Suatu Sore di The Habibie Center

Sumpahku_BJ.Habibie.01

Sumpahku_BJ.Habibie.01

 

Kesempatan berkunjung ke The Habibie Center di Sabtu sore, 19 Januari 2013 lalu serupa kejutan bagi saya. Sudah cukup lama sebenarnya saya berpikir untuk mendatangi tempat tersebut. Sekedar mencari tahu dan mengenal apa saja aktifitas lembaga yang didirikan oleh keluarga Pak BJ. Habibie.

Jumat sore seorang sahabat di dunia maya yang kemudian menjadi sahabat di dunia nyata, Ibu Ani Ms menghubungi saya melalui telepon. Bu Ani ini adalah komandan gerakan sosial Membangun Negeri Dengan Cinta Ibu (MNDCI). Entah darimana idenya, Ibu yang juga merupakan anggota inteligen POLRI itu mengajak saya untuk membantu acara bedah buku yang merupakan karya seorang wali santri Gontor, dan sekaligus karya putranya, alumni santri Gontor.

Sang Ibu, Hasnawati Latief, seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Makasar baru saja menyelesaikan bukunya yang berjudul Surat Cinta Bunda. Di saat yang hampir bersamaan putra pertama beliau yang bernama Muhammad Fakhrurrazi Anshar menulis buku Santri Tidak Hanya Bisa Mengaji. Sang putra kini menempuh pendidikan di International University of Africa di Khortum Sudan dan menjadi Ketua Pemuda Pelajar Indonesia di negara tersebut. Beberapa kali mewakili Sudan dalam berbagai pertemuan pelajar tingkat dunia.

Meski belum pernah menyelenggarakan acara serupa, saya sangat antusias mendengarnya. Maka spontan saya menjawab ”Baik Bu Ani. Saya ada ide. Kita bisa sharing rencana ini ke seorang penulis, Ibu Dianing Widya. Nanti saya minta waktu ketemuan. Mungkin link beliau dan pengalaman bedah novel-novelnya bisa menjadi salah satu referensi bagi kita”.

Dan malam itu juga Bu Widya, panggilan akrabnya menyepakati pertemuan kami bertiga di bilangan Jakarta Selatan.

Esok harinya Bu Ani menghubungi saya kembali untuk mampir di The Habibie Center sebelum pertemuan dengan Bu Widya. Rupanya Bu Ani juga sambil mengumpulkan alternatif jalan untuk menggelindingkan ide membantu sahabatnya tersebut.

Saya langsung menyanggupi tentu saja. Bagaimana tidak? Bertahun-tahun upaya ’mengintip’ aktifitas para cendekiawan itu hanya saya simpan di hati. Hari itu pintu tiba-tiba terbuka di depan mata. Tak ada daun terjatuh tanpa rencanaNya. Subhanallah… ”Semoga ini pun serupa pintu Allah yang tersedia untuk belajar dari waktu ke waktu…” saya berujar pada diri sendiri.

***

The Habibie Center lengang sore itu, namun  seorang security dan seorang receptionis pria yang berjaga tersenyum ramah menyambut kedatangan kami.

Kesan pertama memasuki ruangan tamu, semua terlihat bersih dan terawat. Mata saya langsung terpaku pada sebuah prasasti yang tertempel di tembok. Sebuah janji suci Pak Habibie yang turut mewarnai sejarah bangsa Indonesia.

 

Sumpahku!

 

Terlentang !!!

Djatuh ! Perih ! Kesal !

Ibu Pertiwi

Engkau pegangan

Dalam perdjalanan

Djandji pusaka dan sakti

Tanah tumpah daraku

Makmur dan sutji !!!

—————————-

—————————-

—————————-

Hantjur badan

Tetap berdjalan

Djiwa besar dan sutji

Membawa aku,…..padamu !!!

