Tahun Pertama dan Terakhir Bersamanya

autumn

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kembali ke Jakarta. Perjalanan dari kampung halaman menuju kota rantaumu kali ini amatlah berbeda. Meski kereta Senja Utama yang membawamu adalah masih kereta yang sama, namun keberadaan teman sebangkumu menjadikan segalanya menjadi istimewa. Pria teman perjalanan di sampingmu telah mencipta segala yang tampak di mata menjadi jauh lebih indah adanya. Langit mega berwarna jingga seperti turut bahagia mengantar kepergianmu. Angin sore yang menerpa anak rambutmu bak belaian lembut sang semesta. Barangkali mereka pun ingin menyempurnakan kebahagiaan dua hati yang kini telah dipertemukanNya dalam jalinan suci untuk membuka babak baru dalam sejarah hidup anak manusia.

Begitulah… Waktu berlalu demikian cepatnya. Hanya ada kisah bahagia mengisi hari-hari di tahun pertamamu bersamanya. Tinggal di rumah kontrakan mungil tak jauh dari sebuah rumah sakit milik sebuah BUMN ternama di Indonesia sebagai tempatmu mengabdi menjadikan harimu tak perlu tergesa menembus kemacetan jalan ibukota.

Ketika itu usaha di bidang jual beli komoditi yang dirintisnya belum genap dua tahun usianya. Kabarnya, usia usaha sebelum dua tahun memang belum akan menampakkan hasil terbaiknya. Dan dua tahun sering dianggap sebagai masa uji kelayakan sebuah usaha. Akankah ia bertahan dan berjalan sesuai rencana, ataukah ia kan runtuh meninggalkan puing dan seseorang memilih memutar haluan setelahnya. Itulah kenapa usia usaha 2 tahun menjadi salah satu syarat ketentuan sebuah bank bersedia memberikan pendanaan usaha.

Maka, meski tak berlimpah, kondisi keuangan keluarga barumu cukup stabil ketika itu. Ia menghujanimu dengan segala kasih dan sayang yang nyata. Saling bahu membahu dalam berbagai pekerjaan kecil serupa warna-warni pelangi dalam hari yang terus berjalan. Kejutan manis seringkali kau dapatkan. Semisal ketika kau jaga malam dan pagi-pagi ia sudah harus berangkat kerja sebelum kau sampai di rumah, sepiring sarapan pagi telah terhidang di meja. Dan secarik pesan bertulis tangan seringkali kau dapatkan. Di sana tertulis “Jika dunia ini berakhir dan kita diberiNya kesempatan dalam kehidupan baru,, aku ingin Dia mentakdirkanku kembali bertemu denganmu, dan mengulang perjalanan yang sama seperti hari ini. Aku berangkat dulu, nanti malam kutunggu kisah harianmu. Miss you!” Atau kali lain sebuah pesan kau jumpai di dompetmu ketika kau mau membayar bajaj yang mengantarmu : “Selamat bertugas dan mengisi hari baru wahai wanitaku,…:) Love you” Kali lain kau pulang membawakan setangkai anggrek segar. Atau es krim rasa vanilla kesukaanmu. Hal-hal kecil yang menjadikanmu merasa menjadi wanita tercantik di dunia.

Hari bertukar minggu. Dan minggu berganti bulan, hingga tak terasa seminggu lagi genap setahun usia pernikahanmu. Kehadirannya sungguh telah melengkapimu. Dan kini kalian tengah menyiapkan kehadiran buah hati yang tiga bulan lagi akan lahir ke dunia. Perjalananmu adalah perutmu yang menuju dekapanmu. Perjalanan yang akan mengubah duniamu menjadi seorang ibu.  Kau sudah membayangkan hadiah terindah yang bakal kau terima. Makhluk mungil yang tengah berenang dan mengapung di dalam sana juga seolah mengajarimu bahwa hidup adalah belajar untuk berserah dan menerima apa pun yang kelak dipersembahkan oleh alam. Manis, pahit, senang, adalah aneka rasa yang semestinya kau mampu berenang tenang di dalamnya. Ya, pengalaman mengandung buah hatimu adalah proses yang tak selalu mudah, tetapi selalu indah bagi hampir seluruh wanita di dunia.

Hingga suatu pagi ketika kau baru saja bersantai sepulang dinas malam, dan sendiri menikmati secangkir teh hangat dan sarapan yang lagi-lagi disediakannya, terdengar ketukan pintu. Tak sampai tiga kali ketukan terdengar, kau telah membukakan dan mendapati seorang wanita muda yang juga dengan kondisi perut membesar sepertimu berdiri di depan pintu. Meski wajahnya terlihat kusut masai, namun kecantikan alam yang melekat jelas masih terpancar di sana. Menurutmu, bahkan wanita dalam keadaan tak bermake up atau pun jika sekadar polesan tipis-tipis saja lebih memancarkan aura kecantikan sejatinya ketimbang mereka yang memoles wajahnya setebal 1cm misalnya. Namun siapakah wanita itu?

Kabar yang dibawanya serupa petir di siang hari. Serupa badai yang meluluhlantakkan kepercayaan dan harga dirimu.Dengan terang benderang, wanita pramugari sebuah maskapai penerbangan ternama itu mengungkapkan sebuah kenyataan yang amat mustahil terdengar di telingamu. Inikah mimpi buruk yang berwujud? Jadi kepergianmu tepat di hari pernikahan setahun lalu adalah untuk menikahi wanita lain yang bertetangga daerah denganmu? Ada dua pernikahan di hari yang sama? Separuh hatimu berkata tidak. Tapi separuh lainnya memaksamu menerima kenyataan. Karena kisah yang dibeberkan dengan sedu sedan wanita yang juga memposisikan diri sebagai korban pun amat gamblang menjelaskan.

Maka pengakuannya sudah lebih dari cukup untuk membuat keputusan. Telah cukup Allah meminjamkan dia selama satu tahun untukmu.Tidak ada cerita yang akan diperpanjang. Tak ada maaf untuk sebuah pengkhianatan. Setidaknya untuk saat itu. Perbuatan keji paling tak masuk akal yang mungkin pernah terjadi di kolong langit ini. Maka, biarlah tahun ini menjadi tahun pertama dan terakhirmu bersamanya. Hanya sebuah keyakinan yang mampu membuatmu bertahan hingga hari ini “Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu!”.

Ya, hidup adalah perjalanan. Dan kau akan terus berjalan mengikuti suratanNya. Sepedih apa pun, seburuk apa pun di mata manusia, Dia pasti mempunyai rencana indah di depan sana. Karena ketika seseorang terjatuh dan kehilangan semuanya, hanya Engkau-lah tempat sebaik-baik kembali.

(Bersambung)

 

Ilustrasi : http://www.pinterest.com/pin/9359111695651404/Serial : Wanita di Kaki Senja – Keping 3

 

DW, 19 Desember 2013

2 pemikiran pada “Tahun Pertama dan Terakhir Bersamanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s