Masih Banyak Orang Jujur di Indonesia

Bukan rahasia lagi bahwa di negeri ini kasus korupsi merajalela dari hulu hingga ke hilir.  Sebagian orang meyakini penyakit kronis itu sudah menjalar dari tingkat bawah hingga tingkat atas. Ibarat virus, ia seperti larut aliran darah dan hembusan nafas manusia.

Di sini saya bukan mau menyangkal bukti-bukti tak terhitung atas tindakan para pelaku korupsi di Indonesia.

Namun pada tulisan ini saya hanya ingin berbagi kabar gembira. Bahwa sebenarnya kita tidak bisa mengeneralisirnya begitu saja. Karena masih banyak manusia yang berkenan mengikuti hati nuraninya. Masih tersebar orang-orang yang masih meyakini, bahwa rizki yang sedikit tapi lurus mendapatkannya, akan mendatangkan berkah dari sang Pencipta. Masih banyak yang meyakini, bahwa wewenang dan jabatan yang ia punya, adalah amanah serta titipan Allah belaka.

Dan inilah sekedar sekilas cerita kecil yang terjadi di sekitar saya.

Seorang Plant Manager bernama Pak TJS sore kemarin menghubungi sahabat saya yang bernama Pak D.  Pak TJS bekerja di sebuah perusahaan berskala nasional dengan wewenang yang sangat besar. Kebetulan Pak D memiliki kenalan seorang konsultan yang sempat dikenalkan pada Pak TJS bernama Pak Sr.  Konon Pak Sr mengajukan penawaran sebuah pekerjaan jasa konsultan ke perusahaan S Grup tempat Pak TJS mengabdikan dirinya.

Pak D, sungguh saya menyesalkan tindakan Pak Sr… Kemarin dia telepon saya follow up pekerjaan  X, dan dia menawarkan sejumlah uang. Salah alamat rupanya dia…! Sungguh saya heran sekali….Dan bla bla bla…” demikian sekilas curhatanPak TJS kepada sahabat saya. Terdengar amarah terpendam dari suaranya yang lebih lantang dari biasanya. Pak TJS selama ini terkenal sebagai pribadi yang sangat santun dan halus dalam setiap sikap dan tutur bahasanya.

Kejadian lain pun hampir senada. Seorang teman bernama N menceritakan sebuah peristiwa naas seorang temannya yang bernama L. L yang juga berkarir sebagai marketing sebuah produk teknik yang biasa dipasok ke berbagai industri pulang ke kantornya dengan muka merah padam.

Rupanya hari itu dia kena batunya. Seperti biasa ia berkunjung ke sebuah perusahaan untuk menawarkan produk sebagaimana tugas harian mereka. L mencoba mengeluarkan trik  dengan menawarkan iming-iming imbalan berupa discount yang cukup besar untuk pribadi si bagian pembelian agar memperoleh PO ( purchase order ).

Tapi apa dikata, ternyata ia pun salah orang, dan habislah ia disemprot siang itu.

Jika Anda berfikir saya adalah orang yang mata duitan, Anda salah besar! Gaji saya di sini sudah lebih dari cukup untuk saya hidup! Dan saya tidak memerlukan uang haram yang Anda tawarkan! Maaf saya harus meeting sebentar lagi, jadi Anda bisa meninggalkan ruangan ini sekarang!”

Gubraaaak! Meja! Kursi! Dst….” Bisa dibayangkan L keluar ruangan dengan meluapkan kekesalannya. Wajahnya sudah mirip kepiting rebus barangkali. Ia menyesali diri karena berfikir bahwa orang-orang yang sulit ditembus akan takluk dengan sejumlah rupiah. Namun kenyataannya, bukan hanya order yang melayang, tapi juga ia menuai malu yang tak habis-habisnya.

Apakah peristiwa mengenaskan sepanjang sejarah itu mungkin sejatinya adalah peringatan dan bukti kasih sayangNya pada manusia? Sangat mungkin.

Dan sebenarnya masih banyak manusia-manusia jujur di negeri ini. Masih banyak kami jumpai manusia-manusia yang mampu membedakan antara hitam, putih dan abu-abu.

Dan percayalah, di antara banyak orang yang memilih edan, masih bertebaran juga yang memilih eling dan waspada ( ingat ). Ternyata masih banyak orang yang mengamini potongan syair dari Sang Ulama Sastrawan Jawa, R.Ng. Ronggowarsito berikut ini :

Saiki jamane jaman edan

Yen ora edan ra keduman

Sak bejo bejone wong kang edan

Isih bejo wong kang eling lan waspada

 

Artinya kurang lebih adalah sebagai berikut :

Sekarang masanya kegilaan

Kalau nggak gila nggak dapat bagian

Walaupun kelihatan beruntung orang yang gila itu

Masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s