Hati-hati dengan Tawaran Voucher Menginap Hotel Bintang 5

“Selamat siang Ibu. Dalam rangka launching hotel terbaru kami di Seminyak, Bali kami bermaksud mengundang Ibu dan keluarga untuk menghadiri acara soft launchingnya di lantai 3 ….. Blok M. Ibu cukup mendengarkan presentasi kami sekitar 1 jam, dan sebagai compliment, kami telah menyiapkan satu voucher menginap di Hotel M di kota A. Kira-kira hari Kamis sore besok jam 17.00 bisa Bu?”Demikian suara bersahabat di seberang sana terdengar di handphone saya.

“Wah…sepertinya saya ga akan bisa datang Mbak. Jam 14.00 saya masih ada pekerjaan di daerah Ancol, dan belum tahu selesai jam berapa.” jawab saya menjelaskan.

“Wah..sayang sekali ya Bu. Jika begitu bisa di Jumat atau Sabtu barangkali Bu? Cuma sebentar kok Bu presentasinya. 1 jam saja” suara wanita muda itu masih terdengar mengejar.

”Tidak bisa juga Mbak. Jumat hari yang pendek yah. Pekerjaan lagi cukup heboh ini. Kami menangani acara gathering perusahaan di Waterboom Cikarang Sabtu besok. Otomatis Sabtu juga tidak bisa..” sahut saya sambil tertawa.

“Hmm, sayang sekali Ibu.Baiklah, mungkin Ibu bisa coba hadir di acara penutupan kami di hari Minggu ya Bu… Lumayan banget lho Bu…Ini voucher hotel M bisa untuk Ibu berlibur kapan-kapan bersama keluarga. Vouchernya open date kok…” lanjutnya tanpa putus asa.

“Gigih juga telemarker ini…Voucher hotel bintang 5 open date? Kapan mau pakainya? Tapi gampang sih, kalau sudah ada vouchernya kan bisa dikasih ke teman atau saudara…” demikian saya mulai terpengaruh.

“Ok, gini aja Mbak. Silakan kirim undangannya by email. Nanti saya akan pelajari dan pertimbangkan deh ya. Jika Minggu saya bisa datang, saya akan hubungi embak..” saya menutup pembicaraan.

***

Di sebuah ruangan cukup luas di sebuah mall di daerah Blok M, kursi-kursi yang diatur memutar ( round table) tertata rapi.

Seorang pria berumur sekitar 43-45 tahunan menyambut kami dan mempersilakan duduk. Dan tak lama minuman hangat yang kami pesan sesuai penawaran si pengundang disajikan. Sepiring kecil bolu sponge menyusul dihidangkan.

Jujur saja tawaran voucher menginap gratis di hotel bintang 5 itu memang menarik. Undangan dalam email pun cukup menjelaskan bahwa ini memang bukan bentuk penipuan. Apalagi sebagai event organizer yang sering survey lokasi sana sini memungkinkan pihak hotel dapat mencatat kontak nama saya. Dan di jaman ini, apa sulitnya mencari data prospek yang juga kami lakukan sehari-hari dalam menjalankan pekerjaan sales bukan?

Berikutnya, sejujurnya saya pun ingin tahu program apa gerangan yang ditawarkan. Informasi hotel sama pentingnya dengan informasi seputar lokasi wisata terkait pekerjaan kami.

Dan setelah berkenalan dengan sales yang bernama Pak As, kami pun berbincang kesana kemari. Sekitar 5 menit setelah perkenalan, kami sudah langsung dapat menangkap misi di balik undangan yaitu : PENJUALAN MEMBER CARD.

***

Pak As mula-mula menuliskan di atas selembar kertas 3 kategori member card dengan berbagai keuntungan jika seseorang bergabung dalam program ( baca : membeli member card ) yang ditawarkan.

Kategori A : 5.000 point

Kategori B : 2.500 point

Kategori C : 1.500 point

Keuntungan :

  1. Kemudahan dalam reservasi kamar, karena pihak hotel akan memberikan prioritas pada member meski di high season sekalipun
  2. Mendapatkan hotel bintang 5 dengan harga kelas melati
  3. Harga berlaku 5 tahun dan harga dijamin flat tanpa perubahan.
  4. Selain dapat digunakan di Hotel-hotel dalam grup besarnya di 4 kota di Indonesia, member card tersebut juga dapat digunakan di seluruh hotel lain di Indonesia untuk Kategori 3, seluruh Asia kategori 2 dan Internasional untuk kategori 1. Caranya dengan menukarkan point yang dimiliki.
  5. Jika setelah masa 5 tahun membership tidak terpakai, maka dana dapat diambil kembali.

Setidaknya 5 point itulah yang dijelaskan dengan berbagai penekanan di sana sini.

Demikian pula, kami mendengarkan sambil melontarkan pertanyaan sekedar untuk mengetahui detail penawaran tersebut.

Ilustrasi Member Card Hotel

Ilustrasi Member Card Hotel

 

Pak As : Bagaimana Bapak dan Ibu, menurut Anda apakah penawaran ini menarik?

Saya    : Wah, rasanya tidak ada orang yang tidak tertarik berlibur yah Pak As. Tapi kembali lagi, setiap orang memiliki skala prioritasnya masing-masing pastinya. Dst…

Pak As : Baiklah, Bapak dan Ibu telah sepakat bahwa penawaran ini menarik. Mari kita salaman dulu…” ujarnya sambil tertawa-tawa.

Saya sudah menangkap sesuatu yang mulai ganjil di sini. Tapi saya biarkan ia meneruskan pekerjaannya.

