Cinderamata Indah Itu Berupa Buku

Kumpulan Puisi Dianing Widya

Kumpulan Puisi Dianing Widya

 

Pertemuan dengan seorang penulis, penyair, novelis yang juga sahabat di Kompasiana Ibu Dianing Widya Yudhistira seusai kunjungan ke The Habibie Center adalah rizki berupa kesempatan yang tak ternilai bagi saya.

Mbak Widya, begitu akhirnya saya memanggilnya, adalah seorang ibu muda kalem dengan penampilan bersahaja. Sikap ramahnya membangun suasana keakraban dan menghilangkan sekat pribadi yang baru bertemu muka untuk pertama kalinya.Dan semangkuk tekwan panas menjadi teman berbincang kami sore itu.

“Mbak Widya mulai kapan belajar menulis? Saya masih dalam tahap belajar. Tulisan saya masih amat sangat standard. Meski begitu, saya mulai menikmati kegiatan tulis menulis ini. Saya mulai belajar membaca buku apa saja. Saya suka juga baca puisi, baca cerpen dan novel. Meski begitu, saya masih belum tahu bagaimana membuat sebuah karya fiksi. Rasanya terlalu jauh di angan-angan. Saya baru bisa menulis cerita harian saja…” demikian saya melemparkan pertanyaan. Menyimak proses pembelajaran orang lain adalah hal yang amat menarik tentunya.

“Dari kecil saya sudah suka menulis Mbak. Saya menulis apa saja. Menulis cerita, menulis puisi. Dan di keluarga kami, semua suka membaca. Berbagai buku bacaan dan majalah anak-anak menjadi santapan keseharian kami. Tapi saya baru mulai mengirimkan tulisan ke media saat duduk di bangku SMA. Dan saya terus menulis dengan memperbanyak membaca juga. Karena kita tidak akan dapat menulis jika kita tidak membaca karya orang lain. Jika kita terbiasa menuangkan ide, maka tulisan pun akan mengalir dengan sendirinya. Sekarang banyak penulis pemula yang karyanya bagus-bagus. Bang Ahmad Fuadi juga termasuk pendatang baru, tapi novelnya langsung banyak diminati bukan? Penulis baru kadang malah juga dapat menuangkan ide-ide segarnya…” demikian ujarnya kalem.

”Ya benar, tanpa banyak membaca mustahil kita bisa menulis. Sebenarnya saya juga baru menyadari beberapa tahun belakangan ini. Bahwa setelah seseorang dapat membaca, maka ia harus belajar menulis, karena keduanya adalah media pembelajaran yang sama pentingnya. Dan hikmah belajar menulis ini luar biasa banyaknya ternyata saya rasakan. Silaturahim kita hari ini pun adalah bagian dari hikmah saya belajar menulis ini Mbak..hehehe…” demikian saya menimpali.

”Mbak Widya, saya perlu menghubungi Pak Arswendo Atmowiloto untuk mengundang beliau di sebuah acara. Apa Mbak Widya punya kontak beliau?”

”Ohh oke, nanti coba saya cari ya…” Jawabnya sambil mengoper obrolan ke topik lain.

Tentang Spirit Kita, sebuah yayasan yang dibentuknya bersama seorang sahabat. Perkenalan di dunia maya akan berujung kepada kebaikan atau sebaliknya, sepenuhnya adalah kita sendiri yang menentukan. Benar bahwa ribuan kilometer dimulai dari satu langkah pertama. Maka obrolan di jejaring sosial bernama facebook antar beberapa orang yang memiliki visi dan misi sama dalam cita dan harapan, akhirnya dapat direalisasikan dalam tindakan di dunia nyata. Mbak Widya dan para sahabatnya itu kini telah memulai kiprahnya di dunia pendidikan, dengan Spirit Kita-nya. Dana yang terkumpul dan akuntabel itu kini telah mendanai beberapa anak tak mampu untuk dapat mengenyam pendidikan.

Mbak Widya mengeluarkan dua buah buku dari tasnya dan dengan lembutnya ia berkata “Ini saya bawakan 2 novel lama saya yang tersisa. Sintren dan Weton – Bukan Salah Hari, nominasi Khatulistiwa Leterary Award 2007. Yang ini kumpulan puisi, sengaja kami cetak kecil dan ringan, seperti buku saku. Bisa dibawa kemana-mana, mengisi waktu luang dengan membaca…”

“Woww…Alhamdulillah….Asyiiiiik, makasih banyak yah Mbak. Wah ini novelnya kita bagi deh. Dan nanti bisa bertukar baca yah Bu Ani. ..” demikian saya sumringah menyambutnya.

