Spasi

Seindah apa pun kalimat yang tersusun, tentu tak akan dimengerti jika tanpa spasi. Dan keberadaan satuan bernama jarak, memungkinkan kita dapat bergerak.

Maka, menghentikan beberapa aktifitas selama 9 hari terakhir karena kondisi kesehatan yang tengah drop saya maknai sebagai sebuah spasi. Pun termasuk salah satunya adalah aktifitas menulis yang hampir dua tahun berjalan saya nikmati sebagai salah satu media belajar dan berbagi.

Ya, kadang manusia perlu berdiam beberapa saat untuk dapat memperoleh energi terbaiknya kembali. Kita perlu berhenti sejenak untuk mengosongkan gelas dalam alam pikiran agar siap untuk diisi dengan segala hal bernuansa kejernihan.

Ada kalanya kita perlu melihat dari atas, mengamati diri seolah semut yang berjalan mengelilingi sebuah globe yang berputar.

Dalam diam, kuamati orang hilir mudik dengan segala kesibukan dan perjuangannya. Dalam diam, kuamati setiap orang mempunyai cita-cita yang terus direvisi hingga ke tangga-tangga berikutnya seolah tak berbatas.

Dalam diam, kuamati betapa para pemilik warung di dekat rumah selalu sabar menunggu pembeli yang datang setiap harinya. Dari pagi hingga matahari terbenam. Pernahkah mereka merasa jenuh dan lelah yang mendera.

Kubayangkan lift-lift di gedung-gedung pencakar langit terus dipenuhi manusia yang hilir mudik dengan jutaan urusan dan pekerjaan

Lalu kubayangkan kaum ibu bekerja yang pulang larut dan menemukan buah hatinya telah terbuai dalam mimpinya. Mimpi bermain dan membaca cerita dengan sang Bundanya-kah? Betapa besar pengorbanan dan perjuangan mereka, tentu saja.

Semestinya kuterus menghitung milyaran juta nikmat dan kemudahan yang diberikanNya sepanjang waktu dan tahun yang berjalan.

Seharusnya kubersyukur karena sakit yang menghampiri hanyalah kategori penyakit ’cemen’ ; radang tenggorokan dan batuk  serta demam ringan.

Sejenak kubertanya pada diri, ketika sehat di hari-hari sebelumnya seberapa banyak alokasi waktu khusus yang kusediakan untukNya dalam 24 jam yang telah dianugerahkanNya selama?

Astaghfirullah…..ternyata masih jauh dari yang seharusnya mampu dilakukan.

Tak terbilang berapa malam yang terlewat tanpa sujud panjang,

Tak terhitung pagi yang terlewat tanpa membaca dengan takzim ayat-ayat beserta maknanya,

Pun jutaan detik waktu menunggu tanpa diisi dengan menyebut asmaNya.Astaghfirullah….

Spasi,

Semoga keberadaanmu memberi makna dan terus mengingatkan kami…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s