Bos pun Bisa Loyal

Kenapa kamu mau keluar? Sampai hotel ini tutup, kamu tidak akan dipecat. Terus kalo hotel ini ambruk, lalu dibangun lagi. Kamu juga tidak akan dipecat!!”

Demikian Big Bos teman saya mengajukan keberatan yang sangat saat ia mengajukan undur diri dari kantornya sekitar 5 tahun lalu. Setidaknya telah 7 tahun dia bekerja di hotel itu dan si pemilik hotel telah mengenal kinerjanya dengan sangat baik. Dimulai dari hotel itu masih berupa tanah, lalu dibangun menjadi Hotel Bintang Lima di bilangan Jakarta Selatan nan megah. Dan lalu ia dipercaya sebagai tenaga engineering yang bertanggungjawab pada pengelolaan fasilitas hotel.

“Apakah gajimu kurang di sini?”

Lalu sahabat saya menjawab : “Gaji saya justru kebanyakan Pak… Saya masuk kerja jam 8 pagi, lalu menunggu di ruangan. Hingga kadang jam 10 baru terdengar telepon berdering. Kamar nomor 510 bola lampu mati. Mohon diganti!!. Segera saya naik ke lantai 5, copot lampu lama dan ganti dengan lampu baru, cek sana sini 2 menit selesai. Saya kembali ke ruangan. Lalu menunggu. Jam 16.00, telepon berdering kembali. MCB di area kitchen nge-trip Pak!! Lalu saya segera beranjak ke TKP, dan cukup waktu paling lama 5 menit, pekerjaan selesai. Jadi kalau dihitung-hitung, saya kerja dalam sehari kadang kurang dari 15 menit. Sementara Bapak menggaji saya sebulan, itu pun double. Gaji dari hotel, dan gaji dari Bapak sendiri. Jadi gaji saya kebanyakan Pak!”

Sahabat saya tertawa. Bosnya pun ikut tertawa. Lelucon yang semestinya tidak lucu untuknya karena berarti tak ada satu pun alasan yang dapat menahan anak buahnya pergi.

Sahabat saya memilih menjadi panglima di kapal kecilnya sendiri. Kini ia berwirausaha di bidang ME – Mechanical Ellectrical, dan masih bekerja sama dengan mantan Bos, dalam konteks yang berbeda. Kini ia adalah vendor, dan bukan lagi anak buah di bawah manajemennya.

Jika berbicara tentang usaha, wirausaha, dan pilihan menjadi pengusaha, memang semua orang tahu bahwa tak ada yang mudah untuk dilalui. Namun hidup adalah pilihan, dan sahabat saya telah memilih kebebasan berekspresi dan memanfaatkan waktu dalam 24 jam nya dengan caranya sendiri.

Kebahagiaan dan ketenangan hati, kadang bukan terletak pada berapa besar gaji yang diterima, seberapa nyaman pekerjaannya. Namun adalah sesuatu yang menjadikannya merasa lebih berarti.

Tentang loyalitas seorang bos kepada anak buah, sahabat saya berkata : “Judulnya sebagai bawahan syaratnya adalah manut (nurut) , mituhu (memenuhi harapan atasan dengan kepatuhan tingkat tinggi) dan jujur, serta tidak itang-itung (tidak membatasi diri pada job desk-nya saja). Jika itu dipegang, maka bos juga akan memberikan loyalitas yang sama.”

***

Saya tak dapat menahan tawa mengingat ceritanya. Memang simbiosis anak buah dan bos yang sekokoh itu tidak mudah dijumpai. Tapi pastinya saya turut bangga. Ia adalah pribadi yang tangguh, ringan tangan, jujur, dan berdedikasi tinggi. Ia pun pengemban tanggung jawab yang baik atas apa yang dilimpahkan di pundaknya. Semoga hidup kan lebih hidup dengan jalan yang ditempuhnya kini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s