Sumur Zam-zam yang Hilang Ditemukan Kembali

Sejarah Ka'bah

Sejarah Ka’bah

Sebelum membaca buku Sejarah Ka’bah karya Prof. Ali Husni Al-Kharbuthli , tak pernah saya tahu bahwa sesungguhnya sumur zam-zam pernah hilang di masa lalu. Hingga akhirnya ditemukan kembali saat Ka’bah dalam pengelolaan Kabilah (suku) Quraisy, yang ketika itu dipimpin oleh kakek Nabi Muhammad SAW.

Dikisahkan bahwa sepeninggal Nabi Ismail AS, perawatan Ka’bah dilakukan oleh para keturunannya dari generasi ke generasi. Dan semenjak Allah SWT menyerukan manusia untuk berhaji dengan sebuah keyakinan bahwa itulah rumah Tuhan Semesta Alam yang satu, maka berbondong-bondonglah manusia dari segala penjuru melakukan thawaf di Ka’bah.

Waktu berlalu, dan tahun pun berganti menjadi abad. Ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim AS kemudian banyak ditinggalkan penganutnya. Meski demikian, Ka’bah tetap dianggap sebagai tempat suci dimana dituju oleh jutaan manusia di bumi. Namun penyimpangan telah terjadi di sana sini. Ka’bah dipenuhi patung-patung atau berhala sebagai sesembahan.

Secara ekonomi, Ka’bah dianggap banyak mendatangkan keuntungan bagi pengelolanya. Membanjirnya jamaah yang datang memungkinkan perekonomian berkembang amat pesatnya.  Untuk itulah Mekah, kota yang menjadi lokasi Ka’bah berada, diperebutkan oleh banyak kaum yang ingin menguasainya.

Hingga ketika Mekah dipimpin oleh Madhadh bin Amru Al-Jurhumi, ia pun diserang oleh musuh. Dan ketika ia menyadari kekuatan lawan ada jauh di atas kekuatannya, ia pun memilih pergi sebelum peperangan dimulai. Sebelum pergi, ia mengubur sebagian barang berharga dan emas miliknya di sumur zam-zam.  Kondisi alam yang berpasir amat membantunya menghilangkan jejak sumur zam-zam tanpa sisa.

Madhadh bin Amru melarikan diri ke Yaman dan musuh-musuhnya pun tak dapat menemukan jejak sumur zam-zam di sana, hingga mereka akhirnya mencari sumber air lain di Mekah. Sebagaimana diketahui penduduk Mekah tak dapat mengandalkan curah hujan untuk hidup. Hujan dari langit hanya turun sekali dua kali sepanjang tahun. Sehingga sungai pun tak ada di sana. Maka satu-satunya jalan adalah dengan menggali sumur untuk mendapatkan air.

Seperti kabilah Quraisy, setiap klan mereka menggali sumur di wilayah masing-masing. Bani Tamim bin Marrah menggali sumur Jufur. Abdusy Syam bin Abdi Manaf menggali sumur bernama Ath-Thuwa. Hasyim bin Abdi Manaf menggali sumur Badzar, dan ia membolehkan semua orang mengambil sumur darinya. Selain sumur Badzar, Hasyim bin Abdi Manaf juga menggali sumur Sajlah. Dan dari sekian banyak sumur, yang paling terkenal adalah sumur Ram yang digali Murrah bin Ka’bb bin Luai dan sumur Dham yang digali Bani Kilab bin Murrah.

Dari Bani Kilab bin Murrah inilah muncul tokoh dermawan dalam membagi ari. Tokoh itu adalah Qushay bin Kilab. Ia adalah kakek buyut Abdul Muthalib, yang memberi minum secara gratis pada para jamaah haji di Hiyadh bin Adam. Ia rela membawakan air untuk mereka dari sumur-sumur di luar Mekah, di antaranya dari sumur Maimun Al-Hadrami.

Mimpi Abdul Muthalib

 

Abdul Muthalib, adalah anak dari Hasyim bin Abdi Manaf dari keluarga besar Qushay bin Kilab. Secara turun temurun ia adalah orang yang bertanggungjawab atas penyediaan air minum jamaah haji. Sebelum sumur zam-zam ditemukan, Abdul Muthalib mengambil air dari sumur-sumur di luar Mekah. Ia menampungnya di tempat penampungan air di sekitar Ka’bah.

Musim haji selesai da Kabilah Quraisy kembali ke komunintasnya masing-masing. Pada suatu malam di musim semi, mereka berkumpul dan mengobrol di rumah Abdul Muthalib. Tiba-tiba pembicaraan mereak mengarah pada kesulitan yang dialami Abdul Muthalib dalam menyediakan air untuk para jamaah haji. Lalu mereka teringat akan sumur zam-zam yang berabad-abad hilang dan berharap kembali menemukan lokasinya.

