Tungku dan Kayu Bakar – Bersahabat dengan Alam

Nyiur

Nyiur

Pekarangan

Pekarangan

kayu bakar

kayu bakar

Bukanlah termasuk sebuah ketertinggalan atau mundurnya manusia dari peradaban jika kebiasaan memasak dengan tungku berbahan kayu bakar masih saja dilakukan oleh para penduduk desa. Tak terkecuali di tanah pusaka, sebuah desa di perbatasan Kabupaten Kebumen dan Purworejo, Jawa Tengah.

Kayu bakar yang digunakan oleh para penduduk adalah dipungut dari pekarangan mereka sendiri. Ranting dan dahan kering tersedia dengan amat melimpah. Pohon nyiur yang mengelilingi rumah mereka pun menyediakan segala yang dibutuhkan. Kelapa ini merupakan salah satu tumbuhan yang memberikan manfaat dari akar hingga ujungnya. Akar, daun, batok dan sabut kelapa kering, semuanya adalah bahan bakar tungku yang ketersediaannya nyaris tak pernah ada habisnya. Sedangkan batang nyiur ini digunakan sebagai salah satu rangka atap, dan sebagiannya lagi sebagai tiang bagi rumah mereka. Adapun buah kelapa baik muda hingga tuanya, baik penduduk desa maupun kota pasti telah mereguk manfaatnya. Dari dikonsumsi langsung sebagai kelapa muda, kelapa parut, atau pun diambil ekstrak santannya, maupun dibuat produk olahan seperti nata de coco, serundeng, dan seterusnya.

Benar bahwa hampir seluruh penduduk desa pun kini memiliki kompor dan gas elpiji. Namun kompor jenis ini sejatinya hanya digunakan sekali waktu saja. Saat musim hujan tiba misalnya, dimana kayu bakar tak sempat dikeringkan. Untuk mereka yang kini menempati bangunan modern berupa tembok-tembok berbahan adonan pasir dan semen layaknya di perkotaan, dapur tungku umumnya terletak terpisah di luar rumah.

Dan buat saya, nasi liwet dan aneka hidangan yang dimasak dari tungku tanah liat berbahan bakar kayu adalah sajian ternikmat setiap pulang kampung tiba. Entah karena wangi asap khas yang ditimbulkannya, atau karena nilai kesejarahan yang melekat hingga kini dan masih kokoh bertahta dalam benak anak desa yang kini hidup di tanah rantau seperti saya.

Yang jelas, ditinjau dari sisi ramah lingkungan, tungku tanah liat ini jelas amat memenuhinya. Adalah sebuah kesia-siaan ( kemubaziran) jika mereka tak memanfaatkan kekayaan alam yang berlimpah di sekelilingnya, yaitu berupa kayu bakar. Kayu bakar ini tak mengandung bahan kimia. Pengelolaannya amat sederhana, karena hanya butuh sinar matahari yang lagi-lagi gratis, untuk mengeringkannya. Tak butuh perlakuan khusus untuk memeliharanya.

Ya, biarkan penduduk memasak dengan tungku tanah liat berbahan bakar sebagaimana hari-hari sebelumnya. Karena tak ada yang lebih indah dan mengesankan selain menyaksikan kehidupan manusia yang senantiasa bersahabat dengan alam. Keselarasan yang amat menggugah hati demi mendapatkan kesegaran baru ketika kembali kukunjungi tanah kelahiranku.

Tungku Ibuku

Tungku Ibuku

Tungku Ibuku 

Sayup-sayup kudengar shalawat Nariyah terdengar merdu 
Selepas Subuh dari dapur ibuku, 
Lantunan indah pembuka hariku, 
Bangunkanku tuk segera mengambil wudhu, 
Sejenak keheningan fajar meresap damai dalam kalbu 

Tahukah kau, tungku berbahan bakar kayu telah hangatkanku, 
Dari dingin udara yang menusuk tulangku, 
Dari dingin hati yang mampu membekukan senyumku 
Dan dari dingin jiwa yang mampu mematikan rasaku 

Tungku tanah liat ibuku masih setia di sana, 
Tumpukan kayu bakar tertata di sampingnya 
Dan sabut kelapa kering senantiasa menjaga baranya 

Tungku Ibuku masih amat kuperlu, 
Tuntaskan rindu pada masa kanakku, 
Tuntaskan rindu pada nasi liwet dari padi di sawahku, 
Tunaikan rinduku pada punggung bungkuk ibuku 

Tahukah kau, tungku yang kian menghitam itu telah bukakan mataku, 
Hikmati kekayaan jiwa atas apa yang terhidang, 
Sesakkan dadaku oleh syukur yang tak terbilang, 

Karena segala hal pada tungku tua itu, 
Hanya menghidupkan ingatanku, 
Pada satu jiwa yang telah lukisi hidupku, 
Dengan segala keindahan warna, 
yang tak kan kutemukan di penjuru dunia 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s