Pengusaha Bordir ; Mengisi Kemerdekaan dengan Karya Nyata

Image

Selembar cek tunai di tangan pemberian seorang klien saya tatap dengan seksama. Ini bukan tentang jumlahnya, karena nilai yang tercantum di dalamnya juga tak seberapa besar jumlahnya. Pembayaran untuk 80 paket wisata ‘one day tour only’.  Sisi menariknya lebih ke kisah hidup yang terasa masih terngiang di telinga, yang disampaikan oleh si pemberinya. Mereka adalah sepasang suami-istri pengusaha border baju koko.

Sabtu, 17 Agustus 2013 akhirnya saya memenuhi undangannya, setelah 2x penjadwalan ulang karena ketidakcocokan jadwal kami. Mencapai tokonya di bilangan Purwakarta bukanlah hal yang sulit, karena letaknya di tengah kota. Dari halaman muka, toko bordir itu terlihat tak seberapa luasnya. Toko yang hari kemarin tutup itu saya prediksikan panjangnya sekitar 6 meter saja.

Si pemilik toko muncul dari balik pagar rumah yang letaknya cukup jauh dari toko tersebut, beberapa saat setelah saya mengabarkan bahwa saya sudah sampai depan toko beliau.

“Mari masuk lewat sini saja…. Toko hari ini masih tutup, dan karena seminggu besok saya dan keluarga mau pergi, jadi daripada tidak ada yang mengontrol hasil kerja mendingan kami perpanjang saja libur mereka…” demikian sambutan Ibu N, wanita muda nan cantik yang berbalut busana muslim warna coklat muda. Saya mengenalnya dari seorang kenalan yang adalah lulus IPB tahun 2006. Jadi saya perkirakan wanita itu pun berusia kisaran 28 tahun, karena mereka memang teman seangkatan.

Dan begitu saya memasuki ruang kerja pasangan suami istri yang keduanya adalah mantan aktifivis di IPB di kediaman mereka, saya langsung tersadar, bahwa kali ini saya sedang bertemu pasangan muda yang istimewa. Untuk mencapai ruang kerjanya, saya melewati workshop bordir baju koko yang menghampar cukup luas. Gulungan bahan, gulungan benang yang beraneka warna, serta ruangan berisi  mesin bordir computer yang panjangnya kisaran 6-7 meter cukup menjelaskan kapasitas produksi yang tak bisa dianggap home industry biasa.

Kami baru mempunyai 9 mesin bordir computer. Tahun depan tambah 5 mesin lagi rencananya. Jadi kapasitas produksi targetnya bisa mencapai 2.500/pcs baju koko sehari….Toko kami di Tanah Abang sekarang 4  unit. Dalam waktu dekat malah jadi 5 unit. Kami sering stock out barang, sehingga harus kami kejar dengan penambahan kapasitas produksi pastinya” Demikian sang suami menjelaskan.

Berdecak kagum saya mendengarnya. Harga toko /kios di Tanah Abang saat ini bisa mencapai Rp. 1,5 milyar per unit. Kalikan 5. Mesin bordir computer merk Cina bervariasi warna 9 benang itu harganya kisaran Rp. 200jt per unit. Kalikan 9. Tahun depan kalikan 14 bahkan. Rumah merangkap workshop seluas 2.400m2 di prime area adalah asset lain yang setiap kepala bisa mengira-ira deretan angka yang tertera dalam sertipikat tanahnya.

Image

Image

Jika kesuksesan diraih dengan usaha puluhan tahun oleh seorang setengah baya atau engkoh-engkoh yang banyak akal, mungkin saya tak kan setakjub ini. Tapi jika si pengusaha adalah pasangan yang dari tampang saja masih pantas jadi mahasiswa, ini jelas luar biasa. Termasuk sebuah jenis usaha yang jauh dari bayangan saya akan mengantarkan seseorang di titik itu.

Beruntung sepertinya si tuan rumah merasa nyaman saya korek info kesuksesannya tanpa harus kesan menghadapi kekepoan saya. Hehe. Maka 3 jam berlalu dengan obrolan yang riuh, dengan canda tawa yang lepas mengalir begitu saja. Mungkin hanya 5% saja membahas acara family gathering karyawan mereka. Dan tanpa menawar sedikit pun juga, sebuah cek dituliskan oleh sang istri, yang lalu diserahkan sebagai pelunasannya. “Jika setiap klien seperti ini, betapa indah hidup ini….” batin saya bercampur rasa. Antara gembira, haru dan bangga melihat satu generasi negeri ini begitu membanggakan ibu pertiwi.