Maka, Ummayah bin Abdisy Syams, sebagai orang yang mengetahui sejarah dan peristiwa masa lalu menceritakan kisah Madhadh bin Amru Al-Jurhumi yang melenyapkan sumur zam-zam. Mendengar kisah itu Abdul Muthalib berharap Umayyah bin Abdusy Syams dapat menemukan lokasi sumur itu sehingga mereka tak perlu kerepotan menyediakan air untuk para jamaah haji.

Hingga suatu malam, ketika Abdul Muthalib tidur di Hijir, dia bermimpi didatangi seseorang dan disuruh menggali sumur zam-zam.

Abdul Muthalib menuturkan “Ketika itu aku sedang tidur di Hijir Ismail, aku mendengar suara, ‘Galilah Thayyibah (zam-zam)!”

“Apa itu Thayyibah?” Tanyaku. Tapi kemudian orang itu pergi. Besoknya, ketika aku tidur, aku kembali mendengar suara yang sama.

Galilah Birrah (zam-zam)

“Apa itu Birrah?” tanyaku.  Kemudian orang itu pergi. Besoknya, ketika aku tidur, aku kembali mendengar suara yang sama.

“Galilah Madhnunah!” Kemudian orang itu pun pergi kembali.

Di pagi harinya Abdul Muthalib bingung dan lalu menceritakan mimpinya pada istrinya, Samra. Ia meminta pendapat, dan istrinya berujar “Tenanglah dan jangan terlalu resah. Kejadian ini sering kali terjadi pada banyak orang di antara kita dan mereka tidak lantas berkumpul dan membeberkannya. Sebaiknya, engkau mendekatkan diri pada Tuhan-tuhanmu tanpa perlu melalui pendeta. Pergi dan berkurbanlah dan dekatkanlah dirimu pada Tuhan-tuhanmu, niscaya mereka akan ridha. Bahkan orang-orang fakir dan orang-orang yang lapar akan ridha, meskipun hal itu bisa membaut marah sebagian orang Quraisy”

Maka di hari itu juga Abdul Muthalib berkurban besar-besaran. Mekah dipenuhi darah kurban dan makanan. Sehingga ia merasa puas dan malamnya ia bisa tidur nyenyak. Namun kembali suara itu datang kembali.

“Galilah Zam-zam!”

“Apa itu Zam-zam?” tanyaku.

“Air yang tidak kering dan tidak meluap, dengannya engkau bisa memberi minum kepada jamaah haji. Letaknya di bawah timbunan kotoran binatang dan darah. Ada di paruh gagak yang tuli di sarang semut….”

“Sekarang aku telah mengerti.” Jawab Abdul Muthalib.

Menurut isyarat yang ia pahami, lokasi sumur zam-zam itu di antara dua berhala yakni Aslaf dan Nailah. Konon keduanya berubah menjadi patung setelah melakukan perbuatan tak pantas di dekat Ka’bah.

Ditemani putra Al-Harits, Abdul Muthalib keluar membawa kapak besar dan alat-alat pertukangan lainnya untuk menggali pasir. Sengaja ia melakukannya diam-diam karena sejujurnya ia pun belum yakin 100% dengan mimpinya. Jangan sampai penduduk Mekah menganggapnya sedang melakukan tipu daya. Dengan melakukannya sendiri bersama putranya, resiko lebih kecil seandainya ia gagal. Tak ada orang yang dikecewakan, atau minimal orang lain tidak tahu.

Berjalanlah mereka berdua ke lokasi yang ditunjukkan dalam mimpinya, yaitu di sebuah sarang semut. Mereka mendapati seekor gagak sedang mematuk di antara dua patung Aslaf dan Nailah. Dan itu adalah tempat yang digunakan penyembelihan kurban suku Quraisy.

Tanpa diduga, sebagian orang Quraisy melihat mereka berdua sedang menggali di tempat dimana mereka biasa berkurban. Mereka tidak tahu apa motif Abdul Muthalib dan anaknya ketika itu. Sehingga mereka hendak mencegahnya. Namun Abdul Muthalib berhasil berdiplomasi sehingga orang-orang tersebut diam sebagai penonton.

Dan ketika Abdul Muthalib belum lama menggali, tiba-tiba ia sebentuk patung rusa, sehingga ia pun bertakbir. Orang-orang Quraisy pun akhirnya sadar bahwa apa yang dilakukan Abdul Muthalib adalah benar. Abdul Muthalib melanjutkan galiannya, dan ia menemukan pedang-pedang dan baju besi. Barang-barang itu adalah milik Madhadh al-Jurhumi yang di timbun di dalam sumur zam-zam sebelum melarikan diri ke Yaman berabad-abad tahun yang lalu.

Ya, itulah pertama kali sumur zam-zam ditemukan kembali  setelah hilang sekian abad lamanya.

Kisah penemuan sumur zam-zam sebagai jamuan gratis bagi jamaah haji sepanjang jaman memang tak semulus yang diduga. Penemuan barang-barang berharga yang terkubur di dalamnya mendatangkan polemik di antara orang Quraisy. Kisah kebijaksanaan Abdul Muthalib dalam menangani masalah itu semoga dapat saya lanjutkan kisahnya dalam keping cerita berikutnya. (Bersambung).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s