Wanita di Kaki Senja

Bridge_R1

Hari Bersejarah 

47 tahun 17 hari yang lalu,

Wangi daun jati yang bertumpuk di beberapa sudut dapur masih segar dalam ingatanmu. Pembungkus makanan paling popular ketika itu. Juga daun pisang bekas selimut tempe, yang dibiarkan berserak di sana sini. Melengkapi riuh para ibu mempersiapkan acara sakral yang hendak digelarkan. Apalagi, jika bukan hari bersejarahmu. Satu hari yang mestinya kau kenang dengan gemilang, namun di kemudian hari serupa sembilu. Yang menikam jantungmu berkali-kali. Entah berapa ribu kali di kemudian hari.

Wayang. Adalah simbol kesyukuran orangtuamu ketika itu. Kisah Ramayana telah digelarkan semalam suntuk dengan syahdu dan gegap gempita. Sajian bagi ribuan tamu yang mengantar doa dan ucapan selamat pada kalian. Selamat pada mereka, karena putrinya kini telah bersanding dengan seorang raja gagah perkasa nan elok rupa.

Raja? Tentu saja. Karena hari itu kau adalah ratunya. Bunga mawar pun mungkin iri melihat pesonamu. Dan wangi melati tak sanggup menyaingi semerbak namamu. Kembang desa yang kini telah menjelma sebagai wanita kota nan cerdas, anggun dan mengukuhkanmu sebagai priyayi. Sosok disegani, dihormati, dan dikagumi.

Kau melirik pria di sampingmu. Sosok terbaik pilihan hatimu. Batinmu berucap ; betapa ajaib Dia mengirimkannya dalam hidupmu. Betapa sempurna ia di matamu. Senyum nan menawan, ramah, santun dalam tutur, pandai dan amat supel adalah deretan nilai yang ada dalam buku rapor yang kau buat untuknya. Dan pesonanya mampu menjadikan harimu hanya ada pagi. Tak ada terik matahari siang, dan gelapnya malam. Yang hanya berisi segala hal yang kau butuhkan. Kehangatan, kesejukan, kesegaran, dan segala keindahan yang bahkan tak mampu kau gambarkan.

Dia menyungging senyum menatapmu. Tatapan penuh makna yang meluluhkan hatimu di kali pertama kalian bertemu. Ya, pertemuan tak sengaja di sebuah rumah sakit tempat tugasmu. Dia menjenguk seorang kerabat yang dirawat. Dan kau yang bertukar dinas berjaga dengan rekanmu hari itu serupa memperoleh anugerah dari langit. Karena hari itu menjadi awal dari sejarahmu dengan dia yang bersanding denganmu hari itu.

Kau sejenak berpikir. Betapa ajaib caraNya menautkan dua hati. Pertemuan dua insan bisa terjadi di mana pun. Di bis kota, di kereta senja, di halte bis, di kantor, di bangku sekolah, di pesta pernikahan, bahkan di tempat pemakaman. Betapa pun tembok bernama jarak dibentangkan, maka ia kan luruh ketika Dia menginginkan. Bukankah Adam dan Hawa diturunkan di tempat berbeda yang berjauhan pada mulanya? Dan akhirnya di sebuah titik Dia mempertemukan mereka?

Lalu kau mulai menganalisa. Apa yang mampu menyelaraskan dua pasang kaki melangkah tuk berjalan beriringan. Dua hati terjalin dalam satu ikatan. Dan mata bertatap penuh rasa bahagia yang tak berkesudahan. Barangkali adalah kesamaan. Ya, kesamaan kegemaran, kesamaan latar belakang dan kesamaan proyeksi mungkin turut andil di dalamnya. Meski demikian, lebih banyak hal yang tak dapat diuraikan tentu saja.

Dan jika kini kau dan dia menjadi raja dan ratu sehari, terasa mimpi di siang hari.  Rasanya baru kemarin kau mengenal pria yang memasuki kamar rumah sakit itu. Rasanya belum genap satu tahun kalian berbincang tentang banyak hal. Ada banyak pertanyaan yang tak mampu kau singkap seketika ; “Akankah dia kan sedia mendampingimu di sakit dan sehatmu? Adakah dia kan menjaga rasa hingga tak satu pun rasa mampu terasa? Adakah tekadnya sekuat tekadmu tuk merawat cinta yang dititipkanNya hingga ruh terlepas dari raga?” .

Kau coba mencari jawaban pada batang pisang yang kini tertutup indah oleh aneka buah, sayuran dan bunga-bunga sebagai hiasan. Bangunan serupa tugu di kanan kiri kalian sungguh rupawan. Dekorasi khas kampung yang dibuat dengan sepenuh keseriusan. Lihatlah, semua amat manis tertata di tempatnya. Di puncak tertinggi terlihat nanas gagah bertengger. Di bawahnya terjalin apik ; pisang, jambu merah, jeruk, cabe, salak, kenanga, mawar, melati, dan sepasang angsa dari janur kuning yang menyempurnakan.

Semua diam. Bisu. Keindahan yang kau maknai menyimpan misteri. Inikah yang disebut firasat? Mungkin ini hanya sebentuk kekhawatiran halus yang akan menelusup siapa saja pada kilometer pertama memasuki hidup barunya. Mungkin sekadar ketakutanmu memasuki lorong gelap di depan mata. Demikian pikirmu ketika itu.

Dan ingatan itu kini melayang menemani memori yang sekali waktu muncul ke permukaan. Bukan sekali waktu sebenarnya, karena amat sering ia menari di kelopak matamu yang kini semakin pudar di makan usia. Dalam kesendirian. Dalam kesepian yang memaksamu hanya meyakini bahwa : ‘Seringkali kita berharap pada manusia. Dan seringkali kita dibuat kecewa”. Dan benarlah sebuah ungkapan ; “Kesendirian karena ditinggal seseorang menghadapNya, lebih ringan terasa dibanding ditinggalkan dia yang nyata-nyata masih di dunia. Beratap awan yang sama, tapi hati tak pernah lagi bersua.” Dan benarlah petuah ; “Berpeganglah erat pada taliNya, karena hanya Dia yang tak pernah meninggalkan kita sedetik pun juga”

( Bersambung)

Ilustrasi ; http://www.pinterest.com/pin/31384528624329057/

DW – 17 Desember 2013.

Edisi belajar membuat cermin di pembuka hari. Melukisi dinding waktu agar selalu berwarna dengan jalinan kata🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s