Saya   : Ok Pak As,… Apa saya bisa tahu, berapa harga Member Card tersebut?

Pak As memanggil manajernya dan kini sang atasan yang terlihat lebih senior melanjutkan ilustrasi angka di kertas tadi.

Kategori A : Rp. 85.200.000

Kategori B : Rp. 57.700.000,-

Kategori C : Rp. 39.200.000,-

Sang manajer menjelaskan bahwa sistem pembayarannya dapat dilakukan melalui dengan cara mengangsur via Visa Card sekitar Rp. 3,8juta per bulan.

Saya  : Woww…..besar sekali rupanya Pak. Kelihatannya produk Bapak belum cocok buat kami. Kembali seperti yang saya sampaikan, skala prioritas setiap orang berbeda. Dan kami jelas tidak menganggarkan dana sekian hanya untuk hotel saja setiap bulannya.

Suami dan Pak As terus sahut menyahut setelah itu. Di satu sisi Pak As mengejar kami membeli Member Card tersebut, di lain pihak suami juga meyakinkan bahwa dia telah memutuskan untuk tidak bisa membeli karena banyak alasan.

Saya menimpali dengan menjelaskan sisi kalkulasi sebagai wirausaha. Termasuk pertimbangan nilai uang atas waktu misalnya. Intinya hanya mau menggarisbawahi, bahwa kami tidak akan membeli Member Card itu.

Pak As : Baik Pak.., tidak mengapa karena kita sekarang telah saling mengenal. Sepanjang yang saya tahu, hanya ada 2 kelompok orang yang pernah saya tawari. Pertama orang yang mampu, lalu bergabung karena banyaknya keuntungan berupa manfaat yang didapatkan. Dan kedua, orang yang tidak mampu tapi berputar-putar memberi alasan. Bapak tadi mengatakan bisa memutuskan hari ini ternyata tidak kan?

Jika tahu seperti ini, saya seharusnya tidak perlu memanggil manager saya untuk ikut ke sini tadi. Memang sih, tidak munafik compliment voucher itu salah satu penarik mengapa orang mau datang ke sini. ” Raut wajah ramah kini telah berubah menjadi kecewa dan kesal barangkali.

Suami : Begini Pak As, saya kan juga sudah memutuskan untuk tidak membeli. Memutuskan bisa : iya dan tidak kan?

Saya : ”Pak As!! Adalah hal yang wajar jika kita menawarkan produk baik barang atau jasa untuk memberikan juga informasi harganya. Dari tadi sebenarnya saya sudah cukup menahan diri jika Bapak tidak mondar-mandir mengatakan hal-hal yang kurang enak di telinga. Baiklah…!Lebih baik saya kritik Bapak sekarang!! Saya sampaikan bahwa untuk nama besar Hotel M, Bapak tidak cukup pantas melontarkan berbagai perkataan yang sangat membuat orang tidak nyaman mendengarnya. For next prospek, coba sedikit bisa lebih nice, dan tidak malah terkesan merendahkan orang lain….dst”

Beberapa menit kami masih terlibat perdebatan yang cukup sengit. Namun suami mencoba mencairkan suasana dan mengajak saya untuk segera pamit diri.

Saya sebenarnya sudah bertekad untuk tidak mengambil voucher compliment setelah perdebatan sengit dengan sales itu ( baca : oknum sales).

Tapi ketika sebuah amplop telah diulurkan, kami terima juga dengan berbagai pertimbangan. Yang antara lain adalah mencari bukti terakhir kebenaran penawaran mereka. Yaitu voucher menginap open date sesuai penawaran by phone.

Dan tahukah Anda, voucher seperti apa yang diberikan? Di sana tertulis :

Tidak dapat dialihkan/dipindahtangankan. Berlaku hanya di low season weekdays only” yang lalu dibubuhi stempel : Berlaku 03 Februari 2013 – 03 Maret 2013.

Suami saya tertawa. Ia berujar ”Mereka memberikan voucher yang tak mungkin kita gunakan. Aku sudah menduganya. Tapi lain kali Ibu juga tak perlu marah-marah seperti tadi ya…. Mereka memang dididik untuk itu. Masih mending bahasanya dia hanya seperti itu. Sebagian sales asuransi bahkan pakai menggunakan kalimat-kalimat jika Anda mati segala. Jika hari ini atau besok Anda mati, maka ini dan itu……Hahaha…Bener ga?? Judulnya adalah, kita harus belajar dari orang-orang seperti mereka. Setidaknya saat kita atau team kita ’jualan’, tak perlu mengadaptasi cara yang sama. Dengan menggiring orang untuk datang dan membuat berbagai kebohongan misalnya…..Itu saja pelajaran hari ini.”

”Hahaha…iya juga ya. Jika Anda tidak bergabung dengan MLM ini, maka Anda orang terbodoh di dunia. Atau jika Anda tidak membeli asuransi itu, maka Anda adalah orang yang merugi…Meski memang itu hanya sebagian ulah oknum sales yah…”. Saya mulai menghibur diri untuk menghapus kekesalan di hati.

Diperlukan orang yang berakit-rakit ke hulu untuk bisa sampai ke tepian. Diperlukan sebelanga susu hanya untuk dirusak setitik nila. Diperlukan orang yang menjadi korban promosi telemarketing seperti saya untuk tahu bagaimana menjadi sales yang seharusnya. Dan semoga diperlukan membaca tulisan ini agar lebih banyak orang yang waspada.

 

Voucher Hotel

Voucher Hotel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s