Pengusaha pun Dapat Pensiun

Cashflow Quadrant

Cashflow Quadrant

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam teori Robert T. Kiyosaki yang terkenal dengan nama Cash Flow Quadrant, ia membagi pilihan pekerjaan/profesi manusia menjadi 4 jenis yaitu :

1. Employee – Karyawan

2. Pemilik Usaha /Pengusaha ( memiliki sistem dan memiliki karyawan )

3. Wiraswasta  – Tanpa karyawan ( memiliki pekerjaan,tidak memiliki sistem : misal para pekerja seni, dokter, pengacara, dst)

4. Investor (pemilik dana yang menginvestaskan uangnya dalam sebuah usaha, sehingga uang bekerja untuk Anda )

Pada tulisan sebelumnya di http://sosbud.kompasiana.com/2013/01/08/bersahabat-dengan-masa-pensiun-522427.html, penulis telah mengulas bagaimana seorang pegawai memasuki masa pensiun dan dapat bersahabat dengannya.

Jika pegawai dapat pensiun, bagaimana dengan para wirausahawan dan pengusaha? Dapatkan mereka pensiun??

Tentu saja!! Kita mungkin banyak mendengar konsep yang ditawarkan oleh para MLM untuk membangun bisnis owner, dengan menjanjikan adanya passive income di kemudian hari. Sebagian orang dapat mencapainya, meski lebih banyak orang yang tidak dapat sampai pada tahapan tersebut. Kenapa? Karena lebih banyak orang yang tidak bersedia untuk bekerja extra keras. Karena passive income yang dimaknaisebagai pensiun, sebenarnya adalah hasil setelah extra kerja keras. Karena tidak ada suatu keberhasilan pun yang dapat diperoleh dengan bersantai ria.

Sebagaimana pegawai/ karyawan, seorang pengusaha pun dapat merencanakan untuk pensiun. Meski sebagian lagi tidak mau pensiun karena justru menikmati hari tuanya dengan terus berkarya sebagai hobi dan pengabdian. Kita bisa saksikan bagaimana Pak Hari Darmawan di usia lanjutnya masih segar dan tetap gesit menahkodai Taman Wisata Matahari – Cileumber. Juga Pak Ciputra di Ciputra grupnya, serta Pak T.P Rachmat masih aktif sebagai komisaris di Darma Group.

Namun diakui, lebih banyak yang juga tidak siap pensiun. Atau tidak dapat pensiun, karena sebagai pengusaha, ia tidak juga dapat memaksakan diri untuk naik kelas. Hal-hal berikut ini yang menjadikan seorang pengusaha tidak dapat pensiun :

1. Tidak mau mendelagasikan tugas-tugasnya karena alasan : tidak bisa percaya bahwa orang lain akan dapat melakukan sebaik ia melakukan pekerjaan itu sendiri.

2. Khawatir bahwa keberadaan karyawan-karyawan yang direkruitnya hanya menjadikannya sebagai laboratorium atau tempat kursus. Dimana setelah si karyawan menguasai seluruh bidang, kelak akan menjiplak/mencontek metode/ide tersebut dan kemudian mendirikan usaha sejenis.

3. Khawatir keuntungan berkurang jika mempekerjakan orang lain.

Ketiga alasan tersebut sebenarnya akan dapat dihilangkan apabila :

1. Berani mendelegasikan tugas kepada orang lain. Tentunya dengan pendampingan dan pengawasan penuh yang sedikit demi sedikit diberikan kepercayaan lebih, hingga dapat dilepas untuk mengemban satu tanggung jawab secara penuh.

2. Tidak perlu khawatir dijiplak, karena selama seseorang belajar dan berinovasi tanpa henti, ia tetap akan berperan sebagai trendsetter, atau setidaknya berada 3-4 langkah di depan. Sehingga jika karyawannya kemudian lulus dan keluar untuk mendirikan usaha yang sama dengannya, mereka bukanlah saingan, karena memang secara kemampuan dan kelas pun tidak akan sama. Jadikan mereka sebagai partner bisnis yang bisa saling bersinergi satu sama lain.

3. Penambahan karyawan tidak akan menjadi beban jika menghasilkan. Konon hitungan kasarnya, 1 orang akan memberikan nilai tambah 200x nya terhadap sebuah perusahaan. Jumlah perkalian tentunya dapat disesuaikan dengan kalkulasi masing-masing pengusaha.

Setelah ketiganya dijalankan, maka langkah selanjutnya adalah membangun sistem yang terintegrasi secara bertahap. Termasuk menempatkan para profesional di bidangnya sehingga pada posisi semua siap, regenerasi dapat dilakukan.

Regenerasi yang smooth akan mengantarkan seorang pengusaha pensiun dengan nyaman. Perusahaan-perusahaan di bawahnya telah berjalan dengan sendirinya tanpa campur tangan secara operasional. Di sini amat diperlukan penetapan visi dan misi perusahaan yang dituangkan ke dalam core value sebagai panduan bagi generasi selanjutnya.

Pada tahap perusahaan telah regenerasi seperti ini, founder atau si pendiri usaha dapat memilih pensiun sebagaimana yang dilakukan oleh para pegawai. Namun biasanya naluri sebagai pengusaha yang lebih menikmati hidup dengan berkarya, ia masih dapat mengerjakan hal-hal yang lebih bersifat sosial/kemasyarakatan atau proyek-proyek amal lainnya.

Mengenai berapa lama atau kapan seorang pengusaha dapat pensiun, itu sangat tergantung dari seberapa cerdas ia bekerja dan seberapa extra keras ia berusaha mewujudkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s