Skoci dan Pelampung di Perahu Kita

Hidup ini terkadang memang penuh kejutan, baik dengan berbagai kabar gembira ataupun sebaliknya.
Dan ketika sebuah kabar duka masuk ke handphone saya Kamis pagi, itupun serupa kejutan tak diharapkan datangnya. Perlu 2-3 kali membaca untuk dapat mempercayai bahwa mendung hitam pekat memang sedang menggantung di atas langit-langit rumah sahabat kami, SH yang akrab kami panggil om Boy.
Hari itu sebenarnya kami telah merencanakan diskusi banyak hal dan janji meeting dengan 2 pihak di tempat berbeda.
Tak perlu lagi dibahas soal diskusi, soal pekerjaan. Segera kuketik sebuah pesan ;
“Innalillahiwainnailairojiuun…turut berduka cita om Boy.. Pagi ini aku sama Bu Ayi ke tempatmu. Btw jika ada hal-hal yang perlu disupport, feel free kasih tau aja y…Lalu kutekan KIRIM. Kulirik jam menunjuk angka 06.02 WIB.

Beberapa kali pesan kutengok dan masih belum terbaca.Pasti ia sedang sibuk banyak hal. Bukan perkara mudah mendadak jadi EO pemakaman, dimana kliennya adalah ayahandanya sendiri. Tak perlu kutanya lebih banyak karena perjalanan dan pengalaman telah memberitahuku lebih dari cukup segala hal bernama kehilangan. Kepergian seorang ayah, yang meskipun tahun telah berganti puluhan kali, namun masih segar dalam ingatan.


The show must go on..Kalimat itu memang terbukti ampuh menjadi penolong memperkecil masalah. Memoles segala hal yang tampak tak ideal. Terlihat kurang di sana-sini. Hari itu meeting dengan pihak lain tetap harus berjalan, meski tanpanya.
Sementara hujan rintik kian membesar…dan semakin deras saja. Maka ketika berita di layar televisi menayangkan banjir yang kian meluas, kami.segera.membatalkan rencana dan semua janji pada orang lain, terkecuali pada si Om.Boy.
Genangan air begitu cepat naik garasi, lalu masuk ruangan demi ruangan tanpa permisi.


“Ayo mbak…cepat bereskan ganti baju di koper ya…embak pake tas coklat aja deh..” Saya meminta bantuan asisten RT sambil saya melepaskan berbagai kabel sambungan, menaikkan CPU ke tempat yang dirasa aman.
Singkat cerita, hari itu resmi kami menjadi pengungsi. Saya memutuskan ke kantor suami di Kawasan Jatiasih dengan berbagai pertimbangan.Hitung-hitung sambil menunggu putri kami pulang dari outbond dengan teman -teman di sekolah berikut para gurunya di Pelita Desa, Bogor.


Sebuah novel karya Dee Filosofi Kopi cukup efektif membunuh kejenuhan dan mengisi waktu hari itu.Proses mengungsi meski tak sampai naik perahu karet ternyata tidak sederhana juga. Berkemas mengungsi ini amat berbeda sensasinya dengan saat menjelang pulang kampung. Apalagi berkejaran dengan kecepatan datangnya air yang bak air bah, imajinasi tergiring ke tsunami Aceh. Dan ini rupanya benar pikiran bekerja sangat dasyat mempengaruhi fisik manusia. Kaki gemetaran tak berdaya menginjak kopling. Di saat yang tepat tetangga baik hati itu mengantarkan keluar TKP. Beliau bahkan rela berjalan kaki sekian ratus meter menembus banjir di tengah hujan lebat untuk kembali melanjutkan evakuasi barang-barang di rumahnya sendiri.


Kehebohan itu membuatku lupa meralat janji melayat pagi itu. Seketika kuketik sebuah pesan :
Sorry Om Boy, kami kebanjiran…aku mengungsi juga dan lebih parah dari kemarin. Jadi batal ke tempatmu😦
Kutekan KIRIM. Kulirik jam menunjuk angka 11.38 WIB

Sejenak sebuah pesan balasan masuk.
“Ok.Btw jika ada hal-hal yang perlu disupport, feel free kasih tau aja y..”

Kontan saya tergelak membacanya…lebih ke menertawai hidup yang kadang kejutannya sempurna mengagetkan.
Seringkali sedih dan gembira, tangis dan tawa hanya soal giliran saja. Kadang keduanya terjadi nyaris tanpa spasi, tanpa jeda.

Dan saling memberi dukungan moril seperti ini kadang sangat berarti bagi kita semua. Setidaknya kita tahu bahwa masih tersedia banyak pelampung dan skoci dalam perahu kecil yang kita naiki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s