Hanya Perkara 5cm Saja

”Pernah di suatu masa, Rasulullah dihadiahi seorang dokter oleh Gubernur Romawi yang berkuasa di Mesir. Dan selama 3 bulan berjalan sang dokter tidak mendapatkan seorang pasien pun yang datang untuk berobat kepadanya.

Ketika Rasulullah ditanya, apa rahasianya sehingga penduduk Madinah sangat terjaga kesehatannya dan tak memerlukan jasa seorang dokter?

Maka beliau menjawab ”kami adalah kaum yang tidak makan sebelum kami lapar dan berhenti makan sebelum kami kenyang” demikian salah satu yang disampaikan dr. Zaidul Akbar di pertemuan kami suatu siang.

Bukan sekali dua kali berita tersebut saya dengar sebelumnya,….Namun satu hal yang saya simpulkan adalah, sebuah pesan yang bernilai kebenaran memang belum tentu dapat sampai pada pendengarnya pada saat yang diinginkan sang penyampai pesan. Kadang ia serupa nasehat yang masuk ke telinga kanan dan keluar telinga kiri. Karena nyatanya saya masih saja tergoda untuk mengkonsumsi makanan ringan atau camilan sepanjang waktu. Masih gembira saat menerima traktiran makan ”enak” dari seorang kerabat atau teman. Masih menyimpan rasa penasaran jika mendengar kabar bahwa kuliner di sana enak dan di sana lebih asli rasanya. Dan pikiran masih sering dipenuhi pertanyaan demi pertanyaan, makan apa yang seru hari ini ya? Dan seterusnya.

Pertemuan saya dan 2 orang sahabat dengan dokter yang mengaku sudah talak 3 dengan obat kimia terhitung 2007 tersebut sebenarnya terkait pekerjaan. Saat itu kami membutuhkan nara sumber terkait ’healthy living’ untuk sebuah acara pelatihan.

Seorang kenalan memberikan kontak dokter yang sekilas mirip Maher Zain itu, dan kami sepakat bertemu di sebuah kedai makan di kawasan Jatiasih, Bekasi.

”Sebagian besar penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari. Manusia sulit mengendalikan diri terkait makanan. Hayo aja berburu makanan yang terasa enak di lidah. Perut dipenuhi sampah dan racun tanpa disadari”

Kata-kata yang mengalir mungkin memang tak enak didengar. Tapi kebenarannya nyata terasa sehingga kami terpaksa harus mengakui dan mengamininya.

***

Ingatan saya melayang pada pertemuan dengan seorang Bapak beberapa hari lalu. Kalimat –kalimat dokter Zaidul Akbar tersebut sesungguhnya menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Pak AS, yang adalah mantan kepala Dinas Perdagangan DKI. Perkenalan kami pun berawal dari pencarian nara sumber terkait perijinan usaha, perdagangan, hingga pengurusan dokumen ekspor serta impor.

Dari 1,5 jam perbincangan kami, hanya 10% nya membahas pekerjaan. Selebihnya kami serupa murid yang memunguti mutiara dari perjalanan sang guru. Ya, seorang guru yang baru kami temukan. Barangkali karena berlandaskan pengalaman hidup, maka kata-katanya pun terasa bernyawa.

Dari mulai masa-masa sulit yang telah dilalui sebagai aktivis di masa mudanya, hingga beliau mendekam di Cipinang bersama Pak Mahfud MD. Dilanjutkan sebagai praktisi yang penuh dengan kisah ’blusukan’ ke pabrik-pabrik makanan dan meninggalkan banyak catatan.

Sampai akhirnya beliau memberikan kesimpulan bahwa : makanan enak dan tidak hanyalah urusan 5cm saja. Urusan kesan lidah yang panjangnya sekitar 5cm, namun sering mengabaikan kepentingan yang lebih panjang. Usus yang panjang mengular menjadi korban pertama, hingga ke pencernaan, lalu akhirnya berdampak pada sepanjang hidup manusia itu sendiri. Penyakit demi penyakit yang bersarang, sesungguhnya sebagian besarnya adalah dari apa yang masuk  ke dalam perut manusia.