“Sebenarnya saya memang besar di keluarga dan lingkungan para tukang bordir di Tasikmalaya. Orangtua saya buruh bordir. Tapi mereka memang ingin anaknya bisa menikmati pendidikan tinggi. Maka, saya kuliah di IPB dengan segala cara untuk membiayainya. Tentu dengan keterbatasan orang tua, saya pun berusaha membantu. Saya awalnya membawa sekarung dagangan dari Tasik, saya panggul sendiri ke Bogor dengan naik kereta. Jujur saya ngumpet kalo ketemu teman-teman kuliah. Satu karung itu laris manis, lalu saya menambah dengan karung-karung berikutnya…

Saya lalu menyelipkan sebuah tekad. Bahwa hari itu, orang tua saya memang seorang buruh bordir. Tapi saya harus bisa membantu membuka bordir sendiri, dan memajukannya. Setelah orang tua saya maju, barulah saya memikirkan diri sendiri.

Saya dibesarkan dalam ilmu bordir. Jadi potensi itu yang harus saya gali terus dan pelajari. Peluang apa saja yang bisa saya dapat, saya langsung ambil. Dari kuliah hingga lulus saya terus berjualan. Istri saya kebetulan teman kuliah, dan kami berteman dekat selama 6 bulan saja, lalu kami menikah. Kami mulai mengontrak toko di Bogor, lalu mengontrak di Jakarta. Yang kami dagangkan adalah produksi orang tua saya dimana merk-nya pun saya yang memberi nama. Saya belum berpikir membeli rumah, tapi asset pertama yang kami beli adalah mobil. Mobil adalah ibarat kaki, yang akan membawa langkah kita menjangkau tempat-tempat jauh dengan membawa dagangan.

Kami berdagang di Thamrin City. Dulu toko di sana gratis di awal buka. Setelah toko mulai harus membayar sewa, Alhamdulillah kami berhasil membelinya dengan harga Rp. 450jt. Lalu kami membeli lagi toko-toko berikutnya hingga 4 dan ini sedang mau menambah 1 toko lagi. Sekarang harga toko di sana sudah mencapai Rp. 1,5 milyar per unit.

Alhamdulillah usaha orang tua saya sudah bagus. Tapi mereka memang masih amat konvensional. Sebagaimana orang-orang di kampung kami, semua memilih membeli tanah, sawah dan ladang di kampung sebagai investasi. Bukan membeli toko seperti kami. Mereka juga cepat puas ya. Katanya, uang tak akan dibawa mati. Mau makan enak bisa. Mau beli ini itu bisa. Sudah, mau apa lagi? Sudah bisa sedekah dan zakat buat sekampung mah udah bersyukur….” Demikian Pak R bercerita dengan renyahnya. Sekali-sekali kami menertawakan pola pikir masyarakat desa yang demikian polos dan sederhana dalam keinginan dan cita.

Maka ketika ia menyampaikan bahwa ijasahnya hanya dimuseumkan saja, saya lalu berkomentar. “Jadi begini….Sebenarnya menurut saya keliru jika kita berpikir bahwa kuliah itu hanya bertujuan bisa bekerja sesuai bidang yang dipelajarinya. Kuliah atau pendidikan itu adalah proses belajar dimana fungsi terbesarnya adalah membuka wawasan, mematangkan pola dan cara pikir dan meningkatkan kemampuan menganalisa. Sekarang sama-sama berangkat dari usaha bordir, mereka para pebisnis local yang tak mengenyam pendidikan tinggi tidak bisa sekreatif dan sebagus langkah Anda kan? Apalagi jurusan yang diambil adalah ekonomi. Ini sangat mendukung pastinya. Termasuk jaringan telah mulai dibentuk sedari kuliah hingga masa terjun ke dunia dagang. Itu pun adalah investasi yang tak dapat dikonversikan dalam mata uang…”

Suami saya yang kemarin itu turut mendampingi dan terlibat dalam forum diskusi hangat itu menambahkan :

“Beberapa tahun lalu saya diundang ke Danar Hadi, pengusaha batik . Ketika itu mereka mau membuat semacam hotel yang diperuntukkan para pelanggan khususnya dari luar kota. Jadi saat mereka berbelanja barang, si pelanggan tak harus mencari hotel/penginapan di luar. Ada sekitar 30 kamar kalau tidak salah. Di sana tersedia tempat fitness, mushola, dan lain-lain. Sistem kunci kamar juga dibuat otomatis menggunakan kartu semacam ATM, persis di hotel-hotel…. Mungkin beberapa tahun ke depan Bapak bisa mengadaptasinya.hehehe…”

Sepasang pengusaha muda itu antusias mendengarnya. Ide itu lalu menjadi satu di antara sekian tambahan rencana dalam rangka menjaga dan memupuk kepuasan pelanggan. Meskipun mereka tetap menyadari bahwa kualitas produk dan harga yang bersaing adalah satu catatan penting yang selalu menjadi pekerjaan rumah yang tak mudah tentu saja.

