Membebaskan itu Melegakan

pensiunan

Sebelum hari itu, kami para anak, menantu dan cucu memiliki sebuah harapan. Satu keinginan yang terlihat sederhana, tapi nyata amat rumit dan beratnya bagi sepasang manusia yang kini telah bergelar Embah Kakung dan Putri itu. Harapan yang dimaksud adalah : PENSIUN ME ROKOK.

Bisik-bisik dan diskusi terselubung di antara kami tak mampu menemukan sebuah cara untuk menghentikannya. Dan isyarat ‘batuk-batuk’ yang dikirimkan oleh cucu yang kian melek terhadap teori-teori kesehatan ketika ada asap terhirup ke hidung mereka, sama sekali tak dihirau si penebarnya. Pilihan favorit sang kakek-nenek adalah menyingkir sejenak untuk kembali ke keriuhan obrolan tanpa membawa selinting Bentoel di tangan. Komentar cucu yang lolos dari saringan pernah juga terlepas keluar ; “Mbah,rokok itu berbahaya untuk kesehatan lho…” Yang segera ditukas dengan sebuah pembelaan kalem “Kalau Embah nggak merokok malah sakit. Embah tidak bertenaga tanpa ini…!” sambil tangan-tangan keriputnya memainkan sekotak benda berwarna biru.

Itulah rutinitas sepanjang tahun yang berjalan. Hanya senyum-senyum hambar yang kami tebarkan. Tak ada gunanya melawan. Taka da perlunya berseteru. Keduanya adalah orang yang nyata kami hormati dan segani sepenuh hati. Ini menyangkut sebuah keyakinan. Dan tak mudah untuk menggeser sebuah keyakinan yang tertanam demikian dalam. Pada saat seperti itu, kami hanya menghibur diri.  Dengan menghadirkan rasa syukur karena tak satupun anak dan cucu yang mengikuti jejak mereka. Barangkali, kami pun harus mengapresiasi. Bahwa mereka telah sukses mendidik dengan caranya sendiri. Namun ketika itu, kami seolah tak pernah pupus menitipkan harapan ; semoga kelak mereka kan tersadar. Bahwa hidup tanpa rokok lebih menentramkan.

***

Layaknya jam tayang dalam industri periklanan, saya percaya ada sebuah momen bernama Prime Time (PT) dalam sebuah hubungan antar manusia. Waktu utama, dimana mampu merekatkan satu dan beberapa hati untuk saling bicara.

Sebagai menantu, saya pun meyakini posisi kedua mertua adalah sama dengan kedua orang tua kandung kita. Dimana segala bentuk perhatian, penghormatan, penghargaan, dan cinta kasih serta sayang selayaknya terbagi dalam porsi yang sama besarnya. Karena sesungguhnya inilah anugerah sang Pencipta dengan menitipkan mereka dalam kehidupan baru bernama keluarga.

Meski demikian, di mata hampir setiap orang tua di dunia, kadang waktu seolah berhenti. Anak-anak mereka yang kini mungkin pun telah dewasa bahkan kian menyusul menua, adalah anak-anak yang sama. Sama seperti puluhan tahun lalu kehadirannya. Yang masih segar dalam ingatan keduanya ketika mereka belajar berjalan, merengek minta dibelikan jajanan atau mainan, menumpahkan minuman di meja makan akibat kecerobohan dst, dll. Apa yang terlihat boleh saja berubah. Tubuh pasti juga bertumbuh. Kekokohan mungkin kini bahkan telah bertukar kepemilikan. Namun jiwa yang melekat tetaplah utuh di tempatnya semula. Anak-anak tetap sama di mata orang tua sampai kapan pun juga.

Maka, ada saat-saat dimana saya memberi ruang bagi pasangan hidup saat acara mudik atau bertemu keluarga. Biarlah mereka menikmati detik-detik kebersamaan sekadar bincang-bincang lepas tanpa beban. Sekadar menikmati keluh kesah dan tawa yang sama sebagaimana ketika mereka mengikuti tumbuh kembangnya. Biarlah jiwa mereka bertemu kembali sebagaimana ketika ia nyaman bergelung dalam rahim sang Ibunda.

