Para Ibu Pengendara Motor, Berhati-hatilah!

Seorang Ibu dan anaknya meninggal di tempat akibat terlindas kereta di Stasiun Tambun Bekasi. Kabar memilukan tersebut saya dengar dari seorang kawan yang tinggal tak jauh dari tempat kejadian. Konon si anak yang masih duduk di bangku TK duduk di depan sang ibu yang mengendarai motor maticnya.  Ketika sirine dengan frekuensi cukup tinggi pertanda kedatangan kereta yang akan lewat dibunyikan pihak PJKA, semua pengendara telah berhenti di posisi menunggu. Rupanya si anak yang belum cukup nalar memainkan gas motor matic yang dinaikinya. Dan kesadaran ( baca : kelalaian, redaksi ) sang Ibu tidak cukup waktu untuk memberhentikan laju kendaraan. Maka bersamaan dengan datangnya kereta cepat yang melintas, habis dan tamatlah riwayat keduanya dengan sangat mengenaskan. Innalillahiwainnailaihirojiuun…

Peristiwa mengenaskan itu memang telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Namun sesungguhnya kasus-kasus semacam ini memang banyak terjadi di segala penjuru.

Seperti kita tahu bahwa motor saat ini bukanlah sebuah barang mewah lagi seperti 20-25 tahun yang lalu. Terlihat kendaraan motor beroda dua aneka merk bertengger di setiap rumah. Tak jarang satu rumah memiliki 2-3 unit motor.

Seorang kawan yang bekerja di sebuah industri motor mengatakan bahwa perusahaannya memproduksi 4.000 unit per hari. Sehingga hanya diperlukan waktu sekitar 32 detik untuk menghasilkan 1 unit motor jenis matic ber-CC kecil, dan sekitar 40 detik untuk kategori motor manual. Maka jangan heran jika jumlah motor baru yang turun ke jalan pun selalu bertambah setiap menitnya.

Motor memang diyakini merupakan salah satu alternatif kendaraan tercepat menembus kemacetan ibu kota dan sekitarnya. Pun sangat efisien ditinjau dari biaya, dibandingkan dengan menggunakan sarana transportasi lainnya.

Tidak jarang sebagian mereka yang memiliki kendaraan roda 4 pun lebih nyaman mengendarai motor saat ke kantor karena berbagai pertimbangan efektif dan efisien tersebut.

Dan rupanya para ibu yang biasa mengantar jemput anak sekolah juga banyak memilih menggunakan motor. Berbagai pertimbangan pun menjadi alasannya. Lebih murah dibanding membayar ongkos jemputan mobil, lebih praktis secara waktu karena si anak tak perlu terlalu pagi berkemas, lebih cepat, dst.

Alasan-alasan tersebut sebenarnya sah-sah saja. Bagus-bagus saja, sepanjang sang ibu juga mempunyai bekal yang cukup untuk itu. Bekal ilmu bagaimana mengendarai motor yang baik dan benar. Bagaimana cara menyalip kendaraan lain yang baik dan aman. Bagaimana kinerja motor yang dikendarainya. Hal-hal apa saja yang membahayakan. Bagaimana melindungi diri dan sang anak dengan helm yang standard. Bagaimana mendidik dan mengajarkan kepada si kecil tata tertib berlalu lintas yang baik, dst.

Sayang sekali masih banyak sekali para ibu yang hanya asal bisa menjalankan motornya, tanpa bekal ilmu yang cukup. Dan sayang sekali para suami melepaskan ( baca ; membiarkan, redaksi ) orang-orang yang dikasihinya dengan tanpa pertimbangan yang lebih jauh dan pembekalan yang cukup pula.

Dan ini adalah salah satu kasus yang pernah saya temui. Suatu pagi sekitar jam 07.15 saya dan teman-teman yang kebetulan ada jadwal ketemu klien baru saja melucur perlahan dari kantor kami ke jalan raya. Mengingat masih dekat dengan lokasi perumahan, mobil yang kami naiki berjalan di kecepatan 20 km per jam.

Dari spion sebelah kanan kami melihat di belakang ada seorang laki-laki berkendara motor dengan kecepatan sedang bersiap-siap hendak mengambil kanan mendahului.Tentu saja kami pun mempersilakan. Namun tak disangka-sangka seorang ibu yang membonceng anaknya yang berseragam SD tiba-tiba dari arah depan menghajar si pengendara laki-laki tadi dan akhirnya mereka berdua jatuh menimpa kami. Beruntung keduanya tak mengalami luka serius, hanya spion kami yang jadi korban dan patah.

Si pengendara laki-laki berhenti dan memohon maaf. Kami cukup mengapresiasi itikad baiknya, meski secara terang benderang kami melihat si ibu-lah yang seharusnya bertanggungjawab karena dialah yang paling bersalah dalam kasus ini.

Tapi apa di kata, ibu tersebut bahkan telah berlari tanpa permintaan maaf sedikit pun. Dia hanya berujar ”Anak saya sudah hampir terlambat sekolah ini….dan ngeeeeeng!” Astaghfirullah….. sungguh mengenaskan perilaku ibu tersebut. Bagaimana ia dapat mendidik sang putra menjadi manusia yang berpribadi jika ia sendiri mencontohkan  dalam praktek nyata perilaku sebaliknya?

Tentu saja saya sangat sedih dengan kondisi ini. Bukan karena spion yang patah. Karena saya masih ingat ’penghiburan’ suami ketika 2004 saya menyerempet tong sampah dan mobil yang baru datang 2 hari itu lecet parah. Dia berujar ”kalau tidak mau lecet, simpan saja di lemari, kasih kapur barus!”

Pastinya bukan berarti saya tidak harus berhati-hati. Saya menyerapnya sebagai penghiburan dan sebuah pesan terbungkus di sana. Bahwa tidak perlu lebaymenyikapi kerusakan sebuah benda. Selain benda itu dapat datang dan pergi kapan saja, ia hanyalah sebuah peralatan untuk membantu kita. Berhati-hatilah, jaga keselamatan orang lain sebagaimana kita menjaga diri sendiri. Tapi yang tak kalah penting adalah jaga hati dan jiwa agar bisa berdamai dengan segala peristiwa yang tidak enak terasa.

Memang perilaku memprihatinkan pengendara motor tidak saja dilakukan oleh para ibu, melainkan juga anak-anak di bawah umur, remaja hingga pria dewasa. Namun bagi saya, perilaku pelanggaran yang dilakukan para ibu adalah hal yang URGENT untuk diperhatikan dan dibenahi.

Sadarkah para Ibu bahwa di tangan kita semua terletak harapan bangsa ini untuk mencetak generasi-generasi terdidik dan berkepribadian luhur serta berbudi pekerti?Yakinlah dengan segenap cinta para ibu yang mau terus belajar dan berbenah diri, sesungguhnya negeri ini masih dapat diperbaiki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s