Karya Sastra, Madre, dan Adonan Roti

Sebuah karya sastra mampu memperkaya jiwa manusia, memberikan penghiburan, mengisi kekosongan ruang, dan berfungsi bak jendela yang memungkinkan kita dapat melihat hidup menjadi lebih bermakna.

Tentunya selarik kalimat di atas adalah kesimpulan kecil yang mampu saya tuangkan dalam memaknai sebuah karya sastra.  Beberapa tahun terakhir ini saya tertarik begitu saja untuk turut menjadi salah satu penjelajah pada “sebagian kecil” karya-karya anak manusia.

Dampak nyata bagi saya adalah, menikmati karya sastra ternyata sukses memotong rutinitas hari-hari yang berjalan. Pun seringkali efektif menghadirkan ruang-ruang segar dalam alam imajinasi untuk memandang hidup menjadi lebih indah dari yang kita lihat sebelumnya.

Untuk itu, pelan tapi pasti saya begitu menikmati huruf demi huruf yang tersusun menjadi kalimat, dan lalu terangkai dalam alinea. Baik puisi, cerpen, pantun, hikayat, novel dsb yang diracik apik oleh penulisnya, ternyata mampu bekerja luar biasa menakjubkan. Ia berhasil menciptakan jendela-jendala baru yang memungkinkan cahaya matahari menerobos masuk dalam ruangan dan waktu serta memasukkan oksigen sebagai pengganti karbondioksida.

Tentu tidak semua karya sastra dapat mendatangkan efek yang sama pada pembacanya. Saya menyebutnya sebagai kesamaan frekuensi, antara penulis dan pembacanya. Hanya frekuensi yang sama yang akan dapat menangkap pesan yang dikirimkan oleh si penulis sebaik harapannya.  Dibutuhkan kreatifitas penulis untuk dapat masuk sedalam-dalamnya dan mengintervensi ruang imajinasi si pembaca.Pun dibutuhkan kemauan si pembaca untuk mempertajam rasa, membuka cakrawala dan membiarkan diri menemukan mutiara-mutiara hikmah yang tersirat maupun tersurat.

Beberapa karya Dewi Lestari yang bernama pena Dee membuat saya terpesona dan lalu tertawan karenanya. Dee adalah penulis yang matang dengan ide-ide segar yang terus diproduksi dan memberikan warna tersendiri bagi dunia sastra di negeri ini. Ia adalah potret generasi yang mampu mencatatkan sejarah dengan karya-karya berkualitas sangat baik.

Selain Filosofi Kopi dan Perahu Kertas, tulisan ringan renyah berikutnya yang membuat saya semakin mengaguminya adalah sebuah buku yang bertajuk Madre.  Ya, dari MADRE– yang ternyata adalah nama untuk sebuah adonan biang roti bernilai sejarah, saya menangkap banyak pembelajaran terkait karya sastra.

Maka , ibarat sebuah roti, karya sastra adalah gabungan dari seni dan ukuran-ukuran yang berbasis logika keilmuan. Untuk membuat roti yang lezat dibutuh keahlian membuat adonan biang yang pas. Takaran tepung, gula, garam, air, telur, fungi dan deretan bahan-bahan lain yang diracik akan menciptakan sebuah produk yang sama sekali baru di mata mau pun di lidah kita.

Di sini seni memegang peran penting untuk mewujudkannya dalam aneka bentuk dan tampilan roti termasuk pilihan nama bak identitas seorang bayi. Sebut saja ; roti kibbled, yang merupakan gabungan dari biji-bijian, roti rye, gabungan tepung rye yang kaya serat, focaccia yang bertaburkan dedaunan rempah, ciabatta atau roti sandal khas Italia, pita alias roti pipih khas Timur Tengah, baguette si roti panjang nan renyah, roti buah yang dipadati kismis dan aneka berry kering, roti jagung dengan cornmeal nan gurih, roti ricotta yang berkeju dan bermentega, dan semolina yang berselimut wijen.

Karya sastra adalah racikan adonan yang memasukkan segala unsur yang diperlukan dengan takaran resep unik.  Aneka resep itu dihasilkan oleh sebuah software berbentuk benda lunak bernama otak manusia. Sungguh luar biasa ternyata anugerah yang dititipkanNya.

Di tulisan Madre, Dee membagikan sebuah trik belajar membuat karya kreatif melalui proses bertanya. Selama beberapa tahun terakhir ia banyak bertanya tentang perubahan, kelahiran, kematian. Ia bertanya tentang makna Tuhan, cinta, kemerdekaan. Termasuk berbagai tanya seputar relasi antar manusia, pasangan dan sahabat.

Ia setia menjadi notulen atas sebuah perenungan dan penjelajahan. Tidak semua perenungan berujung jawaban, itu pasti. Seringkali justru malah mendatangkan pertanyaan baru berikutnya.  Hidup adalah proses bertanya. Jawabannya adalah persinggahan dinamis yang bisa berubah seiring dengan berkembangnya pemahaman manusia. Pertanyaan demi pertanyaanlah membuat manusia terus melangkah dan maju.

Sebuah kalimat bijak yang terdengar standar bahwa semakin banyak membaca, ternyata semakin banyak yang kita tidak tahu, lagi-lagi harus diakui kebenarannya. Dan untuk menjadi tahu, ternyata kita perlu banyak bertanya.

Pertanyaannya adalah seberapa banyak tanda tanya yang kita produksi hari ini? Tentang sepotong roti, semangkuk acar bawang, secangkir teh, sekumpulan semut, sekawanan burung laying-layang  atau tujuh lapis langit yang dibentangkan?

Lalu seberapa sedia kita belajar untuk lebih peka terhadap segala sisi hidup yang ternyata selalu menyisakan ruang menarik untuk diamati dan dicermati?Dalam hidup, rupanya diperlukan banyak pemakaian tanda tanya, bukan hanya titik, koma dan atau tanda seru belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s