Memang menjalankan usaha seperti ini juga resikonya cukup besar. Sebenarnya kami tidak menjahit baju tersebut di sini. Kami subkonkan, atau yang biasa disebut makloon ke pihak lain. Berbagi resiko, berbagi order, yang juga berbagi rizki istilahnya. Mereka tinggal menjahit, karena kain sudah dipotong di sini. Namun ada aja kesalahan di awal-awal usaha. Lihatlah berkarung-karung kain semi sutra itu adalah karena kesalahan potong salah satunya. Entah sudah berapa ratus juta saja kerugian yang kami tanggung karenanya…. Belum lagi memanage karyawan yang semakin banyak juga semakin sulit. Harus tegas tapi juga harus luwes. Sementara ini kan masih industry rumahan, jadi kami masih mengatur segala urusan dari hulu sampai hilir. Itulah kenapa besok semingguan ini masih kami liburkan karena tanpa kami sebagai pengawas, semua belum bisa diandalkan bisa berjalan sendiri”.

Image

Pasangan muda dengan ketiga anak balitanya itu hendak berkunjung ke Singapura dan Malaysia pekan depan, atas traktiran sebagian biaya dari pengusaha kain langganannya.  Memang tugas tak mudah menanti di depan mereka. Membuat sistem, menjaga kualitas barang, menimimize kesalahan produksi, meningkatkan keamanan karena properti yang mudah terbakar. Penertiban sistem administrasi, training para pekerja agar awak kapal paham kemana nahkoda membetangkan layarnya. Perluasan pasar hingga ke seluruh pelosok negeri, serta ekspor ke negara-negara lain, adalah sederet pekerjaan yang menuntut ketangguhan pribadi serta kemauan untuk terus belajar  dari hari ke hari.

Akhirnya saya membuat sebuah kesimpulan pada kesuksesan pengusaha bordir itu yang antara lain adalah :

  1. Doa restu dari orang tua. Dia begitu gigih memperjuangkan kemajuan orang tuanya.  Maka perhatian yang besar tersebut akhirnya mengundang perhatian Sang Pencipta dengan ganjaran kemudahan yang dilimpahkanNya.
  2. Kerja keras, ulet dan pantang menyerah sedari dini, sedari masa kuliah.
  3. ATM – amati, tiru dan modifikasi menjadi semacam kartu chip yang mendasari setiap langkahnya
  4. Gemar silaturahim, membina hubungan baik dengan semua pihak adalah hal lain yan menjadikan jaringan semakin luas dan besar.
  5. Menjalani Multi level marketing (MLM) selama 2 tahun dengan digabungkan dengan menjalankan usaha konvensional memberikan berbagai keuntungan buatnya. Catatan dia tentang hal tersebut adalah “Saya memang menjalankan MLM, tapi saya tidak mengandalkan hidup dari sana. Justru saya memanfaatkan semangat kerja keras dan semangat silaturahimnya yang mendorong saya membesarkan usaha konvensional. Di titik tertentu saya berhenti MLM karena memang usaha konvensional ini lebih menjanjikan dan memberikan dampak manfaat yang lebih luas bagi orang lain”

Kita mungkin tumbuh dan dibesarkan di lingkungan yang beragam jenisnya. Tempat dan bentuk perjuangan kita pun tak sama. Rintangan dan badai yang berhasil kita taklukkan pun amat bervariasi bentuknya, sehingga mengantarkan kita pada pencapaian yang besar kecilnya beraneka. Namun kita memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama sebagai pewaris harta tak ternilai bernama ; KEMERDEKAAN. Maka, mari kita mengisinya dengan KARYA NYATA. Dengan semangat yang terus kita perbarui hingga tak pernah surut dari masa ke masa, semoga sang ibu pertiwi kelak kan tersenyum bangga dan bahagia

Image

 

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s