Persaingan Ketat Antar Mall dan Seleksi Alam

Ice Skating_MTA

Ice Skating_MTA

 

 

 

 

 

 

 

 

MOI

MOI

 

 

 

 

 

 

 

 

La Piazza

La Piazza

 

 

 

 

 

 

 

Bekasi Square Snow World

Bekasi Square Snow World

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanpa terasa, pergantian waktu dari jam ke hari, dari bulan ke tahun dan seterusnya mengantarkan manusia ke pertukaran satu zaman ke zaman lainnya. Dan pergantian era tersebut menggelinding begitu saja dibarengi berbagai perubahan pola hidup, pola pikir serta kebiasaan masyarakat di dalamnya.

Di sini saya akan mengajak untuk sedikit melakukan pengamatan terkait dengan pertumbuhan mall yang sangat pesat di ibu kota dan sekitarnya. Mall sebagai salah satu tempat yang erat dengan keseharian masyarakat di perkotaan.

Tentunya saya tidak akan membahas kekuatan mana saja yang berpengaruh besar dalam mengarahkan peradaban yang sedang kita jalani sekarang ini. Tidak akan mengulas berbagai dampak positif dan negatif terhadap pembentukan karakter budaya dan kebiasaan masyarakat kota terhadap keberadaan mall yang tersebar di segala penjuru.

Saya pun tak akan mengevaluasi sejauh mana peran penguasa/pemerintah dalam perijinan pendirian bangunan/mall terkait tata kota karena memang tidak memiliki data yang akurat untuk itu.

Di sini saya hanya akan menyoroti dari sudut fungsi mall dan kompetisi antar pelaku usaha di bidang komersial properti dalam hal ini MALL.

Mall saat ini telah beralih fungsi dari pusat perbelanjaan menjadi arena rekreasi, selain sebagai tempat pertemuan. Untuk itu, selain banyaknya tempat makan, banyak mall melengkapinya dengan berbagai wahana permainan dan hiburan.

Sebut saja mall Taman Anggrek yang menyediakan wahana ’ice skating’. Sky Rink, Mall Taman Anggrek tercatat sebagai salah satu ice skating termegah di Asia Tenggara, dengan luas 1,248m2. Dengan mengeluarkan biaya Rp. 42.000 ( hari biasa ), dan  Rp. 48.000 di hari libur, siapa pun dapat merasakan sensasi meluncur dan berputar di atas es. Dari usia TK hingga dewasa semua dapat mencoba, dengan menggunakan sepatu skating yang telah disediakan oleh pihak pengelola.

Mall of Indonesia di bilangan Kelapa Gading ke arah Sunter menyediakan berbagai wahana rekreasi semacam Arena Balap Grand Prix, Vertigo, Viking, Rumah Tani ( Farm House ), Komedi Putar, Dunia Monyet ( Monkey Land), Petualangan Safari, dsb. MOILAND juga rutin menyediakan pertunjukan live dalam suasana yang mendebarkan dan menghibur. Semua fitur-fitur mall ini menggiring imajinasi anak-anak merasakan hidup dalam suasana bak di negeri impian.

Belum lagi kawasan Kelapa Gading, selain La Piazza, terdapat mall terbesar di kawasan tersebut : Mall Kelapa Gading. Mall tersebut bahkan terus meluas dari MKG 1 hingga MKG 5. Berada di kawasan tersebut, kita mungkin bak berada di kota-kota metropolitan di luar negeri.

Rupanya masing-masing pengelola dan pelaku usaha menyadari semakin ketatnya persaingan bisnis di bidang komersial properti ini. Sehingga tidak ada pilihan lain kecuali lebih peka terhadap kebutuhan pasar, dengan menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan para kompetitornya. Inovasi demi inovasi terus dilakukan. Di sini pihak konsumen tentu yang mendapatkan keuntungan karena mempunyai banyak pilihan baik bagi yang memang membutuhkan suatu produk, atau sekedar ’window shopping’ dan sejenak ’ngadem”serta rekreasi di akhir pekan.

Mall Metropolitan (MM) di Bekasi, yang dibuka pada tahun 1993 awalnya menjadi mall terpopuler di kota Bekasi dan mengusung tema ”family mall”.  Dulu MM, pusat perbelanjaan milik PT. Metropolitan Land Tbk ini menjadi satu-satunya mall terbesar dan terlengkap di kota Bekasi. Kemudian muncullah para pendatang baru. Nyaris di hadapannya, berdirilah Mega Mal Bekasi. Dan di sampingnya Hero berganti kepemilikan, dan berdirilah Bekasi Cyber Park (BCP).

