Al Hikam – Mutiara Hidup setelah Al-Quran dan Hadist

Al Hikam

Al Hikam

Judul Buku                : Al Hikam

Karya                          : Syeikh Abdullah  Asy-Syarqawi Al-Khalwati

Grand Syeikh Universitas Al-Azhar Mesir dan Mufti Mazhab Syafi’i

Jumlah Halaman            : xxii + 557

Penerbit                            : Turos Pustaka

Di Sabtu siang, 26 Oktober 2013 sebuah kejutan datang kepada saya. Sebuah amplop coklat saya buka dengan hati-hati. Rasa penasaran dan bahagia turut mewarnai prosesi ini. Sepertinya saya cukup hafal dengan sensasi seperti itu. Mirip ketika di masa sekolah puluhan tahun lalu saya membuka surat-surat dari para sahabat pena dan kerabat.

Subhanallah Paaaak.. Buku! Ini aku dapat buku dari Penerbit Turos! Al-Hikam ini!” saya berseru dengan gembira memperlihatkan pada sebuah buku di tangan pada suami. Hari itu kami baru saja sampai di rumah sepulang dari bepergian.

Wow, itu buku bagus! Bener. Kalo tidak salah karangan Ibnu Atha’illah Al-Iskandari kan?” Jawabnya sambil meraih buku di tangan saya.

Iya, ini disertai ulasan Syeikh Abdullah  Asy-Syarqawi Al-Khalwati. Ini buku bagus”Suami saya menambahkan.

Sejenak hari kami riuh dengan diskusi kecil tentang Kitab yang amat legendaris di kalangan muslim itu. Bagi kami yang tak pernah mengenyam pendidikan di pesantren, membaca kitab aslinya yang berbahasa Arab gundul alias tak berharakat pasti tak terjangkau. Ilmu kami memang masih begitu dangkalnya hingga kini.

Maka jika kitab berisi kata mutiara hikmah yang menjadi babon kaum sufi ini sampai pada tangan kami, kami memaknai sebagai rizki dan karunia Allah yang tak terbilang.

Beberapa waktu lalu, malam-malam saya nikmati dengan sajian istimewa “Sejarah Ka’bah” yang amat memukau dan menggetarkan hati. Saya melihat Kisah Rumah Suci yang tak lapuk dimakan Zaman yang dipaparkan dalam buku itu sungguh luar biasa. Selain bahasanya yang seringan dan sesegar novel, buku itu juga membukakan banyak kisah yang belum pernah kami dengar atau baca sebelumnya. Fakta-fakta menarik itu sungguh amat berguna bagi setiap muslim yang ingin mendapatkan cara baru merasakan kedekatan dengan Sang Khalik. Berguna tak hanya bagi mereka yang digariskan memiliki kecukupan rizki untuk berkunjung ke Baitullah, tapi juga bagi kita semua dalam menghikmati hidup itu sendiri. Karena dengan mengenal sejarah Ka’bah secara lebih baik, maka kita akan lebih tahu alasan besar, kenapa muslim itu diwajibkan menghadap kiblat. Sebenarnya apa ka’bah itu, bagaimana sumur zam-zam dulu dan kini, serta  bagaimana kejadiannya sehingga Allah memerintahkan manusia berkurban, berhaji, dan seterusnya.

Rupanya resensi buku yang saya coba publikasikan di media dengan maksud agar lebih banyak umat Islam yang berkenan turut membacanya, mendapat apresiasi oleh penerbitnya ;  Turos Pustaka ( www.turospustaka.com). Hingga tanda kasih berupa ulasan Al-Hikam yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia itu sampai di tangan saya siang itu.

Segala puji bagi Allah sebanyak tinta yang menulis kalimatNya” demikian ungkapan syukur yang tak terbilang atas anugerahNya. Semoga buku itu menjadi salah satu jalan penerang untuk kami berbenah diri dari hari ke hari.

***

Buku Al-Hikam disebut juga kitab Babon (induk) Kaum Sufi. Buku ini telah menginspirasi dan menjadi bahan materi pelatihan-pelatihan professional serta pengajian-pengajian modern seperti Emha Ainun Najib, K.H Abdullah Gymnastiar, hingga motivator kondang Mario Teguh.

K.H. A. Mustafa Bisri mendudukkan kitab ini sebagai mutiara-mutiara cemerlang untuk meningkatkan kesadaran spiritual. K.H Said Aqiel Siradj menilainya sebagai kitab yang sangat penting untuk para pecinta jalan spiritual. K.H Hasyim Muzadi memilihnya sebagai nama pondok pesantrennya di Malang (Al-Hikam).

Dan bagi orang awam seperti saya, membaca buku Al-Hikam adalah serupa memunguti mutiara hidup yang amat memesona lagi  menyejukkan. Ulasan yang dilakukan oleh seorang manusia berilmu bernama Syeikh Abdullah  Asy-Syarqawi Al-Khalwati yang adalah Grand Syeikh Universitas Al-Azhar Mesir ini amat mudah dipahami oleh nalar seorang awam sekalipun. Bahasa yang ringan dengan penjelasan menyentuh di banyak sendi kehidupan sehari-hari terkait jalan menuju kedekatan dengan Sang Pencipta.