 

Aachen, 17/7/60, djam 23.00

B.J Rudy Habibie

 

Ttd

Puisi legendaris itu memang sudah saya baca berulang kali di buku maupun di berbagai media. Untuk kesekian kali tergetar hati menyimaknya. Kalimat yang tertuang penuh energi dan jiwa patriotisme pada ibu pertiwi terasa dalam dan sarat makna, penuh teguran terasa.

***

Tiba-tiba sore itu kami telah terlibat diskusi hangat selayaknya sahabat lama. Jika bukan karena rahmatNya, tak mungkin saya dapat berkumpul di ruangan itu dengan para cerdik cendekia alumni Gontor, seperti Bp. H. Sunadar Ibnu Nur, MA dan Bp. H. Agus Effendi. Tidak hanya sebatas berbagai pencerahan jalan dalam upaya bedah buku, dimana tujuan besarnya adalah agar membuka informasi seputar dunia pesantren. Memberi warna lain dan perimbangan berita atas ramainya pemberitaan pembubaran sekolah SBI dan RSBI. Namun berbagai diskusi seputar pendidikan, kewirausahaan, dsb tentu sangat bermanfaat bagi orang awam seperti saya.

Mereka kini sedang menggelindingkan sebuah ide briliant dalam mencerdaskan anak bangsa dengan metodologi pembelajaran bahasa asing super cepat yang ditemukan oleh Bp. Agus, panggilan akrabnya.

Melalui Revolt Institute, kelak akan tercipta para generasi yang tidak hanya fasih berbicara dalam bahasa asing ( Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, dll ), tapi juga mampu melakukan presentasi bisnis di dunia Internasional. Metodologi yang ditemukan adalah merupakan cara sistematis belajar bahasa yang memungkinkan pembelajar dapat menguasai bahasa asing hanya sekitar 15-20 hari.

Penasaran kan??? Sesungguhnya saya pun memendam perasaan yang sama. Semoga suatu ketika saya dapat berbagi dengan Anda jika Allah memberikan kesempatan untuk mendapatkan ilmunya. Harapan penemu metodologinya, penguasaan bahasa asing harus meluas sampai ke seluruh lapisan dan kalangan, tanpa pandang suku/daerah, agama dsb. Satu demi satu cara dan upaya sedang terus dilakukan.

Saya pun melontarkan pertanyaan standard. ”Pak Agus, saya dan mungkin sebagian banyak orang berpendapat. Bahwa bahasa asing itu akan terjaga dan lancar jika digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Jadi akan percuma jika lingkungan kita tidak mensupport untuk itu. Bagaimana pendapat Bapak??”

Beliau menjawab sambil tertawa ”Saya sehari-hari pun berbahasa Indonesia. Di rumah, di lingkungan menggunakan bahasa kita. Tapi kenapa bahasa asing tetap saya kuasai dan tetap dapat melakukan presentasi dan ceramah di forum-forum internasional, ya karena saya memeliharanya dengan menjadi penerjemah. Jadi seseorang lupa bahasa asingnya karena ia tidak mau menjaganya. Dan salah satu cara menjaga ya tadi, menjadi penerjemah.”

Ya, bahasa adalah salah satu kunci membuka dunia. Demikian sebuah ungkapan yang pernah saya baca bertahun-tahun yang lalu, namun belum mampu dikuasai dengan baik dan benar hingga hari ini😦

Obrolan sore itu pun bak pintu-pintu jendela yang terbuka, meniupkan semilir angin yang menyegarkan. Adalah sebuah kebanggaan dan kekaguman di hati ketika menyadari bahwa di The Habibie Center masih terdengar anak-anak hingga dewasa yang sedang berlatih membaca Al-Quran dengan tartil dan qiroati yang indah dan merdu di telinga. Masih terdapat kepala-kepala yang terus memikirkan dan berupaya meningkatkan kualitas hidup dengan berpijak pada pembangunan Sumber Daya Manusia. The Habibie Center, semoga keberadaannya terus bermanfaat sebagaimana visi dan misi pendirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s