”Mata dan kepala saya telah menjadi saksi bagaimana makanan-makanan itu dibubuhi pengawet dan berbagai zat kimia. Berkontainer-kontainer jeroan sapi yang di negaranya adalah sampah, dan sempat kami sita  serta musnahkan hanyalah satu dua kasus yang terdeteksi. Selebihnya sulit sekali untuk membendungnya jika Anda tahu…. dst”. Berbagai kesaksian yang tak mungkin saya tuliskan di sini membuat kami bergidik ngeri. Deretan makanan yang dilabel HALAL tapi sesungguhnya masih dalam tanda tanya besar. Lalu makanan kaleng dengan kandungan zat ini dan itu yang serupa racun bagi tubuh, adalah fakta lain yang mau tidak mau harus kami percayai.

”Sejak itu saya lebih suka membawa bekal dari rumah untuk makan siang. Cukup dengan sayuran, tahu dan tempe buatan istri. Alhamdulillah masakan di rumah kami sudah lama sekali bebas dari MSG. Memang benar, semakin kita tahu, semakin kita takut untuk memasukkan makanan dari luar ke dalam tubuh…” demikian beliau menambahkan.

Saya dan kedua teman kembali mengangguk-angguk. Barangkali usaha keras melindungi perut dari makanan sampah itulah yang menjadikan Bapak yang telah memasuki usia pensiun itu masih saja terlihat sehat, bugar dan energik.

Siapa menyangka, penghuni salah satu rumah di kawasan Pakubuwono yang tercatat kawasan elit di Jakarta Selatan itu hanya makan ala kadarnya sepanjang hari. Itu pun masih ditambah dengan melakukan puasa sunnah yang adalah adalah salah satu cara detoksinasi tubuh secara alami.

Dan perbincangan kami di sebuah lobby hotel bintang 5 hari itupun, tak ada segelas minuman atau secangkir kopi yang menemani.

***

Sesampai di rumah, tempat pertama yang saya tuju adalah : dapur. Segera saya cari sebuah toples kecil yang tersusun di tempat bumbu.

”Mbak, MSG satu toples kecil ini sudah aku buang. Tolong jangan beli lagi, dan kita belajar tidak usah masak pakai MSG. Enak dan tidak enak hanya 5cm Mbak…Selebihnya urusannya lebih panjang buat kita…Mari kita belajar ya Mbak..dst…”. Asisten saya mengangguk patuh, sambil mendengarkan saya yang terus mentransfer informasi yang baru saja saya dapatkan hari itu.

Entahlah, mungkin karena kata-kata Pak AS yang bernyawa itulah serupa hidayah yang langsung bekerja seketika. Padahal jauh sebelumnya, tidak kurang banyak pesan terselubung maupun terang-terangan telah keluar masuk ke telinga saya.

***

“Mas, tolong tambah 1 gelas juice jambunya ya…!” saya memesan tambahan satu gelas minuman untuk orang di depan saya, yang belakangan saya ketahui adalah Ketua Asosiasi Bekam Indonesia.

Sambil tertawa saya berujar “Maaf, saya hanya meng-copy paste minuman yang tadi dokter pesan. Saya tahu, perlu dua gelas untuk CC besar….”

Dr Zaidul Akbar melirik teman saya sambil tertawa “Gawat nih. Dia pikir saya ini motor kali?,…hehehehe..!”

“Ngomong-ngomong, bagaimana Anda yang seorang dokter bisa beralih ke pengobatan herbal dok?” Pertanyaan yang sedari tadi saya simpan akhirnya keluar juga.