Di luar dugaan, Mega Mall Bekasi dengan keberadaan Giant di dalamnya, dan disetting lebih mengarah sebagai pusat grosir ternyata tetap hidup dan bertumbuh hingga kini.  Tata letak para tenant yang lebih mirip bazar rupanya cukup mengakomodir kelas ekonomi tertentu.

Pada mulanya MM, yang menempatkan dirinya lebih eksklusif  boleh saja tenang dan merasa aman. Beruntung pengelola segera menyadarinya ancaman serius dari luar, sehingga ia lekas mempercantik diri dan memperluas areanya hingga melintasi Hotel Horison yang berada persis di sampingnya. Kini hotel tersebut menjadi penghubung antara bangunan lama dan baru. Maka begitu Mega Mall Bekasi mulai melirik pangsa pasar di atasnya, dengan masuknya XXI, Gramedia, dan berbagai tenant yang juga mengisi di lapak MM,  ia telah menyiapkan diri sedari dini sehingga masih mampu menahan gempuran kompetitornya.

Dari awal Mega Mall Bekasi telah menyediakan tempat peribadahan umat muslim berupa masjid yang cukup nyaman di dalamnya. Belakangan fasilitas toilet gratis pun disediakan, dan kemudian kebijakan itu diikuti oleh Metropolitan Mall.

Bekasi Cyber Park cukup jeli melihat peluang rupanya. Ia menempatkan diri sebagai pusat komputer dan handphone. Banyak pertokoan di Mangga Dua yang kemudian juga membuka lapaknya di BCP. Dan belakangan BCP pun tumbuh sehat dan pesat karena fungsinya cukup dirasakan oleh masyarakat, utamanya perkantoran dan kawasan industri di daerah sekitar Bekasi.

Sekitar 300 meter dari MM ke arah Bantar Gebang, berdiri pula Bekasi Square. Mall ini memang terlihat tidak seberuntung Mega Mall maupun Cyber Park dalam pertaruhan bisnisnya. Namun rupanya si pengelola masih terus berjuang untuk berbenah diri dalam menarik pengunjung. Maka Desember 2012, mereka membuka wahana rekreasi baru bernama Snow World. Wahana permainan yang terbuat dari ukiran es seluas 1.000m2 itu  berada di lokasi parkiran.  Apakah wahana tersebut cukup membantu mendongkrak pasarnya? Waktu yang akan menjawabnya.

Masih di seputar Bekasi Barat, terlihat developer kelas kakap, PT. Summarecon sudah ancang-ancang membangun mall baru di kawasan perumahan elit yang sedang dibangunnya, Summarecon Bekasi. Barangkali untuk menahan gempuran pendatang baru itulah PT. Metropolitan Land pun akhirnya ancang-ancang memperluas MM ke arah barat.

Maka benarlah teori yang dikemukakan oleh Prof. Rhenald Kasali, pakar ekonomi dan guru besar FEUI. Bahwa setiap memasuki era baru, selalu saja muncul pelaku-pelaku usaha baru dengan inovasi-inovasi baru. Kita tidak menjadi tua karena usia, melainkan benar-benar tampak tua kala kita berdiri di kerumunan orang-orang muda.

Hotel Indonesia yang dibangun di jaman pemerintahan Ir. Soekarno, selama bertahun-tahun tidak mengalami gangguan apa-apa. Letaknya yang strategis di pusat ibukota Jakarta sangat membantu. Namun, suatu ketika datanglah krisis. Mula-mula bangunan di depannya yang tampak tua itu dibeli oleh investor. Gedung lama dirubuhkan secara total dan dibangun hotel baru yang indah dan tampak cantik melingkar dari Tugu Selamat Datang. Hotel Grand Hyatt dan Pusat Pertokoan Plaza Indonesia tumbuh dan pengunjungnya tampak jauh lebih muda.. Hotel Indonesia tiba-tiba kehilangan daya magisnya. Nama ”Indonesia” yang disandangnya menjadi kehilangan kharismanya sama sekali….

Maka dua buah pesan bagi para pelaku usaha lama agar ’tidak menjadi tua’ setelah kedatangan para pemain baru adalah :

Create your future from your future, not your past” – Werner Erhard

Lakukan apa yang kau bisa, dengan apa yang kau punya, di mana pun kau berada – Theodore Roosevelt

( Sumber :  Buku Powerhouse – karya Prof. Dr. Rhenald Kasali Ph.D, hal 38, redaksi ).

Besar dan kecil suatu usaha hanyalah soal ukuran/skala. Tapi hukum seleksi alamdalam dunia usaha akan berlaku dalam bisnis /industri apa pun. Jadi dalam kontek usaha, menjadi tua atau tetap muda adalah pilihan. Sejauh mana kita bersedia untuk mau terus belajar dan membangun diri.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s