Kita dan 6 Diary Usangmu

Dari sekian banyak  perbedaan yang ada,

Biarlah kuhimpun persamaan yang kita punya,

diantaranya adalah berbincang dan bercerita

Bukankah cerita demi cerita jugalah yang telah mempertemukan kita?

 

Aku tahu kau tak pernah menganggap istimewa hari kelahiranmu,

Seperti  aku pun enggan untuk mengingat berapa kini usiamu,

Karena jika waktu dapat kubekukan,

Pasti telah kulakukan untuk menghambat pergantian bulan,

Demi menahanmu di sini,

Agar tak pernah bergeser meski satu inci.

 

Hidup adalah serupa lelucon yang menawan,

Ketika kukenang puluhan tahun silam,

seragam putih biru yang masih kau kenakan,

Kau beriku sebuah tugas mengisi buku absen,

Dan kini sungguh tak pernah kubayangkan,

Kau beriku pena menulisi setiap dinding harimu,

serta membubuhkan tanda tangan,

Pada buku komunikasi milik peri kecil yang Dia titipkan.

 

Hidup adalah kumpulan keajaiban yang Dia anugerahkan,

Ketika takdir mempertemukan kita di sebuah masa,

Tanpa menunggu sepatah pun kata cinta,

karena  senyum, tatap mata dan hadirmu telah sempurna mewakilinya

Atau barangkali juga karena Dia tersentuh dan menaruh iba,

ketika doa-doa lirih di keheningan malam yang kita naikkan ke arsy-Nya,

atas sepercik rindu yang diam-diam kita simpan,

bahkan saat getar hati belum mampu kita jabarkan.

 

Hidup adalah perjalanan yang pasti tak seindah impian,

Maka kusediakan ruang tak berbatas tuk lelahmu bersandar,

Memberi kekuatan semampuku di saat rapuhmu,

Dan kupunguti ilmu agar semoga aku siap menjadi teman berbincangmu di setiap waktu

 

Hidup adalah perubahan,

Jika helai demi helai rambut perak bermunculan,

Dan keriput tanganmu mengisahkan selaksa perjuangan,

Mari kita hikmati sebagai kesyukuran,

Atas rentang waktu yang Dia pinjamkan,

Sehingga aku masih di sini menemanimu hingga nanti.

 

Hidup adalah pergantian siang dan malam,

Pertukaran terbit fajar dan sunyi senja

Ketika suka mulut tertawa,

Pada duka mata berkaca,

Dalam kaku, pikir terpaku

Kuingin pikirku dan pikirmu berada dalam alam irama yang satu

 

Hasan Al-Bana berkata,

Waktu adalah pedang, potong dan terpotong

Waktu adalah alam yang terus menari dalam simponi

Maka demi waktu,

Semoga hatimu dan hatiku,

Terpilin erat dalam genggaman cintaNya selalu

 

Enam buah buku diary usangmu biarlah kutata dengan rapi,

Mereka adalah sahabat terbaikmu yang telah mengantarkanmu ke sini,

Tulisan tanganmu yang memenuhi halamannya telah gamblang bertutur,

Tentang ketakutan, kegetiran, kerisauan, idealisme, hingga setangkup asa dan do’amu,

Dan menyimak kisahmu,

membuat hidupku merasa teramat berarti,

dan meyakinimu hingga kini,

Bahwa denganku, hidupmu telah terlengkapi.

 

Hidup adalah sejarah yang terus kita goreskan,

Jejak langkah yang terus kita tinggalkan,

Semoga kita mampu tuk saling menyempurnakan dalam peribadahan,

Mari tak lelah kita selipkan sebuah permohonan,

Agar Dia kembali menghimpun kita di alam keabadian.

karena tanpa perkenanNya, kita hanyalah daun kering  yang berserakan.

 

*Catatan kecil di hari ulang tahunmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s