“Ceritanya cukup panjang pastinya. Liku-liku menjadi dokter, menyadari betapa rumah sakit semakin komersil dalam menjalankan bisnisnya. Yang akhirnya kalangan tak mampu harus menerima nasib untuk sakit dan tak terobati. Paralel dengan itu, semakin banyak saya membaca dan mempelajari ilmu pengobatan Islami. Saat itu saya juga cukup lama menjadi trainer di ISQ, memungkinkan saya berkenalan dengan banyak kalangan. Saya terus belajar dan kini saya pada sebuah kesimpulan. Bahwa hidup bahagia adalah ketika hati kita tenang karena mempunyai satu tujuan : Berjumpa Allah SWT. Karena di posisi mana pun kita saat ini, masalah demi masalah akan terus datang silih berganti. Tidak ada yang abadi. Jika hidup memang tidak abadi, mengapa juga kita tidak menuju kepada sebuah zat yang sudah pasti kekal?

Banyak cara untuk mengais rizki di bumi Allah ini. Kita yang memutuskan, mau mencari yang seperti apal. Semakin mendekatkan diri kepada sang pencipta, atau sebaliknya.

Sekarang saya fokus mengembangkan pengobatan Islami, dengan bahan-bahan tradisional yang dimiliki negeri ini. Jadi terkait bisnis herbal ini, memungkinkan orang untuk memilih 3 peran, yaitu menjadi produsen, menjadi pedagang/reseller, atau menjadi pengguna. Untuk terjun menjadi pengusaha, saya mendirikan sekolah yang bernama INTI, di daerah Pasar Rebo. Dimana keluarannya adalah berupa Klinik-klinik Sehat. Dimana pengobatan bekam, rukyah, terapi tulang belakang, pijat refleksi, dsb kami ajarkan semuanya di sana. Anda tahu, berapa biaya konsultasi terapi tulang belakang di sebuah RS besar? Rp. 400.000 hingga Rp. 500.000,- itu hanya biaya konsultasinya saja!! Bisa dibayangkan, betapa mahalnya biaya kesehatan bukan?

Selain itu juga terus mengajak orang untuk menjalani perilaku hidup sehat, makan-makanan yang sehat pun adalah bagian dari misi kami.

Apa yang kita makan hari ini adalah investasi kita beberapa tahun ke depan. Kalau yang kita masukkan racun, ya siap-siap menuai penyakit di kemudian hari. Itu saja….” Kata-kata yang keluar dari dokter muda itu terlihat mengalir jernih.

”Ya dok…. Benar, ternyata sulit sekali mengendalikan diri untuk tidak memanjakan 5cm berupa lidah ini. Diperlukan ilmu yang cukup dan usaha yang keras untuk terus dapat mengingatkan diri bahwa hakekat yang harus disadari adalah : makan untuk hidup, dan bukan hidup untuk makan”. Saya menarik kesimpulan kecil atas perbincangan sekitar 2 jam hari itu.

***

Perbincangan seputar 5cm tersebut ternyata berdampak luar biasa pada ukuran-ukuran lainnya. Termasuk pada misi terbesar hidup pada rentang waktu yang panjang pendeknya kabarnya telah tertulis di sebuah kitabNya.

Ya, ternyata kerja keras manusia bukan untuk sesuap makanan lezat yang ternyata tak dibutuhkan oleh organ penerimanya. Ternyata perjuangan setiap waktu memunguti rizki yang bertebaran di bumi pun, terlalu rendah jika hanya bertujuan agar dapat tidur beralaskan busa empuk di kamar yang megah.

Ternyata…. dan ternyata berikutnya, semoga mengantarkan kita semua, untuk kembali pada misi Allah dalam penciptaan manusia, yaitu :  Untuk Beribadah kepadaNya, dalam arti yang sesungguhnya. Dalam aplikasi nyata, dimulai dari kemampuan menyaring apa yang masuk pada organ 5 cm bernama LIDAH manusia. 

3 pemikiran pada “Hanya Perkara 5cm Saja

  1. Betapa terpujinya dr Zaidul Akbar ya mbak. Mau banting stir, dari profesinya di rumah sakit menjadi therapist herbal dan memperbanyak sekolah serta rumah2 sehat demi menolong masyarakat lemah lebih banyak, bahkan pastinya ilmu kedokterannya pastilah berguna untuk mensupport perjuangannya sekarang.
    Nice posting mbak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s