menyedihkan itu kini telah menjadi cerita kocak bagi dirinya. Dan tentu bagi orang lain yang mendengarnya, termasuk kami tentu saja.

Suatu ketika ia berkunjung ke sebuah perusahaan untuk sebuah pekerjaan. Ngobrol kesana kemari, mendiskusikan berbagai teknis dan desain permesinan, hingga tak terasa waktu makan siang pun tiba. Diskusi belum tuntas ketika jam telah menunjuk tepat di angka 12.00. Sehingga Pak Ws berfikir untuk melanjutkannya seusai makan siang nanti.

Sejenak Pak Ws punya ide untuk mengajak kliennya makan siang, sekalian meneruskan bincang-bincang. Ia teringat belum sempat ke atm dan hanya tersisa selembar uang seratus ribu yang ada di dompetnya. Maka, ia punya ide cemerlang untuk mengajak makan di warung soto depan saja. Selembar uang kertas itu pasti lebih dari cukup untuk makan mereka berdua.

Pak Ws : “Pak, rasanya di depan ada soto yang lumayan seru itu. Gimana kalo kita makan bareng?”

Yang segera di jawab si klien : ”Oh iya,iya…itu ramai setiap hari. Memang cukup maknyus dan ndak mahal juga sih Pak… Ok deh, saya panggil anak-anak dulu ya…!”.

Tanpa ba-bi-bu, ditelepon-lah salah seorang anak buahnya untuk diajak serta. Mungkin karena ’klaim’ tidak mahal itulah si Bos berani mengajak anak buahnya makan bareng siang itu. Yang artinya ia tak perlu meminta persetujuan Pak Ws untuk hanya membayar beberapa mangkuk soto tambahan. Soto ayam itu memang cukup menjadi favorit di daerah tersebut. Lokasi pabrik di sekitar Cileungsi dan jauh dari tempat kuliner membuat semangkuk soto panas pun cukup menggiurkan sebagai alternatif pengganti makan di kantin mereka.

Dan tak lama si anak buah sudah muncul dengan 3 orang teman lainnya siap untuk makan siang bersama.

Demi melihat kemunculan 4 orang tambahan tersebut, Pak Ws mulai ketar-ketir mengingat uang pas-pasan yang ada di dompetnya. ”Satu porsi berapa ya. Trus kalo anak-anak pabrik ini masing-masing nambah seporsi, duitku cukup apa enggak ya?” demikian ia mulai khawatir sambil terus mencoba mencari solusi. Mau minta ditraktir, jelas tidak mungkin. Bukannya dia sendiri tadi yang mengajak makan di luar? Mengatakan terus terang tentang ketersediaan uang di dompetnya? Ahh tidak mungkin. Gengsi lah yau…. :):)

Bagaimana kalo sampai duitnya kurang buat bayar? Mati deh…Maluuuu pasti!” Batinnya terus rusuh oleh pertanyaan demi pertanyaannya sendiri.

Mereka berjalan kaki beriringan menuju warung soto yang tak jauh letaknya dari pabrik itu.

Dan setelah memesan 6 porsi nasi + soto ayam, Pak Ws setengah berbisik ia bertanya pada si penjual ”Buk, dimana atm terdekat dari sini? Saya ke atm dulu, nanti saya yang akan bayar semua makanannya ya!”

Si ibu penjual soto menunjukkan ATM BCA di dalam Indomart yang terletak sekitar 500m dari warungnya. Dan bergegaslah Pak Ws pamit sebentar karena ada perlu ke indomart. Dia berjanji untuk kembali segera.

Sampai Indomart. Sesaat ketika ATM dikeluarkan dari dompet dan hendak memasukkan ke mesinnya…..deng…deng….”ATM is out of order”. Sebuah kondisi yang amat menjengkelkan pastinya.

Reflek Pak Ws nekat memaksa petugas Indomart menemaninya ke atm BCA lain terdekat.

Terke aku Mas….! Wis, pokok-e tak bayar ojek – Antarkan aku Mas,…! Sudah, pokoknya saya bayar ongkos ojeknya”

Entah karena power perkataan Pak Ws yang menyerupai perintah atasan, atau karena pertimbangan kasihan melihat orang dalam kondisi kepepet/darurat, si petugas Indomart menuruti permintaan tolong yang lebih mirip perintah itu.

Dan…ngeeeeeeng, melajulah motor salah satu karyawan Indomart membonceng Pak Ws ke ATM lain. Kata ’terdekat’ itu rupanya juga tidak benar-benar dekat, bahkan bisa dikatakan jauh. Kembang-kempis Pak Ws karena stres dadakan berburu ATM. ? Dimana jika dirunut lebih jauh, hanya sebuah alasan besar. Yang adalah membela harga diri untuk menepati ajakan makannya, yaitumbayar beberapa mangkuk soto siang itu….X_X

Singkat cerita, Pak Ws telah mendapatkan uang yang diperlukan dengan bantuan mas-mas karyawan Indomart yang menjadi dewa penolongnya hari itu.

Sampai di warung soto, tinggal si bos / kliennya seorang diri yang tinggal. Keempat anak buahnya sudah lebih dulu balik ke kantor, karena makan telah selesai sedari tadi.

Pak Ws, monggo silakan dilanjut, biar saya tunggu. Anak-anak sudah kembali ke kantor…” Begitu si klien mempersilakan dengan ramah. Tapi entah mengapa, ada rasa seperti menjadi tontonan kliennya saat ia makan. Mungkin lebih karena perasaan gundah gulana yang baru saja ia lewati saat berburu ATM.

Dan yang Pak Ws kaget bukan kepalang, saat ia mengeluarkan dompet dan hendak menyelesaikan pembayaran, si klien kembali berujar  ”Sudah kami bayar semua Pak Ws..!!”

Gubraaaaaak! Malunyaaaa😥  X_X

Dibalik rasa iba membayangkan nasib sahabat kami hari itu, saya tak dapat menahan tawa tentu saja. Lebih karena kejadian yang telah lewat itu kini menjadi kenangan yang lucuuuu untuk diingat kembali…hahaha. Semoga juga bisa membuat Anda semua turut tersenyum sekurang-kurangnya…:):)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s