Bukan Sekadar Reuni

Siang yang berbeda
Ketika langit menumpahkan gumpalan pekat yang diikatnya,
kami tengah bersantap bersama
pada sebuah acara reuni yang periodik kami cipta

Ini bukan reuni biasa,
Karena kami bukanlah teman sebaya
Mereka adalah para sesepuh yang sebentar lagi memasuki senja
Satu hal yang menyatukan kami adalah ; almamater yang sama

Awalnya ada rasa bahagia,
Menjadi termuda terasa istimewa
Yang sering terjadi kami sendiri merasa kian menua,
Berbagai alarm penurunan kualitas hidup telah terbaca di sana

Pada perbincangan, tugasku adalah melempar umpan,
Karena sebagai pendengar yang baik adalah keharusan
Bukankah asam dan garamku tak seberapa di tempayan?
Di banding mereka yang telah menempuh jauh perjalanan?

Maka, berhamburan kisah dihamparkan di meja makan,
Kulihat mata itu berbinar terang,
Ketika beliau bertutur tentang kisah cinta di awal kehidupan,
“Ketika itu Bapak masih AKABRI. Beliau melintas dan mendapatiku mengayuh sepeda
Lalu kami berkenalan. Dan tak lama pinangan datang…
Dulu, saya tak pernah bepergian. Saya adalah gadis rumahan”
Duhh…. Hari itu pasti adalah hari yang akan terus dikenang.
Dan cinta memang tak pernah bisa bersembunyi atau disembunyikan,
Hatiku pun terjatuh oleh haru yang kian membiru

Perjalanan itu penuh debu dan berliku,
Namun cinta sejati berbicara dengan amat gemilang,
Dituangkan dalam perbuatan.
Saling mendukung dan saling menguatkan
Dibubuhi doa-doa yang mengukir tangga ke langit sana
Hingga mengantar pasangan itu menjadi seseorang
Ya, seseorang yang membanggakan tak hanya keluarganya, tapi juga tanah pusakanya,

Istri purnawirawan jenderal itu bertutur dengan amat bersahaja,
Hingga butiran mutiara katanya amat indah kucerna.
“Ketahuilah, bahwa yang dikata orang kesuksesan itu, hanyalah sepotong perjalanan.
Pelihara laku, pelihara iman,
Jaga rasa, jaga keinginan tuk berlebihan, karena Tuhanmu tak pernah memperkenankan”
Demikian katamu penuh rasa ketulusan.
Kusepakati kebenaran pepatah “ada wanita hebat di belakang pria hebat”

Satu pertanyaanku “Apakah waktu terasa cepat di matamu?”
“Cepat, cepat sekali ia berjalan.
Rasanya baru kemarin kami memulai hidup baru.
Kini kami harus sudah siap mengakhiri semuanya.
Menunggu panggilanNya, karena itu pasti terjadi”

Ketika beberapa foto ananda dan cucumu kau tunjukkan,
Aku terpana bak sebuah cermin kau angsurkan.
Kini aku bisa mencerna kalimatmu.
Sepertinya baru kemarin, tahu-tahu generasi kedua dan ketigamu telah kian bertumbuh
Ibarat sebuah pohon, tanpa terasa kita kian rapuh dan akar kian meranggas
Seiring tunas yang kian mencapai ketinggian

Hatiku kelu.
Menyingkap tabir hidup dengan segala kefanaannya
Sungguh memaksaku tunduk pada Sang Pemilik Semesta
Awal yang tak pernah ada akhirnya
Satu pintaku ; terbujur kaku dalam ingatMu”
Semoga tetes hujan jadi saksi permohonanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s