Reuni SMP & Masa Lalu yang Terbawa Pergi

Seberapa besar makna setiap masa dimana telah menggoreskan kesan mendalam bagi setiap individu tentu sangat tergantung pada banyak hal. Demikian saya menarik sebuah kesimpulan.

Banyak alasan mengapa SMP yang telah kami tinggalkan puluhan tahun itu bukan hanya sebatas masa lalu, tapi juga adalah cerita di hari ini.

Lokasinya seolah di depan mata, karena jarak sekolah – rumah kami tak seberapa jauhnya. Ini memungkinkan kami harus mondar-mandir melewatinya setiap kali pulang ke kampung halaman.

Itu baru dari segi jarak. Alasan lain adalah karena persahabatan yang erat di antara teman-teman SMP. Pada saat usia SD karena faktor usia belum genap untuk dapat memahami arti sebuah pertemanan dan belum cukup mampu bersosialisasi dengan baik. Di SMP dimana usia menginjak remaja, bertambahnya teman dari desa-desa sekitar adalah ruang sosialisasi yang sebenarnya baru kami masuki. Berteman, dan mengenal baik keluarga masing-masing dengan apa dan adanya adalah salah satu dari sekian ribu alasan berikutnya. Berbagai cerita suka dan duka telah mewarnai hari dan perjalanan kami di masa itu.

Sejak hari perpisahan sekolah, sekelompok sahabat yang terdiri dari belasan anak akhirnya membuat sebuah komitmen. Kami akan bertemu kembali setiap satu tahun sekali dalam sebuah reuni kecil, karena masing-masing kami lalu melanjutkan ke SMA/STM/SMEA pilihan di kota-kota yang tersebar. Ibarat sekumpulan lebah yang terbang dari sarangnya, mencari bunga-bunga di taman yang demikian luasnya. Barangkali imajinasi itulah yang melekat dalam hati dan pikiran masing-masing kami.

Puji syukur karena ternyata kami semua mampu memegang janji itu hingga tahun-tahun berikutnya. Berbagai pertemuan kecil dan sederhana, dari acara menggelar tikar di bekas kelas kami dulu, makan sate Ambal bersama hingga beramai-ramai piknik ke tempat wisata murah terdekat kami lakukan. Cara sederhana itu rupanya sangat efektif menjaga jalinan silaturahim kami hingga terus terbina melintasi batas jarak, ruang dan waktu hingga puluhan tahun berikutnya.

Memasuki dunia kerja di tahun 1996-1997, kami lalu mulai memikirkan ide-ide untuk berkontribusi pada almamater kami tercinta. Maka dibukalah rekening bersama atas nama salah seorang sahabat yang berprofesi sebagai bidan di daerah kami. Mulanya iuran sukarela itu dengan ukuran sederhana saja; harga semangkok bakso dan segelas minuman atau jumlah minimum transfer atm BCA setiap bulannya.

Kemudian jumlah transfer itu meningkat seiring dengan bertambahnya kemampuan menyisihkan dana untuk proyek bersama yang kami namakan Bantuan Pendidikan Alumni 90. Dana tersebut mulai kami salurkan dalam bentuk bantuan pendidikan bagi 2 orang siswa di SMP kami, lalu meningkat dari tahun ke tahun. Setelah lintas angkatan turut menjadi donatur, angka 90 lalu kami hilangkan menjadi Bantuan Pendidikan Alumni saja.

Rekening BCA Bersama yang dapat dilihat mutasi transaksi dalam internet banking semakin memudahkan kami berkomunikasi tentang pemakaian dana tersebut. Jumlah dana yang kami kumpulkan memang tidak seberapa banyaknya. Bantuan pendidikan bagi siswa kurang mampu yang kami salurkan pun belum seberapa spektakuler dampaknya. Namun ia ternyata mampu menjadi topik menarik yang bisa kami bahas bersama,  mengingat kini kami semua mempunyai pekerjaan dan profesi yang beraneka ragamnya.

Banyak topik turunan pun bergulir. Dari mulai membeli kambing ternak sebagai pengembangan, pengiriman buku dan novel motivasi dalam Program Buku untuk Sekolahku secara periodik kami lakukan. Ini menjadi sarana efektif membina komunikasi antar sahabat dan juga dengan guru-guru kami di sana.

Berbagai petuah bijak seperti yang diungkapkan Pak B.J Habibie bahwa orang terdidik harus peduli pada pendidikan di negeri ini, tentu turut memberi kekuatan pada tekad kami untuk terus dapat berpartisipasi sekecil apa pun di dunia pendidikan, utamanya di kampung halaman kami.

Dan saya sangat sependapat dengan Pak Anies Baswedan, bahwa potensi alumni yang belum tergarap sebenarnya sangat besar dalam rangka mendorong kemajuan pendidikan di daerahnya.

Maka untuk alasan-alasan itulah, kami selalu antusias menghadiri acara yang diadakan oleh adik-adik kelas sebagaimana Reuni dan Milad SMP ke 34 yang  diselenggarakan oleh panitia alumni 2004 pada Minggu, 27 Januari 2013 lalu. Berharap semakin banyak rekan-rekan maupun adik-adik kelas yang berkenan membentuk kelompok-kelompok kecil dimana mereka dapat berperan aktif di dunia pendidikan, sebagaimana langkah kecil yang telah kami ambil dan putuskan. Ya, karena sekolah sederhana itu ternyata adalah cerita masa lalu yang terus terbawa hingga di hari ini.

( Bersambung )

Satu pemikiran pada “Reuni SMP & Masa Lalu yang Terbawa Pergi

  1. wah salut mbak, silaturahmi alumni-nya sangat terjaga dan lebih dari itu dapat membantu almamaternya dengan simultan. Semoga banyak siswa di SMP mb Dita dulu yang terbantu mendapat pendidikan yg lebih baik ya mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s