***

Sebelum kepergian Paklik Th, karib Bapak untuk selama-lamanya, beliau sempat berkunjung kemari. Seharian beliau bercerita banyak hal.  Tentang rumahnya yang tak ubahya penjara baginya.Masa tua melepaskan semua yang dimilikinya. Sang istri yang perhitungannya amat rumit mengambil semuanya tanpa sisa. Uang pensiun, atm, dan semua milik beliau tanpa sisa. Untuk itu beliau mengandalkan adiknya untuk segala keperluan yang tidak mungkin diloloskan di rumahnya. Kasihan….. Semoga Allah memberi penghiburan dalam ketenangan di alam sana….”

Rupanya urusan curhat bukan monopoli orang muda dan ibu-ibu arisan saja. Kakek-nenek pun bisa melakukan hal yang sama. Karena media inilah yang mungkin dirasa meringankan bebannya.Di saat demikian, seseorang kadang hilang pertimbangan dan pegangan. Maka curhat ini pun yang akhirnya terbuka dan mengalir dalam pertemuan enam mata ; anak-ayah-ibu di hari itu. Hari yang memungkinkan kami untuk menggunakan kaca mata lain yang berbeda dari sebelumnya.

Kisah sedih  kakek di akhir hayatnya tersebut mungkin saja hanya faktor tersumbatnya kran komunikasi saja. Bisa jadi apa yang dilakukan pasangan hidupnya dimaksudkan semata-mata sebuah pertimbangan kebaikan. Proteksi karena si kakek mulai pelupa sehingga lupa pin, lupa menyimpan buku rekening, dst. Tentu menjadi tragedi bilamana pesan tersebut tak sampai dengan baik ke penerimanya bukan? Sehingga sebuah catatan kelam tertanam di benak dan jelas terbaca ; TAK BAHAGIA DI AKHIR HAYATNYA.

***

Ibuku kemarin menemani Bapak mengambil pensiun.  “Ibu mau ikut ambil pensiun?” tanya Bapak di suatu pagi.

“Ya ikut lah….kan Ibu juga mau menemani. ..”jawab Ibu bergegas menyiapkan diri.

Akhirnya mereka pun naik becak berdua, mengingat mereka tak lagi mampu berkendara. Obrolan tentang anak-anak, cucu, sawah dan ladang yang menunggu digarap, jumlah pupuk yang dibutuhkan, adalah topik-topik yang mungkin mengisi perjalanan.

Sampai di lokasi, Ibu menyingkir dan menghilang di kerumunan. Menemui para rekan sesama pensiunan yang tengah antre, menyapa dan bertukar cerita. Hingga Bapak akhirnya maju sendirian setelah mendapat panggilan sesuai urutan, dan ibu terlihat masih asyik bercakap-cakap dengan teman-temannya.

Di perjalanan menuju pulang, Bapak bertanya : Ibu katanya mau menemani ambil kok tadi malah pergi waktu dapat panggilan?”

Ibu lalu menjawab : Aku kan memang cuma ingin menemani. Aku ndak ingin bisa, karena aku masih ingin Bapak bisa selalu mengambilkan…”. Bapak tersenyum dengan mata berkaca-kaca yang sekuat mungkin disamarkan.

Saya tertegun mendengar ceritanya. Kisah kecil yang menyesakkan tentu saja. Sebuah pembelajaran ‘saling menjaga di usia senja’ telah kami dapatkan hari itu. Bukan hal yang mudah pastinya, namun ini amat penting untuk siapa pun kita, di posisi apa pun dan di mana pun berada.

***

Maka,  hari ini menjadi hari yang berbeda untuk kami pada akhirnya. Tentang kebiasaan menghisap rokok dua orang yang tengah memasuki usia senja. Tak kan lagi kami mengusahakan segala macam cara untuk menghentikannya. Tak kan lagi menjabarkan pola hidup sehat dalam cara pandang kami pribadi. Biarlah kebebasan menjadi milik  mereka. Manusia bahagia dengan berbagai macam cara dan bentuknya. Kebenaran memang tak pernah bisa ditawar, itu pasti. Namun kebaikan kadang amat tergantung pada sudut pandang manusia. Bagi siapa, kapan, dimana, dan mengapa….. Terlalu banyak pertanyaan turunan yang kelak kau kan menemukan jawabnya. Dan hari itu kami belajar, bahwa terlalu banyak apa yang kami tidak tahu, dibanding apa yang kami merasa tahu.

ilalang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s