Ratusan butir mutiara hasil olah pikir Ibnu Atha’illah Al-Iskandari, seorang manusia berilmu yang telah menuntaskan masa hidupnya selama 60 tahun. Intelek kelahiran Kairo Mesir ini, wafat pada tahun 708H atau 1309 Masehi, ketika beliau sedang mengajar di Madrasah Manshuriyah di negerinya.

Duka cita membahana seantero Mesir, bahkan dunia ketika beliau berpulang. Jutaan orang berduyun-duyun memberikan penghormatan terakhirnya. Namun hingga kini, tak ada cerita sedikitpun tentang warisan yang ditinggalkannya selain ia telah mewariskan ilmu yang ditinggalkannya. Selain Al Hikam yang telah diterjemahkan dalam banyak bahasa itu, beliau juga menulis buku-buku lainnya seperti : Kitab Miftahul-Falah wa Misbahul-Arwah fi Dzikrillah Al-Karim, Al-Fattahull-Muraqqi ilal-Qadir, Unwanut-Taufik fi Ada it-Thariq, dan Al-Qaulul-Mujarrad fil-Ismil-Mufrad.

Membaca sekilas biografi para pembelajar sejati dan sarat ilmu mungkin seperti menampar keawaman diri.  Betapa ilmu yang singgah di kepala ini bak sebutir pasir di pantai yang membentang di seluruh bumiNya.

Sebuah penghiburan tiba-tiba sampai pada mata saya dengan mutiara kata yang amat indah tertulis di sana :

25. Apa yang kau minta tak akan terhalang selama kau meminta kepada Tuhanmu. Namun apa yang kau minta tak akan datang, selama kau mengandalkan dirimu sendiri

Ajaib…! Begitu satu butir berikut ulasannya kubaca, serasa ada candu yang menggiring mata saya untuk terus membuka halaman berikutnya. Inikah kata yang berfungsi sebagai asupan hati? Ia bak air putih bening nan sejuk mengguyur tenggorokan kita di saat dahaga. Di kala terik matahari terasa membakar kulit dan kepala.

Dan dari ratusan mutiara kata indah yang diulas dengan sangat terang benderang, inilah beberapa di antaranya.

36. Berteman dengan orang bodoh yang tidak puas dengan keadaan dirinya lebih baik bagimu daripada berteman dengan orang berilmu yang puas dengan keadaan dirinya. Di mana letak berilmunya orang berilmu yang puas dengan dirinya itu? Di mana pula letak bodohnya orang bodoh yang tidak puas terhadap dirinya itu?

45. Jangan kau temani orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah.

51. Jangan sampai dosa yang kauanggap besar menghalangimu untuk berbaik sangka kepada-Nya. Siapa mengenal Tuhannya akan menganggap dosanya kecil jika dibandingkan dengan kemurahan-Nya

62. Tidaklah tumbuh dahan-dahan kehinaan, kecuali dari benih ketamakan

136. Orang yang menghormatimu sebenarnya menghormati indahnya tutup Allah yang diberikan kepadamu. Oleh karena itu, pujian hanya layak diberikan kepada Dzat Yang Menutupi (aibmu) ; bukan kepada orang yang menaruh hormat dan berterima kasih kepadamu.

137. Sahabat sejatimu adalah yang bersahabat denganmu dalam kondisi ia mengetahui aibmu. Tidak lain Ia adalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang tidak mengharap keuntungan darimu.

20. Jika kaumengharap datangnya karunia, luruskan rasa papa dan butuh pada dirimu karena “Sedekah hanya diberikan kepada mereka yang fakir (butuh)”

40. Allah mengetahui kurangnya hamba dalam beribadah. Oleh karena itu, Dia menggiring mereka untuk menunaikan sejumlah ketaatan dengan rantai kewajiban. Dan, Tuhan kagum melihat kaum yang digiring ke surga dengan rantai tersebut.

46. Kelezatan hawa nafsu yang sudah bersarang di kalbu merupakan penyakit kronis

47. Tiada yang bisa mengusir syahwat dari hati, kecuali rasa takut yang menggetarkan atau rasa rindu yang menggelisahkan.

56. Ketaatanmu tidak bermanfaat untuk-Nya dan maksiatmu tidak mendatangkan bahaya kepada-Nya. Allah memerintahkan ini dan melarang itu tidak lain hanyalah untuk kepentinganmu

59. Kedekatanmu dengan-Nya adalah ketika kaumenyaksikanNya mendekatimu, karena mana mungkin kau bisa mendekati-Nya?

Maka, menurut saya Buku Al Hikam ini amat tepat untuk dibaca oleh seluruh jiwa yang ingin mendapatkan jalan terangnya. Seluruh hati yang ingin tercerahkan karena peluang menuju rengkuhanNya teramat lebarnya. Seluruh pribadi yang akan terbantu untuk menampar diri sendiri dengan amat manisnya hingga semoga berlaku semacam rem yang akan menghindarkan langkah kaki terjerumus pada palung terdalam yang tak pernah ia tahu bahayanya.

Subhanallah, jika buku ini sampai di tangan saya hari ini, semata-mata karena benar bahwa anugerahNya jauh lebih luas dibanding tumpukan dosa dan khilaf yang telah kulakukan sepanjang usiaku. Ampuni hambamu ya Allah… Dan terimakasih, untuk rengkuhanMu yang terasa hangat menyentuh jiwaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s