Berpikir dan Berjiwa Besar

Forgive

Dengan sedikit tergesa, seorang pemuda berambut ikal menghampiri pria yang sedari tadi menunggunya di pojok kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan itu. Satu kalimat yang sedari tadi hinggap di kepala dan siap meluncur adalah ; maaf sudah menunggu lama, macet sekali sore ini.

Pria itu berdiri menyambutnya. Dan seketika itu seolah ia melihat sebuah cermin tengah diangsurkan di hadapannya. Wajah pemuda itu, rambut ikalnyanya, senyumnya, adalah bayangan dirinya beberapa puluh tahun yang lalu.

Tak kuasa ia menahan diri  untuk merangkul dan mendekap erat pemuda di hadapannya. Pemuda yang baru pertama kali ditemuinya, yang adalah darah dagingnya sendiri. Rupanya kerinduan yang membuncah dan rasa sesal yang mendalam telah menguasai hati dan pikiran lelaki itu. Hingga ia membiarkan air bening menganaksungai membanjiri kemeja anak muda itu. Ia tak peduli, bahkan jika perhatian seluruh tamu kedai kopi tertuju padanya.

Anak muda itu diam seribu bahasa. Ia memilih membiarkan diri dalam rengkuhan pria setengah baya yang baru dikenalnya itu. Meski ia belum tahu apa yang terjadi, namun ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan ketika kulit tangan mereka bersentuhan. Ketika ia rasakan bahu tua itu berguncang seolah meledakkan dirinya dalam puncak kepedihan yang tertimbun amat lama lagi dalam. Ada semacam kedamaian dan benang-benang ikatan yang tak mampu ia jabarkan. Hingga ia memilih menjadi pihak yang menunggu sebuah penjelasan.

Sejenak hanya ada hening di antara keduanya. Tatap mata keduanya saling bertemu. Dan kini pria itu mulai berbicara dengan kalimat yang cukup patah-patah. Ia menceritakan semua kisah masa lalu kelam yang berawal dari kesalahan besar dalam langkahnya. Pria sejenak mengeluarkan sebuah foto usang dari dalam tas kerjanya. Foto pernikahan, dan beberapa foto selama setahun bersama seorang wanita muda yang cantik dan bersahaja. Foto yang seakan menjelaskan bahwa masa bahagia telah terlewati, dan kini tinggal sebuah kenangan dan sejarah.

Pemuda itu diam. Tampak ia berusaha menata hati dan pikirnya. Ia berusaha keras menggunakan segenap kedewasaannya untuk menghadapi kenyataan yang tak pernah diduganya. Ia berusaha menghimpun berbagai kata bijak yang mampu diingatnya. Berbagai petuah yang telah ditanamkan oleh ibundanya. Bahwa setiap manusia hanya akan memanen apa yang ditanamnya. Bahwa mulut hanya menumpahkan apa yang ada dalam isi kepalanya. Bahwa kebenaran akan mencari jalannya sendiri untuk bisa disaksikan oleh setiap jiwa pada akhirnya.Bahwa memaafkan adalah perbuatan mulia di sisiNya, dsbg.

Hingga selepas diamnya ia berujar pendek : “Ayah, aku memaafkanmu. Semoga Allah pun mengampunimu, menerima taubatmu“. Dan sang ayah untuk kedua kalinya kembali memeluk putranya. Ia bahkan tak menyangka bahwa putranya telah tumbuh menjadi seorang pria muda yang sangat bijak. Pengendalian emosi yang sempurna di matanya. Kata maaf, serta panggilan Ayah serupa hadiah terbesar baginya hari itu.

Pertemuan rahasia itu akhirnya kau ketahui. Kisah yang dituturkan dengan bening mengalir kau maknai sebagai sebuah anugerahNya. Jika bicara luka, pastilah bekas itu amat nyata. Namun pikiran-pikiran positif segera kau datangkan memenuhi imaji dan kepalamu.Mungkin sudah waktunya tirai itu harus disingkapkan.

Dan Allah telah menyusun sedemikian rupa jalan ceritanya.Dan bukankah Dia telah menukar dengan pendampingmu yang lebih baik? Dan bukankah jalan kemudahan yang dibentangkan sehingga kau mampu meraih karir terbaikmu sebagai kepala perawat di rumah sakit ternama itu? Dan bukankah bagi putra satu-satunya kini Allah menghadirkan satu sosok pria lagi yang siap melimpahkan kasih dan sayangnya yang tertunda? Bukankah kini hidupmu serupa ratu bagi pendamping dan juga satu-satunya putramu?

Dengan menghimpun  sekian banyak kebaikan itu, maka kesalahan terbesar sesosok pria yang pernah mengisi hidupmu perlahan luruh satu per satu. Bagaimana pun kau pernah mencintainya dengan sepenuh hati. Cinta yang sesungguhnya tak pernah mati. Biarlah ia tersimpan di sana, karena cinta baru yang dianugerahkanNya telah mencukupimu. Telah membuat hidupmu diliputi bahagia sepanjang waktu.

Esok kau telah siap menemuinya sebagai sahabat. Sebagai kerabat. Dan semoga pria yang kini adalah separuh hidupmu itu juga mampu menemanimu bertemu dengannya. Mengulurkan tangan tuk berjabat dengan senyuman seorang sahabat.

(Bersambung)

Image : http://www.pinterest.com/pin/547539267166962878/

Serial Wanita di Kaki Senja – Keping 5

DW, 21 Desember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s