Ibu Mimin Amir Mengisi Hari dengan Menyulam

Hujan masih terus mengguyur kota Jakarta ketika sore ini saya berkunjung ke kediaman Ibu Endang Rachminingsih, yang akrab dipanggil dengan Bu Mimin atau Bu Amir saja.

Sebelum hari ini, sebenarnya saya pernah berkunjung ke rumah asri di Komplek DPR 3 Meruya, Jakarta Barat itu beberapa tahun lalu. Jika dulu saya datang untuk mengantar kakak dalam rangka studi banding bidang sulam-menyulam, kali ini saya khusus sowan ( menghadap ) beliau seorang diri untuk memohon bantuan. Yang adalah meminta kesediaan beliau untuk menjadi salah satu pembicara dalam sebuah Pelatihan Masa Persiapan Pensiun (MPP) yang sedang kami persiapkan untuk sebuah lembaga perbankan.

Wanita bersahaja yang telah mempunyai beberapa orang cucu ini masih saja terlihat sehat, segar dan energik di usianya yang pasti terus bertambah. Dengan ramahnya beliau mengajak saya berbincang di teras belakang sambil menikmati secangkir teh manis hangat. Wajahnya berseri-seri ketika memperlihatkan 4 buku sulam terbitan Gramedia.

”Ini tinggal 4 yang tersisa. Mestinya ada 1 lagi, tapi entah kemana. Ini juga banyak majalah dan koran-koran. Ada Femina, Kompas, Republika, Nova, Khasanah, dll…. Di majalah Kriya saya pernah mengisi sampai 8 edisi barangkali”. Demikian ujarnya kalem.

”Wah, ini keren-keren banget yah Bu… Bentuk tas dan motifnya sangat kreatif dan up to date. Sangat eksklusif tampaknya. Bisa Ibu ceritakan sedikit bagaimana Ibu mulai menyulam ini? Dan berapa lama Ibu belajar?” Saya sangat ingin mendengarnya langsung meski sebelumnya saya sudah membaca kisahnya di berbagai majalah dan media lain.

”Jadi dulu suami saya, Pak Kemas Amir Syarifuddin bertugas di Bank Indonesia di Singapore. Maka selama 3 tahun kami tinggal di sana. Dengan rizki berupa jabatan sebagai pimpinan, atau golongan G8, gaji yang kami terima tentu sangat besar bagi saya. Fasilitas hidup juga serba cukup, sehingga sebagai bentuk rasa syukur kami pada Allah SWT, kami pun ingin berbagi. Antara lain ya mengajar menyulam ini. Maka meski keahlian saya belum seberapa saat itu, saya mencoba mengadakan pelatihan di masjid Sultan buat para TKI. Semua bahan saya sediakan, dan saya mengajar di sana.”

Tahun 2004 genap 1 tahun suami saya pensiun. Kami sudah kembali ke Jakarta dan anak-anak kami telah menikah. Suami saya meninggal di tahun 2004 tersebut. Bukan perkara mudah untuk bisa melanjutkan hari-hari sendiri tanpa separuh jiwa kita yang telah pergi yah Mbak…. Saya pun sempat bingung, mau ’ngapain’. Awalnya saya sudah berkemas membereskan semua buku-buku dan pakaian untuk pulang kampung ke Jonggol. Kebetulan saya ada rumah tua di kampung saya itu. Berfikir mungkin menghabiskan waktu masa tua di kampung halaman adalah pilihan yang baik juga. Tapi pas sore-sore saya duduk-duduk di sini, saya jadi terlintas ide. Kenapa saya tidak meneruskan mengajar menyulam saja?

Maka saya putuskan untuk mengajar di SLB terdekat di Kebun Jeruk. Dan berbagi ilmu dengan para anak-anak yang kurang secara fisik tersebut ternyata mendatangkan kebahagiaan demi kebahagiaan bagi saya. Dari situ saya terus bersemangat belajar menyulam sedikit demi sedikit dengan mencontoh berbagai motif di majalah dari dalam dan luar negeri yang memang saya koleksi. Saya suka sekali dengan motif bunga, sama halnya hobi saya pada tanaman bunga. Setiap pagi saya menyiram bunga-bunga itu….Lihatlah berbagai tanaman bunga itu saya rawat sendiri Mbak…Selain tanaman hias, ada tanaman sayuran dan tanaman obat juga. Ada kenikir, bluntas, arbei, dll..  “ demikian ceritanya panjang lebar. Pandangan kami mengitari seluruh halaman yang ditumbuhi berbagai pohon perdu dan dikelilingi tanaman hias aneka rupa nan terawat apik itu.

Ada rasa trenyuh mendengarkan bagaimana awal mula beliau memulai kegiatan yang belakangan mengantarkannya menjadi sesosok wanita yang terlihat hebat, kuat, kreatif, pintar, dan segudang prestasi di mata orang lain.

Ya, kehilangan seseorang yang amat berarti dalam hidup adalah bukan hal mudah, itu pasti. Saya jadi teringat sebuah ungkapan bahwa :

You may have someone in your mind

Someone in your heart,

Someone in your dreams,

Someone in your life,

But Allah,…

Is the only one when you have NO ONE

Ya, ketika seseorang ditinggal pasangan hidup yang menjadi belahan jiwanya untuk selamanya, pertama kali yang ada dalam hati dan pikiran hanyalah sebuah ungkapan : I have no one anymore. Menyadari bahwa Allah SWT yang selalu bersama kita adalah hal utama penolongnya. Namun setelah itu apa? Apa yang harus dilakukan? How do I live? Bagaimana untuk bisa hidup dengan terus menjaga energi positif?

