Ketika Liburan Tahun Baru di Rumah Saja

Tahun baru identik dengan liburan panjang dan jalan-jalan. Mungkin itulah yang ada di benak mayoritas orang di daerah perkotaan yang selalu riuh dengan kesibukan dan rutinitas harian. Untuk itu beberapa pesan dari teman-teman masuk ke handphone saya beberapa waktu lalu ; “Tahun baru mau kemana?”

Hmm…. belum ada rencana pergi sih. Kayaknya lagi pengen diam di rumah saja…:) Lagi pengen belajar menulis buku di nulisbuku.com. Dan membuat lukisan buat seorang teman. Serta menyelesaikan lukisan Suramadu yang tertunda terus nih… :)” demikian jawab saya santai.

Lahir dan besar di pedesaan, membuat saya tidak terbiasa merayakan malam pergantian tahun. Kehidupan di desa telah banyak mengajarkan kami akan banyak hal. Berbagai gambaran kearifan hidup masih lekat di hati kami semua. Kesederhanaan kebutuhan dan sedikitnya keinginan ternyata sangat menolong diri di puluhan tahun berikutnya. Setidaknya, ini menjadi fondasi kuat untuk tidak turut larut ke dalam lifestyle yang bernama hedonis. Sebuah gaya hidup yang jelas amat menjauhkan diri dari nilai-nilai Islam pastinya.

Saya sendiri berkecimpung di dunia pariwisata dan industri hiburan berupa event organizer. Dunia yang bisa dikatakan penuh keindahan dan kegembiraan bagi orang lain yang melihatnya. Kami mengisi hari dengan banyak berinteraksi dengan mereka yang menciptakan kesegaran baru dan kegembiraan dengan liburan dan acara-acara hiburan dengan beragam tema. Gairah hidup yang terpancar dari wajah-wajah klien kami, tentu turut andil dalam mengaliri perasaan kami semua sebagai pihak yang terlibat di dalamnya.

Pastinya kami pun menyimpan harapan tinggi untuk kemajuan industri pariwisata dan hiburan, terutama di Indonesia. Semakin banyak orang dapat menikmati hiburan dan liburan, berarti pula semakin meningkatnya daya beli masyarakatnya.

Sungguh indah dan menyenangkan membayangkan para pensiunan bisa berlayar ke pulau-pulau di seluruh negeri yang belum pernah dikunjungi. Menaiki kapal pesiar ke segala penjuru dunia, mengenal peradaban negeri-negeri lainnya. Dimana bagi traveller akan dapat memetik jutaan hikmah perjalanan mereka untuk kemudian mendapatkan pelajaran-pelajaran hidup yang semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta-Nya. Bukan sekedar sebuah ucapan yang kadang terdengar miring bagi mereka yang sensitif pendengarannya…”I’v been there

Namun terlepas dari skup bisnis kami, di tulisan ini saya ingin melihat sisi lain dari sebuah acara jalan-jalan, terkait perayaan tahun baru. Adalah kondisi yang bagus-bagus saja jika seseorang atau sebuah keluarga dapat menikmati liburan akhir tahun dan tahun barunya dengan melancong ke sebuah tempat. Baik di dalam negeri atau di luar sana. Namun itu semua semua sejatinya bukanlah kondisi ideal yang perlu dicita-citakan sebagaimana dikampanyekan banyak orang dalam menikmati akhir tahun, dalam melewati malam pergantiannya.

Banyak tempat hiburan menyajikan pesta-pesta perayaan untuk menjaring para pengunjung. Artis-artis dan para pengisi acara biasanya mematok harga 5 hingga 10x lipat harga performance di hari lainnya.  Antara lain disebabkan tingginya permintaan pasar. Untuk itulah hampir semua tarif hotel dan wisata menjadi premium. Maka, hiruk pikuknya perayaan tahun baru dengan berbagai promo dan pesta, lebih banyak bernuansa bisnis menurut saya.

Ini tentu tidak ada maksud untuk menyalahkan salah satu pihak, karena sebagai EO, saya pun cukup memahami bahwa sah-sah saja mendapatkan profit dari acara yang kita selenggarakan. Apalagi jika semua berlangsung well-organized dan memuaskan seluruh pihak.

Namun, hendaklah masing-masing kita pun tidak lalai untuk menengok diri. Seberapa perlukah kita turut serta merayakan hingar-bingar tahun baru ini? Seberapa besar penghematan dana yang akan didapat jika bepergian ditunda di waktu lainnya? Seberapa besar manfaat waktu dan tenaga serta pikiran jika digunakan untuk menyelesaikan tanggungjawab dan pekerjaan lain yang tertunda.

Seberapa waktu yang tersisa untuk sekedar diam dan mereview diri, berintrospeksi dan menyiapkan perbekalan di awal tahun yang mungkin adalah saldo hidup kita?

Maka, jiika liburan akhir tahun karena beberapa hal kita tidak punya acara khusus, tidak juga berpesiar kemana pun, tetap bergembiralah!

Mari kita tengok, berapa banyak orang yang terbaring di ranjang-ranjang rumah sakit. Berapa banyak di antara mereka yang tengah sibuk melawan penyakitnya. Ketahuilah bahwa setiap detik ada jiwa yang tercabut dari raganya. Ada butiran air mata yang jatuh karena kepergian orang-orang terdekat yang dikasihinya. Ada ratusan bahkan ribuan pekerja senja yang terus setia memikul beban-beban berat di pelabuhan Sunda Kelapa, dan pelabuhan-pelabuhan lainnya.

Jadi mari kita nikmati liburan dan momen pergantian tahun dengan sepenuh rasa syukur yang tak pernah berkurang, meski mungkin hanya tinggal di rumah saja. Banyak hal menarik yang bisa dikerjakan. Mencoba resep-resep masakan, berkebun, menulis, menemani anak bermain dan membaca. Juga mengerjakan aneka hobby yang tak sempat dikerjakan di hari-hari sebelumnya.

Menyambut mentari pagi dengan bersepeda santai, berenang, bermain bulu tangkis atau lainnya. Dan melewati sore dengan secangkir teh dan pisang goreng, berbincang ringan tentang hari kemarin dan masa depan, dengan orang-orang tercinta di sekeliling kita :):)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s