“Iya Bu…. Subhanallah, dapat rizki ilmu lagi nih. Ditandatangani dulu Mbak Wid…biar ada kenangannnya” Bu Ani, sahabat saya menambahkan sambil menyiapkan tempatnya di halaman pertama.

Mendapatkan cinderamata dari buah karya penulisnya adalah sebuah rizki indah yang kami syukuri. Pertemuan dengan penyair yang karya-karyanya diakui kalangan luas sebagai karya bermutu adalah karunia Allah berikutnya hari itu tentu saja.

Karya-karya Dianing Tyas Yudhistira dimuat di banyak media cetak seperti Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Tabloid Nova, The Jakarta Post, Majalah Horison, Majalah Bahana (Brunei Darussalam), Tunas Cipta (Malaysia), dan sejumlah koran daerah. Kumpulan puisi bersama juga dimuat di antologi puisi “Mimbar Penyair Abad 21” (1996), Forum Pesta Penyair Jawa Tengah (1993), Dari Negeri poci II (1994), Dari Negeri Poci III, Antologi Puisi Indonesia (1998), Kicau Kepodang IV (1997), Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (1995), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, dan Jogja 5,9 Skala Richter”.

Cerpennya antara lain dimuat dalam antologi “Kemang Mayang” 2000 dan Dunia Perempuan (ed. Korie Layun Rampan, Bentang Budaya 2002) , “Yang Dibalut Lumut” (CWI,2003), Bunga-Bunga Cinta (Senayan Abadi, 2004), Jika Cinta (2004), Dokumen Jibril (Penerbit Republika). Kumpulan cerpen tunggalnya “Kematian Yang Indah” (Grasindo 2005). Novelnya “Sintren” (Grasindo, 2007) dan Perempuan Mencari Tuhan (Penerbit Republika 2007).

Salah satu karya Mbak Widya sangat menyentuh adalah puisi berjudul Dalam Hening

Dalam Hening

Sepenuhnya mengakui

Pepohonan sujud padamu

Gugusan bintang mengagungkan namamu

Angin diam tafakur padamu

 

Sepenuhnya mengakui

Keagungan ketinggian menara adzan

Keindahan semburat warna senja

serta sunyi yang membungkus malam

 

Dan sepenuhnya mengakui

Tebaran bintang memagari bulan

Berjamaah hanya padamu

Inikah sebagian kecil keindahan kerajaan langit

Sederhana saja hasratku

Terbujur kaku dalam ingatmu

Pidie-Aceh, Januari 1998

Demikianlah, persahabatan di mana pun akan meninggalkan jejak yang selalu indah mewarnai hidup ini. Ada rasa gembira dan bahagia menyusup ke rongga hati. Bahagia itu beraneka rupa, datang bak kejutan-kejutan kecil yang menjadikan segala hal di mata tampak lebih menawan.

Rintik hujan yang mengguyur kota Metropolitan sepanjang jalan yang kami lalui saat pulang pun terasa menyejukkan. Banjir yang menerpa markas kami telah sempurna kami ikhlaskan. Tanpa mengesampingkan pentingnya kritik pedas yang harus diluncurkan pada seluruh pemegang kebijakan negeri ini, berikut peringatan keras ke seluruh penghuni perkotaan atas berbagai kelalaian yang terus berjalan, penghiburan diri adalah penolong utama tiap individu. Terkadang ia berupa serpihan cerita kecil harian yang kita punguti di sepanjang perjalanan.

Sebuah pesan masuk di handphone saya. “Ini nomornya Pak Arswendo. Semoga belum ganti ya… 0816115xxxx.”

“Haduuuuh….terimakasih banyak Mbak. Sangat membantu… Baik saya hubungi beliau besok. Salam”. Secepat kilat saya kirimkan balasan.

Berkirim email dan berbalas sms dengan sastrawan senior di keesokan harinya sangat efektif mendorong saya mulai membaca satu per satu karya beliau. Dalam 24 jam waktu yang tersedia, semoga selalu tersedia sejenak waktu untuk membaca dan sedikit menulis.

8 pemikiran pada “Cinderamata Indah Itu Berupa Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s