Tentu masing-masing punya kiatnya. Dan Ibu Mimin telah menemukan jalan itu, yaitu dengan mendedikasikan hidupnya dengan berkarya dan terus menyulam. Memasuki 2005, berbagai pesanan mulai mengalir. Dari istana negara sebagai cinderamata bagi tamu kenegaraan misalnya. Dari para kenalan dan meluas ke kalangan lainnya.

Satu buah tas sulam dapat memakan waktu 5 hari dalam pengerjaannya. Sedangkan tas bordir dapat selesai dalam waktu 2 hari. Selain tas wanita, sulam dan bordir tersebut dituangkan dalam berbagai bentuk seperti dompet, tas Ipad, tempat mukena, bingkai lukisan, tempat tissue, dst.

Beberapa produk dikombinasi dengan lukisan. Bu Mimin mengaku pernah belajar melukis selama setahun di Singapore, dan dapat menghasilkan 13 lukisan dalam setahun tersebut. Dan lukisan yang ada terpasang menghiasi dindingnya?? Subhanallah, indah-indah dan kereeeen sekali.

Di sela-sela kegaguman yang tak henti-hentinya saya ungkapkan dengan jujur, saya bertanya ”Gimana perasaan Ibu setelah di posisi sekarang ini? Dikenal banyak orang, diburu oleh banyak media dan punya pelanggan tetap yang terus bertambah. Sudah tidak ada waktu luang ya Bu….hehehe”

”Tentunya saya bersyukur pada Allah SWT yang memberikan banyak jalan yang bahkan tak pernah saya duga. Saya bisa ke berbagai kota karena menyulam. Ke Jepang, dan ke beberapa negara lain yang sebagian besar adalah untuk misi kebudayaan. Terakhir kemarin saya diundang ke Eropa selama 2 minggu untuk mengajar sulam di perkumpulan warga Indonesia di sana. Mengajar sulamnya sebentar, lebih banyak jalan-jalannya…Ini, saya pergi bersama Ibunya Mas Adi Ms yang juga menyulam….” Beliau memperlihatkan sebuah foto album sambil menceritakan kegiatan selama 2 minggu di Eropa.

”Jujur saja awal-awal memang seneng banget ya Mbak, bisa masuk TV. Tapi semakin sering diliput media baik media elektronik maupun cetak, kadang saya sudah merasa cukup.Makanya kemarin pas ada sebuah majalah mau wawancara, saya tidak menerima dulu. Selain sudah keseringan, ya biar gantian yang lain juga karena saya juga punya banyak PR. Untuk anak-anak ( pegawai, redaksi ) kan hanya mengerjakan bordir mesin. Sementara sulam masih saya kerjakan sendiri”

”Bu Mimin,….Iya, senang sekali jika apa yang kita kerjakan juga dapat berdampak positif bagi orang lain. Nah dilihat dari segi bisnis nih Bu, menurut Ibu, dengan banyaknya produk-produk batik printing yang bahkan import dan mulai membanjiri tanah air, serta produk yang lebih diproduksi secara massal di pabrik, apakah menurut Ibu akan mengancam kelangsungan para pengrajin kita Bu? Saya tahu jika Ibu sih tidak ’ngoyo’ dalam hal bisnis, tapi saya tentunya ingin mendengar pandangan Ibu secara umum saja”

”Gini ya Mbak….saat kita menjual sebuah produk, kita harus tahu kemana produk kita akan dipasarkan. Pangsa pasarnya siapa, kalangan mana. Saya saat ini saja dapat pesanan 300 dompet dari istana belum sempat saya kerjakan. Artinya, saat kita punya pelanggan, dan hasil karya kita selalu kreatif dan inovatif, itu tidak usah khawatir Mbak…” demikian jawabnya santai.

”Iya Ibu, saya juga percaya. Apalagi produk bernilai seni tinggi dan eksklusif itu memang tidak akan tertukar dengan produk-produk massal ya Bu…” saya pun menggarisbawahi.

Bu Mimin yang bercita-cita ingin membangun sekolah sulam di Indonesia kini hampir sampai pada mimpinya. Bersama Ibu Jero Wacik, mereka sedang mempersiapkan pendirian sekolah sulam di bilangan Thamrin Jakarta. Agar semakin banyak generasi muda yang tertarik dan terpanggil menekuni dunia sulam. Mereka diharapkan dapat mengenalkan Indonesia di mata dunia dengan aneka sulam nan indah dan bernilai seni tinggi.

Sebelum saya berpamitan, Ibu yang lembut itu mengajak saya menengok sejenak workshopnya tak jauh dari teras belakang. Berbagi cerita seputar proses produksi, bahan yang digunakan, dst.

Sebongkah rasa haru dan bangga masih melekat kuat dalam hati dan pikiran saya hingga malam ini. Nilai-nilai mulia yang ditebarkan berupa rasa syukur, keinginan berbagi, bersabar, dan berdiri kokoh dalam setiap cobaan, serta mengisi waktu demi waktu untuk sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, semoga mampu terus menjadi lilin kecil di hati setiap wanita Indonesia tentu saja.

Bu Mimin Amir_Pendiri  Rumah Sulam Rachmy

Bu Mimin Amir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buku Sulam

Buku Sulam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lukis + Sulam

Lukis + Sulam

 

 

 

 

 

 

 

 

Tas Ipad

Tas Ipad

 

 

 

 

 

 

 

 

Tas Lukis

Tas Lukis

 

 

 

 

 

 

 

 

Tas Sulam_01

Tas Sulam_01

 

 

 

 

 

 

 

 

Tas Sulam_02

Tas Sulam_02

 

 

 

 

 

 

 

 

Workshop

Workshop

 

 

 

 

 

 

 

 

Lukisan Pasar Bunga

Lukisan Pasar Bunga

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s